
Suri menangis tersedu di dalam kamar mandi. Ia duduk di atas closed dengan mata memerah.
Tanpa sadar Suri ketakutan mendengar rencana liburan kedua orangtuanya dan sang Kakak ipar.
Batin dan jiwanya bersitegang membahas tentang ramalan Mama peramal.
"Bagaimana kalau Mama peramal itu benar! Hiks....hiks... Bagaimana, hiks....hiks... bagaimana kalau kehamilan ku ini akan merenggut nyawa keluarga ini. Tidak..." Suri menggeleng cepat. Ia memukul-mukul perutnya yang masih rata itu. Padahal jelas-jelas. Dokter Kamla kala itu mengatakan.
'Janin anda masih sangat muda Nona. Usianya baru dua Minggu. Saya harap anda bisa menjaganya. Dia rapuh dan sangat membutuhkan perhatian. Anda jangan banyak berpikir yang berat. Anda tenang saja. Masalah ini biar saya yang hadapi.'
Aku tidak ingin Sky kehilangan keluarganya. Aku tidak ingin dia membenci ku. Tidak, aku tidak mau itu terjadi.
Suri yang kebingungan langsung bangkit. Tangannya membuka pintu kamar mandi. Ia berlari keluar kamar untuk menemui Sky yang tengah bercengkrama di ruang keluarga.
Sky dan keluarganya ingin menghabiskan waktu bersama setelah makan malam. Sudah lama sekali Keluarga Barata tidak berkumpul.
Suri sendiri memilih beristirahat dengan alasan perutnya sakit dan harus ke kamar mandi. Suri memang pergi ke kamar mandi. Tapi bukan untuk memenuhi panggilan alam.. Dirinya malah menumpahkan air mata.
Tring....Pintu lift terbuka. Suri berjalan cepat sembari mengusap air matanya.
"Aku tidak ingin menutupi ini lagi. Aku juga tidak ingin Sky membenci ku nantinya." Suri menggeleng lagi.
Terserah apa yang akan mereka lakukan padaku dan anak ini. Aku hanya tidak ingin Sky marah dan membenci ku.
Suri bertekad akan memberi tahu keluarga Barata tentang kehamilannya. Resiko yang akan di hadapi sudah tidak lagi di pikiran Suri.
Kalau pun dengan mengaborsi si jabang bayi. Rasanya tak apa. Asal Sky bisa terus mencintainya.
Sky benar! Kami memang tidak seharusnya memikirkan soal anak! Kami masih muda.
.
"Hahaha... Ini kabar bagus!"
Tuan Diki tertawa girang di ikuti Nyonya Rose dan Sky. Tristan sendiri hanya tersenyum datar. Keempatnya tangah duduk di sofa ruang keluarga bersama satu tamu wanita cantik lagi muda.
Di tengah tawa yang tercipta. Suri datang kemudian. Ia berlari menghampiri semua orang tapi tiba-tiba langkahnya terhenti!
Ia mematung di sana. Menatap satu sosok wanita yang di kenalnya tengah bercengkrama bersama kedua orangtuanya dan sang suami.
"Dokter Kamla!
Suri berjalan mundur perlahan. Ia siap berbalik. Ia mengurungkan niatnya untuk memberi tahu semua keluarga dan Sky. Adanya dokter Kamla membuat Suri ketakutan.
Sky yang tak sengaja melihat kedatangan Suri tersenyum senang.
"Suri! Kemari." Sky melambaikan tangannya meminta Suri untuk mendekat. Sontak saja semua mata tertuju kepada Suri. Tak terkecuali Dokter Kamla.
"Nona Suri." Dokter Kamla berdiri lalu tubuhnya membungkuk kearah Suri yang mana masih diam di tempat.
.
Suri tersenyum samar ketika sang papa mertua berbincang tentang kabar yang di bawa dokter Kamla. Tentang data riwayat Suri yang di maksud adalah penundaan kehamilan!
__ADS_1
Di saat Sky dan semua mata tertuju pada map yang di bawa dokter Kamla. Suri dan dokter Kamla bermain mata. Keduanya duduk berhadapan dan mereka saling tatap seolah bertukar pikiran.
"Bagus!"
Suara nyaring Tuan Diki meminta Keduanya untuk tersenyum dan mengekspresikan perasaan bahagia seperti si tuan Diki yang terhormat.
"Suri! Papa harap kamu bisa mengerti." kata Tuan Diki sambil menutup map berwarna biru itu.
