
Menyadari Angga mengejar dia, Amalia mempercepat langkah kakinya. Meskipun sebenarnya tubuhnya tidak mendukung, tubuhnya gemetaran, keringat dingin pun mulai bercucuran. Beberapa hari ini Amalia memang tidak enak badan, kepalanya sering pusing, dan tubuhnya mendadak gemetaran. Tapi karena tips dari event ini lumayan, Amalia memaksakan untuk tetap bekerja.
Amalia keluar dari balroom itu, menuju lantai dasar. Dia sudah tidak sanggup untuk melanjutkan pekerjaannya, dia memilih untuk pulang. Angga berlari mengejar Amalia, tak ingin kesempatan nya sia-sia. Kali ini dia harus berhasil menemukan Amalia. Akhirnya dengan nafas ngos-ngosan, Angga berhasil menangkap Amalia. Amalia berusaha untuk tetap berlari, namun tangannya sudah berhasil Angga raih. Tidak menunggu lama lagi, Angga memeluk tubuh Amalia erat. Sosok yang di rindukan selama dua bulan ini, ada nyata di dekapannya. Rasa hampir tak percaya, Angga bisa menemukan Amalia di tempat ini.
"Sayang, akhirnya aku bisa menemukanmu! dimana kamu selama ini? kenapa tega meninggalkan ku?" Angga terus mencecar pertanyaan yang selama ini ada di benaknya. Amalia hanya bisa pasrah, diam mematung dalam dekapan Angga. Jujur, selama ini dia juga merindukan Angga. Tapi apalah dayanya, dia siapa? Amalia selalu merasa tak pantas untuk Angga.
"Sayang, biarkan aku memelukmu, aku merindukanmu, Amalia!"
Perlahan Angga melepaskan pelukannya dari tubuh Amalia. Dia ingin memastikan kembali, kalau wanita yang dia peluk adalah Amalia, kekasihnya. Seulas senyuman terpancar di bibir Angga, setelah benar-benar yakin wanita itu Amalia.
"Kamu gendutan sekarang, rupanya kamu tidak tersiksa memendam rindu padaku!" goda Angga membuat Amalia menunduk, perlahan Angga mendongakkan kepala Amalia, agar ia tetap bisa memandang wajah Amalia.
"Am, kamu dimana selama ini? kenapa kamu tega meninggalkan aku?" Angga memegang kedua tangan Amalia.
Amalia masih mematung, tak menanggapi pertanyaan Angga. Tiba-tiba kepalanya terasa berputar-putar, pandangannya pun mulai kabur,dan bughh, Amalia tumbang, dengan sigap Angga menangkapnya.
"Am, kamu kenapa? Am!" racau Angga panik.
Pak Dwi yang menyadari Angga keluar dari ballroom, bergegas menyusul Angga. Pak Dwi penasaran, saat melihat Angga berlari menyusul seseorang. Betapa terkejutnya dia, saat mengetahui Angga sedan memeluk Amalia. Wanita yang selama ini ingin dijauhkan dari Angga, berada dalam dekapan Angga. Sikap Angga yang memeluk Amalia di depan umum seperti itu, membuat amarahnya mencuat. Dia tak habis pikir, Angga akan melakukan hal yang memalukan seperti ini. Memeluk seorang office girl, di depan umum.
"Angga!" teriak pak Dwi, membuat Angga menoleh, mencari sumber suara.
"Apa-apaan kamu! apa kata orang, kalau mengetahui kamu memeluk wanita murahan itu!" sambung pak Dwi, emosi.
"Angga tidak punya banyak waktu untuk berdebat dengan Papa." Angga merogoh ponselnya dari sakunya, dan mencari kontak Mang Darma, lalu menekan tombol telpon.
__ADS_1
"Mang, bawa mobil di depan lobi, sekarang!" perintah Angga pada mang Darma, saat telponnya sudah tersambung.
Angga membopong tubuh Amalia menuju lobi, disusul oleh pak Dwi. Sesampainya di lobi, Mang Darma sudah siap dengan mobilnya. Melihat Angga membopong seseorang, Mang Darma turun dan membukakan pintu mobil untuk Angga. Dengan perlahan Angga meletakkan tubuh Amalia di dalam mobil, disusul oleh dia yang berada di sebelah Amalia. Pak Dwi yang kebingungan dengan tingkah Angga, hanya mengikuti kemana Angga akan membawa Amalia. Pak Dwi naik di bangku samping kemudi.
