Perjuangan Cinta Sang Ceo

Perjuangan Cinta Sang Ceo
Rencana terselubung


__ADS_3

Obrolan pagi itu berakhir saat Angga mendapat telpon dari Delon. Angga bergegas pergi ke kantor. Karena rencananya yang akan menghancurkan Angel dan Burhan, harus segera terealisasikan.


Mobil sedan berwarna putih tiba di sebuah gedung pencakar langit di bagian Utara kota Jakarta. Sebuah perusahaan yang di bangun oleh papanya, dan sebagai pewaris tunggal dari perusahaan itu, Angga harus menyelamatkan lagi perusahaan itu dari ambang kehancuran. Karena ulah Angel dan Burhan.


Dengan wajah yang terlihat serius, pria dengan setelan kemeja berwarna biru muda dan jas putih itu berjalan memasuki kantor tersebut. Beda sekali jika di rumah yang selalu memancarkan senyumnya, seolah tak ada masalah dengan hidupnya. Padahal, masalah kantor yang ia hadapi saat ini sangatlah serius, terlebih imbasnya pada perusahaan yang susah payah di bangun oleh papanya akan hancur jika dia salah melangkah.


Para karyawan dan staf pun sudah berkumpul di ruang rapat menunggu kehadirannya. Tak menunggu lama, Angga masuk ke ruangan itu. Ruangan yang sudah terisi penuh oleh karyawan-karyawatinya. Termasuk Angel, wanita yang menjadi benalu di perusahaan miliknya.


"Selamat pagi semuanya!" serunya saat sudah berdiri di depan.


"Pagi," balas mereka serempak.


"Sengaja saya kumpulkan kalian disini karena ada sesuatu yang penting dan genting." Suasana menjadi serius, tak ada sedikit


"Saya akan mengumumkan kalau produk yang awalnya bukan depan akan meluncur, saya akan batalkan. Menurut saya, produk itu tidak akan di terima di masyarakat. Mengingat, banyak produk sejenis yang sudah beredar di luaran sana."


"Jadi, saya akan menggantinya dengan sebuah produk minuman yang belum pernah ada di negara ini. Silahkan, Pak Delon untuk menyampaikan ide dari produk baru kita."


Selama kurang lebih dua jam mereka berada di ruangan itu. Sebuah rencana terselubung di buat oleh team Angga untuk menggagalkan rencana Burhan dan Angel. Salah satunya, memperdayai Angel dengan produk yang berhasil ia curi tidak akan di rilis. Dan di gantikan dengan produk lainnya.


Usai rapat semua karyawan membubarkan diri dan kembali ke tempatnya masing-masing. Begitu pun juga dengan Angel. Wanita itu seperti merasakan ada angin segar, dengan hasil rapat tadi.


Berbeda dengan Angga dan Delon, dua pria tersebut masih berada di ruangan itu.


"Kak, Kakak sudah tahu 'kan? Apa yang akan kita lakukan sekarang?" Delon hanya bisa mendecak kesal. Karena dia harus berhadapan langsung dengan Santika, wanita yang selama ini telah membuat hidupnya sengsara.

__ADS_1


"Ayolah Kak? Bantu Angga, kali ini aja," bujuk Angga tersenyum memohon.


"Kenapa harus aku sih, Ngga? Kenapa gak_." Belum sempat Delon melanjutkan kata-katanya, Angga terlebih dulu mengatupkan kedua tangannya dengan wajah yang memelas.


"Ya... Iya. Aku ikuti kemauan kamu. Siang ini, aku akan ke kantornya," jawab Delon mendapat senyum puas dari adik iparnya itu. Betapa tidak, langkah awalnya untuk menyatukan Delon dan Santika sepertinya akan berhasil.


Sepeninggal kakak iparnya, Angga kembali ke ruangannya. Untuk melancarkan rencananya. Sesampainya di sana, hal pertama yang ia lakukan adalah mengambil gagang telpon yang berada tepat di samping labtobnya.


"Keruangan saya, sekarang!" perintahnya dengan nada tegas pada seseorang.


Lima menit kemudian, handle pintu ruangannya bergerak. Dari luar tampak seorang wanita yang mengenakan blazer berwarna abu-abu dengan rok di atas lutut berjalan kearahnya.


