Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)

Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)
Kebencian Yang Nyata!


__ADS_3

Dengan berat hati Suri memungut piring itu. Meneteskan air mata kesedihan yang jatuh mengenai si piring berisikan tumpukan sayur yang mana di bagian sisinya sudah terkena bumbu dari berbagai hidangan. Dan tak lupa satu potong daging sapi.


Kuatkan hatiku Tuhan.


Sky melirik bagaimana Suri memungut si piring yang ada di antara kakinya. Tubuhnya bergetar merasakan perasaan kasian lagi marah. Keduanya bercampur hingga Sky tak sanggup menelan makanannya.


"Pergi dari hadapanku!" ucap Sky dingin.


Suri mengangguk tanpa kata. Berbalik dan meninggalkan ruang makan dengan menenteng si piring berisikan makan malamnya.


"Aku kuat! Aku kuat."


.


Tring... Suara garpu dan sendok berdentang nyaring menghantam piring. Sky menjatuhkannya dengan kuat. Sampai mengagetkan kedua pria yang berdiri di sana.


"Sial! Makanan ini tidak enak!" keluh Sky ketus. Melirik tajam si koki yang sudah bekerja memasak hampir sepuluh tahun terakhir di mansion.


"Maafkan saya Tuan!"


"Pergi dari hadapanku sebelum aku membunuh kalian!" katanya santai.


Buru-buru kedua Koki itu membungkuk lalu berjalan cepat meninggalkan ruang makan.


Sky mendesah berat. Bersandar untuk menenangkan diri yang kacau.


"Dia menantang ku rupanya!" gumam Sky seolah ada Suri di hadapan.


Aku ingin melihat bagaimana reaksinya tadi. Tapi ternyata dia senang aku perlakuan buruk. Baiklah Suri aku akan menerima tantangan dari mu. Kita lihat sejauh mana kau akan menurut padaku.


Sky tersenyum sinis. Otaknya merancang sesuatu yang bisa membawa kedamaian dalam hati yang sudah kepalang marah.


"Kebohongan mu tidak bisa aku maafkan Suri! Kamu pantas mendapatkan semua ini?"


.


Suri berjalan ke area dapur di mana para pelayan tengah menikmati makan malam mereka yang tak kalah lezat dengan makanan si empunya rumah.


Tubuhnya yang tadi kaku kini mulai normal. Perlakuan Sky sedari pagi masih bisa dirinya terima bahkan ketika Sky memberi perlakuan buruk pun Suri masih kuat padahal tadi Sky menyodorkan piring untuknya seperti memberi hewan saja. Tak beradab. Tapi Suri berusaha tegar Walaupun itu sakit.


"Mungkin dia ingin melihat sampai mana aku bisa kuat! Mungkin juga dia ingin aku sadar siapa aku di rumah ini! Sudah terbiasa aku di perlakukan buruk olehnya. Dari pertama menjadi istrinya aku tidak pernah lepas dari persoalan buruk. Di tambah sekarang aku hamil dan sudah membohongi dia. Lupakan Papa Diki dan Papaku yang sudah tenang. Aku ingin Sky tidak terus menerus menyalahkan aku atas kepergian Papa Diki." gumam Suri lirih bercampur derai air mata. Buru-buru Suri mengusap pipinya yang basah. Dirinya harus Kuat dan tabah menghadapi kenyataan menyeramkan ini.


"Nona!" seru pelayan yang melihat kedatangan Suri.


Samar Suri tersenyum. Berjalan menghampiri meja makan dengan menenteng piring pemberian Sky.


Para pelayan wanita yang berjumlah banyak itu segera beranjak bangun.


"Tidak, tidak. Kalian makan saja jangan hiraukan aku." katanya sembari mendekati meja. "Boleh aku makan bersama kalian di sini?"


Semua pelayan mengangguk tanpa ragu. Menggeser kursi yang kosong di sisi mereka.


"Silakan Nona! Anda tidak perlu meminta izin kepada kami. Kami hanya pelayan."


Suri menggeleng tak setuju sambil menjatuhkan bobot tubuhnya. "Aku juga seperti kalian. Jadi sekarang ayo kita makan."


Para pelayan tersenyum lalu kembali duduk.


Tak lama satu sosok pria dengan topi putih memperlihatkan siapa dirinya di area dapur segera menghampiri kerumunan. Berhenti di mana Suri duduk.


"Nona! Makan malam anda!" katanya. Menyodorkan nampan tanpa memperdulikan penolakan Suri yang tak enak.

