Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)

Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)
Suri Harus Menjadi Perisai Keluarga Barata


__ADS_3

Matahari datang menjemput kegelapan malam. Sinarnya yang terang menguasai sebagian bumi tercinta. Termasuk negara di mana Suri dan Sky tinggali.


Suri membuka mata. Mengerjap berat di susul gerakan badan yang semalaman tak dapat bergerak bebas. Sky mendekapnya erat seolah takut Suri pergi.


Mata Suri berkeliling di kerumunan cahaya merah yang menyeramkan. Berhenti di mana Sky berada.


Tak membuang waktu Suri segera bangkit perlahan. Tidak ingin menimbulkan suara atau getaran besar yang bisa membuat Sky bangun.


Suri mengendap-endap untuk bisa turun dari ranjang. Merintih sakit di sekujur badan. Memunguti baju yang berserakan tak karuan. Memakainya secara perlahan.


"Aww.." Suri merintih. Bibirnya ia gigit untuk menahan rasa perih. Gesekan baju yang melindungi tubuhnya amat menyakitkan.


Setelahnya Suri berjalan keluar kamar tanpa menoleh kearah Sky. Suami tampan yang masih terlelap.


Pintu dan lemari di buka Suri. ini adalah kali pertama dirinya bangun sebelum Sky. pencapaian yang luar biasa. Karena biasanya Sky yang selalu bangun lebih awal.


Suri menarik napas dalam-dalam. Melirik area kamar Sky yang nampak terang. Cahaya mentari pagi begitu asik masuk kedalam.


Di tatapnya jam dinding. Pukul 06: 20 tepatnya. Suri tersenyum hambar.


Kembali Suri berjalan. Pintu putih menjadi tujuannya. Suri masuk dan mulai menanggalkan pakaian. Tidak memanggil pelayan seperti yang selalu Sky lakukan. Kali ini Suri akan melewatkan gosokan dan kelembutan tangan terampil para pelayan.


Bathub di sini air hangat dan sabun cair beraroma mawar kesuksesan Suri. Bisa menghirup aroma mawar mampu membuat Suri tenang. Masuk setelah terisi penuh.


Sedikit merintih manakala air menyapa tubuhnya yang kini nampak menyedihkan.


Suri memejamkan mata. Menggosok pelan tubuh yang mana setiap gosokan menghasilkan rasa nyeri.


"Aww.. Sakit."


Haruskah aku mati saja! Mungkin aku akan lebih bahagia di surga dari pada sengsara bersama laki-laki iblis itu! Tapi Tuhan tidak menerima orang yang mati karena bunuh diri.


Batin Suri meracau.


"Tidak, Suri! Mati seperti Suri lain bukan pilihan yang tepat. Mama masih membutuhkan dirimu!" Suri bergumam. Matanya mulai berkaca-kaca. Mengingat senyuman manis sang Mama yang hampir dua Minggu ini tidak dirinya liat. Suster yang merawat Nyonya Luna begitu rajin memberi kabar. Walaupun Suri tidak pernah membalas pesan si suster. Rasa bersalah atas sang Mama membuat Suri ingin menghindar untuk beberapa saat.


Papa dan Mama Nena mereka apa kabar? Jujur aku merindukan kalian.


Mungkin Suri sudah mulai dewasa. Keputusan kedua orangtuanya memang keputusan yang harus di ambil. Menjual dirinya kepada keluarga Batara adalah keharusan, supaya hidup dan kesejahteraan sang ayah akan kembali berjaya. Walaupun harus mengorbankan putrinya sendiri.


Hiks...hiks....hiks... "Baik, aku memaafkan kalian! Papa, Mama. Suri rindu."


Kebetulan sekali para pelayan yang berjumlah tiga orang itu masuk kedalam kamar Sky tanpa harus mengetuk terlebih dahulu. Selama Sky lahir. Ketiganya sudah terbiasa masuk kedalam kamar Sky tanpa harus mengetuk atau menunggu perintah.


Nyonya Rose memerintahkan ketiga wanita itu untuk segera mengurus keperluan Sky dari mulai mandi sampai Sky berganti baju. Dan sekarang Suri menjadi bagian agenda mereka.


Tapi sepertinya ketiga pelayan tidak bisa membantu Suri bersiap di kamar mandi. Pasalnya kamar mandi terkunci. Ketiganya saling tatap bingung.


"Apa Tuan dan Nona Suri ada di dalam?" Tanya salah satu dari mereka.


"Tidak mungkin. Tuan Sky belum pernah membiarkan dirinya membersihkan diri sendiri." Sahut temannya yakin.


