
Angga mengikuti langkah istrinya. Hingga berhenti di deket ranjang. Wanita itu kemudian mendaratkan bokongnya di atas ranjang itu, pun demikian dengan Angga. Namun Amalia masih belum menatap ke wajah suaminya, masih ada sedikit rasa kesal di hatinya. Hingga, tangan Angga meraih dagu wanita itu dan menghadapkannya kearah wajahnya. Setelah mereka saling berhadapan, Angga menatap lekat wajah istrinya. Terbesit rasa bersalah dengan wanita di depannya itu. Apalagi, dia pernah berjanji tidak akan membuat Amalia bersedih. Tapi kenyataannya, dia membuat istrinya bersedih dengan sikap dinginnya.
.
"Sayang, aku benar-benar minta maaf dengan mu. Aku salah, maafin aku ya. Aku janji gak akan mengulanginya lagi. Kamu mau kan, maafin aku," ucapnya dengan suara sedikit serak karena menahan kesedihan dalam dirinya.
Tak bisa dipungkiri oleh Angga, masalah yang ia hadapi saat itu benar-benar membuat dirinya bersedih. Bukan karena dia benci pada istrinya. Tapi lebih takut kehilangan istrinya lagi. Apalagi kalau orang tuanya tahu, Amalia adalah adik pembunuh anaknya. Sudah jelas, orang tuanya tidak akan berbuat baik lagi pada istrinya.
"Kan, tadi udah aku katakan padamu, sayang. Aku akan memaafkan mu dengan satu syarat," selorok Amalia mengalihkan pandangannya ke arah ranjang.
"Apa syaratnya?" tanya Angga penasaran.
"Syaratnya kamu nggak boleh tidur bareng aku dan Azka. Itu sebagai hukumannya," sebut Amalia menahan tawanya melihat reaksi suaminya.
"Apa!!! aku nggak mau, sayang. Kok kamu tega sih, sama aku. Jangan yang itu, ya. Yang lain aja," rengek Angga sembari memasang wajah memelas.
Bukannya kasihan Amalia malah tertawa geli. Melihat tingkah suaminya itu. Dia merasa puas sudah mengerjai Angga.
"Ya udah kalau gak mau, berarti aku gak akan maafin kamu." Amalia mulai menarik diri dari ranjang tapi dengan cepat ditarik oleh Angga.
"Mau kemana?" tanya Angga menyelidik.
"Mau pergi. Tadi rencananya aku mau pulang ke Bogor sama Azka. Ya untuk apa lagi disini, suaminya aja cuekin aku." Amalia semakin gencar mengerjai Angga. Hingga pria itu tak berkutik lagi dengan ucapan istrinya yang akan meninggalkan dirinya.
"Ok, Ok. Tapi kamu jangan pergi ya sayang. Aku bakalan tidur di kamar samping. Asalkan kamu masih tetap disini." Amalia tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya dia berhasil membalas kekesalannya pada suaminya itu.
__ADS_1
Angga hanya pasrah menerima hukuman dari istrinya itu. Daripada harus melihat istrinya pergi dari rumah. Dan kembali ke Bogor. Baginya itu sangatlah buruk dibandingkan dengan tidur sendirian.
Mereka berdua kembali ke ruang tengah. Melihat ayah dan bundanya sudah datang. Azka merengek minta di gendong ayahnya. Karena seharian pria itu tidak menggendongnya. Dengan penuh kesabaran akhirnya Angga menggendong anaknya dan mengajak ke teras untuk menikmati pemandangan di sore hari.
Sementara Angga dan Azka pergi, Amalia membantu Bu Renata yang sedang memasak makanan untuk makan malam. Harusnya mereka hari ini makan di luar, tapi karena akan ada tamu ke rumah. Akhirnya mereka urungkan niatnya untuk pergi makan malam di luar. Amalia pun tidak tahu siapa yang akan datang malam itu. Karena mertuanya sama sekali tidak memberitahunya.
Mereka mengolah berbagai masakan seperti Balado Ayam dan kentang, capcay sayur dan bakso, cumi pedas manis kesukaan Angga. Dan Gurame bakar makanan favorit pak Dwi. Karena itu mereka sedikit disibukkan dengan mengolah makanan-makanan itu. Amalia yang notabenenya pandai memasak. Dia sama sekali tidak kesulitan mengolah bahan-bahan makanan itu menjadi masakan yang luar biasa nikmatnya. Bu Renata pun memuji kepiawaian menantunya dalam memasak.