__ADS_1


"Anda jangan menolak Nona. Anda harus makan dengan lahap. Agar bayi anda kuat."


Suri mulai berkaca-kaca. Terharu dengan ucapan salah satu pelayan yang duduk tidak jauh darinya.


"Baik. Aku akan makan dengan senang." Suri mengangguk patuh. Ia mulai mengangkat sendok dan memasukan makanan yang kini nampak lebih layak dari pada piring berisikan tumpukan sayur bekas, dan potongan kecil daging sapi pemberian Sky suaminya.


Si koki yang tadi bertugas membawa makan malam Suri membuang makanan yang di bawa Suri dengan wajah marah.


"Tuan Sky anda akan menyesal karena sudah menyakiti gadis sebaik Nona Suri. Aku penasaran akan seperti apa bila Nona pergi dan meninggalkan anda!"


.


Di saat Suri sibuk mengisi perut dan memperbaiki hatinya.


Sky sang suami baru saja masuk kedalam salah satu kamar yang letaknya berada jauh dari kamarnya sendiri. Dengan perasaan tenang Sky menutup pintu kamar setelah membukanya.


"Keluar! Mama tidak ingin melihat kamu Sky!"


Suara cukup lantang menyentak Sky yang masih sibuk di ambang pintu.


"Sky hanya ingin melihat keadaan Mama." katanya lembut. Ia berbalik lalu berjalan menuju ranjang di mana Nyonya Rose tengah berbaring.


Nyonya Rose berbaring kembali, ia berbalik dengan wajah marah. "Mama baik-baik saja. Sekarang tinggalkan Mama sendiri."


Sky menghela napas. Alih-alih pergi Sky menarik tangan sang Mama yang hangat. Nyonya Rose tak menolak dirinya membiarkan Sky mengusap tangannya.


"Maafkan Sky. Kakak mengatakan kalau Sky sudah sangat keterlaluan. Sky hanya ingin memberi Suri pelajaran. Dia sudah berbohong dengan menyembunyikan kehamilannya."


Nyonya Rose segera berbalik membawa wajah sendu. Menatap sang putra kedua dengan gelengan kepala.


"Untuk apa kamu menghukum istrimu sendiri! Dia ketakutan karena ucapan Mama peramal, itu adalah alasan istrimu menutupi kehamilannya. Mama sadar bahwa semua itu bukan karena ucapan Mama peramal. Kepergian Papa dan hamilnya Suri adalah takdir Tuhan. Sky, kamu harus percaya itu. Stop jangan lagi-


"Sky tau! Mama akan mengatakan ini. Mama tidak mengerti bagaimana kecewakan Sky atas semua ini." Sky mulai berkaca-kaca hampir meloloskan air mata di pipinya. Tapi Sky amat lihai menahan semua itu.


Tanpa di duga Sky mengangguk setuju. "Sky tidak pernah lagi menghubungi Mama peramal semenjak Suri dan Melodi tersesat di pulau kala itu. Mama tenang saja."


Nyonya Rose tersenyum ceria. "Papa akan bahagia jika dia ada di sini sekarang." katanya sendu. Memikirkan sang suami yang sudah tenang di lain tempat.


Sky menggeleng cepat berteman senyuman kesedihan. " Ma, Sky mohon jangan lagi sebut nama papa untuk saat ini! Sky tidak sanggup mendengarnya."


Nyonya Rose mengangguk setuju. "Kemari-lah."


Sky yang keras kepala dan menakutkan itu kini lemah di dalam dekapan sang Mama. Meringkuk nyaman dalam kehangatan yang sudah lama tak bisa di rasakan.


"Sekarang kita harus bersama-sama menata masa depan sayang. Sekarang yang Mama punya hanya kamu dan Kakak mu Tristan, maka dari itu Mama mohon. Bersikap baiklah kepada Kakakmu. Hilangkan perilaku buruk Nak, buat papa bangga di sana."


Sky mengangguk pelan. Melingkarkan tangannya di atas pundak Nyonya Rose yang tadi pagi sudah ia buat menangis. ?


"Suri! Apa dia baik-baik saja?" pada akhirnya pertanyaan itu tercuat juga. Membuat Sky berhenti bernapas.


Dengan malas Sky menjawab. "Dia menjadi pelayan sekarang!"


Kening Nyonya Rose mengkerut bingung.


"Apa maksudnya?" tanyanya tak mengerti.


Sky mengangkat tubuh. Menatap manik sang Mama dalam keremangan cahaya.


