
Pluk...pluk.... Makanan menghujani tubuh Suri.
Suri meringsek lemas. Menunduk tak berdaya. Hal itu tidak membuat para mahasiswa kasian mereka malah semakin bersemangat untuk terus menghina Suri. Ini adalah pengalaman yang luar biasa. Karena sudah di komandoi Sky yang tidak lain adalah suami Suri sendiri. Jadi mereka bisa leluasa.
Melodi menatap Sky dari kursinya.
Apa aku bermimpi? Kenapa Sky balik menyakiti Suri.
Melodi bertanya-tanya dalam benaknya. Terus memperhatikan ekspresi wajah Sky yang dingin.
Melodi sendiri masih duduk dan tak mengangkat piring makannya. Keempat temannya yang bergabung bersama mahasiswa yang lain.
Melodi dan Sky berjarak cukup dekat. Tapi kehadiran Melodi tidak membuat Sky menoleh. Matanya terus menatap Suri yang masih dikerumuni para mahasiswa.
Wajah Sky menjadi lebih dingin. Tangannya mengepal mendengar suara tawa dari para mahasiswa yang masih melempari makanan ke tubuh Suri.
Tak tahan Sky segera bangkit. Berjalan meninggalkan area restoran alih-alih menghampiri Suri.
Melodi tersenyum penuh kemenangan. Melihat bagaimana Sky bersikap dingin dan membiarkan istrinya di aniaya.
"Ayo melodi, sekarang waktunya."
Melodi segera berdiri dan berjalan menuju kerumunan.
"Apa kalian masih belum puas menyakitiku? Ayo lakukan lagi! Keluarkan semua. Keluarkan!" Suri berteriak di sisa keberanian. Menantang para mahasiswa yang mana malah tersenyum senang ketika Suri bersuara.
"Huuuuhhhh..... huuuuhhhh."
Mahasiswa semakin menjadi. Menyoraki Suri yang menyedihkan.
"Lihat Nona muda. Kami semua sudah melaksanakan keinginan mu. " Seru Lolita penuh semangat.
"Lagian kamu tuh ga pantes jadi istri Sky. Sekarang kamu liat sendiri bukan, bagaimana Sky? Sekarang tidak ada lagi-
"Lolita, cukup!" Sela Melodi yang datang memecah kerumunan.
Semua menatap kedatangan Melodi tak terkecuali Suri.
"Sudah cukup!" Melodi mendekati Lolita. Menatapnya seolah memberi isyarat. Dan Lolita mengerti.
"Sudah cukup! Lebih baik kalian semua bubar." Titah Melodi yang berlaga seperti Dewi penolong.
Jelas para mahasiswa saling tatap tak percaya ketika Melodi mengusir mereka dan membela Suri.
Tapi Lolita bersuara.
"Kita pergi! Besok ada acara yang harus di selesaikan." Lolita berbalik di ikuti Tamara dan kedua sahabatnya. Di susul para mahasiswa yang masih tak percaya.
"Apa sekarang Melodi sudah menjadi teman Si Suri itu?"
"Semoga saja, Melodi hanya pura-pura."
Itu adalah gumaman para mahasiswa yang masih penasaran dengan sikap baik Melodi.
Melodi berbalik. Berusaha menahan tawa ketika melihat keadaan Suri yang mana semua tubuhnya di tutupi saus dan limpahan makanan.
Astaga, jijik deh.
Melodi berjongkok dan menepuk pundak Suri yang lengket.
Tahan, Melodi tahan.
"Ayo kita bersihkan tubuhmu."
Suri mengangkat kepala. Menatap Melodi datar.
Apa dia benar-benar berubah dan menjadi baik?
Suri yang masih ragu segera menyingkirkan tangan Melodi.
Melodi menatap tangannya yang kotor itu jijik.
Suri bangkit segera. Tanpa kata melangkah meninggalkan area restoran dengan tubuh menyedihkan.
Melodi yang tak putus asa terus mengekor di belakang tubuh Suri.
"Kamu pasti masih ragu kalau aku sudah berubah! Aku sadari itu. Karena tadi aku tidak bisa menghentikan mereka termasuk keempat temanku. Aku minta maaf Suri. Aku juga takut-
Melodi berhenti bersuara manakala Suri berhenti berjalan tanpa berbalik.
