
Angga terlihat gelisah, hingga tak bisa memejamkan matanya. Beberapakali dia melirik kesampingkannya, melirik istrinya yang sudah terlelap. Bagaimana tidak gelisah, sudah dua hari dua menikahi istrinya. Tapi dia belum mendapat jatah dari istrinya. Setelah malam pertamanya yang gagal, sekarang Azka tidur satu kamar dengannya. Dia tidak mungkin melakukan hal itu, dihadapan putranya.
Hari sudah menunjukkan pukul 01.30 WIB. Angga masih terjaga, dia memilih mengambil labtobnya untuk memeriksa pekerjaannya. Dengan menyenderkan punggungnya di dinding tempat tidur. Jari-jarinya sibuk memainkan toth di papan keyboard. Sesekali dia mendengus panjang mempelajari email yang dikirim oleh assistennya. Sangking fokusnya, laki-laki yang memakai celana boxer itu tidak menyadari pergerakan Amalia disampingnya.
"Sayang, kok belum tidur?" Angga terkejut mendengar suara Amalia. Kemudian dia menoleh kearah wanita itu.
"Iya, sayang. Gak bisa tidur. Aku lagi memeriksa beberapa email penting yang dikirim Niko," jelas Angga tersenyum pada istrinya.
"Aku buatin kopi ya." Amalia mulai beranjak dari tempat tidurnya. Namun tangannya ditarik oleh Angga. Spontan wanita itu menoleh kearah suaminya. Terlihat suaminya mengedip-ngedipkan matanya, memberi kode padanya. Wanita yang memakai dress tidur itu hanya tersipu malu. Dia tahu, apa yang diinginkan oleh suaminya itu sekarang. Satu Anggukan diberikan wanita itu pada suaminya. Tak menunggu lama, Angga menutup labtobnya dan beranjak dari ranjang. Pun begitu dengan Amalia.
Mereka berdua keluar dari kamar itu. Mereka berjalan menuju kamar lainnya. Angga terlihat bersemangat, kala mereka sudah ada di kamar yang berukuran lebih kecil dari kamarnya. Angga melingkarkan kedua tangannya di pinggang istrinya. Dia memeluk dari belakang tubuh Amalia sembari menciumi bau harum dari rambut istrinya. Perlakuan Angga membuat bulu kuduk istrinya berdiri karena geli. Dari rambut turun ke jenjang lehernya. Puas bermain-main diarea itu. Angga mengajak Amalia ke ranjang yang ada di kamar itu.
Dia mulai tersulut api gairah di tubuhnya. Saat sudah di atas ranjang. Seketika Angga menarik tengkuk Amalia dan membungkam mulut istrinya itu. Lenguhan pelan mulai terdengar. Angga tersenyum disela ciumannya karena Amalia tanpa canggung membalas perlakuannya dengan tak kalah hebat. Saat Angga akan membuka baju istrinya.
Teriakan Azka dan tangisan anak itu mengurungkan niatnya. Mereka berdua bergegas ke kamar, tempat tidur Azka sekarang.
"Bunda.....Ayah...."
"Cup..cup...sayang..udah jangan nangis lagi ya!" bujuk Amalia langsung memeluk anak itu. Sementara Angga dia memegangi pelipisnya. Lagi-lagi mereka gagal melakukan itu.
Setelah anaknya tenang. Amalia membaringkan tubuh anaknya lagi di kasur. Dia melirik kearah Angga yang terlihat murung.
"Nggak bisa dibiarin ini, Mah. Auto gagal bikin dedek buat Azka," gumam Angga memikirkan sesuatu.
__ADS_1
Keesokan paginya mereka sibuk melakukan aktivitas seperti biasanya yaitu sarapan bersama. Usai sarapan Angga minta izin istrinya untuk keluar sebentar. Amalia menaruh curiga pada Angga yang terlihat berbeda dari biasanya.
"Kamu mau kemana, sayang?" tanya Amalia penuh selidik.
"Mau cariin baby sister buat Azka," jawab Angga, Amalia menarik satu alisnya. Dia tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan suaminya. Sampai-sampai laki-laki itu ingin mencarikan pengasuh untuk Azka.
"Buat apa, Sayang. Kamu kira aku gak bisa jagain Azka sendirian. Gak bisa ngurus anak kita, gitu!" cerocosnya Angga menghela nafasnya kasar. Sepertinya Amalia sudah salah paham dengan rencananya.
