
Tiga tahun berlalu.
Kota besar itu nampak sibuk terlihat. Para pekerja bergulat dengan waktu dan tenaga, bos besar menuntut mereka untuk segera menyelesaikan pekerjaan. Itu yang terjadi di semua perusahaan.
Gedung besar bertingkat yang tersinari matahari nampak sibuk terlihat. Manusia keluar masuk gedung dengan ekspresi wajah berbeda-beda.
Di tempat yang sama. wanita dan pria muda begitu tekun lagi serius mendengarkan ucapan dari pria berjenggot tipis yang menerangkan tentang banyak hal, terlebih lagi tentang cara menangani pasien kritis. Hal yang sudah mereka ketahui ketika menimba ilmu. Kegiatan terus berlanjut hingga akhir.
Di kemudian hari. Tiba masanya mereka menerima keputusan. Tak terkecuali salah satu dari kerumunan orang yang kala itu bertandang ke gedung besar bertingkat itu untuk melakukan wawancara layaknya pekerja.
Di hadapan meja besar. Dua orang saling berhadapan dengan wajah serius. Tak ada guratan kesenangan sebelum orang di depannya membuka mulut.
Dirinya terus menguatkan hati dan merekatkan kedua tangan. Berdoa kepada sang pencipta agar cita-citanya terkabul.
Tuhan, berkati aku hari ini.
"Nona!" tiba-tiba suara lembut itu membuyarkan suasana yang sunyi.
Yang di panggil mengangguk kikuk tanpa menebar senyuman sedikit pun.
"Selamat bergabung bersama kami." Lantas pria yang menjadi direksi itu mengulurkan tangannya.
Sontak wanita muda yang sedari awal memperlihatkan wajah tegang tersenyum lepas.
"Terimakasih. Pak, saya akan mendedikasikan kemampuan saya di rumah sakit ini." ucapnya sumringah.
"Saya tau Nona Suri, rekan-rekan saya selalu membicarakan tentang anda. Bagaimana anda menjadi murid yang cerdas dan cekatan. Saya merasa beruntung anda mau menjadi dokter di rumah sakit ini. Rumah sakit ini bukan satu-satunya yang mau menerima anda Nona. Anda begitu berharga."
Suri hanya mampu tersenyum malu ketika pujian terus di arahkan kepadanya. Pujian yang selama ini dirinya dapatkan semasa menimba ilmu di salah satu perguruan tinggi yang mana mampu membawanya menjadi dokter bedah yang amat di agung-agungkan. Tapi untuk menjadi seperti sekarang bukan hal yang mudah. Suri harus merasakan kepedihan selama dua tahun terakhir.
Masa tiga tahun Suri lalui di negara lain. Semenjak kejadian di rumah sakit kala itu, sudah merubah semua kehidupan Suri.
Suri yang malang. Memutuskan untuk bermigrasi ke lain negara berserta membawa kedua Mamanya. Nyonya Nena dan Nyonya Luna. Di kota baru Suri mulai menata diri dengan uang pemberian Nyonya Rose yang kini sudah bukan lagi menjadi Mama mertuanya. Cukup untuk membeli rumah kecil mengingat hunian di negara itu amat mahal. Sisanya Suri pakai untuk melanjutkan pendidikan sampai dirinya mendapatkan beasiswa.
__ADS_1
Di negara yang kini menjadi rumahnya. Suri melupakan dirinya di kota terdahulu. Juga berusaha melupakan Sky sang mantan suami. Suri menutup akses apapun dengan keluarga Barata dan semua teman-temannya termasuk Melodi. Suri ingin mengubur dalam-dalam semua orang yang di kenalnya di negara yang sudah membesarkan dirinya itu. Butuh tiga tahun bagi Suri menata diri dan maju. Melupakan Sky begitu sulit! Sampai saat ini di tengah malam Suri terus terjaga dan menerima kedatangan Sky lewat kilas ingatan yang menyayat hati.