Melodi memberanikan diri mendekat. Menepuk kembali pundak Suri.
"Aku takut Sky akan marah kalau Aku menghentikan mereka. Aku minta maaf." Sambung Melodi dengan nada suara penuh sesal.
Aku bahkan ingin sekali melemparkan piring ke wajahmu itu! Tapi aku harus tetap tenang untuk bisa menjalankan rencana ini. Rencana ku tidak boleh gagal.
Batin Melodi.
Tak lama tubuh Suri bergetar. Semakin lama semakin kuat. Di susul suara rintihan penuh kesedihan.
Hiks...hiks....
Dia menangis.
Pikir Melodi. Segera melangkah dan menghadap Suri.
Hiks...Hiks... "Aku lelah, aku lelah dengan semua ini! Hiks ...hiks ... Mungkin mati adalah pilihan yang tepat." Ucap Suri. Menangis sejadi-jadinya.
Bagus, itu adalah ide yang bagus. Kamu memang harus meninggalkan dunia ini. Aku memang tidak bisa mendapatkan Sky, itu berlaku untuk mu Suri.
"Suutt." Melodi menutup mulut Suri dengan satu jari. "Kamu ga boleh bilang begitu. Lebih baik sekarang ikut aku."
Melodi segera menyeret Suri untuk ke kamarnya.
Dalam diam Melodi tertawa melihat bagaimana Suri yang kini tak ada artinya lagi di mata Sky.
Sukses besar. Ternyata begitu mudah membuat kamu di benci Sky. Tapi aku penasaran apa yang membuat Sky meminta semua Mahasiswa untuk mempermalukan dia. Aku harus mencari tau.
.
.
Di kamar Melodi. Suri membersihkan diri. Melamun di dalam Bathtub. Matanya tak berhenti mengeluarkan air mata kesedihan. Mengingat bagaimana Sky memperlakukan dirinya seperti sampah!
Hiks...hiks....
"Kenapa aku bisa lemah begini? Tidak Suri, kamu jangan lemah! Jangan biarkan kelemahan kamu di lihat mereka. Hiks...hiks....Aku sudah kalah di mata mereka dan Sky, aku tidak boleh kalah lagi."
Suri bertekad untuk kuat dan tegar. Tangannya mengusap pipi yang basah. Segera setelahnya membersihkan diri dari saus yang menyengat.
"Mereka sialan! Dan kamu Sky. Kamu akan membayar malah semua perbuatan kamu padaku." Wajah Suri yang sembab menjadi dingin. Bertekad akan membalas apa yang sudah di lakukan Sky.
Di waktu bersamaan. Melodi baru saja menutup telepon bersama ke empat temannya.
Melodi berlari membuka pintu setelah mendengar suara ketukan dari luar.
Satu pelayan kabin membawa dorongan yang berisi dua botol kaca hitam pekat. Berisikan Wain berkualitas tinggi.
"Cepat keluar." Pinta Melodi kepada si pelayan kabin.
__ADS_1
Si pelayan kabin membungkuk dan berlalu pergi.
Melodi mendorong troli makanan itu ke dekat sofa.
Duduk tenang dan menyusun semua makanan ringan dan dua botol anggur yang di pesannya.
"Mari kita rayakan terlebih dahulu rencana indah ku ini." Gumam Melodi. Menarik satu alisnya sembari menatap lekat pintu kamar mandi.
.
.
Sementara itu.
Jason dan Daren saling tatap ketika suara ketukan di pintu terdengar.
"Kamu pesan sesuatu?" Tanya Jason.
Daren memberi respon berupa gelengan kepala.
Tuk...tuk....
"Buka!"
Suara teriakan seorang pria membuat Daren segera membuka pintu.
"Sky? Mau apa dia?" Jason menjadi kebingungan karena Sky datang padahal dirinya seperti tengah di mabuk cinta.
Cekelk... Pintu Daren buka.
"Kamu-
Sky segera masuk. Berjalan gontai melewati Daren dengan mulut terbuka.
Daren menghela napas berat. Menutup pintu.
"Sky?" Jason terdiam ketika melihat wajah kusut sang sahabat.