Suri tak memberi respon apapun. Dirinya malah sibuk menunduk. Batinnya beradu argument dengan pikirannya sendiri.
Aku harus memberi tahu mereka kalau aku hamil!
Suri yang memang sudah bertekad bulat ingin memberi tahukan tentang kehamilannya langsung mengangkat kepala. Bergantian melirik Sky dan semua orang termasuk Dokter Kamla.
"Sky!" Panggil Suri gugup.
Sky yang mana tengah berbincang dengan dokter Kamla menoleh.
"Kenapa Suri?" Sky menarik Suri yang memang ada di sampingnya.
"Ada apa?" tanya Sky lagi.
Suri bersuara. "Aku-
"Ah? Dokter Kamla!" Sky langsung menatap Dokter Kamla seperti ingin menanyakan sesuatu.
Suri menghela napas karena Sky sudah memangkas kalimatnya.
"Iya Tuan?" sahut Dokter Kamla sopan.
Tapi sebelum Sky bersuara. Tristan pamit.
"Aku lelah! Permisi!"
"Pelayan!" Teriak Tristan. Ia memanggil pelayan untuk membantunya mendorong kursi roda.
"Selamat malam Kak." kata Nyonya Rose.
Trisna mengangguk sebagai balasan.
"Ada yang ingin anda tanyakan Tuan?" Dokter Kamla bertanya untuk memastikan.
Sky mengangguk. "Akhir-akhir ini dia selalu makan lahap seperti orang yang tidak makan satu Minggu? Apa itu normal untuk wanita datang bulan?"
Pertanyaan Sky hampir saja menjatuhkan jantung Dokter Kamla. Untuk menyamarkan kegelisahan. Dokter Kamla tertawa.
"Iya! Itu di rasakan sebagian wanita ketika datang bulan, Tuan!"
Astaga. Nona kenapa anda tidak bisa hati-hati.
Suri menggeleng memberi isyarat agar Sky tidak percaya dengan apa yang di katakannya kala itu.
Dokter Kamla terus memberi pengalihan untuk ketiganya. Karena dirinya merasa Suri akan mengatakan yang sebenarnya tentang kabar kehamilannya.
__ADS_1
Tidak Nona Suri anda tidak akan pernah bercerita tentang kehamilan anda. Saya akan memastikan itu.
Dokter Kamla amat lihai berbicara sampai Suri tak di beri kesempatan untuk mengutarakan tujuannya.
.
Tak terasa malam semakin larut.
Dokter Kamla waktunya pamit.
Dirinya di minta menghadap beberapa hari yang lalu. Tapi dengan berdalih kurang enak badan. Tuan Diki percaya.
Di ambang pintu mansion dokter Kamla membungkuk sebelum ia pergi.
Tuan Diki dan Nyonya Rose langsung balik badan.
Di sana menyisakan Suri dan Sky.
"Ayo Suri." Sky menarik Suri untuk masuk. Tapi Suri berkata.
"Kamu duluan saja. Aku ada urusan penting dengan Dokter Kamla. Itu-
"Ok, Aku masuk ya."
Sky yang tak menaruh curiga memberi izin Suri untuk menemui dokter Kamla yang kebetulan sudah meninggalkan halaman mansion.
Mungkin Sky berpikir bahwa urusan penting itu adalah tentang ribetnya datang bulan.
.
Suri berlari mengejar Dokter Kamla yang kebetulan siap masuk kedalam mobil miliknya.
"Dokter Kamla, tunggu!" teriak Suri.
Sontak Dokter Kamla memutar tubuhnya.
"Nona!" Dokter Kamla menampakan wajah kebingungan melihat Suri berlari menghampiri.
"Tunggu, dokter."
Dengan napas sedikit terengah. Suri berdiri di depan mata dokter Kamla.
"Kenapa, Nona?" tanya dokter Kamla berusaha tenang.
"Saya akan memberi tahu kehamilan saya kepada Sky dan kedua mertua saya! Saya takut Dokter! Tadi kenapa anda seolah melarang-
"Tuan Diki mengancam akan menghancurkan hidup saya kalau sampai anda hamil." seru Dokter Kamla lirih.
Suri menggelengkan kepala tak percaya..
"Anda bohong! Tidak mungkin-
"Itu kenyataannya Nona? saya tidak ingin hidup saya hancur karena kehamilan anda. Jadi saya harus memastikan kalau kehamilan anda akan tetap menjadi misteri sampai saya siap!"
__ADS_1
"Omong kosong!" teriak Suri lagi penuh amarah.