Tapi suara gemericik air dari dalam kamar mandi mengundang mereka untuk meyakinkan kalau seseorang tengah mandi saat ini.


"Apa itu Nona Suri!"


"Nona! Anda di dalam?" Tanya ketiganya bergantian. Mengetuk pintu kamar mandi segera.


Dari dalam kamar mandi Suri terperanjat. Segera membuka mata dan menyelesaikan mandi.


Ketiga pelayan mundur bersamaan ketika pintu mulai di buka.


Suri melangkah keluar kamar mandi. Berjalan menghampiri lemari dengan sengaja mengacuhkan ketiga pelayan.


"Nona! Anda sudah mandi?" Pelayan memberanikan diri untuk bertanya. Padahal sudah jelas terlihat tubuh Suri di lilit jubah handuk.


Suri acuh dirinya memilih segera membuka lemari pakaian. Melihat itu Ketiga pelayan berlari.


"Nona, biar kami saja."


Suri terdiam. Membiarkan ketiga pelayan mencari pakaian untuknya.


Baju di temukan berserta keperluan Suri yang lain. Satu pelayan mulai menarik tali jubah handuk Suri. Tapi Suri segera menarik tangan si pelayan itu.


"Mulai hari ini biarkan aku mandi dan berganti baju sendiri!" Katanya. Menarik paksa baju yang ada di tangan pelayan.


Ketiga pelayan jelas terkejut. Kenapa pagi ini si Nona Suri nampak lain. Lebih bringas dan dingin.


"Tapi Nona-


"Keluar!!" Suri berteriak.


.


.


"Keluar."


Mata Sky membuka cepat. Suara teriakan Suri sudah membuatnya terjaga.


"Suri!" Sky segera bangun. Melihat sekeliling kamar. Tak ada Suri di sana.


Sky segera keluar kamar tempatnya menggauli Suri. Berlari ketar-ketir karena takut Suri pergi.

__ADS_1


"Suri!" Suara Sky memecah keheningan. Suri dan ketiga pelayan menoleh kearah Sky yang mana bertelanjang dada.


"Tuan Sky!" Para pelayan Membungkuk. dan menunduk takut.


"Kamu sudah bangun?" Tanya Sky lembut. Berjalan acuh menghampiri Suri yang menatapnya datar.


Kenapa dia bangun! Aku bahkan belum selesai bersiap.


Suri menggerutu dalam hati. Memilih tersenyum bahagia ketika Sky mendekatinya.


"Kamu juga sudah mandi?" Tanya Sky. Wajahnya nampak terkejut ketika tubuh Suri yang di lilit jubah handuk.


"Tubuh ku sedang tidak ingin di sentuh mereka." Kata Suri ketus. Alasan yang mungkin bisa menyakiti hati Ketiga pelayan. Yang pada kenyataannya adalah Suri tidak ingin para pelayan merasa kasian ketika melihat tubuhnya yang penuh luka cambukan.


Sky mengerti.


"Kalian keluar!" Pinta Sky.


"Tapi Tuan!" Ketiganya kebingungan. Karena ini adalah untuk yang pertama kali Sky meminta mereka keluar sebelum membantu bersiap.


Mata Sky menyoroti ketiga pelayan. Pelayan jelas ketakutan. Ketiganya segera keluar kamar. Tatapan Sky sudah lebih dari cukup untuk mengusir para pelayan.


"Sini ikut aku!" Sky menarik Suri kearah ranjang. Mendudukkan Suri di sana yang sama sekali tidak memberi penolakan.


Mau apa dia?


Batin Suri bertanya. Melihat Sky yang sibuk di dekat laci.


Kotak putih yang di yakini Kotak P3K Di keluar Sky dari sana. Setelahnya duduk di samping Suri yang diam memperhatikan.


"Ayo bukan handuknya. Aku-


Suri segera bangkit dari duduknya. Menatap Sky penuh curiga. "Berikan padaku! Biar aku saja! Aku bisa sendiri." Tangan Suri menjulur kearah Sky. Meminta salep yang ada di tangan Sky.


"Duduk! Aku sudah katakan aku akan mengobati luka itu!" Kata Sky seolah mengingatkan Suri.


Suri menggeleng. "Tidak mau! Aku bisa sendiri."


Melihat bagaimana Suri keras kepala. Sky mendesah, segera ikut bangun dan kembali menarik Suri untuk duduk.


"Sky!" Teriak Suri tak terima.


"Mau sampai kapan seperti ini! Menurut dan jangan melawan, itu-


"Aku tidak mau." Kata Suri. Masih berteriak.