Sky menjatuhkan bobot tubuhnya ke atas ranjang. Memejamkan mata ketika otaknya terus memutar bagaimana Suri.
Seperti biasa penyesalan datang di akhir cerita. Perasaan menyesal kini datang mengetuk hati nuraninya.
"Bodoh, Bodoh."
Jason yang kebingungan berjalan mendekati ranjang di susul Daren yang baru saja datang.
"Ada apa Sky? Dan di mana Suri?" Tanya Jason.
Sky terengah ketika Jason menyebut nama Suri.
"Argh!" Sky mengacak-acak rambutnya. Berguling di atas ranjang.
Daren dan Jason kebingungan.
"Sky! Katakan ada apa?" Daren bersuara nyaring.
"Kenapa dia? Apa terjadi sesuatu di luar?" Jason bertanya kepada Daren..
Daren menjawab ketus.
"Mana aku tau? Kamu yang meminta agar kita makan malam di kamar."
"Kau juga sama." Jawab Jason tak kalah ketus. Keduanya malah menjadi penonton. Tak bisa menenangkan Sky yang masih berguling di atas ranjang.
Biarkan Sky tenang. Maka keduanya bisa mengajak Sky berbicara.
.
.
Suri tertawa sejadi-jadinya. Berjingkrak di atas sofa bersama Melodi sembari menggenggam masing-masing satu buah gelas.
Melodi bersorak gembira di ikuti Suri. Keduanya mabuk dan menggila padahal tidak ada musik di sana.
"Hei, You." Melodi menunjuk Suri. Sempoyongan dengan mata melet.
"Jelek! Ka-mu gadis cantik!" Racau Melodi.
Suri tertawa. Hahahaha...
"Bisakah kita menjadi suami istri?" Kata Suri ngasal. Terus meneguk minuman keras itu.
Suri keluar kamar mandi. Dan tanpa di duga Melodi menyodorkan satu gelas berisi anggur.
Suri menolak mati-matian tapi Melodi menyakinkan dirinya.
"Dengan meminum ini kamu bisa melupakan Sky. Kamu juga akan bahagia. Seperti aku."
Melodi meneguk gelas miliknya.
"Jangan jadi Suri yang pengecut. Jangan jadi Suri-
Secepat kilat Suri menyambar gelas yang satunya dari tangan Melodi. Meneguknya tanpa ragu.
Mengerang hebat ketika aroma ganas menyerang otaknya.
Hahahaha....
"Berpesta kita berpesta."
Melodi dan Suri berjingkrak bersama.
Melodi malah ikut tak sadarkan diri. Menjadi tak terkendali seperti Suri.
Awalnya Melodi ingin membuat Suri mabuk dengan begitu rencananya akan berhasil tapi sekarang dirinya malah ikut mabuk.
Kedua wanita itu terus bersorak. Meneguk gelas tanpa henti. Sampai Melodi menepuk pundak Suri cukup kuat.
Suri mengerang lagi.
"Sakit." Katanya manja.
Melodi tertawa. Hahahaha...
"Ikut aku! Ada tempat indah yang harus kita lihat." Seru Melodi setengah sadar.
Suri mengangguk patuh.
Lantai satu kapal pesiar.
Melodi dan Suri berjalan bersama. Sempoyongan dengan tawa girang.
Mata keduanya tak fokus membuat tubuh mereka menabrak meja dan benda di sana.
Udara dingin tidak mampu menyadarkan kedua wanita muda itu. Malah mereka semakin menggila.
"Suutt..Jangan berisik." Melodi meminta Suri diam.
Suri mengangguk patuh.
__ADS_1
"Kamu mau apa?" Tanya Suri. Berdiri sekuat tenaga. Dirinya seperti Berdiri di tengah-tengah gunung yang tinggi. Begitu sulit untuk menyeimbangkan tubuh yang terus sempoyongan.
Melodi Menurunkan perahu karet yang tersedia di sana. Tapi sulit baginya karena kesadaran tak fokus.
"Bantu aku!" Teriak Melodi.
Suri mengangguk lagi. Berjalan menghampiri Melodi.
Perahu karet mereka tarik dari singgah sananya. Perlahan menurunkannya ke luar kapal pesiar.
