
"Kok diem sih, sayang," teriak Amalia karena Angga tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Aku nggak tahu, soal itu. Emangnya Kakak kamu kenapa?" kilah Angga berbohong. Dia takut jika mengatakannya sekarang akan menjadi masalah dalam rumah tangganya. Dia memilih menyembunyikan kebenaran kasus itu, paling tidak sampai dia menemukan bukti kalau kakaknya tidak bersalah.
Mungkin dengan dia mengatakan hal itu, Amalia mau bercerita tentang kakaknya yang di penjara itu. Dia ingin mendengar cerita versi Delon, mengenai kasus itu. Dengan itu dia bisa mengambil kesimpulan atau mulai mencari sesuatu yang bisa di cari untuk membuktikan jika Delon tidak lah bersalah.
"Kakak ku dituduh membunuh teman kampusnya. Padahal, waktu itu dia di SMS temannya untuk datang ke gudang itu. Temannya minta tolong, karena di keroyok preman disana. Kak Delon datang tidak hanya sendiri, saat itu. Dia bersama temannya. Tapi, karena temannya takut. Dia tidak ikut masuk kedalam.
Akhirnya dia masuk sendirian. Di sana sudah tidak ada orang lagi, hingga kak Delon melihat temannya itu sudah bersimbah darah dengan pisau yang menancap di bagian perutnya. Kak Delon berusaha menolong, temannya itu dengan mengambil pisau itu dari perutnya. Itulah kesalahan dia, mungkin karena panik. Dia tidak berfikir kalau yang dilakukannya itu membahayakan dirinya. Tak lama setelah itu, polisi datang dan menangkap kak Delon karena dia memegang pisau itu," jelas Amalia panjang lebar.
Sementara Angga, pria itu masih tidak bisa mendapat petunjuk kalau Delon tidak bersalah. Yang disayangkan oleh Angga, temannya Delon tidak ikut masuk. Sehingga dia tidak bisa menjadi saksi.
"Selain orang itu, apakah ada orang lain yang melihat kejadian itu?" tanya Angga mengulik informasi dari istrinya.
"Ada. Dia adalah yang menjadi saksi utama dari kasus itu. Tapi, kami tidak dapat menemukan keberadaannya. Sepertinya pelaku sudah membayarnya untuk pergi menjauh dari tempat ini," terang Amalia.
Angga sedikit menemukan angin segar dari informasi yang di dapat dari istrinya.
"Apa kamu tahu, dimana alamat saksi kunci itu?" ulik Angga, yang masih belum puas dengan informasi yang ia dapat.
"Tahu, aku sempat mencarinya dengan Papa. Tapi dia tidak ada disana, sayang. Percuma juga, di cari!" ujar Amalia dengan wajah sendu, kala mengingat kejadian itu.
"Kalau kamu pengen tahu banyak tentang siapa orang itu. Datang aja ke lapas kak Delon. Tanya langsung dengan dia," ucap Amalia lagi.
Benar apa yang dikatakan istrinya. Angga memang harus menanyakan langsung pada Delon. Agar semuanya bisa jelas. Keyakinannya bahwa Delon tidak bersalah semakin besar usai mendengar cerita dari istrinya.
Makam semakin larut, udara dingin pun mulai menyapu permukaan kulit. Membuat dua insan yang sedang berpelukan itu tak sadar tengah terlelap dengan sendirinya. Mungkin juga karena sudah lelah mengobrol, dan mata yang sudah mengantuk.
__ADS_1
Pagi-pagi sekali Amelia membangunkan suaminya untuk sholat subuh berjamaah. Tapi karena tidak bangun-bangun juga, akhirnya Amelia memilih untuk pergi ke kamar mandi. Tapi saat dia sedang berjalan menuju ke kamar mandi, tangannya menyenggol ponsel milik Adi yang di cas di atas nakas, dekat tempat tidurnya.
Merasa tidak pernah melihat ponsel itu, Amelia pun mengambil dan mencabut chargeran dari handphone itu. Dia menatap ponsel itu lama, hingga sebuah gerakan melepaskan ponsel itu dari tangannya hingga jatuh kelantai.
"Sayang!!" panggil Angga, saat Amelia menjatuhkan ponsel itu. Angga belum menyadari jika ponsel yang jatuh ada milik kakaknya.
"Ya, ampun. Kamu ngagetin aja." Amalia langsung mengambil ponsel itu dari lantai. Beruntung ponselnya tidak pecah.