"Sky menghukum Suri untuk menjadi pelayan di rumah ini. Tolong Mama jangan ikut campur! Sky ingin Suri paham kalau Sky sakit hati."


Plak....Satu pukulan tanpa tenaga mendarat di pundak Sky.

__ADS_1


"Mama!" rengek Sky sembari mengusap pundaknya yang tak sakit itu.


"Apa? Pelayan? Apa Mama tidak salah dengar?" hardik Nyonya Rose tak percaya.


Sky mengangguk membenarkan. "Pelayan adalah hukum yang pantas untuk Suri."


"Sky! Suri hamil? Apa kamu mau dia kelelahan dan mempengaruhi kandungannya! Tidak! Mama tidak mau sampai cucu mama kenapa-kenapa." ucapnya tegas.


Tapi Sky tetap pada pendirian. "Dia akan baik-baik saja." ucap Sky meyakinkan. Padahal di lubuk hatinya ia merasa bimbang atas kejadian tadi.


Apa dia sudah makan? Aku tadi memberi dia makanan yang tidak layak!


Untuk mengobati perasaan hatinya yang gelisah. Sky memutuskan pamit dengan alasan ingin beristirahat mengingat besok ada pertemuan penting dengan jajaran Batara Company.


.


"Apa dia sudah makan? Di mana dia?" Sky yang kalang-kabut segera mencari Suri. Bertanya kepada pelayan yang melintas.


"Nona langsung pergi setelah makan malam Tuan."


Sky dapat menghela napas setelah mendengar penjelasan si pelayan. Suri sudah makan jadi dirinya bisa sedikit tenang..


Mansion berukuran besar itu terus di jelajah Sky. Beruntung ada satu pelayan yang mengatakan kalau Suri tengah berada di taman. Sky segera meluncur ke sana Membawa perasaan aneh. Tak ada waktu untuk berpikir lagi.


.


Kursi besi terpatri di tengah hamparan rumput nan hijau. Di sekitar nampak cantik dengan lampu taman yang berjajar dan bunga berbagai macam warna.


Wanita berpakaian lusuh duduk di sana. Mendangah menatap luasnya sang cakrawala. Awan Mega dan bintang seakan menemani kesendirian yang menyedihkan.


Suri Tersenyum sembari menutup mata. Merasakan tubuhnya seakan melayang menghampiri langit di atas sana.


Sky berhenti berlari manakala Suri terlihat jua.


"Apa yang dia lakukan malam-malam begini?" gumamnya. Sedikit melangkah menghampiri Suri yang masih belum sadar kalau Sky berada di sana.


Tanpa kata atau teguran. Sky berjalan santai. Pandangan tertuju pada Suri yang asik memejamkan mata.


"Bodoh! Gadis bodoh!" Sky cengengesan sendirian melihat tingkah Suri.


Sampai akhirnya Sky berdiri di belakang Suri. Memperhatikan tanpa ingin bersuara.


Suri mendesah berat sambil membuka mata. Tak lama terdengar suara rintihan. Suri mulai menangis.


Sky melipat kedua tangan memperhatikan. Masih membiarkan Suri sendirian.


Apa yang sebenarnya kamu pikirkan? Apa sekarang kamu masih membenciku.


Batin Sky berceloteh tentang tangisan Suri.


Suri yang menangis bergumam.


"Aku lelah! Aku benar-benar lelah! Kenapa dia memperlakukan aku sebegini tega! Dia egois! Dia hanya memikirkan perasaannya tanpa tau kalau aku juga tidak mau ada di posisi ini. Hiks...hiks....Apa dia tidak sadar kalau bukan hanya Papa Diki yang pergi! Papaku juga pergi. Apa dia tau kalau aku sedih. hiks....hiks... Aku juga tidak ingin hamil. Aku tidak ingin mengandung anaknya! Tidak mau! Hiks...hiks..."


Jedar.....bak petir menyambar tubuh Sky. Suri mengutuk perbuatan sang suami yang semena-mena itu dengan perkataan menyakitkan.


"Aku benci kamu Sky. Aku benci!"


Sky mundur perlahan membawa tubuh lemahnya. Mengepalkan tangan amat marah atas ucapan menyakitkan dari Suri.


Aku bahkan tidak ingin mengandung anaknya! Aku tidak mau.

__ADS_1


Ucapan Suri terus terngiang di ingatan Sky yang mana wajahnya berubah dingin seperti sedia kala.


__ADS_2