
Dunia serasa runtuh di atas hidup Suri dan Melodi. Kedua wanita muda itu saling menguatkan di tengah-tengah rasa keputusasaan
Sepuluh hari sudah mereka terdampar di pulau kecil yang letaknya di tengah lautan Ardo.
Selama sepuluh hari terakhir tak ada tanda-tanda penyelamat datang. Mereka menanti dengan rasa takut.
Tubuh mereka menjadi sedikit gelap. Wajah pucat dan juga sedikit memerah. Terlalu sering menahan suhu yang selalu berubah-ubah. Rambut keduanya yang terawat kini kusut dan lusuh. Menyedihkan melihat bagaimana keadaan Suri dan Melodi semakin memprihatinkan. Selama sepuluh hari mereka hanya makan buah kelapa dan ikan-ikan kecil yang mereka tangkap susah payah. Minum air kelapa kini terasa berat dan membosankan. Tenggorokan mereka merindukan air mineral yang kini hanya menjadi angan-angan yang pahit.
Mereka bukan tak ingin berusaha mencapai laut tapi Suri selalu menolak.
Di titik ini Melodi mulai menjadi manusia sesungguhnya. Rasa kemanusiaan yang selalu ia kesampingkan kini muncul. Selama sepuluh hari bersama Suri. Melodi melihat bagaimana Suri yang baik dan tulus. Perasaan marah satu sama lain berangsur hilang. Keadaan meminta keduanya untuk saling menjaga dan bekerja sama.
Laut selalu pasang. Tak kuat jika Melodi dan Suri harus pergi ke tengah lautan. Apalagi Suri tak bisa berenang. Mereka akan menunggu sampai penyelamat datang walaupun itu akan memakan waktu yang begitu lama.
Pulau kecil itu kini menjadi tempat tinggal Suri dan Melodi. Memanjat pohon kelapa tugas berat Suri tapi dirinya memilih naik keatas pohon kelapa ketimbang harus menyelam. Untuk itu Melodi bertugas mencari ikan atau apapun yang bisa di makan. Kerja sama yang luar biasa mengingat mereka mempunyai riwayat hubungan yang tidak baik.
Malam harinya..
Jarak lima meter dari bibir pantai. Suri mendirikan tenda yang terbuat dari perahu karet. Perahu karet mereka sandarkan di satu batang pohon. Sisi-sisi yang kosong mereka tutup menggunakan semak belukar yang sebelumnya bersandar pada tiang-tiang kecil. Terlihat nyaman untuk di tinggali. Mantel yang mereka bawa. Di gunakan untuk menjadi alas tidur. Di depan mereka terdapat susunan kayu dengan api yang menyala. Suri memang ahli dalam membuat api. Dan Melodi memberi julukan si gadis Api! Suri selalu tertawa jika Melodi memanggilnya "Hei, si gadis api!"
Dalam kesunyian malam. Suri dan Melodi berbaring di dalam rumah yang terbuat dari perahu karet itu saling membelakangi. Merenung sembari mendengarkan desiran ombak yang tenang. Kehangatan dari api unggun membuat tubuh mereka tersenyum bahagia. Lupakan rasa lengket dan aroma asin dari baju piyama itu. Suri dan Melodi sudah kenal dengan aroma tubuh masing-masing.
Beruntung langit malam nampak terang. Bulan bersinar terang menerangi pulau kecil itu.
Dalam kesunyian Melodi bersuara.
"Ceritakan bagaimana kehidupanmu!"
Suri Tersenyum ketir ketika Melodi bersuara.
"Aku mempunyai dua Mama!" Suri menjawab santai. Sudah tidak ada lagi keraguan ketika menceritakan tentang kehidupan keluarga Christabel Jocelyn pada Melodi. Musuhnya sendiri.
Mendengar itu, Melodi segera berbalik. Menatap punggung Suri penuh kebingungan.
Suri menyusul. Berbalik membawa wajah berbunga. Hatinya seolah tenang walaupun mereka berada di tengah lautan.