"Bukan seperti itu, Sayang. Masa kamu gak ngerti, sih! Kalau Azka tidur sama kita terus, kapan bisa buatin adek buat dia. Yang ada gagal lagi gagal lagi. Huuh, kamu gak tahu berapa menderitanya suamimu ini. Gara-gara harus bahan hasrat yang sudah diujung kepala." Amalia tersenyum lebar mendengar keluhan suaminya. Angga yang melihat itu, semakin memonyongkan mulutnya.
"Kenapa senyum-senyum gitu. Seneng ya, liat suamimu menderita," ucap Angga, Amalia langsung memeluk lengan suaminya.
"Bukan begitu sayang. Aku juga udah gak tahan, sebenarnya!" bisik Amalia lalu kabur meninggalkan suaminya. Dia malu, karena sudah menggoda suaminya itu. Melihat istrinya yang semakin berani menggodanya, Angga semakin penasaran dibuatnya. Dia semakin tidak sabar untuk belah duren dengan istrinya itu.
Angga kembali setelah dua jam kemudian. Dia kembali dengan seorang wanita muda yang terlihat sedikit polos. Dua membuka masuk ke rumah wanita itu untuk di kenalkan pada istrinya. Wanita yang di kenalkan oleh temannya yang tinggal tak jauh dari tempat tinggalnya yang sekarang.
"Kenapa, sayang?" Pandangan Amalia teralih pada sosok wanita yang di bawa Angga. Kemudian dia tersenyum ramah pada wanita itu.
"Sayang. Dia ini kakak asuh nya Azka. Dia tinggal di deket sini juga kok," jelas Angga kemudian dia mendekat kearah istrinya.
"Hai.. namanya siapa?" Sapa Amalia ramah.
"Saya Neneng." Wanita yang bernama Neneng itu terlihat malu dan gugup setelah bertemu dengan bunda dari anak yang akan ia asuh.
__ADS_1
"Kamu udah biasa kerja ngasih anak?" Tanya Amalia pada wanita itu.
"Sudah Bu. Sebelumnya saya kerja di tempat pak lurah. Karena anaknya sekarang sudah besar. Jadi saya berhenti kerja disitu," jawab wanita itu jujur.
"Ya sudah. Ayo saya tunjukan dimana kamar kamu!" ajak Amalia pada pengasuh anaknya. Mereka berjalan menuju ke sebuah kamar. Kamar itu di khususkan untuk assisten rumah tangga dan pengasuh anaknya. Kamar yang berukuran 4*4 itu sudah lumayan besar menurut wanita itu.
Setelah menunjukan kamar wanita itu. Amalia mengajak Neneng untuk menemui anaknya. Anak yang akan diasuh oleh Nebeng. Di sebuah kamar terletak di lantai atas, mereka berdua masuk.
"Nah, ini kamar anak saya. Itu dia sedang tidur siang." Mereka mendekat kearah seorang anak yang sedang terlelap itu.
Amalia memberitahu tugaus-tugas Neneng selama bekerja disitu. Sebenarnya Amalia tidak yakin. Anaknya akan mau diasuh oleh wanita itu. Tapi, dia juga tidak bisa menolaknya keinginan suaminya.
Mendengar suara berisik orang yang sedang ngobrol, membuat Azka terbangun. Dia melihat bundanya sedang bersama dengan seseorang. Azka langsung merengek minta digendong Bundanya.
"Bunda!!!" Dengan cepat Amalia menghampiri anaknya. Neneng pun juga melakukan hal yang sama. Tapi Azka seperti takut melihat wanita itu.
"Azka, gak usah takut. Ini Mbak Neneng. Mbak Neneng yang akan bantuin bunda jagain Azka," jelas Amalia pada anaknya mengenai Neneng.
Tapi Azka masih belum mau di sentuh oleh wanita itu. Dia masih tetap ingin bersama bundanya. Justru sekarang, dia tidak mau bermain sendirian. Karena masih takut dengan wanita yang menurutnya masih asing itu.
Sore harinya. Waktunya Azka mandi. Neneng berinisiatif untuk memandikan anak asuhnya. Tapi Azka malah nangis melihat wanita itu.
"Bunda!!! Azka gak mau mandi Ama Mbak itu. Azka mandi Ama bunda aja." Azka merengek sembari menunjuk-nunjuk Neneng. Angga yang melihatnya seketika mengerutkan keningnya. Rencananya lagi-lagi gagal oleh anaknya.
__ADS_1
To be continued
Kira-kira Angga masih punya cara lain gak ya. Agar bisa EA EA Ama Amalia....