Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)

Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)
Akhirnya Pergi Juga


__ADS_3

Suri memasang senyuman manis ketika Melodi melambaikan tangannya sambil berjalan keluar kelas.


"Munafik!" Gumam Suri. Wajah kembali masam.


Suri menghela napas jengah. Menggelengkan kepala ketika tadi Melodi bersuara lembut ketika mengajaknya keluar kelas untuk mencari udara segar.


"Ayo ikut aku keluar. Teman-teman yang lain menunggu kamu. Suri."


Mulutnya bergerak asal. Menirukan ucapan Melodi yang manja dan menggelikan.


"Argh. Geng plastik itu akan membuat aku kewalahan!" Suri terkulai di bangkunya dengan mata terpejam.


"Biarkan aku istirahat." Katanya lemas. Mulai mengantuk dan akhirnya Suri tertidur.


.


.


"Aaaaa...Serius kamu? Jadi Suri percaya?"


Teman-teman Melodi bersorak di kantin setelah mendengar cerita Melodi tentang Suri yang begitu mudah percaya dengan permintaan maaf dari Melodi.


Melodi mengangguk dengan mengibaskan rambutnya.


"Dia itu bodoh! Mudah untuk di bodohi! Hahaha.."


Kelima wanita cantik itu tertawa girang mengabaikan tatapan mata para mahasiswa yang ada di sekitar mereka.


"Terus-terus! Rencana kita apa?" Tamara bertanya. Menatap Melodi lekat di ikuti wanita cantik lainnya.


Wajah Melodi berubah serius. Matanya menyilaukan kemarahan terhadap Suri.


"Lihat saja nanti! Kalian akan melihat bagaimana aku membuat si Suri itu menderita." Kata Melodi penuh percaya diri. Tak sadar meremas pundak Tamara.


"Aww...!" Tamara mengerang hebat. "Sakit!" Rengekannya.


.


.


"Bagaimana hari ini? Apa semua berjalan lancar?" Sky yang tengah fokus menatap jalan dan mengatur laju mobil melirik ke arah samping. Tersenyum tanpa sadar.


Suri sendiri hanya mengangguk sebagai jawaban. Bibirnya terlalu malas untuk terbuka.


Entah kenapa Suri merasa tak nyaman. Dirinya di landa kecemasan yang luar biasa.


Haruskah aku mengatakannya sekarang? Tapi apa dia mau mendengarkan aku.


Suri memejamkan mata. Mengerang dalam diam. Tubuh mungilnya bergetar karena sesuatu hal yang sulit untuk di ungkapkan.


Sky mengangguk kaku. Dirinya ingin mengatakan sesuatu yang sudah tertahan di ujung kerongkongannya. Terus-menerus menelan ludah karena tenggorokan menjadi kering.


"Aku-

__ADS_1


"Aku-


Kalimat itu terucap secara bersamaan.


Sky dan Suri saling tatap dengan tawa yang di paksakan.


"Kamu duluan." Pinta Sky.


"Kamu duluan aja!" Balas Suri tak enak.


Bagaimana ini! Gimana kalau dia marah.


Batin Suri dengan berkeringat dingin.


Sky menggeleng cepat.


"Ladies first!" Ucap Sky.


Suri menggigit bibirnya karena gugup.


"Aku, A-aku!"


Aduh bagaimana ini.


Sky menunggu.


"Aku apa?" Tanya Sky kepalang senang. Pikirannya Suri yang akan mengatakan duluan kalau dirinya juga menyimpan perasaan yang sama.


Ayo katakan! Ayo cepat katakan.


Di tengah kegelisahan Suri menghela napas berat.


"Aku ingin kamu anterin aku ke rumah, Papa!" Ucap Suri lemas.


Tidak, jangan katakan itu. Dia pasti akan marah. Dan rasa senangnya akan hilang. Keadaan akan seperti di awal. Tidak Suri jangan lakukan itu. Jangan membuat rasa bahagianya berubah lagi.


Suri menatap Sky nanar sembari tersenyum manis.


"Mau ya, Sky? Aku udah kangen banget sama, Papa." Rengek Suri.


Senyuman Sky hilang seketika. Mengangguk datar dan kembali fokus menatap jalan.


Jelas wajah Sky nampak kecewa. Karena apa yang di harapkan tidak terjadi.


.


.


Sky mematikan mesin mobil. Setelah memarkir mobilnya di halaman rumah Suri.


Suri Tersenyum bahagia melihat bangunan yang sudah hampir satu bulan ini tak di injaknya.


"Ayo." Ajak Suri sembari melepas sabuk pengaman. Bergegas membuka pintu mobil. Turun terlebih dahulu tanpa menunggu Sky.

__ADS_1


Sky berdecak kesal. Dengan lemas keluar mobil dan berjalan di belakang Suri.


Dia tidak peka! Kenapa dia tidak mengatakan kalau dia juga- Argh.


Sky membatin kesal. Terus mengikuti langkah lebar Suri.


Para pelayan di kediaman tuan Chris menatap kedatangan Suri dengan mata membulat.


"Nona Suri!" Seru pelayan yang tengah membersihkan teras depan tak percaya.


Si Nona muda datang berkunjung setelah menikah.


"Nyonya, Nona Suri." Pelayan lain segera berlari masuk kedalam rumah. Mengabarkan kedatangan Suri dengan senyum merekah.


"Ayo Sky." Suri merentangkan tangan. Meminta Sky untuk berjalan bersama.


Sky tersenyum lagi. Segera berlari dan menyambut tangan hangat Suri.


.


.


Satu Minggu berlalu dengan cepat.


Hari yang di tunggu datang.


Para mahasiswa dan mahasiswi siap berlayar untuk pergi mengelilingi lautan.


Suri terus mengusap wajahnya yang memerah dan berkeringat.


Bagaimana kalau perahunya terbelah seperti Titanic.


Suri mengkerut dalam dekapan Sky.


Keduanya tengah menunggu kapal pesiar yang akan mengajak mereka berkeliling.


"Kamu senang?" Tanya Sky antusias.


Aku takut Sky.


Rengek Suri dalam hati.


"I-iya, Aku senang."


Suri menekuk semua jari tangan. Merasakan ketakutan yang dulu pernah dirinya rasakan.


Lautan bukan tempat yang aku inginkan!


Batin Suri ketakutan.


Sky tersenyum lagi. Mengencangkan dekapannya. Mengingat sekarang musim dingin. Sebenarnya bukan itu. Sky ingin memamerkan kemesraan di depan semua mata mahasiswa dan mahasiswi yang diam-diam menatap ke arahnya dan Suri.


Lihat saja Suri. Kamu akan melihat bagaimana aku benar-benar serius tentang hubungan ini.

__ADS_1


"let's go." Seru para mahasiswa dan mahasiswi ketika mereka siap menaiki kapal pesiar milik keluarga Barata.


__ADS_2