Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)

Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)
Serba Tak Nyaman


__ADS_3

Pemandangan yang berlangsung menyentak batin semua orang. Tak terkecuali Suri. Dirinya tersedu menangis melihat bagaimana Queen begitu lengket dalam pelukan Sky. Sosok ayah yang selama dirinya lahir ke dunia tidak pernah terlihat bahkan Suri menutup rapat kehadiran Sky dari hidup keduanya berharap bisa hidup damai tanpa bayang-bayang Sky, Tapi semua sia-sia, Sky berhak tau buah hatinya, Jelas perasaan bersalah membuat Suri semakin terpojok di setiap harinya. Ditambah selebaran atas dirinya termuat di semua surat kabar, tabloid, televisi dan masih banyak lagi. Menyerah? Mungkin benar, Suri menyerah pada akhirnya.


Nyonya Rose yang ada di samping Suri segera menariknya lalu memeluknya.


Hiks ...hiks ... "Maafkan Suri, Ma, Suri sudah membuat Sky menderita."


"Tidak Suri, kamu tidak bersalah. Selama ini kamu juga sudah menderita karena Sky. Jangan salahkan dirimu."


Tristan dan Dokter Kamla menghampiri Suri dan Nyonya Rose. Mengusap pundak kedua wanita beda usia itu.


Sky yang asik memeluk Queen perlahan mendekat. Dengan wajah memerah dan mata sembab Sky bersuara.


"Suri!"


Suri mengangkat kepala. Menatap sang mantan suami penuh kesedihan.


Nyonya Rose melepaskan pelukannya. Berjalan bersama Tristan dan Dokter Kamla meninggalkan Suri yang masih menangis.


Terlebih dahulu mereka membawa Queen untuk masuk kedalam. Sepertinya kedua mantan suami istri itu butuh waktu berdua.


"Ayo sayang, ikut oma," ajak Nyonya Rose yang di jawab anggukan kecil dari Queen.


Queen di raih Tristan, Sky memberikan sang putri kepada Kakaknya dengan wajah tak rela. Tapi mungkin Mama Queen lebih penting untuk sekarang. Ada rasa yang tertinggal sepertinya.


Tersisa di sana Suri dan Sky yang sama-sama diam. Sky sibuk memperhatikan Suri yang mana memilih menunduk untuk menyeka air matanya. Dalam keheningan keduanya menenangkan diri, pikiran sudah bercabang seperti akar pohon.


Dia tidak berubah, aroma tubuhnya masih sama.


Batin Sky yang hanyut dalam semerbak aroma parfum Suri yang di kenalnya dulu.


"Apa kabar Suri?" Sky memberanikan diri menyodorkan tangan kanannya.


Mendapat pertanyaan itu Suri lantas mengangkat kepala lalu meraih tangan Sky.


Untuk pertama kalinya setelah mereka berpisah mereka bersentuhan! Sky dan Suri sama-sama di landa perasaan yang entah seperti apa. Rindu, malu, takut dan rasa asing menjadi satu kesatuan.


"Aku baik." sahutnya dengan derai air mata. Untuk itu Suri tersenyum, secepat kilat menarik tangan untuk mengusap pipinya.


"Maaf, mataku tidak bisa berhenti menangis." katanya sedikit malu.


Sky menggelengkan kepala yang disertai senyum merekah. Jujur, melihat Suri langsung mengulang kembali kenangan masa dulu. Perasaan yang besar atas wanita di depan matanya membuat Sky siap untuk mengutarakan isi hatinya lagi! Tapi tidak, itu bukan ide yang baik. Lebih tepatnya terlalu gegabah.


Untuk menghilangkan perasaan itu, Sky mengajak Suri untuk masuk kedalam rumah. Tanpa sambutan pelukan hangat.


Kami sudah berpisah, aku hampir melupakan itu.


"Kita masuk?" ajak Sky amat canggung.

__ADS_1


Suri mengangguk patuh. Keduanya berjalan bersama.