Semenjak itu dan sampai saat ini aku lelah Menerima bayangmu Sky. Terlalu sulit untuk ku membuang namamu. Kamu tidak salah Sky. Cara kita bertemu lah yang tidak tepat. Ketahuilah sampai saat ini aku masih memikirkan dirimu. Aku membenci kenyataan ini, tapi pikiran ku menolak kepergian mu dari ingatan ku.
Suri yang tengah dalam perjalanan pulang tertegun memikirkan masa lalunya yang pahit bersama Sky. Pria yang pernah menjadi suaminya..
Setelah lama berkutat di jalanan. Suri tiba di kediamannya yang ada di tengah kota. Dirinya berjalan menyusuri jalanan nan asri juga sejuk. Pohon-pohon besar menjadi payung untuknya di sore itu.
"Aku harus memutuskan untuk membeli mobil sekarang." gumamnya sembari tersenyum ceria mengingat sekarang dirinya sudah mendapatkan pekerjaan.
Di luar rumah. Satu wanita paruh baya tengah duduk di sisi taman kecil. Wajah yang sama seperti tiga tahun terakhir. Senyuman penuh kelembutan terpancar di perlihatkan.
Melihat Suri datang. Dirinya berteriak lembut.
"Dokter Suri! Seharusnya anda segera membeli mobil baru." katanya sambil tertawa kecil.
Suri tertawa tanpa suara. "Mama benar! Suri memang harus membeli mobil."
Karena ucapan itu. Wanita yang di panggil Mama terkejut.
Suri berjalan cepat menghampiri sang Mama. Lalu memeluknya erat.
"Iya Ma, Suri di terima. Besok Suri mulai bekerja."
Penuh haru terasa di depan taman mungil itu. Suri dan mamanya berpelukan tanpa memikirkan seseorang di dekat mereka.
"Mama sudah minum obat?"
Pelukan di akhir dengan pertanyaan.
"Sudah, sayang."
Suri mengangguk lega. Memikirkan mama yang satunya membuat Suri sedikit sedih. Dan itu terlihat dari wajahnya.
__ADS_1
"Jangan rusak kebahagiaan ini Ok." Nyonya Nena menyadarkan Suri yang murung..
Suri tersenyum dan mengangguk setuju.
"Kita rayakan ini. Mama akan masak masakan kesukaan kamu. Kita undang beberapa tetangga-
"Mom, aku i cini?"
Suara lembut di barengi rengekan terdengar dari balik semak-semak.
Suri dan Nyonya Nena menoleh ke arah suara.
"Astaga! Cucuku!" Nyonya Nena segera berlari menuju semak-semak di dekat taman. Sedangkan Suri tersenyum lebar melihat sosok gadis mungil yang tengah di gendong Nyonya Nena.
"Ayo ke mommy mu." ajak Nyonya Nena yang di sambut anggukan kecil dari kepala si gadis mungil itu.
Suri merentangkan kedua tangan menyambut kedatangan malaikat kecilnya.
"Kemari kau petualang." Hap. Suri menerima si gadis mungil itu lalu menghujaninya dengan kecukupan di seluruh wajahnya yang cantik nan manis itu.
Nyonya Nena memperhatikan bagaimana Suri yang sekarang dengan wajah sendu.
"Kamu sudah bukan lagi putri kecil Mama sayang! Sekarang Kamu sudah menjadi ibu." ucap Nyonya Nena lirih. Ucapan yang selalu Suri dengar di setiap kesempatan.
Suri menggeleng cepat sembari masih menggoda gadis kecil yang di yakini sebagai putrinya itu.
"Mama salah? Aku akan tetap menjadi putri kecil Mama dan gadis ini." Lalu Suri menatap sang putri yang asik tertawa. "Benar kan Queen?"
Kepala si gadis mungil itu mengangguk saja tanpa tau apa yang di ucapan Suri.
Nyonya Nena tersenyum haru lalu bergantian mengusap kepala Suri dan putrinya. "Ayo kita masuk, Queen harus segera mandi."
"Kenapa tidak mandi dari tadi Ma?"
__ADS_1
"Dia menunggu mu sayang." sahut Nyonya Nena sambil berjalan di belakang Suri yang masih asik menggoda putrinya itu.