Perjuangan Cinta Sang Ceo

Perjuangan Cinta Sang Ceo
gagal


__ADS_3

Mobil Angga melaju membelah keramaian kota Jakarta malam itu. Tujuannya hanya satu, yaitu tempat penyekapan Kevin.


Tidak butuh waktu yang lama Angga sampai di gudang itu. Gudang kosong, yang terletak di belakang pabrik pembuatan makanan ikan, mobil Angga berhenti. Dengan sigap salah satu anak buahnya menghampiri bosnya.


"Dimana orang itu?" tanya Angga tegas.


"Di dalam, bos!" Belum mereka melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam salah seorang dari dalam berteriak.


"Tawanan kabur!!! Menyebar!!!" Selang berapa saat, seorang yang bertubuh kekar keluar dari gudang itu menghampiri Angga.


"Maaf bos, tawanan kabur," ucapnya sedikit gaguk.


"Bagaimana kerja kalian. Mengurus satu orang saja tidak becus!!?" teriak Angga dengan lantang.


Mereka berdua yang berdiri di depan Angga, pun menjadi takut. Angga menghembuskan nafasnya kasar, dia sangat frustasi karena Kevin kabur.


Tak jauh dari tempat mereka berdiri, sebuah mobil sedan berwarna putih berhenti. Selang berapa saat, seorang pria berlari menuju mobil itu. Dan orang itu masuk kedalam mobil itu. Setelah orang itu masuk, mobil itu melaju kencang ke arah berlawanan dengan gudang itu.


"Itu dia, cepat kejar mobil itu!!!" seru salah satu orang-orang Angga mengintruksikan pada yang lain untuk mengejar mobil sedan putih itu.


Begitu mendengar ucapan dari anak buahnya. Angga langsung masuk kedalam mobilnya. Setelah itu dengan cepat dia menyusul mobil itu.


Mereka sudah keluar dari kawasan gudang itu menuju jalan utama. Target pun masih bisa di lihat oleh Angga. Dengan lihainya, Angga menyelip mobil-mobil yang menghalanginya demi mengejar target.


Mobil itu melaju kencang kearah Bogor. Beberapa anak buah Angga pun ikut mengejarnya. Naas, saat di persimpangan mobil Angga menabrak pembatas jalan. Sehingga mobilnya terpental dua meter dari tempat kejadian.


Di sebuah ruangan VIP, Angga dirawat. Kecelakaan itu membuat dia tak sadarkan diri dan langsung di bawa ke rumah sakit. Tubuh atletis Angga kini terbaring tak berdaya di atas brangkar rumah sakit.


Disisi kiri tubuh Angga ada istrinya yang tak henti-hentinya menangis, berharap agar Angga cepat sadar. Sedangkan disisi sebelah kanannya, mamanya. Pun tak kalah histeris melihat anaknya dengan perban di kepalanya. Sementara pak Dwi dan Azka duduk di sofa yang ada di ruangan itu.

__ADS_1


Walau dokter sudah menyampaikan kalau Angga baik-baik saja, tidak ada luka yang serius. Dua wanita itu tak henti-hentinya meraung menangisi laki-laki yang sedang terbaring itu.


Tak berapa lama, pria itu mengigau, meracau. Sepertinya dia terbawa ke alam bawah sadarnya.


'aku tidak berhasil menemukannya..'


'aku gagal!'


Melihat suaminya terus mengingau, Amalia menepuk-nepuk pipi Angga dengan pelan.


"Sayang, bangun! Sayang, hiks hiks.." racaunya melemah.


"Kalian harus tenang, Angga tidak apa-apa." Pak Dwi pun mendekati kearah mereka bersama Azka.


"Lebih baik kalian istirahat saja dulu. Bentar lagi, Angga pasti akan sadar," bujuk Pak Dwi pada dua wanita yang masih terisak di dekat Angga.


"Apalagi kamu, Am. Pulanglah dulu, kasihan Azka. Biar Papa yang menjaga suamimu. Kasihan Azka, dia ngantuk." Amalia beralih menatap anaknya yang mulai menguap. Dia jadi tega melihat anaknya seperti itu.


Dengan berat hati, Bu Renata juga menuruti perintah suaminya. Meski dengan beberapa syarat yang diajukan olehnya. Dia meminta pada suaminya harus mengabarkan keadaan putranya setiap jam. Tentu saja Pak Dwi menerimanya. Karena dia tidak mau istrinya sakit lagi.


Amalia dan Bu Renata akhirnya pulang dengan taksi online. Karena mobil Angga masih ada di kantor polisi.