Tapi bukan Sky namanya kalau tidak memaksa. Sky menarik jubah handuk Suri. Menampakkan bagian depan tubuh Suri yang memabukkan.


"Sudah cukup Sky! Jangan buat aku semakin-


Suri tersentak ketika Sky kembali membuka jubah handuknya.


"Aku hanya ingin mengobati luka ini" Sky menahan tangan Suri. " Kita suami istri. Kamu tidak perlu malu."


"Diam ya. Jangan melawan!" Kata Sky lembut.


Sky mulai membuka penutup salep. Perlahan mengoles cairan putih itu kebagian tubuh Suri yang memar.


Tangan Suri mengepal kuat. Menahan perih dan rasa malu karena buah kenyalnya terekspos kemana-mana.


Suri memilih mengalah. Karena kalau harus kembali melawan, Sky tetap akan menang.


Dalam diam Suri melihat nanar wajah tampan Sky. Rambutnya yang berantakan menambah ketampanan putra kedua Batara. Penasaran apa yang saat ini ada dalam pikiran Sky. Bagaimana rasanya mengoleksi luka yang dirinya hasilkan.


Pagi ini Sky nampak lain dari Sky yang semalam. Semalam Sky bak monster. Tapi sekarang dirinya seperti laki-laki yang penuh perhatian dan kasih sayang.


"Apa rasanya sakit?" Tanya Sky tanpa sadar.


Suri mengangguk. "Apa kamu menyesal atas semua ini?" Suri balik bertanya.


Sky melirik Suri. Kepalanya mengangguk pelan.


"Kamu bahkan tidak meminta maaf!" Lagi Suri memberi pertanyaan.


"Maaf!" Jawab Sky cepat.


"Apa kamu memaafkan aku?" Tanya Sky. Kembali fokus mengoleskan salep di pucuk buah kenyal Suri.


Suri meringis terlebih dahulu. "Pelan-pelan. Sakit!" Bisik Suri.


Sky mengangguk patuh.


"Kamu belum menjawab pertanyaan ku, Suri!"


"Aku memaafkan kamu, tapi aku juga ingin meminta maaf! karena rasa benciku masih besar padamu, Sky!"


Sky tersenyum kecut. "Tak apa. Aku akan membuat rasa benci mu menjadi perasaan cinta!"


Suri mematung. Menatap Sky yang juga menatapnya lembut.


Aku bahkan tidak mengenal siapa dirimu, Sky.


.

__ADS_1


.


Tiga hari setelah insiden itu. Suri masih enggan keluar kamar. Dirinya memilih mengurung diri di kamar. Bahkan tidak pergi ke kampus. Jelas hal itu membuat kedua mertuanya dan Tristan yang seolah menghilang merasa khawatir. Tapi Sky selalu mengatakan Suri sedang datang bulan dan juga tidak lancar.


Tuan Diki dan Tristan mungkin bisa percaya tapi tidak dengan Nyonya Rose. Dirinya segera menemui Suri yang tiga hari ini selalu berdiam di dalam kamar. Makan malam selalu Suri lakukan di kamar bersama Sky. Sebenarnya itu juga permintaan Sky. Memar di tubuh Suri masih belum membaik. Jadi Sky ingin menyembunyikan hal itu kepada semua keluarga.


Tok...tok...tok..


"Suri! Ini Mama!" Nyonya Rose berdiri di ambang pintu kamar Sky. di belakangnya ada dua pelayan yang siap menemani.


Sky sendiri sudah kembali kuliah. Tiga hari dirinya memilih menemani Suri di kamar tanpa bisa keluar untuk sekedar kuliah. Luka di badan Suri membuat Sky merasa bersalah. Jadi dirinya juga yang harus menyembuhkan luka memar itu.


Suri segera membuka mata. Mengerutkan dahi ketika suara ketukan dan panggilan namanya terus terdengar.


"Mama?" Suri segera menyibak selimut. Berjalan untuk membuka pintu.


Cekelk...


Pintu di buka.


Nyonya Rose tersenyum samar. Menatap Suri yang nampak lemah dan lebih kurus.


Dia terlihat menderita.


"Kamu baik-baik saja, Suri?" Tanya Nyonya Rose. Sedikit membelai rambut Suri yang berantakan.


Suri menghindar. Sedikit mundur ketika sang Mama mertua membelai rambutnya.


Dua Minggu sudah Suri menjadi anggota keluarga Barata. Dan selama itu juga Suri tidak terlalu akrab dengan kedua mertuanya dan juga Tristan.


