Perjuangan Cinta Sang Ceo

Perjuangan Cinta Sang Ceo
Pelaku sesungguhnya


__ADS_3

"Maksud anda apa bicara seperti itu? Bukankah ini yang keluarga anda harapkan? Membuat keluarga saya menderita?" Delon menatap tajam kearah Angga. Pria itu benar-benar sangat membenci keluarga Angga.


"Saya akan berusaha keluarkan anda dari sini? Percayalah, saya benar-benar ingin mengeluarkan anda dari sini. Saya sudah selidiki kasus ini, memang ada kejanggalan yang membuat anda di tahan di sini? Sementara pelakunya, bebas berkeliaran di sana," terang Angga menyampaikan niatnya. Sejurus kemudian pria dihadapannya itu sedikit luluh. Sedikit lebur emosinya yang menggebu-gebu itu.


"Apa jaminannya kalau anda benar-benar ingin membantu saya keluar dari sini!" Pria itu tak lantas mempercayai semua kata-kata Angga.


"Karena bagi saya, kebahagiaan Amalia menjadi prioritas utama saya." Pria itu terkejut mendengar kata-kata Angga, dan dia sedikit tidak mengerti dengan yang diucapkan Angga.


"Maksud kamu apa?" Pertanyaan itu, sudah di prediksi oleh Angga. Dia tidak akan melakukan kebohongan lagi, dengan menyembunyikan hubungannya di depan kakak iparnya itu.


"Karena saya adalah suami dari Amalia," jawab Angga dengan nada yakin.


"Apa!!! Amalia menikah dengan kamu?"


"Iya, aku juga baru tahu kalau dia adalah adik kamu, Kak." Terasa aneh di telinga Delon saat Angga menyebut dirinya dengan sebutan kakak.


Delon tahu semua tentang keluarga Dwipangga. Tentang kejayaannya di masa itu. Bahkan, dia juga tahu kalau pak Dwi adalah musuh dari papanya. Pak Sapta yang memberitahu pria itu.


"Aku sempet menyelidiki kasus itu lagi. Aku juga dapat informasi mengenai kejanggalan pembunuhan itu. Ada beberapa pesan dari handphone kek Adi dari nomor tidak di kenal. Aku juga melihat dari akun media sosial Kak Adi, mengenai hubungan kakak dan dia tidak cukup baik. Karena itulah aku ingin, tahu kronologi kejadiannya itu seperti apa. Sehingga kakak ada di tempat itu."


Angga mulai menceritakan hasil penyelidikannya pada kakak iparnya. Pria itu tampak bahagia, karena ada secercah harapan untuk dia bisa bebas dari hukuman itu. Dia memang di vonis hukuman 15 tahun penjara. Itu artinya masih ada lima tahun lagi. Dia harus mendekam di sana.


Dengan bantuan adik iparnya, dia berharap akan segera bebas dari jeruji besi yang menyiksanya.


"Aku akan menceritakan semua kejadian itu. Siapa saja yang terlibat dalam kasus tawuran itu."


Angga mendengarkan apa yang di ceritakan oleh kakak iparnya dengan seksama.


"Selain yang di ceritakan Amalia itu. Ada saksi kunci yang mengetahui secara detail kejadian tawuran itu. Dia adalah, Kevin." Delon seperti sedang mengingat-ingat sesuatu, setelah itu dia kembali bercerita.


"Tawuran itu dilakukan oleh lima orang dari kampus kami, dan enam orang dari kampus seberang. Tapi yang di hukum atas kejadian itu cuma aku. Aku yang tidak tahu apa-apa." Angga masih bingung dengan yang diucapkan kakak iparnya.

__ADS_1


"Kakak tahu, dimana rumah Kevin?" tanya Angga.


"Dia bukan asli orang Jakarta. Dia hanya ngekost di sini. Dia tinggal di Bogor. Alamat jelasnya aku nggak tahu, Ngga."


"Terus gimana caranya kita bisa tahu alamat Kevin. Apa sebelumnya Papa udah pernah mencarinya?"


"Belum, Ngga. Yang aku tahu, Papa hanya mencarinya di kost-an nya waktu itu. Setelah tidak ada di sana. Kita kehilangan jejak!"


"Kakak ada fotonya?"


"Ada.. kebetulan Kakak pernah gak sengaja foto dengannya."


"Foto itu ada di akun Instagram Kakak. Kamu buka aja, aku kasih kata sandi dan email nya."


Angga menuruti perintah dari kakak iparnya yaitu membuka akun Instagram milik Delon melalui ponselnya. Setelah terbuka, Angga mencari foto itu di album Instagramnya. Ada banyak foto yang terpampang di sana.