"Apa Papamu-
Suri mengangguk membenarkan. "Papaku menikahi Adik dari Mamaku."
Melodi segera menutup mulutnya. "Kamu serius?"
Suri mengangguk lagi. "Kenapa? aneh, bukan? Memang tapi itu nyata! Papaku menikahi kakak beradik."
"Pasti ada alasan di balik pernikahan kedua papamu!" Tanya Melodi lagi penasaran.
Suri mengulum rapat bibirnya. Seolah tak sanggup untuk memberi jawaban.
"Mamaku mengidap Bipolar! Dari usia 11 tahun. Mama di rawat di rumah sakit!"
Tiba-tiba Suri berkaca-kaca! Terhanyut ketika mengingat kedua Mamanya dan ayah tercinta.
Melihat itu. Melodi mengusap pundak Suri.
"Setidaknya kamu mempunyai orang tua yang lengkap!" Lirih Melodi bersuara.
Sontak Suri terdiam. Melirik Bagaimana Melodi tersenyum.
Melodi melanjutkan. "Mamaku sudah meninggal! Kata Papaku! Aku tidak tau benar atau tidak! Tapi kami selalu menganggap Mama sudah meninggal!"
"Apa maksud kamu?"
Melodi menghela napas berat. Merebahkan tubuhnya sembari menatap langit-langit perahu karet.
"Aku tidak tau pasti. Tapi Mama menghilang dari hidup kami! Keluarga ku selalu mengatakan. Mamaku mati. Mamaku mati, tapi aku tidak pernah melihat kuburan Mama! Aku hanya ingat wajahnya yang cantik. Aku selalu mengingatnya sampai saat ini!"
Pada usia 9 tahun. Orang tua Melodi bercerai. Dan sang ayah mengambil hak asuh anak dari Mamanya. Melodi tidak pernah lagi melihat wajah sang Mama yang sekarang entah ada di mana!
Singkat cerita.
Melodi menjadi arogan. Setelah dewasa dirinya berubah menjadi Melodi yang dingin. Sering bergaul dengan orang-orang kaya yang senang berpesta. Sampai posisi Geng Batara di pegang nya. Kecantikan dan kecakapan dalam berbicara membuat Melodi semakin di puja hampir semua mahasiswa di universitas Batara.
Suri mengangguk-anggukan kepala.
"Kamu tidak ingin mencari keberadaan Mamamu?"
Dengan cepat Melodi menggeleng.
"Aku dan Papa tidak butuh Mama! Kami berdua sudah bahagia!"
Dia kembali menjadi Melodi yang kemarin.
Melodi segera berbalik mengindari tatapan Suri.
__ADS_1
Diam-diam air mata keluar begitu mudah. Melodi menangis dalam keheningan.
Maafkan, Melodi.
"Melodi!" Panggil Suri lembut.
"Apa?" Tanya Melodi berusaha tenang.
"Kalau aku tidak bisa keluar dari pulau ini dengan selamat-
Gerak cepat Melodi berbalik.
"Apa yang kamu katakan!"
Suri melanjutkan.
"Iya, kalau aku tidak keluar dari pulau ini dengan selamat, tolong katakan kepada Papaku dan kedua Mamaku. Aku sangat merindukan mereka. Aku-
Melodi menutup mulut Suri dengan tangannya
"Jangan katakan apapun! Aku akan membunuhmu sekarang juga!" Seru Melodi sembari menangis.
"Aku memang membencimu, tapi jangan katakan itu!" Lanjut Melodi.
Suri terisak. Perlahan menyingkirkan tangan Melodi.
"Melodi!" Panggil Suri lagi.
"Diam! Aku tidak ingin mendengar apapun dari mu."
Suri kekeh. kembali membuka bibirnya yang rapat.
"Kalau aku tidak selamat dari pulau ini! Aku akan merelakan Sky untuk mu!"
Melodi menggeleng cepat. Menangis nyata.