Mereka menyelesaikan masakannya pas saat adzan magrib berkumandang. Amalia pamit pada mertuanya untuk sholat magrib terlebih dahulu. Bu Renata pun mengizinkannya, karena pekerjaan mereka sudah selesai. Hanya tinggal menata di meja makan. Semua itu diserahkan oleh asisten rumah tangganya, Bu Renata juga masuk ke kamarnya untuk melaksanakan sholat magrib juga bersama dengan suaminya.
Semenjak kepergian putranya mereka memang sudah berubah. Tidak seperti dulu yang lalai melaksanakan perintah-NYa. Kini mereka lebih taat lagi beribadah mengingat umur mereka yang sudah senja. Alih-alih untuk bekalnya nanti.
Selepas sholat mereka berkumpul di ruang keluarga. Menunggu tamunya datang. Selang beberapa saat suara bel berbunyi. Pak Dwi langsung menuju ke depan untuk membukana pintunya.
"Pak Burhan, Bu Lestari, Angel. Silahkan masuk, ayo kita langsung aja ke meja makan. Istri saya sudah siapkan semuanya.
"Ayo duduk, jeng!" tawar Bu Renata pada tamunya.
"Ngel, apa kabar sayang." Bu Renata lalu menyapa wanita muda yang berdiri tepat di belakang Angga.
"Baik, Tante." Mereka kemudian duduk di tempat mereka masing-masing. Pak Dwi duduk di kursi yang ada di ujung meja makan, diikuti dengan Istrinya, dan cucunya di sisi kiri dari pak Dwi. Dan Angga, serta Amalia, duduk di sisi kanan. Sementara pak Burhan dan istrinya duduk di sebelah Azka. Angel duduk disebelah Amalia.
Mereka mulai menyantap makanan yang sudah tersaji di meja.
"Ngga, apa benar kamu memberhentikan Angel dari pekerjaannya?" tanya pak Burhan membuat pak Dwi terkejut.
__ADS_1
"Berhenti, kenapa Ngga?" timpal pak Dwi.
"Om bisa tanyakan sendiri alasan Angga memberhentikan dia kenapa?" jawab Angga sedikit ketus. Dia tahu ini adalah rencana wanita ular itu agar dia bisa kembali bekerja di perusahaannya.
"Kenapa tanya Angel, Kak. Yang pecat Angel kan, Kakak!" kilah Angel seperti tidak terjadi apa-apa dengan mereka.
"Apa perlu aku bongkar kekurangajaran kamu pada istri saya," sahut Angga dengan meninggikan badan bicaranya. Membuat suasana di meja makan itu mulai menegang.
"Kakak belaian wanita ini sampai-sampai pecat Angel."
"Turunkan tangan kamu dari situ!!" teriak Angga membuat semua orang yang ada disana menghentikan makannya.
"Angga!!! cukup. Sejak kapan kamu tidak punya sopan santun seperti ini!!" sergah pak Dwi mulai tersulut emosi.
"Dan kamu Angel, jaga sikap kamu di depan menantu saya," ujar pak Dwi membela Amalia.
Angel seketika terperangah melihat sikap pak Dwi yang berubah membela Amalia. Melihat hal itu, Angga sedikit lega. Dia juga tidak menyangka kalau papanya akan membela istrinya.
"Sudah-sudah, jangan ribut lagi. Kita lanjutkan makan malamnya," lerai Bu Renata menengahi perdebatan mereka.
"Ayo jeng tambah lagi cuminya, ini yang masak semuanya menantu saya, lo!" Bu Renata mulai mencarikan suasana yang semakin menegang.
"Iya Nek, ini semuanya yang masak bundanya Azka. Enak, Lo. Mantap!!" selorok Azka mengacungkan kedua jempol nya.
Sedikit ketegangan diantara mereka sudah mulai hilang. Terlihat pak Dwi sudah mulai berbincang dengan pak Burhan. Pun begitu dengan Bu Renata dan Bu Lestari. Bahkan Bu Lestari terang-terangan memuji masakan Amalia. Tak hanya itu saja, beliau juga mulai terlihat akrab dengan Azka. Sesekali menggoda anak kecil itu dengan banyolannya.
__ADS_1
Namun tidak dengan Angel. Masih ada surat kebencian di mata wanita itu. Sesekali dia melirik sinis wanita disampingnya. Namun tak membuat wanita itu terpancing.
To be continued