
"Kenapa, Mas? Kok kaget gitu." Amalia memandang wajah suaminya yang seketika berubah menjadi pucat pasi. Entah apa yang sekarang sedang ada didalam pikiran suaminya itu. Apa dia takut, jika dia berkata jujur. Amalia akan marah padanya. Atau justru dia tidak mau seseorang menguak masa lalunya yang suram.
"Ka-mu tahu dari mana hal itu?" tanya Angga masih terbata-bata. Amalia kemudian menarik nafasnya panjang. Dia sebenarnya tidak ingin membahas hal itu disini. Tapi, sudah terlanjur. Daripada dia penasaran dan menebak-nebak. Baiknya dia mengetahui langsung dari suaminya. Apapun, yang akan dikatakan oleh suaminya. Dia akan berusaha menerimanya. Karena dia tidak mau menghakimi seseorang hanya karena memiliki masa lalu yang suram.
"Kamu tidak perlu tahu tentang siapa yang memberi tahu hal itu padaku. Kamu hanya cukup bilang benar atau tidak ucapan ku tadi!" Angga diam sejenak. Dia memikirkan bagaimana nasibnya jika istrinya mengetahui masa lalunya. Apakah istrinya akan pergi meninggalkan dia.
"Kamu tidak perlu takut untuk berkata jujur padaku, Mas! Apapun yang akan kamu katakan nanti, tidak akan membuatku meninggalkanmu," ujar Amalia yang tahu keraguan dari salam diri suaminya. Angga bisa bernafas lega mendengar istrinya berkata seperti itu.
"Bener, kamu gak akan marah padaku?" tanya Angga menyekinkan dirinya.
"Iya."
Angga menceritakan semua tentang masa lalunya yang sering bergonta-ganti pasangan. Bukan cuma itu, semua wanita penghibur yang ada di club' langganannya itu sudah pernah ia jajaki. Tapi Angga selalu memakai alat pengaman. Dia tidak mau mengambil resiko nantinya. Cuma bersama istrinya lah dia melakukan itu tanpa pengaman. Dan sekarang jadilah, Azka! putranya. Tapi setelah kejadian pelecehan itu Angga sudah tidak pernah lagi berhubungan intim dengan wanita lain. Amalia pun tersenyum, mendengar ujung kalimat suaminya.
"Percaya padaku. Kamu wanita satu-satunya yang ada di hatiku saat ini, nanti dan selamanya. Aku tidak akan pernah tertarik pada siapapun." Angga menjeda kalimatnya sejenak. Untuk mencari kata-kata yang pas, agar istrinya tidak kesal dengannya.
"Aku sudah tobat, sayang. Bagiku saat ini. Tidak ada wanita yang mampu membuat si tole ini berdiri." Angga menunjuk bagian intimnya. Membuat Amalia tergelak mendengar sebutan itu.
"Ihhhhhhhh, apaan sih!" Amalia mencubit paha Angga. Membuat pemiliknya meringis kesakitan.
"Sakit! Sayang." Angga senang karena masalahnya sudah selesai. Baginya, rumah tangga yang sedang ia jalani ini adalah tempat di mana dia ingin menyempurnakan ibadahnya. Karena itu dia tidak mau menutupi kebohongan pada istrinya. Saling percaya, dan jujur adalah pondasi agar rumah tangganya selalu bahagia. Dia berjanji, sekecil apapun masalah yang sedang mereka hadapi. Mereka akan mencari jalan keluarnya berdua.
Angga melanjutkan lagi perjalanannya yang sempat terhenti tadi. Di persimpangan jalan menuju rumahnya. Amalia melihat ada tukang bakso yang sedang mangkal di pinggir jalan. Tiba-tiba cacing diperutnya minta jatah makan siang. Mengingat memang sudah waktunya untuk mereka makan. Apalagi, tadi mereka hanya sarapan sepotong roti dan segelas susu saja. Amalia meminta suaminya untuk menghentikan mobilnya.
"Sayang, aku pengen makan bakso. Kita turun Yuk!" Angga melirik kearah tukang bakso yang hampir ia lewati.
__ADS_1
"Ya sudah. Ayo!" Angga mencari tempat yang tepat untuk memarkirkan mobilnya. Setelah terparkir, mereka kemudian turun. Tapi Angga menghentikan langkahnya. "Sayang, Azka gimana?" Angga teringat pada putranya yang sedang tidur di jok belakang.
"Oh iya-ya. Kita bangunkan saja, sayang!" seru Amalia berjalan kearah pintu belakang mobil Angga.
"Sayang tunggu!!!" Teriak Angga.
"Kenapa lagi?"
"Biar aku saja." Angga menghampiri istrinya setelah itu membuka pintunya.
