Perjuangan Cinta Sang Ceo

Perjuangan Cinta Sang Ceo
kisah masa lalu


__ADS_3

Bu Leha dan pak Sapta terkejut mendengar ucapan Amalia. Bagaimanapun bisa, dia menyebut itu anaknya. Apalagi dia belum menikah. Pak Sapta mulai menetralkan keadaan yang mulai menegang. "Kamu becanda ya Nak?" Pak Sapta belum percaya dengan ucapan Amalia.


"Kakek, Nenek. Azka sayang Kakek, Nenek," ucap anak kecil yang masih di pangkuan ayahnya. Orang tua Amalia pun terperangah saat anak yang baru ia temui itu menyebutnya kakek dan Nenek. Azka turun dari pangkuan ayahnya menuju ke pak Sapta dan Bu Leha.


Setelah dihadapan mereka. Azka mengambil tangan mereka, di ciumnya satu persatu punggung tangan kakek dan neneknya. Terbesit senyum dari keduanya melihat Azka yang begitu sopan dan lucu.


Bu Leha pun memeluk cucunya, matanya berbinar bahagia. Awalnya dia akan marah pada putrinya tentang anak itu. Namun dia urungkan, karena melihat kelucuan cucunya.


"Kamu cucuku, AZ.." ucapannya terhenti karena dia lupa dengan nama cucunya itu.


"Azka Nek," lanjut Azka tersenyum bahagia. Psk Sapta masih diam memperhatikan kedekatan istri dengan cucunya itu. Dia pun ikut senang melihat kelucuan cucunya. Akhirnya pak Sapta pun ikut menghambur kepelukan istri dan cucunya.


"Dia cucu kita Pa, anaknya Amalia." Pak Sapta pun mengangguk. Tangis haru pun pecah diruangan itu.


Amalia dan Angga pun merasa lega. Karena pak Sapta dan istrinya mau menerima kehadiran anaknya. Setelah keharuan itu terjadi, mereka pun menikmati sarapan bersama.


Azka pun sudah mulai dekat dengan Bu Leha. Bahkan Azka terang-terangan minta disuapi dengan neneknya itu. Tentu saja, dengan senang hati beliau melakukannya.


Usai sarapan. Mereka kembali ke ruang tamu. Azka bermain ditemani oleh Reyhan, adiknya Amalia. Pak Sapta minta penjelasan pada keduanya. Bagaimana bisa terjadi Amalia sudah memiliki putra sebesar itu.


Angga menceritakan semuanya pada orang tua Amalia. Dimulai dari pelecehan itu, hubungan mereka yang tidak direstui orang tuanya, kehamilan Amalia, kepergian Amalia, dan tuhan mempertemukan mereka lagi. Pak Sapta begitu syok mendengar cerita itu. Bahkan beliau sampai sesak nafas mendengarnya. Beruntung, Bu Leha selalu sedia obat suaminya.


"Maafkan Am, Ma, Pa. Selama ini sudah menyembunyikannya dari kalian. Am tidak berniat untuk memakannya itu. Am takut, kalau pak Dwi akan membuat Bapak celaka," jelas Amalia menangis di kaki orang tuanya. Bu Leha menatap punggung putrinya dengan tatapan sendu. Dia membayangkan betapa menyedihkannya hidup anaknya selama ini. Selama mengandung jauh dari orangtuanya, melahirkan tidak ada yang menemani, dan mengasuh anaknya sendirian. Tak bisa dibayangkan, betapa sulitnya hidup anaknya selama tiga tahun ini. Air matanya pun tidak bisa di bendung lagi.


"Kenapa? Kenapa kamu sembunyikan pada kami, Am?" cecar Bu Leha mengangkat tubuh anaknya agar tidak bersujud di kakinya. Amalia pun mendongak, menetap wajah mamanya.

__ADS_1


"Am tidak mau menyusahkan Mama dan papa." Kini Amalia duduk di samping Bu Leha.


"Semua ini bukan kesalahan Amalia, tapi saya yang salah," bela Angga tak ingin Amalia semakin disalahkan oleh mamanya.


Pak Sapta beralih menatap Angga. Hatinya hancur melihat penderitaan putrinya gara-gara lelaki yang di hadapannya itu. Raut kemarahan terlihat jelas di wajahnya.


"Dasar orang kaya memang selalu berbuat semena-mena. Dan gara-gara kamu, anak saya yang harus menderita," sungutnya sembari mengeratkan kedua rahangnya.


"Saya tahu Pak. Karena itu saya akan nikahi Amalia. Saya mohon bapak merestui kami," sahut Angga merasa bersalah.