"Tidak, aku tidak mau! Kita akan keluar dari pulau ini Suri. Percaya padaku. Gadis Api."
Suri memeluk Melodi erat. Melodi membalas pelukan Suri yang hangat. Keduanya menangis sembari berpelukan meramaikan keheningan pulau kecil itu.
.
.
Seisi kota di ramaikan tentang kabar Hilangnya Suri dan Melodi. Semua stasiun televisi dan berita tak hentinya membicarakan kabar buruk itu.
Tuan Chris dan Nyonya Nena saling menguatkan di saat kabar baik tak kunjung datang. Selama sepuluh hari. Nyonya Nena jatuh sakit. Tak sanggup menghadapi kenyataan menyeramkan yang menimpa sang putri.
Tuan Chris berusaha tegar Walaupun itu sulit. Setiap hari memantau perkembangan dari tengah laut.
Ayah Melodi. Tuan Rian juga terjun kelapangan membantu tim SAR untuk menemukan Titik di mana sang putri berada. Tuan Rian terlihat lebih tegar di bandingkan papa Suri. Dirinya percaya Melodi akan di temukan dengan selamat.
Kampus Barata tak hentinya melakukan doa. Berharap kedua teman mereka segera di temukan dalam keadaan sehat. Mereka percaya Suri dan Melodi belum mati! Kecil kemungkinan kedua wanita muda itu meninggal. Mengingat rekaman CCTV dan keterangan si awak kapal pada waktu itu yang melihat langsung.
Seandainya waktu itu dirinya tidak pingsan. Mungin semua ini tidak akan terjadi. Tapi Tuhan mempunyai rencana lain. Itu pasti.
.
Kapal-kapal besar terjun ke tengah lautan. Saling bekerja sama untuk mencari keberadaan Suri dan Melodi. Sepuluh hari sudah mereka mengelilingi laut Ardo. Tak lupa menjelajahi pulau-pulau kecil yang berada di sana.
Puluhan kilometer kapal bergerak. Memecah air laut yang pasang. Musim dingin akan segera berlalu. Menjadikan cuaca tak menentu. Membuat pencarian semakin sulit untuk di lakukan. Tapi mereka tidak menyerah. Terus merangkak menerjang lautan.
Di dalam ruangan cukup besar. Dua sosok pria muda lagi tampan tengah terlelap dengan wajah lelah. Keduanya bersandar pada kursi yang menghadap lautan.
Mereka adalah. Sky dan Jason. Kedua sahabat itu tak hentinya ikut mencari Suri dan Melodi penuh semangat. Melupakan kalau angka sepuluh sudah terlewati.
Dari hari pertama Suri Menghilang. Sky dan Jason memutuskan untuk tidak meninggalkan kapal. Mereka berpindah dari kapal pesiar ke kapal penyelamat. Sedangkan Daren dan mahasiswi yang lain memutuskan untuk pulang dan akan menunggu di rumah masing-masing.
Daren awalnya ingin ikut mencari tapi keadaan tubuhnya yang tiba-tiba lemah membuatnya harus pulang. Bayang-bayang ucapan Jason kala itu seakan menjatuhkan harga dirinya. Tapi sepertinya tuhan meminta Daren untuk ikut pulang. Di tambah. Kedua orangtuanya meminta Daren untuk tidak ikut mencari.
.
.
Di sisi lain. Nyonya Rose tengah melamun sendirian di area kolam renang. Menatap biru air kolam yang tenang dan jernih. Tiba-tiba matanya berair. Menangis seketika manakala meningkat Suri yang masih belum di temukan.
Perasaan takut terus datang. Bagaimana kalau bayang-bayang menyeramkan tentang sang menantu menjadi nyata. Untuk itu kepala Nyonya Rose menggeleng kuat.
"Tuhan! Kembalikan menantuku! Biarkan dia pulang agar kami bisa melihat kembali wajahnya dan senyum cantiknya. Bawa kembali dia ke tengah-tengah keluarga kami. Hiks...hiks.."