"Yang mana, Kak?" Angga menyerahkan ponselnya pada Delon.


"Ini, dia!" Delon menunjuk foto Kevin.


Pria berpostur tinggi dan berambut keriting itu yang akan menjadi target selanjutnya. Angga akan mencari pria itu sampai ketemu.


"Satu lagi yang mengetahui tawuran itu adalah, Santika. Cewek yang direbutkan kakak mu dengan Valentino, ketua geng dari kampus seberang," jelas Delon lagi.


"Kakak tahu, dimana wanita itu tinggal?" Delon pun menggeleng.


"Kamu bisa tanyakan pada pihak kampus, jika kamu mau," lanjut Delon.


Terlalu sulit bagi Angga untuk mencari pelaku yang sesungguhnya. Dia hanya kasian pada kakak iparnya. Yang harus mendekam di penjara, tanpa melakukan kesalahan apapun.


Apalagi, informasi yang di peroleh Angga hanya setengah-setengah. Itu akan semakin menyulitkan dirinya untuk menemukan pelaku yang sesungguhnya.

__ADS_1


Tapi Angga menaruh curiga dengan salah satu pria yang disebutkan kakak iparnya tadi.


Saat mereka sedang serius berbincang. Petugas yang berjaga, menghampiri mereka. Pertanda waktu besuk mereka sudah habis. mau tidak mau mereka harus mengakhiri pertemuan mereka siang itu.


"Terimakasih, kamu sudah mau percaya, kalau aku bukan pelakunya," ujar Delon pada Angga di akhir pertemuan mereka.


Setelah itu petugas membawanya lagi masuk ke sel. Sementara Angga, dia memilih kembali ke kantor. Dia akan meminta pendapat dari assistennya. Jujur, Angga benar-benar pusing. Memecahkan kasus itu.


Saat melintas di jalanan raya. Tiba-tiba mobilnya menabrak seseorang yang akan menyeberang. Kali ini, salah Angga karena tidak fokus dalam mengendarai mobilnya. Orang itu jatuh, terlempar. Angga langsung turun dan menghampiri pria itu.


Beruntung, pria itu tidak sampai pingsan. Angga menolong, pria itu untuk berdiri dan membawanya ke tepi jalan.


"Maaf saya tidak sengaja, saya bawa saja aja ke rumah sakit," tawar Angga. Namun pria itu menolaknya. Dengan alasan tubuhnya tidak terluka, dia hanya terkejut.


Setelah diamati oleh Angga, Angga seperti pernah melihat orang yang ia tabrak itu. Ya ingatannya muncul, pria itu adalah orang yang ada di foto Instagram milik kakak iparnya. Saksi kunci dari pembunuhan itu.


"Kevin!" terka Angga, dan pria itu terbelalak.


"Anda kenal saya?"


"Kamu, kamu, orang yang tahu kejadian tawuran yang merenggut nyawa kakak saya, Adipati." Pria itu semakin terkejut mendengar kalimat Angga. Dengan cepat pria itu melepaskan diri dari Angga dengan lari kearah seberang jalan. Angga yang masih terperangah dengan apa yang ia lihat sehingga dia kurang cepat menahan pria itu disana.


Tak ingin kehilangan jejak, Angga pun mengejar Kevin. Sekilas dia masih bisa melihat punggung pria itu, Angga mengikuti kemana pria itu berlari. Hingga di persimpangan dia kehilangan jejak.


"Brengsek, kemana larinya laki-laki itu," umpatnya dengan nafas ngos-ngosan.


Merasa tidak mungkin lagi menemukan Kevin, Angga kembali ke mobilnya. Tapi disaat dia akan berbalik arah, sekelebat dia melihat pergerakan Kevin. Angga urungkan niatnya untuk kembali ke mobilnya dan mengejar kembali Kevin.


Kevin lari melewati beberapa gang kecil dari sebuah perumahan padat di kota Jakarta. Angga masih mengejarnya. Hingga tubuh Kevin menghilang di sebuah gudang berisi tong-tong besar. Angga memeriksa satu persatu tong, itu hingga sebuah benda jatuh mengagetkannya.


Ternyata benda itu dijatuhkan oleh Kevin untuk tempat sembunyi, Kevin segera lari kala Angga sudah siap mendekatinya. Angga masih terus mengejar, hingga keluar dari gudang itu. Dan untuk kesekian kalinya, Angga harus kehilangan jejak pria itu..

__ADS_1


To be continued


__ADS_2