"Azka, sayang. Bangun, Nak! Azka mau mamam bakso gak?" Angga menepuk-nepuk paha putranya yang masih terlelap. Tak ada pergerakan dari anaknya. Angga mencobanya lagi. Semenit kemudian, bocah itu menggeliatkan tubuhnya. Dibukanya perlahan matanya, saat mendapati ayahnya ada di depannya. Azka langsung mengulurkan kedua tangannya minta disambut oleh ayahnya. Tak menunggu lama lagi, Angga pun menyambut uluran tangan putranya dan mengangkat tubuh Azka.
"Kita udah nyampe lumah ya, Ayah?" Mereka bertiga menuju ke tempat tukang bakso itu.
"Suka, tapi gak mau pake saos." Mereka bertiga sampai di warung tenda bakso itu. Mereka masuk kedalam dan memilih tempat duduk untuk mereka. Setelah itu penjualnya data mendekat. Menanyakan pesanan mereka. Angga menyebutkan pesanannya. Setelah itu penjualnya pergi menuju gerobaknya untuk membuatkan bakso pesanan keluarga kecil itu.
Setelah acara makan bakso bersama. Mereka bertiga langsung pulang ke rumah. Sesampainya di rumah mereka langsung masuk ke kamar. Usai sholat Dzuhur berjamaah, mereka berbaring di ranjang.
"Sayang, apa kita akan seperti ini terus. Sampai kapan kita menyembunyikan pernikahan kita di depan orang tuamu?" Amalia akhirnya mengeluarkan unek-uneknya. Setelah beberapa hari ini mengusik pikirannya.
"Maaf, ya sayang. Untuk saat ini, kita harus disini dulu. Aku nggak mau Papa memisahkan kita lagi." Angga mengusap-usap rambut istrinya lembut. Wanita yang kepalanya ada di dada suaminya itu, hanya diam.
"Tapi aku janji. Akan segera membawa kamu dan Azka ke orangtuaku. Tapi, berikan aku sedikit waktu untuk lakuin itu, ya!" lanjut Angga membenarkan posisi kepala istrinya agar lebih nyaman lagi.
"Iya, aku janji akan menunggu hari itu tiba. Tapi...apa gak sebaiknya kamu hubungi Mama, agar dia tidak khawatir dengan kamu, sayang!" Mendengar hal itu, Angga langsung diam. Ada rasa penyesalan dari dalam dirinya. Terlebih lagi pada mamanya. Karena dia pergi tanpa pamit pada orang yang telah melahirkannya.
__ADS_1
"Belum saatnya sayang," cetus Angga dengan mimik wajah sedih.
Amalia bisa merasakan betapa rindunya suaminya itu pada orangtuanya. Terlebih lagi pada mamanya. Dia merasa bersalah karena memisahkan antara anak dengan orang tuanya. Tapi, dia juga tidak sanggup jika sekarang harus berpisah lagi dengan Suaminya. Apalagi anaknya, tidak bisa dibayangkan olehnya. Jika Azka berpisah dari ayahnya. Mungkin saat ini, hanya jalan ini yang terbaik untuk mereka. Sembari menunggu hari itu tiba. Hari dimana orang tua suaminya mau menerimanya sebagai menantunya.
"Maaf ya sayang. Karena aku kamu harus jauh dari papa dan mamamu!" Angga langsung membungkam bibir istrinya dengan telunjuknya.
"Sttt, kamu gak boleh ngomong begitu. Aku yakin suatu saat nanti, papa akan menerima kamu untuk jadi menantunya. Di tambah kehadiran Azka, pasti dia akan luluh dengan anak kita." Angga mencoba menghibur istrinya yang sudah terlihat murung itu.
Angga memang tidak tahu kalau papanya sudah merestui hubungannya dengan Amalia. Dia juga tidak tahu keadaan mamanya yang sangat buruk karena dia pergi tanpa pamit padanya. Pak Dwi sudah mengerahkan aneka buahnya untuk mencari keberadaan Angga. Tapi hasilnya nihil. Nomor yang diminta untuk dilacak juga tidak berhasil dia lacak. Karena Angga sudah memblokir nomor tersebut.
Angga juga tidak meninggalkan jejaknya di kantornya. Karena segala urusan di kantor dia serahkan sepenuhnya pada Niko, assistennya. Niko memang tahu kalau dia berada di Bandung. Tapi dia tidak memberitahu dimana dia tinggal sekarang. Itu Angga lakukan untuk menjaga, kalau sewaktu-waktu papanya memaksa Niko untuk memberitahu keberadaannya.
To be continued...
Kita slow dulu ya...
Konfliknya belum di mulai...
Author masih mau buat adegan bucin-bucinan dulu....
Biar kalian gak kaget kalau konfliknya datang....
Semangat...
Ayo dong man like, komen, votenya....
__ADS_1