Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)

Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)
Bertahan Hidup


__ADS_3

Suri bersandar di pohon kelapa. Mengatur napas yang memburu karena sudah menyeret perahu karet dari pantai sampai daratan.


Melodi sendiri bersandar pada bahu perahu karet. Sama seperti Suri, dirinya terengah-engah seakan napas akan kabur dari paru-parunya.


Kedua wanita muda itu duduk saling berjauhan. Jarak satu meter mereka pilih. Keduanya tak bersuara. Terlalu malas untuk membuka bibir dan beradu argument. Suri dan Melodi asik mengatur napas sembari memejamkan mata. Tidak buruk karena matahari seakan menghalangi udara dingin yang menusuk datang.


Beberapa saat, Suri beranjak bangun. Membuka mantel yang agak basah. Lalu Suri mengayun-ayunkan mantel tebal itu ke udara. Cipratan air asin dan butiran pasti mengenai wajah Melodi. Jelas Melodi terganggu.


"Hei!" Seru Melodi tak senang.


Suri segera berputar arah. Tanpa kata kembali mengayun-ayunkan mantel.


Di rasa pasir dan air laut berkurang, Suri menatap sekitar pulau.


Ranting tinggi, pohon kelapa dan laut yang cukup tenang nampak di sekitar penglihatannya.


Suri menghela napas berat. Melangkah ke sisi lain pulau dengan menenteng mantel.


Melihat Suri akan pergi, Melodi segera bangkit dan berlari.


"Tunggu aku." Rengek Melodi.


Keduanya berjalan bersama. Dengan wajah ketakutan kaki mereka masuk kedalam pulau yang asing.


"Suri? Kenapa kita kesini? Lebih baik kita kembali!" Seperti biasa Melodi merengek. Mengalungkan tangan di tangan Suri erat. Merasa terintimidasi dengan area sekeliling pulau yang rimbun dan sepi.


Suri berdecak kesal. Melihat Melodi yang terus menempel seperti perangko. Tapi Suri membiarkan Melodi menggelayut. Karena dilarang pun Melodi tetap akan menempel juga.


"Ayo, Suri, kita kembali saja! Tempat ini menyeramkan."


"Aku hanya ingin melihat apa ada rumah di sini."


"Di sini tidak ada rumah! Pulau ini di tengah lautan." Melodi menimpali dengan yakin.


Tapi Suri tetap berjalan semakin masuk kedalam hutan. Rasa penasaran semakin tinggi untuk mengeksplorasi pulau asing itu.


"Bagaimana kalau penyelamat datang dan kita malah di sini?" Pikir Melodi guna menyakinkan Suri.


Suri berhenti berjalan. Otomatis Melodi juga berhenti.


Suri menghela napas jengah. Melirik Melodi tajam.


"Dengarkan aku. Sekarang sudah mulai siang. Aku lapar dan haus, aku tidak mungkin minum air laut dan makan pasir! Jadi aku harus masuk kedalam hutan dengan harapan ada makanan. Kalau kamu mau. Kamu bisa menunggu di pantai. anggap saja kita bagi tugas. Aku mencari makanan." Suri menunjuk dalam hutan pulau.


"Dan kamu." Kali ini Suri menunjuk Melodi tepat di depan hidung mancungnya. "Kamu bisa menunggu di pantai. Buat tuliasan apa saja sesukamu. Atau berenang sekalian."


Lalu Suri berjalan lagi.


Melodi menggeleng keras. Menandakan dirinya tidak setuju dengan ide itu.


"Tidak, aku tidak mau." Kata Melodi sembari menekuk wajahnya.


Suri menjawab galak. "Ya sudah diam, dan ikuti aku."


"Ok!" Melodi patuh dengan Suri Karena keadaan.


Awas kamu iya-


Melodi segera menggelengkan kepalanya. Menolak batinnya untuk tidak membicarakan Suri.


Jalanan berpasir dan di kelilingi ilalang bercampur ranting mereka lalui. Suri dan Melodi sesekali meringis ketika telapak kakinya harus bersentuhan dengan ranting tajam dan kerikil. Kaki lembut mereka tak berhias apa-apa. Ingat ketika mabuk yang menjadi penyebab semua ini terjadi, membuat mereka harus terjun meninggalkan sendal berwarna putih itu di bibir kapal pesiar.


"Aw.." Pekik Melodi lagi.


Suri meringis kemudian. Sesekali berhenti untuk beristirahat. Bibir mungil mereka kering tak sanggup lagi harus bermandikan air liur. Liur mereka gunakan untuk membasahi tenggorokan yang kerontang.