"Kakak manggil saya?" tanya wanita itu manja.


"Panggil saya Bapak atau Pak," jawabnya dengan tatapan sinis. "Kamu masih ingat 'kan posisi kamu disini?"


Angel menautkan kedua alisnya, dia masih terlihat bingung dengan perintah atasannya itu.


"Kok Angel, Kak. Eh.. Pak. Bukankah itu salah satu investor yang akan menanamkan modalnya di perusahaan ini. Harusnya Pak Angga langsung yang menghadiri meeteng tersebut." Angga terlihat tetap tenang. Walau gelagat Angel menangkap kecurigaan padanya.


"Saya ada urusan penting yang tidak bisa diwakilkan kepada siapapun," jawabnya dengan wajah datar.


"Satu lagi, saya minta salinan berkas keuangan bulan lalu. Semuanya harus sudah ada besok pagi di meja saya," lanjut Angga dengan tatapan intimidasi, membuat wanita yang duduk dihadapannya sedikit terkejut dengan perintahnya kali ini.


"Ba-ik Pak," jawabnya setengah terbata.

__ADS_1


**************


Disebuah ruangan yang cukup luas, terdapat beberapa orang yang sibuk dengan labtob dan beberapa alat tulis lainnya. Angga dan beberapa teamnya sedang berdiskusi membahas rencana yang ia susun. Meski sedikit kesulitan dalam merealisasikannya, tapi Angga yakin bisa melakukan itu.


Sebelum Angel kembali ke kantornya, mereka harus sudah selesai dengan diskusinya. Banyak poin-poin penting yang akan menyita banyak waktu dan tenaganya. Dia harus terjun langsung dan mengawasinya sendiri. Tentunya dengan bantuan kakak iparnya.


Sebuah ide yang matang telah disusun oleh Angga dan team. Itu artinya, mulai malam ini dia harus lembur agar semuanya bisa selesai sesuai waktu yang sudah mereka tentukan.


"Kalian boleh keluar sekarang," titahnya pada beberapa karyawan kepercayaannya.


Angga sendiri harus secepatnya pergi dari tempat itu. Agar tidak mengandung kecurigaan pada yang lainnya. Memang apa yang ia lakukan saat ini, membuat beberapa karyawan merasa ada yang janggal. Namun itu tak sedikitpun membuat dirinya mundur, dengan apa yang ia sudah susun dengan baik.


Tepat pukul dua belas siang, Angga dengan mengendarai sedannya menuju ke gudang produksi. Yang tempatnya beberapa kilo meter dari kantor pusat. Di waktu yang bersamaan, pandangannya menangkap kesebuah kerumunan orang yang membuat kemacetan lalulintas. Mau tidak mau, dia harus menghentikan mobilnya terlebih dahulu. Sama halnya dengan kendaraan lainnya.


Merasa penat menunggu, namun kerumunan itu tak kunjung bubar. Angga berniat turun dari mobilnya dan melihat langsung apa yang terjadi di depan sana sehingga mengundang kemacetan lalulintas.


Dia berjalan ke depan mobilnya, walau sedikit kesulitan karena jarak kendaraan lainnya yang terlalu mepet. Namun, tak menyurutkan niatnya untuk tetap melihatnya.


Setelah berjalan kurang lebih lima puluh meter, kontak matanya menangkap sebuah mobil yang tak asing baginya hancur di bagian depannya. Dan mobil itu terpental cukup jauh dari jalan raya.


Segera Angga menghampiri kerumunan orang tersebut. Meski saling berdesakan, akhirnya Angga bisa mengetahui apa yang menjadi alasan kemacetan tadi. Sebuah wanita yang sangat ia kenal sedang mengerang kesakitan dengan luka yang cukup parah di bagian kepalanya.


"Tolong dia, kenapa kalian hanya diam saja!" sentak Angga pada beberapa orang yang berdiri mematung melihat wanita itu kesakitan.


"Kita tunggu ambulance saja, Mas," jawab seorang pria yang memakai pakaian dinas pemerintahan.

__ADS_1


"Nggak keburu, keadaannya sudah semakin buruk. Siapapun yang mobilnya dekat dari sini, tolong antarkan saya membawa wanita ini ke rumah sakit!" teriak Angga dengan wajah gusar.


To be continued


__ADS_2