Dia tidak berubah, dia masih saja tampan, hanya sikapnya saja yang jauh lebih baik.


Suri menilai bagaimana sikap Sky terhadapnya. Sedikit lain memang jika di bandingkan dulu. Pria di sampingnya bukan Sky yang semena-mena, Suri penasaran apakah Sky masih suka memukul pelayan atau menyukai balapan mobil? Tiba-tiba kenangan itu terputar kembali.


"Emm, Sky? kamu apa kabar?" tanya Suri yang mana lupa mengatakan kabar sang mantan suami.


"Seperti yang kamu lihat, aku baik."


Baik Suri dan Sky sama-sama kebingungan mereka memberi pertanyaan dan memberi jawaban yang tadi sudah terlontar.


Suri mengangguk dan kembali diam. Karena bingung harus mengatakan apa lagi, begitu juga Sky, dirinya kebingungan harus mengajukan pertanyaan apa kepada Suri. Yang tercipta hanya kecanggungan saja.


Sebenarnya banyak hal yang ingin di ungkapkan baik Suri maupun Sky, tapi bibir keduanya terkunci sulit memulai percakapan. Yang kini tersisa hanya kesunyian kata dan hentakan suara alas kaki keduanya. Kesunyian berlangsung sampai mereka masuk kedalam Mansion dan menemui Queen yang mana tengah duduk bersama Nyonya Rose, Tristan dan Dokter Kamla.


"Mommy, Papa." Queen berlari dari pangkuan Nyonya Rose, menghampiri kedua orang tuanya dan mendarat di tubuh Sky.


Sky menyambut kedatangan sang putri. Kembali memberi ciuman amat brutal. Suri yang ada di dekat keduanya hanya mampu menatap dalam kesedihan.


Terlihat jelas kalau Sky begitu merindukan Queen, maafkan Mommy sayang. Selama ini mommy sudah merahasiakan siapa kamu dan siapa ayahmu.


"Kalian lama sekali." rengek Queen, membuat Sky dan Suri tertawa kecil.


"Kenapa? Apa Queen tidak ingin jauh dari kami?" tanya Sky dengan mata menatap Suri aneh. Seperti mengisyaratkan sebuah pesan.


Yang di tatap berusaha acuh, Suri tersenyum kecil lalu tanpa kata berjalan duduk di samping Nyonya Rose. Sky mengekor dari belakang sembari mengajak Queen bercanda ringan.


"Tidak ada yang berubah ya Ma," Suri menatap area Mansion lalu berhenti di mana Tristan berada. "Kecuali Kak Tristan."


Tristan tersenyum kecil ketika Suri membahas dirinya yang kini sudah hidup normal.


Nyonya Rose mengangguk saja. Lalu memberi pertanyaan kepada Suri..


"Di mana kalian selama ini? Kenapa tidak memberi kabar kepada Mama? Bagaimana kabar Nyonya Nena dan Nyonya Luna?"


Suri terdiam mendapati pertanyaan beruntun itu seakan tengah menyiapkan kata untuk memberi jawaban.


"Meraka baik, kami tinggal di satu negara dimana orang-orangnya begitu ramah, Suri dan Queen senang tinggal di sana-


"Di mana Suri? Katakan? Mama ingin menemui kedua Mama mu?"


Sebelum Suri memberi jawaban lagi.. Queen yang ada di pangkuan Sky berceloteh gemas.


"Oma, Mommy itu dokter! Mommy sangat cibuk, Queen selalu merindukan Mommy, tapi, kalau Queen sakit mommy bisa kasih Queen obat. Jadi Queen sangat bangga karena Mommy bisa tolong anak-anak seperti Queen." mulut Queen belepotan menceritakan pekerjaan Suri yang mana tak di tanyakan..


Fakta yang katakan Queen membuat semua orang terdiam. Tak terkecuali Sky.

__ADS_1


Suri tersenyum malu. Menatap Queen dengan gelengan kepala kecil.