"Suri, aku rasa tidak ada apa-apa di dalam! Kita, kita kembali saja. Aku sudah tidak tahan lagi." Seru Melodi sembari terengah, Merasakan tubuhnya lemas. Perut keduanya berdentang sedari tadi. Rasa haus lebih besar meminta di kabulkan.


Suri terdiam sesaat. Menatap lagi sekitar pulau. Kini matanya melirik kaki yang kotor dan sedikit memar.



Ya tuhan, kapan mereka datang.


Melodi juga diam-diam melirik kakinya yang di lumuri butiran halus pasir putih.


Mengerang dalam diam melihat bagaimana kuku Cantiknya yang di cat itu seperti tempura. salah satu makanan dari negara tirai bambu.



"Kuku ku!" Gumam Melodi marah, Bibirnya mengulum rapat dengan terpaksa. Tak ingin merengek yang akan membuat Suri tertawa atau memarahinya.

__ADS_1


"Tarik napas! Tenang? Nanti bisa di cuci dan di bersihkan lagi. Tenang Melodi."


Suri tertawa kecil melihat tingkah lucu Melodi. Apa yang di lakukan Melodi tak luput dari perhatian Suri.


Matahari semakin naik ke atas angkasa. Menghangatkan bumi yang di bagian negara lain tengah di landa musim dingin.


Suri dan Melodi terus berjalan semakin masuk kedalam hutan. Tapi mereka tidak mendapatkan apa-apa. Makanan dan air bersih tak ada di sana. Suri dan Melodi mendapatkan rasa lelah.


Keduanya memutuskan untuk kembali ke pantai.


"Aku, aku haus!" Melodi terkulai tak berdaya di samping Suri.


Keduanya bersandar pada tubuh masing-masing. Kelelahan setelah seharian menjelajahi area pulau.


Suri mengecap bibirnya yang kering.


"Astaga, aku haus sekali."


"Aku juga," Tambah Melodi. Sedikit menepuk paha Suri yang nampak memerah.


Keduanya menggenakan gaun tidur. Beruntung ada mantel yang bisa menghangatkan tubuh mereka.


Dengan wajah pucat, Suri dan Melodi menatap lagi depan pantai. Pohon kelapa yang tinggi menjulang itu menjadi pusat perhatian mereka.


"Kelapa itu," Melodi menunjuk buah kepala yang seakan melambai-lambai meminta keduanya mendekat.


Suri dan Melodi mengangguk seakan terhipnotis. Berjalan bersama-sama dengan harapan dapat memuaskan dahaga yang semakin deras.


Kini keduanya tengah berdiri di bawah pohon kelapa. Mendangah menatap lapar buah berwarna hijau itu lekat.


"Bagaimana ini?" Keluh Melodi penuh keputusasaan.


Suri menggeleng sebagai jawaban.


"Kita harus melakukan sesuatu." Suri segera berbalik. Menunduk mencari alat untuk meraih buah kepala.


Tapi tak ada apa-apa di bawah pasir selain kerikil dan batu. Suri berpikir cukup lama. Rasa haus dan lapar mendorongnya untuk segera bertindak. Sampai akhirnya bibirnya tertarik lebat.


"Melodi! Cepat bantu aku mengumpulkan batu!" Serunya. Membungkuk dan memungut bebatuan.


Melodi tanpa pikir panjang langsung mengangguk dan melakukan apa yang di lakukan Suri.


Sisi lain pantai kecil itu dihujani bebatuan yang deras. Di susul suara erangan dan cacian karena tak ada satupun batu yang bisa menjatuhkan buah kehidupan. Tubuh kelapa hanya tergores tanpa ingin terjatuh.


Sibuk! Suri dan Melodi sibuk melemparkan batu tanpa hasil. Tapi mereka tak putus asa. Terus mencoba melupakan matahari mulai melambai pergi meninggalkan tingginya angkasa.


"Aku lelah!" Melodi ambruk di sana. Membiarkan Suri bekerja sendiri.


Pandangan mereka berubah putih. Kunang-kunang tiba-tiba datang. Melodi menjatuhkan diri ke atas pasir.


Sedangkan Suri terus berusaha sekuat tenaga.


"Jatuhlah, jatuh, Ayo jatuh." Suri meracau sempoyongan karena kehabisan cairan.


Melihat Suri mulai goyah. Melodi segera bangkit. Menahan tubuh Suri yang lemas.


"Pakai tongkat itu." Melodi segera menarik batang pohon yang tadi di bawa.


Suri mengangguk penuh keputusasaan.