Tuan Diki yang kebetulan lewat. Melirik kearah kolam renang dimana sang istri tengah sendirian dengan tubuh bergetar.
Kaki tuan Diki segera berjalan cepat.
__ADS_1
"Ma?" Tuan Diki mendekati Nyonya Rose.
Nyonya Rose menoleh. "Papa."
"Mama." Tuan Diki memeluk sang istri. Mengecupnya penuh kasih.
"Mama takut, Suri tidak di temukan. Hiks...hiks..."
"Mama jangan katakan itu. Suri pasti selamat."
"Ini sudah sepuluh hari. Hiks...hiks..."
Tuan Diki menimpali dengan bijak.
"Tuhan pasti melindungi Suri dan Melodi. Kita harus percaya itu!"
Tristan yang ada di kamarnya. Mengintip kebersamaan kedua orangtuanya di ambang jendela. Dirinya terisak melihat bagaimana keluarga Barata di beri ujian.
"Cukup aku saja yang membuat mereka menangis. Jangan lagi Tuhan." Gumam Tristan. Tak kuasa lagi menahan tangisnya. Ia menangis sendirian tanpa bisa berbuat apa-apa.
"Seandainya aku tidak cacat! Mungkin aku bisa membantu Sky. " Tristan memukul-mukul kedua pahanya amat keras.
"Maafkan Kakak, Sky, maafkan Kakak."
.
.
Sekumpulan awan hitam nan lebat menutupi kapal yang tengah melaju. Sayup-sayup terdengar suara erangan yang entah dari mana datangnya.
Sky menatap sekitar kapal. Dirinya terheran-heran melihat tidak ada siapapun di sana. Jason bahkan tak ikut andil. Membuat Sky kebingungan.
Kapal yang ditumpanginya terus berjalan menerobos gumpalan awan hitam itu.
"Suri, Melodi!" Sky berteriak-teriak. Mengumpulkan suara. Mengabaikan kapal yang kosong.
pergi... Pergilah...
Sky mengerutkan kening ketika suara misterius itu terdengar.
Suara berat yang mampu membuat siapapun yang mendengar akan jatuh pingsan atau lari terbirit-birit.
"Siapa kamu! Jangan macam-macam!" Ancam Sky. Tak ada ketakutan di urat syarafnya. Sky berani.
Hahahaha...... Hahahah...
Bulu kuduk berdiri. Sky mulai cemas.
"Katakan siapa kau? Kenapa kamu menghalangi jalanku!"
Dari balik kabut tebal suara itu terdengar lagi.
Pergilah...Apa yang kamu cari tidak akan kamu dapatkan.
Tiba-tiba muncul dua sosok wanita cantik yang di cari Sky nampak jelas terlihat.
Sky tersenyum penuh kemenangan.
Suri dan Melodi tengah terlelap di atas kasur empuk yang terbuat dari ranjang emas.
"Suri."
Jangan mendekat. Dia bukan lagi milikmu.
Suara berat itu menggelegar. Kemudian ranjang yang di tiduri Suri dan Melodi menghilang di dalam gelapnya kabut.
"Suri...Suri...Suri... Tidak! Tidak.. Kembali.. Kembali.."
.
"Sky! Sky! Bangun! Sky."
Pinta Jason panik. Terus menepuk pipi Sky yang kini memerah.
"Surii"
Sky sadar. Terengah-engah merasakan tubuhnya lelah teramat sangat.
Jason segera menyodorkan air.
Sky meneguknya habis.
"Kamu membuat aku terkejut!" Kata Jason sedikit lega.
__ADS_1
"Aku melihat Suri dan Melodi di sebuah pulau kecil. Mereka tertidur di atas ranjang emas. Tapi ada sesuatu di sana." Sky sibuk dengan pikirannya sendiri. Menyusun serpihan mimpi yang terasa nyata.
"Haruskah kita meminta bantuan orang pintar?" Jason memberi ide.