Tingginya sekitar 10 meter dari lantai satu kapal pesiar.
Setelah itu. Melodi mendekati bibir kapal di ikuti Suri.
Keduanya menatap perahu karet yang mengambang bebas di atas laut. Tertawa bersama seperti itu adalah benda lucu.
Ini adalah pengalaman bagi Suri menyentuh bibir kapal setelah sekian lama.
Mabuk membuat Suri melupakan siapa dirinya.
Melodi celingukan melirik sekitar. Tak ada siapapun.
Pukul 11 malam waktu saat ini. Semua mahasiswa tengah beristirahat.
Para awak kapal dan pelayan tak terlihat.
Melodi melihat awak kapal yang berjaga berjarak cukup jauh dari mereka. Untuk itu Melodi tersenyum bahagia.
"Dia kasian sendirian di bawah sana!" Rengek Suri dengan bibir bergetar. Dingin dan ingin menangis.
Melodi mengangguk.
"Kasian dia sendirian." Ulang Melodi.
Cukup lama mereka menatap perahu karet itu. Sampai Melodi menepuk lagi pundak Suri.
"Kita temani dia! Kasian dia sendirian."
Suri mengangguk tanpa ragu.
"Ayo cepat!" Suri tak sabar.
.
.
Sky sudah lebih tenang. Dirinya masih meneguk air yang di sodorkan Jason.
"Apa yang terjadi? Jelaskan?" Tuntut Jason yang sudah di puncak penasaran.
Sky menatap Jason intens.
"Kenapa kamu sangat ingin tau?" Tanya Sky.
Daren yang sudah jengah menepuk pundak Sky.
"Kamu sudah datang dan menggangu kami. Kau berguling di atas ranjang itu."
Daren menunjuk ranjang di mana sudah berantakan bak kapal pecah. Selimut dan seprai sudah tak terkendali kusutnya.
Jason dan Sky mengikuti tangan Daren.
"Cepat katakan ada apa?" Tuntut Daren.
Jason diam-diam tersenyum datar melihat keberanian Daren.
Sky mengendus kesal.
"Suri, sudah menolak cintaku!"
Sky menceritakan penolakan Suri begitu detail. Sampai di mana Sky meminta semua Mahasiswa untuk menghina Suri.
"Aku meminta mereka untuk melemparkan makanan mereka ke tubuhnya. Dia harus merasakan apa yang aku rasakan. Malu, marah dan kecewa." Jelas Sky.
Jason dan Daren bersandar malas. Menghela napas panjang sepanjang-panjangnya.
"Kamu benar-benar luar biasa." Kata Daren.
"Ayo sekarang kamu minta maaf!" Jason menarik tangan Sky.
"Tidak! Aku tidak mau."
"Ayo cepat."
Daren dan Jason menyeret Sky keluar kamar dan berjalan bersama untuk menemui Suri.
.
.
"Kamu duluan!" Titah Suri.
Keduanya sudah bersiap meluncur. Duduk di ambang bibir kapal pesiar.
Melodi mengangguk patuh.
"Aku duluan. Abis itu kamu ya." Melodi merajuk manja.
"Ok." Tangan Suri melingkar bulat.
Melodi mengambil ancang-ancang.
"Satu dua tiga."
Tubuh Melodi meluncur turun.
Byur....
Suhu dingin menyapa melodi.
Melodi segera berenang untuk mencapai perahu karet.
"Ayo, Suri!" Teriak Melodi yang hampir tak di dengar Suri.
Tapi Suri mengerti. Dirinya mengambil ancang-ancang seperti tadi Melodi.
"Satu Dua Tiga."
"Aaaaaa! Aku tidak bisa berenang." Teriak Suri di saat tubuhnya meluncur menabrak dinginnya air laut.
Sesaat tubuh Suri naik keatas permukaan.
Berusaha mencapai udara.
"Tolong, Tolong.."
Melodi yang tidak jauh dari Suri. Bergegas menarik Suri.
"Dapat, Tenang!"
__ADS_1
Kebetulan Awak kapal yang tengah berpatroli mengerutkan kening, ketika ada dua sepasang sendal di arena bibir kapal.