
Suri mempersilahkan tamunya duduk. Setelahnya berpamitan untuk mengambilkan air minum sekaligus menemui Queen yang masih duduk di dapur.
"Mom?"Queen berlari kecil menghampiri Suri..
Suri segera menggendong Queen sembari berkata. "Queen ke kamar ya, bereskan mainan. Mama ada tamu. Tidak apa-apa kan kalau Queen beres-beres sendiri?"
"Tidak apa-apa Mommy, Queen bisa."
"Anak pintar."
.
Dengan membawa nampan Suri kembali menemui tamunya yang sama sekali tidak dirinya bayangkan akan datang begitu mendadak.
Satu Minggu sebelumnya. Savira datang menemui Suri, membicarakan tentang seorang pengacara untuk melawan Sky sang mantan suami. Jika sewaktu-waktu dirinya di temukan dan menuntut hak atas Queen.
Savira memberi bantuan tepatnya. Menawarkan untuk Suri menerima seorang pengacara teman baik suaminya. Jhon, awalnya Suri menolak keras karena itu akan sangat sia-sia.
Melawan Sky dan keluarganya adalah hal yang mustahil.
Keyakinan yang selalu membayangi Suri. Sky Antoni Barata anak dari pengusaha terkaya di negaranya. Memikirkan itu membuat Suri pusing dan tertekan. Dunia seakan senang mempermainkan hidupnya yang sudah sangat menderita itu. Tapi Suri bisa apa.
"Jangan menolak Suri. Dia adalah orang hebat. Seorang pengacara yang handal. Dia juga terkenal di kota ini. Bukan hanya itu Dia juga-
Tampan.
Suri segera menggelengkan kepala.
Apa yang aku pikirkan.
Batin Suri mencaci diri. Tak sengaja memuji pria di depannya begitu mudah. Ini jelas karena Perkataan Savira yang tak sengaja terputar di ingatan.
Ok baik-baik, tenang Suri.
"Silakan di minum tuan-
"Demian!" seru si pengacara memperkenalkan diri, tak salah memang jika pengacara muda di depannya begitu tampan, bahkan dia memiliki senyuman yang manis.
Suri mengangguk sembari tersenyum tipis.
"Bisa kita mulai?" tanya Demian santai.
Suri menelan ludah begitu sulit. Memulai berarti memulai peperangan. Otaknya di penuhi berbagai macam bayang-bayang. Menatap Demian yang ada di hadapan sungguh menakutkan.
Pria di depannya bukan pria sembarangan. Dia adalah seorang pengacara yang akan membelanya nanti. Walaupun belum ada yang melaporkan dirinya sudah di temukan. Atau bahkan Sky dan keluarganya belum mengetahui dirinya dan Queen.
Haruskah? Sekarang?
"Nona Suri?"
"Ah..." Suri tersadar dari lamunan.
"Saya-
"Kenapa Anda terlihat gugup Nona? Jhon, dia sudah menceritakan semuanya kepada saya!"
Suri mengerutkan kening. "Jhon? Apa yang dia katakan?"
"Dia menceritakan apa yang aku lihat di berita? Siapa Anda dan kehidupan Anda, Nona." seru Demian begitu santai.
Suri tertawa kecil terlihat wajahnya kini tak lagi kaku, karena sepertinya suami Savira tak terlalu tau tentang kehidupannya.
Savira, aku tau kamu teman yang baik.
"Bagaimana Nona? Bisa kita mulai?" lagi Demian bertanya.
__ADS_1
Suri menghela napas pelan. Bibirnya sulit untuk terbuka.
Demian menunggu. Dirinya menyeruput jus lemon yang di bawakan Suri sebagai pengalihan.
Dia butuh waktu rupanya.
pikir Demian.
"Kalau kamu merasa ragu untuk mengatakannya karena status ku seorang Pengacara! Boleh aku menjadi teman mu? Supaya tidak ada lagi keraguan Nona Suri, Maksud ku, Suri!"