"Am, bangun Am!" seru Angga yang berusaha membuat Amalia sadar.
"Apa yang ada dipikiran kamu Ngga, wanita seperti itu tidak pantas untuk kamu!" gertak pak Dwi.
"Bukankan Papa sudah memberikan restu Papa untuk hubungan Angga dan Amalia?" ucap Angga dingin.
"Papa sudah mencabut restu itu, karena Papa sudah tidak punya alasan untuk merestui hubungan kalian!" jawab Pak Dwi dengan nada mengejek.
Senjata Angga sudah tidak mempan untuk pak Dwi memberi restu hubungannya dengan Amalia. Pak Dwi sendiri sudah tidak perduli dengan ancaman Angga. Toh sekarang Bu Renata masih menerima dia, walaupun tahu kesalahan Pak Dwi.
"Kita ke rumah sakit harapan, Mang!" perintah Angga pada Mang Darma. Mang Darma melajukan mobilnya menuju rumah sakit Harapan.
Angga merasa khawatir dengan keadaan Amalia, yang terbaring di pangkuannya. Diamati wajah Amalia, memang sedikit pucat. Sepertinya Amalia tidak beristirahat dengan baik. Ingatan Angga melayang ke dua bulan lalu. Saat dia melihat wanita yang mirip dengan Amalia, masuk ke kantor "DINATA GRUP". Dia baru sadar sekarang, wanita itu memang benar Amalia. Kalau saja waktu itu dia tidak di cegah oleh Angel, dia tidak akan kehilangan Amalia selama dua bulan ini.
"Arghhhh!" racau Angga mengelap wajahnya kasar. Dia sangat menyesal, karena tidak lanjut menyelidiki Amalia waktu itu.
Setelah tiga puluh menit memacu kendaraannya, akhirnya mereka sampai di rumah sakit Harapan. Suasana di rumah sakit itu, nampak agak sepi. Dengan ranjang dorong yang dibawa perawat menuju ke mobil Angga, tubuh Amalia di rebahkan disana. Kemudian segera dibawa ke UGD.
"Maaf Pak, Bapak keluar dulu, agar kami bisa memeriksa pasien!" perintah perawat pada Angga.
"Lakukan yang terbaik untuk dia Sus," ucap Angga, kemudian keluar dari ruang UGD.
__ADS_1
"Lagian untuk apa kamu masih peduli dengan gadis itu. Bukankah dia sudah meninggalkan mu selama ini!" ujar Pak Dwi yang duduk di kursi tunggu.
"Karena Angga mencintai dia Pah, Angga sangat mencintai Amalia. Hanya Amalia yang ada dalam hati Angga, sampai kapanpun!" papar Angga pada papanya.
"Cinta, cinta persetan dengan cinta. Papa minta sama kamu, tinggalkan gadis itu. Karena dia tidak pantas untuk kamu!"
"Kenapa Pa? karena dia seorang office girl!"
"Iya, wanita seperti itu tidak sepadan dengan kita Angga!"
Perdebatan mereka terhenti pada perawat dan dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD. Angga kemudian mendekati dokter itu.
"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Angga cemas.
"Pasien kelelahan, Bapak tidak perlu khawatir. Tapi untuk memastikan keadaan pasien, lebih baik dilakukan tes urine. Karena saya menduga, kalau pasien sedang hamil saat ini!" jelas dokter yang menangani Amalia.
Penjelasan dokter Rika membuat Angga dan pak Dwi tercengang. "Hamil? bagaimana bisa dia hamil tanpa suami! Angga sekarang sudah jelas kan, wanita itu bukan wanita baik-baik." Angga masih mencerna kata-kata dokter Rika. Ingatan Angga tertuju kejadian pelecehan yang ia lakukan pada Amalia. Apakah mungkin, Amalia hamil anaknya?.
Dokter Rika dan perawat meninggalkan Angga dan Pak Dwi. Angga masih berdiri mematung ditempat itu.
"Ayo sekarang kita pulang, untuk apa lagi kamu disini! Sudah jelas kan sekarang, kalau wanita itu adalah wanita murahan!" ujar Pak Dwi menarik tangan Angga.
"Amalia hamil anak Angga, Pa!"
Up Up Up....
__ADS_1