Angga yang menyadari ponsel Kakaknya yang di pegang Amalia, langsung merebut ponsel itu dari tangan istrinya.
"Sini, ponselnya!" serunya.
"Itu ponsel siapa, sayang?" telisik Amalia, yang sedikit menaruh curiga suaminya.
"Ini ponsel udah gak ke pakek. Mau aku jual aja, ponselnya," jawab Angga langsung menyembunyikan ponsel itu dari Amalia.
Usai sholat, Amalia pamit untuk menengok anaknya di kamar sebelah pada Angga. Dengan senang hati, Angga mengijinkan wanita itu pergi.
Sejurus kemudian, wanita itu keluar dari kamar itu menuju ke kamar, tempat Azka tidur semalam. Anak itu bahkan tidak terbangun tengah malam untuk minta dibuatkan susu.
Di lihatnya anaknya yang masih terlelap dengan posisi yang sudah tidak beraturan. Melihat anaknya masih terlelap, Amelia memutuskan untuk pergi ke dapur, memasak makanan untuk sarapan nanti.
Sepeninggal istrinya, Angga langsung memeriksa ponsel itu. Baterainya sudah full. Yang pertama kali di lihat adalah historis panggilan dari ponsel Adi. Disana terlihat ada banyak panggilan tidak terjawab dari Papanya. Di gesernya keatas, layar itu dan terdapat nomor yang tidak di kenal menghubungi kakaknya. Nomor itu ada di historis panggilan masuk. Mereka sempat ngobrol selama satu menit lebih. Nomor itu dengan cepat di salib ke ponselnya.
Setelah puas mengotak-atik di historis panggilan. Angga membuka pesan dari ponsel itu. Sama, dengan historis panggilan yang pertama muncul adalah pesan dari papany. Dan ada yang menarik perhatiannya, pesan dari nomor yang sama dengan yang menelepon kakaknya ada di sana.
Tanpa membuang waktu lagi, Angga membuka isi pesan itu. Di sana di tuliskan 'brengsek Lo... Gue tunggu di gudang kosong ujung kampus. Kalau emang nyali lo besar, datang sendirian.'
__ADS_1
Angga tampak berfikir, orang itu memang sudah merencanakan perkelahian itu.
Setelah itu, Angga menelpon nomor yang dia salin dari ponsel kakaknya tadi. Tapi sayang, nomor itu sudah tidak terdaftar. Harapan Angga pun sia-sia. Karena tidak ada lagi petunjuk apapun dari ponsel itu. Nama orang yang mengirim pesan itu pun tidak ada. Itu akan menyulitkan dia untuk mencari informasi lebih lengkapnya lagi.
Saat Angga sedang serius memikirkan hal itu. Tiba-tiba telinganya di pekakkan oleh tangisan anaknya yang ada di kamar sebelah. Angga langsung menghampiri anaknya karena dua yakin istrinya tidak ada di tempat itu.
"Sayang, kamu udah bangun!" Angga langsung menggendong putranya yang masih terisak. Angga membawanya turun ke bawah. Karena anak itu minta susu.
"Sayang! sayang! Azka minta susu ini," teriaknya menuju ke dapur.
Amalia langsung mengambil botol dan susu yang terletak di meja dapur. Segera ia buatkan susu untuk anaknya, sebelum putranya lebih mengamuk lagi.
"Ini susunya, anak Bunda!" Amalia menyerahkan botol berisi susu itu pada anaknya.
"Sayang, nanti aku mau ke lapas kakak kamu, aku mau jenguk dia." Pak Dwi yang mendengar anaknya menyinggung soal lapas, dia pun bersuara.
"Lapas? Mau ngapain, Ngga?" Angga yang kaget karena papanya tiba-tiba datang, gelagapan menjawab pertanyaan Papanya.
"Itu Pah, gak... mau nengok teman Angga." Amalia menatap bingung suaminya. Kenapa, dia tidak berkata jujur kalau mau menengok kakaknya.
"Oh." Pak Dwi pun berlalu menuju ke kolam ikan miliknya.
Setelah memastikan kalau papa mertuanya tidak ada disana, Amalia memberanikan diri untuk bertanya pada suaminya.
"Kenapa kamu nggak jujur, sayang?" Sekarang giliran Bu Renata yang datang dari arah ruang keluarga. Mendengar sekelebat perbincangan anak dan menantunya. Dia pun ikut bersuara.
"Juju, apa? Apa kamu sedang menyimpan sesuatu, sayang?"
__ADS_1
To be continued