"Sayang, tidak ada yang bertanya pekerjaan Mommy." seru Suri mengingatkan Queen.


Queen memberi respon gemas. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya yang mungil, wajah cantiknya memperlihatkan ekspresi sedih.


"Queen minta maaf Mommy."


Suri mengangguk dengan menahan tawa.


Dokter Kamla yang ada di dekat Suri bertepuk tangan di ikuti yang lain termasuk Queen. Sedangkan Sky mematung betah melirik Suri yang mana tengah menerima ucapan dari semua orang.


Dia menjadi Dokter? Aku ingat Sekarang,


Dulu Suri pernah bercerita tentang keinginannya menjadi seorang dokter, hanya saja Sky tak menggubris perkataan Suri kala itu. Sungguh, Sky tak percaya mantan istrinya bisa menggapai cita-citanya yang mulia itu. Padahal Sky tau betul Suri kala itu dalam masa terpuruk. Ingin rasanya bertanya bagaimana Suri melewati masa itu, tapi sulit bagi Sky membuka suara. Ia hanya diam seribu bahasa. Atau lebih tepatnya berhati-hati takut membuat Suri tak nyaman.


.


Malam harinya di meja makan.


Suri amat canggung duduk bersama keluarga Barata. Tapi kehadiran dokter Kamla membuat Suri cukup tenang.


Tadi siang selepas bertemu dan melepas rindu, Suri bertekad untuk menginap di hotel. Tapi Nyonya Rose meminta untuk tinggal di mansion tanpa jangka waktu yang di tentukan. Sky yang ada di sana tak mengatakan apapun. Pria satu anak itu hanya diam mendengarkan. Tapi sungguh pasti dalam hatinya ingin Suri tinggal di mansion. Hanya saja Sky tidak ingin mengatakan itu.


Berhasil, Nyonya Rose mampu membujuk Suri tinggal di mansion dengan dalih masih ingin bersama Queen. Tapi Suri juga memberi syarat lain. Yaitu, Dokter Kamla mau menginap.


Dokter Kamla mengangguk setuju. Itupun titah Nyonya Rose.


Makan malam yang tenang tak di hadiri Queen, gadis mungil itu terlelap di kamar yang di sediakan Sky, kamar khusus sudah di dekor jauh-jauh hari sebelum Queen datang.


Suri yang tau akan hal itu merasa tidak suka. Tapi dirinya lagi-lagi mengalah ketika Queen bersorak gembira melihat kamarnya yang mewah, dekor modern dengan cat pink begitu mempesona, Queen yang polos dan tak memiliki kamar seindah itu di rumahnya merasa bahagia layaknya anak kecil pada umumnya. Suri sadar siapa Sky, mantan suaminya.


Air mineral di teguk Suri menandakan makan malamnya sudah berakhir.


"Tambah lagi Suri?" Nyonya Rose bersuara di tengah makannya.


Suri menggelengkan kepala. "Tidak, Ma, terimakasih. Suri ingin melihat Queen sebentar." Perlahan Suri menatap Nyonya Rose seolah meminta persetujuan,


Suri masih ingat tata Krama. Tapi rasanya tidak nyaman ketika jauh dari Queen mengingat ini bukan di rumahnya. Bagaimana kalau Queen bangun dan berteriak, rumah bak istana ini tidak akan mampu menyaring suara sang putri.


Nyonya Rose segera mengangguk.


Suri tersenyum lega ia mulai bangkit. Lalu perlahan meninggalkan meja makan.


Sky yang tak berselera makan bangkit setelahnya, tanpa kata berjalan pergi untuk menyusul Suri.


Nyonya Rose dan Tristan tak luput Dokter Kamla hanya mampu menatap kepergian Sky tanpa bertanya.

__ADS_1


"Ma?" Tristan menampakkan wajah khawatir.


Nyonya Rose tersenyum lembut. "Biarkan Kak, mereka butuh bicara. Mungkin Suri ingin kembali bersama adik mu. Kita tidak tau bagaimana kedepannya?"


__ADS_2