
Seperti yang di katakan Jason.
Memanggil Orang pintar adalah keputusan yang di ambil.
Sepuluh hari menunggu dengan bantuan ahli dan tim SAR tak ada hasil yang berarti. semua pulau yang mengelilingi laut Ardo sudah di jelajah tapi hasilnya nihil.
Mimpi Sky benar-benar menjadi petunjuk.
Suri dan Melodi terdampar di satu pulau yang mungkin di tinggali satu mahkluk halus. Entah berwujud apa? Tapi yang pasti makhluk itu yang menggelapkan mata para tim. Bayangkan saja. Ada lima belas pulau tapi tim seakan di buat kebingungan dalam melakukan pencarian. Di tambah lautan yang selalu pasang membuat Sky dan Jason mengambil langkah tegas.
.
Sky menceritakan tentang mimpi buruk itu kepada sang Ayah. Mengatakan apa yang dirinya lihat.
Tuan Diki dan Nyonya Rose terkesima mendengar penjelasan Sky dari balik telepon.
Sampai akhirnya Tuan Diki menghubungi peramal.
Mama peramal yang di datanginya 20 tahun silam.
Satu utusan di kirim untuk mendatangi Mama peramal. Memberi pesan lewat tulisan tangan.
Bangun yang masih sama nampak berdiri tanpa ada yang berubah walaupun sudah berlalu dua puluh tahun lamanya.
Mobil hitam berhenti di ambang gerbang yang di kelilingi tanaman berbagai macam. Nampak asri dan nyaman mengingat tempat tinggal si peramal berada jauh dari kota.
Satu pria gagah turun dari dalam mobil. Segera berjalan untuk masuk kedalam gerbang yang sudah di buka. Ada penjaga di sana.
"Anda sudah di tunggu tuan!" Kata pria sedikit tua itu. Berdiri di ambang gerbang.
Si pria suruhan Tuan Diki langsung berjalan lagi cepat. Tak ada waktu untuk berjalan santai.
Dirinya masuk kedalam satu buah ruangan.
"Masuklah!" Suara berat dari wanita tua menggema.
Kepalanya mengangguk patuh. Masuk dengan santai.
"Saya-
"Saya tau!" Kata si mama peramal. Memangkas kalimat yang belum selesai.
Si pria itu mengangguk lagi. Tangannya yang berisikan surat dari tuan Diki di sodorkan.
Mama peramal mengambilnya tanpa bertanya lagi.
"Silakan duduk." Titah si mama peramal.
Pria itu mengangguk lagi. Perlahan menggeser kursi yang ada di depannya.
Amplop coklat tua di buka. Mama peramal membuka lipatan kertas itu. Membacanya dengan wajah datar.
Tolong bawa kembali Menantuku Suri dan temannya Melodi.
Cuplikan isi surat yang di tulis Tuan Diki.
Mama peramal selalu meminta kepada siapapun pasiennya untuk menulis apa yang menjadi tujuannya datang padanya.
Karena dengan media kertas. Indera penglihatannya bisa tersalurkan dengan baik.
Setelahnya ia menutup mata. Beberapa kali menghela napas.
Si pria yang di perintahkan tuan Diki menjadi gugup.
"Saya harus ketempat itu!"
.
.
Sky menunggu dengan sabar kedatangan Mama peramal. Sendirian di dermaga tanpa di temani Jason.
Sky, Mama peramal tau di mana Suri dan Melodi. Dia akan datang ke sana besok jadi kamu harus menjemputnya. Mama peramal mengatakan hanya kamu yang boleh menjemputnya.
Ucapan Tuan Diki dari balik telepon terus teringan di telinga Sky. Dirinya di paksa untuk percaya. Karena itu syarat mutlak untuk bisa membawa istrinya kembali.
Tuhan, semoga, Mama peramal bisa membawa istriku kembali dan juga Melodi. Bantu kami Tuhan.
Tak lama kemudian..
Satu buah mobil datang. Turun sosok wanita yang di pastikan adalah Mama peramal.
Sky menatapnya lekat.
__ADS_1
Jadi dia orangnya.
Pikir Sky. Menelisik usai si mama peramal yang tak jauh dengan usia sang Mama..
Mama peramal berjalan membawa aura yang mana membuat Sky terkejut.
Keperkasaannya dalam meramal nampak jelas saja. Padahal usianya masih belum terlalu tua.
"Mari." Sky menyambut Mama peramal dengan baik.
Mama peramal berhenti sejenak. Menatap Sky lama. Tanpa kata dan tanpa ekspresi.
Sky tersenyum datar. "Mari." Ulangnya. Mengajak Mama peramal untuk naik keatas perahu.
Mama peramal berjalan. Tanpa mengucapkan sepatah kata naik ke atas kapal.
Kapal meninggalkan Dermaga.
Di atas kapal yang melaju. Sky melirik kearah mama peramal yang mana tangannya melambai. Memberi isyarat agar Sky mendekat.
Entah kenapa Sky mengangguk. Duduk di samping Mama peramal.
"Kamu Sky?" Tanya mama peramal. Padahal dirinya sudah tau siapa pria tampan yang tengah duduk di sampingnya itu.
Sky mengangguk saja.
"Apa anda benar-benar bisa membawa istriku pulang?" Tanya Sky penasaran.
Kepala mama peramal menggeleng.
Kening Sky mengkerut bingung.
"Lantas! Kenapa-
"Tidak baik berbicara di saat kita masih di tempat ini!" Kata Mama peramal tenang. Kemudian memalingkan wajah menatap depan kapal.
