Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)

Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)
Demi Kebaikan Kalian


__ADS_3

Melodi segera membating ponselnya ke arah kasur. Selamat ponsel miliknya dalam keadaan baik-baik saja. Lain dengan hatinya.


"Dia benar-benar menyebalkan! Aku berharap terlalu banyak." Seru Melodi sembari menarik rambutnya yang panjang. Mengutuk harapannya yang besar akan Jason.


"Ternyata dia hanya ingin bajunya kembali bukan mau bilang I love you! Argh. Menyebalkan."


.


Jason memegang dadanya. Menahan jantung yang berdentum kencang seakan ingin loncat saja..


"Sial! Tadi hampir saja!"


.


.


Sementara itu.


Sky dan Suri duduk saling berdekatan. Di depan mereka ada Tuan Diki sang ayah.


Ketiganya berkumpul di ruang kerja Tuan Diki. Tak ada Nyonya Rose. Dirinya tak terlihat atau memang tak di libatkan.


Sky melipat kedua tangannya di atas pangkuan. Sedangkan Suri menatap lurus Tuan Diki yang masih diam membisu.


Suri merasakan tubuhnya kaku. Kebingungan ketika dirinya dan Sky di minta menghadap tanpa ada alasan atau masalah sebelumnya.


Ada apa Papa meminta aku dan Sky bertemu? Perasaan aku tidak membuat masalah. Sky juga. Media juga tidak memberitakan tentang aku dan Sky. Ini jelas ada yang aneh.


Batin Suri bertanya banyak. Menerawang dan berusaha menebak maksud dari ucapan Papa mertua.

__ADS_1


'Ada yang ingin Papa sampaikan!'


Menunggu. Suri dan Sky menunggu bibir rapat Tuan Diki terbuka.


Suri tak tahan. Dirinya pura-pura menggerakkan kepala. Melirik setiap sudut ruangan besar itu.


Sembari tertawa kecil. Suri bersuara. "Ini pertama kali bagi Suri bisa melihat ruang kerja Papa."


Sky menoleh ke arah Suri membawa wajah datar. Juga Tuan Diki.


Suri tertawa canggung melihat respon kedua pria beda usia itu.


"Ada apa Papa meminta kami bertemu?" Akhirnya Suri bertanya.


Tuan Diki melirik Sky terlebih dahulu sebelum bersuara.


"Begini, ada hal penting yang harus Papa sampaikan."


Suri dan Sky saling tatap sesaat.


"Tentang apa, Pa?" Gantian Sky yang bertanya.


Tuan Diki menggeser kursi sampai menimbulkan suara decitan. Dirinya memundurkan kursi supaya bisa menarik udara di sekitar. Keadaan terasa sesak.


"Seperti yang kalian tahu. Pernikahan kalian terhitung baru dua bulan."


"Terus?" Sela Suri penasaran. Masa pernikahan kini di ungkit tanpa sebab.


Apa jangan-jangan. Papa meminta agar aku dan Sky berpisah? Tapi kenapa? Aku baru saja akan menerima cintanya Sky.

__ADS_1


Suri bergumam tak karuan. Wajahnya mendadak pucat. Lain dengan Sky. Dirinya masih duduk tenang. Mencoba menelaah setiap ucapan sang ayah.


Tuan Diki melanjutkan. "Papa rasa kalian harus lebih berhati-hati. Usia kalian juga masih sangat muda-


"Pa? Katakan saja. Apa maksud Papa meminta aku dan Suri untuk menemui Papa?"


Tuan Diki melirik sang putra yang menatapnya dingin.


"Ya Pa. Katakan saja." Tambah Suri yang juga sama penasarannya dengan Sky.


Tuan Diki menganggukkan kepala perlahan. Bergantian melirik Sky dan Suri.


"Papa ingin kalian fokus dengan sekolah kalian masing-masing. Di samping itu Papa berharap agar kalian jangan memikirkan soal anak!" Tuan Diki menjelaskan.


Sontak Suri dan Sky terdiam. Mematung kaku ketika ucapan Tuan Diki keluar.


"Anak!" Suri bersuara dengan gugup. Tak percaya dengan permintaan sang papa mertua.


Sky sendiri masih terdiam.


Tuan Diki mengangguk kecil. Perlahan bersandar melepaskan kegundahan setelah mengeluarkan unek-uneknya yang di pendam selama ini.


Sky dan Suri masih sangat muda. Jadi menyampaikan soal keturunan. Yang di maksud adalah Cucu baru harus segera di rundingan.


"Seperti yang Papa katakan tadi. Usia kalian masih sangat muda untuk mempunyai anak. Jadi Suri." Mata Tuan Diki yang tegas menatap Suri.


"Papa sudah mengatur pertemuan dengan dokter kandungan. Sky akan mengantarkan kamu ke sana! Ini demi kebaikan kamu juga Nak."


.

__ADS_1


.


Insyaallah sahur up.


__ADS_2