Kini tinggal Pak Dwi seorang diri yang menunggui putranya. Pria paruh baya itu, duduk di samping anaknya. Pikirannya tiba-tiba terlintas saat Angga Pamotan tadi. Awalnya dia menganggap kaldu putranya akan bertemu dengan kliennya. Tapi pikiran itu segera di tepiannya. Kini pak Dwi beranggapan kalau putranya sedang melakukan sesuatu yang dia tidak tahu.


Angga mulai sadar dari pingsannya. Orang yang pertama kali dia lihat adalah papanya. Angga masih sedikit menahan sakit di kepalanya. Dengan di bantu oleh pak Dwi, Angga pun memposisikan tubuhnya untuk duduk, tidak berbaring lagi.


"Sekarang katakan pada Papa. Apa yang terjadi dengan kamu?" cecar pak Dwi dengan tatapan matanya yang tajam.


Melihat hal itu, Angga bisa menyimpulkan kalau papanya sudah mulai menaruh curiga dengan nya. Angga tidak bisa mengelak lagi. Dia harus menceritakan semuanya pada papanya.

__ADS_1


"Angga... Angga sedang menyelidiki kasus pembunuhan kak Adi, Pa!" Bukan terkejut lagi, Pak Dwi. Dia bahkan langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Untuk apa lagi, Ngga. Semuanya sudah jelas. Anaknya Sapta lah pelakunya!!!" ucap pak Dwi dengan penuh kebencian.


Angga bisa melihat dengan jelas, wajah pak Dwi yang tidak suka dengan tindakannya. Karena bagi papanya, semua kasus itu sudah jelas.


"Pa, Papa salah. Bukan Delon pelakunya. Angga sedikit lagi akan menemukan pelakunya. Papa harus dukung Angga. Angga akan buktikan kalau Delon memang tidak bersalah."


Pak Dwi sedikit luluh dengan apa yang disampaikan oleh anaknya. Dan mau mendengar penjelasan putranya. Angga menceritakan semuanya. Pertemuan dirinya dengan Delon. Penyelidikan yang mengakibatkan dia kecelakaan. Dan dugaan pelakunya.


Pak Dwi bisa menerima semua penjelasan putranya itu. Dan dia pun mulai percaya dengan apa yang disampaikan oleh Angga.


Tapi Angga belum menceritakan kalau Delon adalah kakak kandung istrinya. Dia tidak mau Papanya membenci lagi wanita yang dia cintai itu. Sebelum pelaku yang sesungguhnya itu terungkap.


"Papa heran, kenapa baru sekarang kamu menyelidiki kasus ini, Ngga!" Pak Dwi masih menaruh curiga pada anaknya. Yang tiba-tiba menyelidiki lagi kasus itu setelah sepuluh tahun berlalu.


Pertanyaan papanya membuat Angga tidak langsung menjawabnya. Dia masih bingung mencari alasan yang tepat, agar papanya tidak menaruh curiga.


"Bukankah Papa bilang waktu itu, kalau Papa mimpi bertemu dengan kak Adi. Di dalam mimpi Papa, kak Adi sedang bersedih. Karena itu, Angga berfikir ada yang tidak beres dengan kematian kak Adi," jelas Angga melemparkan mimpi papanya sebagai alasan dia menyelidiki kasus itu.


"Kamu benar, Ngga. Papa harap, kita akan segera menemukan pelakunya," ujar Pak Dwi penuh harap.


Tak berapa lama dokter pun datang untuk memeriksa kembali keadaan Angga. Setelah siuman, Angga mengeluhkan kepalanya yang sakit. Karena itu, Dokter memeriksa kembali keadaan Angga. Setelah memastikan semuanya baik-baik saja. Dokter itu pun kembali meninggalkan ruang rawat Angga.


Pak Dwi juga mulai mengistirahatkan tubuhnya di sofa. Walau jauh dari kata nyaman setidaknya bisa untuk merebahkan tubuhnya.


Angga tidak bisa tidur hingga menjelang pagi. Pak Dwi yang mendengar adzan subuh berkumandang, dia pun terjaga dan melaksanakan sholat subuh di ruangan itu. Pun dengan Angga, karena belum bisa sholat dengan berdiri, dia melakukannya dengan duduk. Di bantu oleh papanya, Angga mensucikan diri.


Selepas sholat subuh. Masih ada yang mengganjal di hati Angga.

__ADS_1


"Pa, Angga minta pada Papa untuk merahasiakan hal itu pada Mama dan istri Angga, ya!" Angga takut jika pak Dwi bercerita, Amelia akan tahu yang sesungguhnya. Kalau yang membuat kakaknya di penjara adalah keluarga Angga.


"Emangnya kenapa, Ngga?"


__ADS_2