Deg...
Suri mematung. Menatap Demian, lelaki yang baru di kenalnya berkata begitu akrab.
.
Barata Company.
Brak...."Apa aku tidak salah dengar?"
Suara nyaring dari pria tampan yang duduk di kursinya menggema. Ponsel di tangan terus di tatap dari pengawasan matanya yang tajam. Selebaran yang di muat Tristan sudah sampai padanya.
Wajah manis lagi cantik wanita yang dicintainya nampak jelas saja. Otaknya kembali mengingat masa-masa itu. Masa dulu ketika masih bersama dalam ikatan pernikahan yang penuh kesengsaraan.
"Kenapa, kenapa kakakku mencari dia? kenapa?" suara yang bernada tinggi menyentak pria berjas di sampingnya.
Dengan gugup pria itu menjawab. "Saya masih belum mengetahui motif tuan Tristan mencari Nona-
"Jangan sebut namanya." katanya lantang. Sky menarik napas dalam-dalam. Dadanya tiba-tiba sesak terasa. Kemelut yang selama ini menghantui dan mulai pergi kembali datang tanpa permisi.
"Tristan, aku harus meminta penjelasan." kaki berbalut sepatu hitam menggema memecah keheningan kantor yang luas. Berjalan keluar gedung di ikuti sang sekertaris dan beberapa pengawal yang berwajah garang.
Untuk apa kakak ku sendiri. Mencari keberadaan dirinya. Aku bahkan sudah melupakan semua tantang dirinya kecuali wajahnya.
Berbagai pertanyaan terus menggelayut dalam benak Sky. Suri sang mantan istri yang kini entah ada di mana dan tak tau keberadaannya. Di cari oleh kakaknya sendiri tanpa memberi tau dirinya. Apa motif Tristan mencari sang mantan istri memenuhi otaknya. Sampai mobil tiba di mansion Barata. Ini hari Rabu, artinya Tristan akan bekerja dari balik kamar alih-alih pergi ke kantor. Tristan mempunyai jadwal kekantor pada hari Senin dan Selasa, selebihnya di kerjakan di rumah.
Para pelayan yang ada di barisan depan terkejut bukan main melihat tuan muda Barata datang berkunjung setelah sekian lama. Terhitung dua tahun lamanya Sky tak menginjak Mansion Barata. Semenjak kejadian itu tepatnya. Waktu yang cukup lama bukan? Tapi sekarang mata para pelayan terbelalak melihat Sky datang dan masuk melewati mereka yang kebingungan.
"Aku berharap tidak ada lagi korban!"
Ucapan temannya membuat wanita yang ada di sampingnya mengangguk dengan wajah pucat.
.
"Selamat datang Tuan Sky." seru para pelayan.
"Di mana Mama?" tanya Sky kepada kepala pelayan yang senantiasa mengekor di belakangnya.
"Nyonya ada di kamarnya, Tuan."
Sky mengangguk. " Aku hanya ingin menemui Kakak ku, jangan beri tau Mama aku datang." pesan Sky yang di jawab anggukan kepala dari si kepala pelayan.
Langkah kakinya yang lebar keluar dari dalam lift. Dengan santai melewati kamar Nyonya Rose yang mana di dalam ia tengah di pijat para pelayan.
Sky sampai di ambang pintu kamar Tristan yang tertutup rapat. Menatapnya lekat dengan tangan mengepal.
"Tinggalkan aku sendiri."
Kepala pelayan, dan sekretarisnya. Simon, membungkuk lalu undur diri meninggalkan Sky seorang diri.
Tak membuang waktu, tangannya mengetuk pintu kamar.
Tok...tok....tok...
Tristan melirik arah pintu kamar yang di ketuk. Tangan yang sibuk menekan banyaknya keyboard terhenti bersamaan dengan suara hembusan napas yang menandakan dirinya mulai kesal.