"Boleh, Mama masuk?"


Suri mengangguk pelan.


Keduanya duduk di sofa bersama kedua pelayan yang setia di belakang Nyonya Rose. Melihat itu Suri melirik tak nyaman.


Dulu keluarga Christabel Jocelyn juga salah satu orang terkaya yang masuk ke 10 besar. Tapi sang Mama tidak selalu di dampingi pelayan. Memang kalau di sandingkan dengan keluarga Barata. Kekayaan sang ayah tidak ada apa-apanya. Tuan Diki yang terhormat menjadi orang kaya ke 2 di dunia. Dan menjadi orang terkaya nomor satu di kotaknya. Benar-benar luar biasa bukan? Pantas semua orang segan dengan keluarga Barata yang fenomenal dan terkenal itu.


Mata Nyonya Rose melirik Suri yang terus menatap kedua pelayan.


"Ah! Kalian?" Kepala Nyonya Rose menoleh ke belakang. "Tinggalkan aku dan menantuku." Katanya.


Kedua pelayan wanita itu mengangguk patuh, segera keluar kamar Sky tak lupa juga menutup pintu.


Kini Suri dan Nyonya Rose berdua. Sama-sama terdiam di saat kecanggungan makin terasa. Ini adalah untuk yang pertama bagi keduanya duduk berdua dalam satu ruangan.


"Ada apa, Ma?" Tanya Suri. Melirik sang Mama mertua yang begitu cantik dan mempesona. Titel orang super kaya nampak di wajah cantiknya. Suri jadi ingat kedua Mamanya.


'Aku ingin segera menemui Mama dan Mama Nena.' Batin Suri bergumam.


"Sky, mengatakan kamu lagi datang bulan dan tidak lancar!" Nyonya Rose mengingat perkataan Sky tiga hari silam.


'Jangan ganggu Suri. Dia tidak ingin di ganggu. Katanya dia lagi datang bulan dan rasanya sakit. Sky minta jangan ada yang mengganggu Suri.'


"Apa itu benar?"


Suri Tersenyum ketir. "Dia mengatakan itu?"


Nyonya Rose mengangguk yakin.


"Mama ada obat-


"Hahaha! Dia lucu!" Ucap Suri. Tertawa kencang yang mana membuat Nyonya Rose mengerutkan kening.


"Ada apa, Suri? Apa Mama salah bicara?"


Suri terus tertawa sembari membuka satu persatu kancing bajunya.


Nyonya Rose kebingungan melihat apa yang di lakukan sang menantu.


"Suri! Apa yang kamu lakukan? Pakai lagi-


"Lihat apa yang sudah putar tercinta kalian lakukan padaku?" Suri membuka bajunya. Menunjukkan luka memar yang menjalar di sekujur tubuh.


Melihat itu Nyonya Rose tersentak. Membulatkan mata tak percaya. Goresan merah memenuhi tubuh sang menantu.


"Apa ini ulah, Sky?" Tanya Nyonya Rose dengan suara bergetar. Bagaimana bisa Sky sekejam itu kepada istrinya sendiri. Itu yang ada di dalam benak Nyonya Rose.


"Ma!" Suri menuntut sang ibu mertua.


"Ini sudah jelas ulah Sky." Suri memberi penekanan.


Tapi Nyonya Rose malah beranjak bangun. Meninggalkan Suri yang masih duduk dengan luka di badan. Tak memberi respon apapun.


"Katakan! Apa Sky bisa berubah? Suri lelah dengan semua ini, dengan sikapnya yang menyeramkan itu." Hiks...hiks... Suri menangis di sana.


Nyonya Rose berdiri mematung. Segera berbalik dan menatap sang menantu yang tengah menangis.


"Suri? Kamu tidak berhak menuntut Sky untuk bisa berubah secepat kilat. Semua butuh proses dan kesabaran kamu sebagai istri Sky. Kami membeli mu bukan untuk mengeluh. Tapi Kami membeli mu karena satu alasan. Kamu adalah istri Sky yang kami cari sesuai dalam ramalan. Suka tidak suka sekarang kamu adalah istrinya."


"Bagaimana kalau dia membunuhku, Ma? Apa kalian akan diam saja?"


"Maka jangan membuat Sky melakukannya. Ketahuilah, Kami senang Sky mempunyai istri karena semua kemarahannya tidak akan sampai melukai anggota keluarga Barata. Kamu harus bisa menjadi perisai untuk kami Suri. Mama harap kamu bisa menjadi istri yang dapat di andalkan."

__ADS_1


__ADS_2