"Kamu pikir dengan kalian menikah, semuanya akan beres. Lalu bagaimana dengan orangtua kamu. Yang tidak merestui hubungan kalian, karena kami tidak sepadan dengan mereka," ucapnya dengan nada sedikit meninggi.


Amalia pun ragu, karena ancaman pak Dwi masih begitu lekat dalam ingatan nya.


"Kalau urusan orangtua saya, saya sendiri yang akan membujuknya Pak. Saya tidak bisa lagi dipisahkan dari mereka berdua." Angga menunjuk Amalia, yang masih menangis dalam dekapan mamanya.


"Tapi Pa, Azka juga butuh ayah kandungnya. Kasian anak itu jika hidup tanpa ayahnya," timpal Bu Leha menengahi.


Pak Sapta tampak berfikir. Mungkin benar apa yang diucapkan istrinya itu. Kaldu sampai Amalia tidak menikah dengan Angga. Azka lah yang akan jadi korban. Semua orang pasti akan menggunjing keberadaannya.


"Baiklah, saya akan restui kalian untuk menikah. Tapi kamu juga tidak bisa terus-terusan menyembunyikan pernikahan kalian dari orang tuamu." Angga tersenyum lega, karena dia sebentar lagi akan menikah dengan Amalia.


Pembicaraan mereka terhenti, saat Azka dan Reyhan masuk kedalam. Sepertinya, Azka sudah lelah bermain diluar. Apalagi dia habis menempuh perjalanan jauh. Akhirnya Amelia mengajaknya untuk istirahat di kamar.


Sekarang tinggal ada pak Sapta, Angga dan Reyhan yang ada disana. Mereka bercerita tentang bisnis yang digeluti oleh Angga. Reyhan bertanya banyak pada calon kakak iparnya itu tentang bisnis. Pak Sapta pun berantusias menceritakan masa kejayaannya pada Angga.

__ADS_1


"Papa dulu seperti kamu Ngga, perusahaan papa berkembang pesat. Tapi karena musuh papa, mereka menjebak papa sehingga perusahaan papa bangkrut." Pak Sapta mengepalkan tangannya dengan erat saat ingat, dia di jebak oleh pesaing bisnisnya itu. Terlihat jelas diwajahnya, kalau dia masih menaruh dendam dengan orang yang menghancurkan perusahaannya.


"Yang lebih parahnya lagi, kakaknya Amalia dituduh membunuh putranya. Sehingga sekarang kakaknya Amalia di penjara," lanjutnya lagi dengan wajah memerah.


"Kalau boleh saya tahu, apa yang menyebabkannya anak orang itu meninggal Pa?" Tanya Angga penasaran.


"Menurut kakaknya Am, anak itu meninggal karena terlibat tawuran antar mahasiswa. Dia diserang, dan ditusuk dengan pisau, sampai meninggal ditempat itu juga," jawab pak Sapta menceritakan kejadian sepuluh tahun yang lalu.


Angga jadi ingat kematian kakaknya sama persis dengan yang diceritakan oleh pak Sapta. Tapi dia tidak yakin kalau yang diceritakan oleh pak Sapta itu adalah kakaknya. Segera ia tepis pikirannya sendiri.


"Apa yang akan Papa lakukan jika bertemu orang itu?" Angga ingin tahu, apa jawaban pak Sapta jika bertemu dengan musuhnya itu.


"Saya tidak akan pernah memaafkan orang itu. Saya sangat benci manusia licik seperti dia." Sepertinya dendam sudah mendarah daging di hati pak Sapta. Hingga yang ada hanya keburukan dan kebencian dalam dirinya.


Angga pun akhirnya mengalihkan pembicaraan mereka dengan bertanya pekerjaan pak Sapta di perkebunan teh ini. Pak Sapta sangat antusias. Bahkan memuji mandor yang memperkerjakan dirinya. Berkat dialah pak Sapta bisa bekerja di perusahaan teh itu. Walaupun gajinya tak seberapa. Tapi berkat pekerjaan itu, dia bisa mencicil utang-piutang selama ini.


Pak Sapta pun penasaran dengan nama orang tua Angga. Akhirnya dia bertanya pada Angga.


"Oh iya Ngga, siapa nama Papa mu. Siapa tahu kami saling kenal. Karena banyak kolega-kolega saya yang semakin sukses sekarang ini?" tanya pak Sapta penasaran.


"Namanya...."


to be continued...


ayo dong jangan kasih kendor......

__ADS_1


komen kalian penyemangat author...


sedih deh lihatnya yang komen cuma bisa dihitung jari😁


__ADS_2