Sky semakin kebingungan manakala Mama peramal memberinya jawaban aneh.
Tapi Sky berusaha sabar. dirinya harus percaya.
Percaya... Percaya.... Tuhan buat aku percaya. Kalau dia bisa membawa istriku dan Melodi kembali
.
.
Mama peramal di sambut oleh para tim. Mereka di minta Tuan Diki untuk menyambut kedatangan wanita itu.
Sky berjalan menghampiri Jason yang ada di sana juga.
"Bagaimana? Apa yang dia katakan?" Bisik Jason penasaran.
"Dia meminta aku untuk diam!" Sahut Sky ketus.
"Apa?" Timpal Jason tak percaya.
Tidak ada yang berani memerintah seorang Sky.
Batin Jason. Seolah Mama peramal adalah Dewi penakluk selain Suri.
"Saya ingin mengatakan sesuatu!"
Tiba-tiba Mama peramal bersuara.
Kerumunan laki-laki dan beberapa perempuan itu diam. Mendengarkan dengan seksama apa yang akan di katakan Mama peramal. Tak terkecuali Sky dan Jason.
Satu persatu Mama peramal melirik para tim yang menampakkan wajah lelah.
"Suri dan Melodi berjarak hanya tiga kilometer dari kapal ini!"
Sontak mata para tim membulat sempurna. Saling tatap membawa wajah penuh kebingungan.
Sky dan Jason yang paling menonjol. Mata keduanya hampir saja keluar saking terkejutnya.
Kapten tim SAR tertawa kecil. Mengundang mata Mama peramal.
"Maafkan saya Nyonya! Tapi itu tidak masuk akal? Kami sudah lebih dari sepuluh hari mengelilingi laut Ardo dan juga pulau-pulau kecil yang ada. Tapi sampai saat ini kami-
"Sky, Jason."
Tiba-tiba Mama peramal memanggil nama Sky dan Jason. Mengabaikan si kapten yang masih belum menyelesaikan ucapannya.
Sky menarik Jason.
__ADS_1
"Dia tau namaku? Astaga."
Jason berjalan tanpa raga saja. Dirinya masih kebingungan dengan apa yang di katakan Mama peramal. Sekarang dirinya semakin di buat bingung ketika namanya di sebut. Padahal Mama peramal dan dirinya belum pernah bertemu.
Sky dan Jason menghadap Mama peramal. Ketiganya berdiri berhadapan di saat para tim SAR mengelilingi mereka.
"Hanya kalian yang bisa membawa Suri dan Melodi kembali!" Katanya.
"Apa?" Jason semakin terkejut.
Sedangkan Sky mengangguk siap.
"Apa yang harus kami lakukan? Mama?" Tanya Sky tanpa ragu.
"Sabar anakku? Kalian jangan gegabah!" Jelas itu sebuah peringatan.
Mama peramal berbalik menatap lautan di mana ada satu pulau yang di kelilingi kabut hitam. padahal hari masih terang. Pukul 11 siang saat ini.
"Besok malam! Kalian akan pergi menjemput Suri dan Melodi. Katakan di sana." Mama peramal berbalik lagi. Bergantian menatap Sky dan Jason.
"Katakan kami menjemput pasangan kami!"
"Apa? Pasangan? Tidak, tidak! Melodi bukan-
Bibir Jason di bungkam Sky.
"Baik, akan kami lakukan!" Ucap Sky.
Mama peramal mengangguk.
Kemudian dirinya menarik tangan Jason.
"Jemput pasangan hidupmu!"
.
Di sisi lain.
Melodi membuka mata. Merasa terganggu dengan silaunya sinar mentari.
Entah ini sudah jam berapa tapi matahari sudah di atas angkasa.
Seperti biasa. Melodi mendekati bibir pantai di mana ada satu buah batu. Batu tempatnya menghitung hari.
Dua belas hari.
Lirih batin Melodi. Tersenyum ketir jika mengingat dirinya dan Suri masih terdampar di pulau.
Dengan wajah di tekuk. Melodi kembali masuk kedalam rumah perahu karet. Duduk di samping Suri yang masih meringkuk.
"Suri? Bangunlah! ini sudah siang! Tapi aku tidak tau ini jam berapa? Aku masih belum bisa membaca waktu." Celoteh Melodi guna membuang rasa sedihnya.
"Suri!" Melodi mengguncang tubuh Suri.
Tapi tiba-tiba. Melodi terkejut.
"Astaga! Kamu demam!" Melodi meraba kening Suri.
"Suri! Suri! Kamu demam?" Lagi Melodi memberi tau Suri.
Suri perlahan membuka mata. Mengecap bibirnya yang kering..
"Aku haus!" Kata Suri. yang hampir tidak bisa di dengar Melodi.
"Suri jangan sakit! hiks ..hiks...Aku tidak mau kamu sakit! Hiks ..Hiks..."
Melodi menangis tanpa bisa mengabulkan permintaan Suri yang sederhana itu.
"Aku haus! Aku ingin minum." Lagi Suri meminta. Tapi Melodi malah semakin menangis.
Hiks...hiks.."Jangan sakit Suri!"
Suri yang kesakitan berteriak.
"Aku akan mati kalau kamu terus menangis!"
Melodi diam membisu. Sesegukan dengan wajah berbunga.
"Jangan sakit!"
"Aku haus! aku ingin minum!"
"Baik! Aku akan mengambilkan kamu air."
__ADS_1