__ADS_1
"Kamla!" Tristan segera bangkit. Berjalan menghampiri daun pintu. Tak salah lagi itu pasti Kamla. Hanya dia yang bisa menggangu pekerjaannya di jam yang jelas-jelas sudah di patenkan.
Ceklek...
Mata Sky yang di buru amarah terdiam melihat Tristan sang Kakak membuka pintu dengan kaki berdiri.
Tristan terpaku tak bergerak, menatap bingung sang adik yang ada di hadapan.
Sky? Dia melihat ku.
"Sky, kamu datang-
"Apa yang aku lihat ini? Ap-apa aku tidak salah lihat?" Sky nampak tak percaya. Matanya menelusuri tubuh Tristan yang berdiri tegap tanpa kursi rodanya.
Tristan lantas membuka pintu kamar sebegitu lebar. Perlakuan yang berbeda ketika Dokter Kamla memergokinya kala itu. Rahasia yang rapat di simpan kini di ketahui Sky adik kandungnya sendiri.
Sky tertawa kecil pada awalnya. Hingga suara tawa keras menggema.
Hahahaha....
"Tertawa saja. Kau bebas tertawa." seru Tristan yang sudah pasrah. Menatap Sky dengan tubuh lunglai.
.
Sky terus saja tertawa. Saat ini keduanya duduk saling berhadapan di sofa dalam kamar Tristan. Kamar yang hampir tidak pernah Sky masuki. Mereka memang Kakak beradik. Tapi mereka tak sedekat itu.
"Apa kau akan memberi tau mama tentang ini?" Tristan membuka pembicaraan.
Yang di ajak bicara hanya sibuk tertawa alih-alih marah karena sang Kakak sudah berbohong. Sky juga lupa niat awalnya datang ke mansion, Keterkejutan atas Tristan yang dapat berjalan mengejutkan batin Sky.
Tristan menghela napas panjang. Bersandar mengistirahatkan tubuh yang lemas. Matanya terus menatap Sky yang asik tertawa.
"Ini tidak akan berjalan lancar." gumam Tristan dengan wajah sendu.
Sky mulai senyap. Dirinya mengusap kedua sisi mata yang basah karena asik tertawa.
"Sejak kapan Kak? Sejak kapan kamu bisa berjalan?" tanya Sky. Jujur hatinya merasa bahagia melihat Kakaknya bisa berjalan seperti dirinya.
Dan mungkin sekarang sang Kakak akan hidup normal. Mungkin juga akan bahagia berumah tangga bersama Dokter Kamla pilihan Mamanya. Batin Sky berbicara.
"Sejak lama, tepatnya aku tidak tau." sahut Tristan tanpa ekspresi wajah senang. Jelas karena bukan ini rencananya..
Rencananya adalah. Aku yang akan mengejutkan kalian tapi bukan dengan cara seperti ini.
Tristan kembali menarik napas berat.
Sky menganggukkan kepalanya pelan. Sampai matanya melirik sang kakak begitu cepat.
"Hey, pembohong ulung? Aku mempunyai pertanyaan lain?"
"Katakan saja. Aku sudah tidak perduli."
"Kenapa Kakak mencari keberadaan dia?"
Tristan yang lunglai, terkejut dengan pertanyaan Sky. Sekilas matanya melirik sang adik. Buru-buru pandangan di alihkan ke sembarang arah.
"Dia, dia siapa?" Tristan bertingkah aneh.
Dia sudah tau rupanya.
"Dia, siapa lagi." Sky menuntut sang Kakak segera memberi jawaban yang sudah sangat memuncak di benaknya.
"Suri, maksud mu?"
Sky menatap Tristan datar. Tristan mengerti. Memang siapa lagi yang di bicarakan Sky.
__ADS_1
Kamla, semua ini karena dirimu. Aku harus menghadapi adikku sendiri.
Batin Tristan bergumam tak karuan. Sedangkan Sky menunggu Tristan memberi penjelasan.