Batang pohon itu mereka pegang erat. Sekuat tenaga mengangkatnya hingga meraih buah kepala! Seketika wajah pucat keduanya berubah cerah. Seperti bunga layu yang di siram air hujan.


Penuh semangat mengarahkan ujung batang mengenai tubuh buah kepala. Sesekali tergelincir karena terlalu lelah.


"Ayo jatuh," Gumam Suri penuh harap.


"Tuhan, bantu kami." Kata Melodi.


Keduanya berusaha sekuat tenaga. Mengecap bibir yang kering. Seakan manisnya air kelapa sudah mengguyur bibir mereka.


Pluk!


Satu buah kepala jatuh.


"Yuhuu... Terimakasih." Suri bersorak gembira. Mengecup batang pohon yang menjadi dewa penolong. Di ikuti Melodi.


Setelahnya mereka berhamburan menghampiri buah kepala yang sudah tergeletak di tepi pantai.


Tuhan seakan mendengar doa mereka. Menghilangkan keresahan dua wanita muda itu.


Kelapa itu sudah terbelah saking kerasnya hantaman. Mengeluarkan air segar yang manis.

__ADS_1


Suri dan Melodi mengangkat kepala itu. Bergantian berteduh di bawah kepala yang terus mengeluarkan airnya.


"Manis," Seru Melodi penuh kemenangan.


Suri mengangguk membenarkan.


Menyedihkan! Melihat bagaimana Suri dan Melodi saling berbagi satu butir buah kepala. Pengalaman yang tidak akan pernah mereka lupakan.


Awan mulai redup. Matahari menghilang perlahan di seret kedalam hamparan laut yang terbentang luas.


Suri dan Melodi terkulai di dekat buah kelapa yang sudah terbelah menjadi dua. Dengan keadaan buahnya sudah lenyap!


Suri dan melodi segera membuka tempurung kelapa itu. Tertawa girang melihat daging buah kelapa yang putih.


Sedikit mampu mengobati rasa lapar.


Sekarang keduanya duduk menikmati pemandangan yang indah luar biasa.


""Suri?" Panggil Melodi.


"Hmmm?"


"Setelah ini apa?" Tanya Melodi lagi.


"Setelah ini kita akan membuat api?"


Melodi mengerutkan kening. Segera menatap Suri lekat.


"Caranya?"


Suri tersenyum datar. Lalu ia mengambil dua buah batu yang tadi mereka gunakan untuk menjatuhkan buah kelapa


"Pakai ini!" Batu itu Suri berikan kepada Melodi yang masih melongo.


Melodi bergantian melirik dua buah batu di kedua tangannya.


"Bagaimana caranya!"


Suri menghela napas panjang. Menatap datar Melodi.


"Mereka selalu mengatakan kalau kamu orang yang pintar, berkelas, selalu mempunyai ide untuk setiap kegiatan di kampus Barata! Tapi lihat sekarang! Kamu seperti orang bodoh saja!" Suri segera menarik dua buah batu dari tangan Melodi setelah mengatakan kebenaran itu.


Suri bangkit. Mencari tempat yang tepat untuk menghidupkan api.


Melodi ikut bangkit.


"Apa kamu bilang? Aku orang bodoh?" kata Melodi tak terima.


Kaki Melodi menghentak pasir. Mengejar Suri yang ada di depan.


"Iya! " Jawab Suri santai.


"Kau!" Erang Melodi.


"Sudahlah. Nanti saja bertengkar-nya. Sekarang bantu aku mencari kayu." Pinta Suri lagi ketus.


Melodi mengepalkan tangan. Ingin menarik rambut Suri dan mengajaknya berkelahi. Tapi melihat langit semakin gelap. Melodi menahannya.


.


.


Goresan batu kapur terlihat di batu besar.


Melodi dengan malas kembali menggoreskan batu kapur itu keatas batu hitam. Menghasilkan angka di sana.


Suri yang melihat Melodi segera menghampiri.


"Apa kamu tidak salah menghitung?" Tanya Suri dengan tatapan tak percaya.


Melodi yang asik menatap batu itu menoleh. Segera menggeleng dengan wajah sendu.


"Kenapa mereka belum menemukan kita?" Tanya Melodi. Matanya bergetar.


Suri mendekat. Duduk di samping Melodi.


"Mungkin mereka butuh waktu untuk menjemput kita!"


"Sudah sepuluh hari! Tapi mereka masih belum datang. Hiks...hiks...Aku tidak mau mati di tempat ini."


"Aku juga."

__ADS_1


__ADS_2