
Selepas makan malam. Suri menemani Queen tidur, hal yang biasa di lakukan Apalagi seharian Suri sibuk melayani anak-anak di rumah sakit.
Buku dongeng di bacanya, Queen mendengarkan dengan mata terjaga, wajahnya yang cantik terlihat memikirkan sesuatu dan itu luput dari perhatian Suri.
"Mom?"
"Mereka menari bersama-
"Mommy?" Queen kembali memanggil Sang ibu yang masih sibuk membaca buku cerita.
Suri melepas pandangan dari buku yang di pegang nya. Menunduk melihat Queen ketika namanya di panggil. "Kenapa?"
Queen ragu bertanya. Terlihat ia hanya menatap Suri tanpa membuka suara.
"Kenapa Queen?" tanya Suri lagi. Kali ini buku cerita di tutupnya lalu mendekap tubuh Queen sang putri.
"Papa! di mana Papa?"
Pertanyaan yang sama sekali belum pernah Queen tanyakan kini terdengar. Suri tersenyum alih-alih kebingungan.
"Mommy akan bercerita sedikit tentang Papa Queen" katanya. Buku cerita di simpannya.
Queen mengangguk dengan senyum merekah. Terlihat bersemangat dan itu membuat Suri tertawa kecil.
Terlihat kamu begitu merindukan Papa mu Queen, walaupun kamu belum bertemu dengannya. Aku bahkan tidak pernah menunjukkan bagaimana wujudnya. Dari sebuah Poto pun tidak.
"Mommy harus mulai dari mana, yah?" Suri menggoda putrinya yang mana begitu bersemangat.
"Bagaimana wajahnya? Apa papa Queen tampan?"
Suri tanpa ragu mengangguk. Queen ikut mengangguk.
Queen sepertinya sudah tau dari mana asal wajahnya yang cantik itu. Jelas ibunya begitu cantik mempesona. Tidak mungkin papanya pria dengan tampang biasa-biasa saja, bukan?
"Apa papa Queen, ada di kota ini?"
Suri menggeleng cepat. "Papa Queen jauh dari sini."
"Di mana Papa tinggal?"
Kali ini Suri menatap lekat manik sang putri. Melihatnya dalam dan Queen diam tak bergerak.
"Apa Queen, ingin bertemu dengan papa?"
Queen mengangguk penuh semangat. "Apa boleh?"
__ADS_1
Lucu mendengar pertanyaan itu. Sampai-sampai Suri tertawa kecil.
"Boleh sayang! Queen akan bertemu Papa."
"Asikkkk, Queen akan bertemu Papa!" si gadis mungil itu bersorak seolah dirinya baru saja mencetak gol. "Kapan Mom? Kapan Queen akan bertemu Papa?" sambung Queen di sisa rasa bahagianya.
Suri berpikir sejenak.
"Dalam waktu dekat ini."
Jawaban itu jelas membuat Queen semakin girang. Memeluk dan mengecup wajah Suri begitu brutal sebagai rasa syukur karena sudah memberi tau sang papa yang sebentar lagi akan ditemuinya.
"Sekarang Queen tidur." Suri menyelimuti tubuh Queen yang sebagian selimutnya tersingkap karena tadi heboh menggerakkan tubuhnya.
Queen mengangguk patuh lalu Suri kembali membuka buku cerita.
"Mommy?"
"Iya sayang?"
"Apa, Mommy merindukan Papa?"
Seketika Suri menjadi salah tingkah.
Rindu? Aku bahkan sampai melupakan kata itu.
.
Sementara itu.
Di dalam kamar yang nampak megah.
Dokter Kamla membungkuk dengan derai air mata. Tak kuasa menahan tangisnya setelah menceritakan tentang Suri si mantan Nona muda Barata.
Sky yang mendengar itu tak kuasa menahan rasa amarahnya. Kalau saja dokter Kamla bukan perempuan. Mungkin saja sudah di hajar nya sedari tadi.
"Mama dengar itu? Semua karena dia!" Sky menunjuk dokter Kamla dengan napas memburu.
Tristan mengibas tangan Sky segera. "Sadarlah Sky! Semua ini terjadi karena dirimu?" tiba-tiba Tristan membuka luka lama. Sampai-sampai Sky mati kutu dibuatnya.
"Karena mu, Suri pergi membawa rasa trauma. Seharusnya kamu bersyukur karena Dokter Kamla sudah mengambil keputusan-
"Cukup, sudah cukup!" Nyonya Rose mencegat kalimat Tristan yang menggantung.
Dirinya yang terpukul atas apa yang baru saja di dengarnya ambruk menghantam empuknya kasur.
__ADS_1
"Jadi cucu ku masih hidup? Selama ini cucu ku masih hidup?" racau Nyonya Rose sembari tersenyum yang di barengi tangisan.
Sungguh. Nyonya Rose yang terguncang tak bisa lagi berkata-kata, dirinya sama sekali tidak ada niatan untuk menyalahkan apa yang sudah di lakukan Dokter Kamla atas kejadian itu. Dalam benaknya, Nyonya Rose membenarkan keputusan si calon menantu.
Dokter Kamla dan Tristan mendekati Nyonya Rose yang tengah menangis.
"Ma, maafkan kami, Tristan sudah melakukan pencarian agar Suri dan putrinya di temukan. Tapi masih belum membuahkan hasil." Tristan menjelaskan dengan wajah sendu. Satu bulan lebih pencarian di lakukan tapi hasilnya masih nihil.
Sky yang ada di sana geram melihat bagaimana sang Mama terlalu baik hati. Tak memberi hukuman untuk kedua pasangan kekasih itu. Tak ada guna. Sky melenggang keluar kamar sang Mama membawa wajah memerah.
Melihat Sky pergi Nyonya Rose meminta Tristan untuk mengejarnya.
"Bawa kembali adik mu, Kak,"
Tristan mengangguk, berlari mengejar Sky.
"Sky tunggu?" Tristan menarik tangan Sky memintanya untuk tidak pergi .
"Singkirkan tanganmu!" pinta Sky tanpa berbalik.
Tristan menggelengkan kepala. "Mama, meminta-
Tangan Tristan di hempasannya. Sky berbalik lalu menarik baju Tristan. "Jangan halangi aku untuk mencari Suri dan anak ku!" peringatan yang mampu membuat kaki Tristan lemas. kata-kata dan tatapan sang adik sungguh menyeramkan.
Tidak bernyali? Tristan masih menyimpan rasa ketakutan atas Sky adiknya sendiri.
Tidak ada perlawanan. Sky meninggalkan Tristan yang mematung dengan baju sedikit kusut.
Sky berlari ke luar rumah begitu tergesa-gesa. Lalu masuk kedalam mobil dan rombongannya meninggalkan mansion Barata.
"Lakukan pencarian besar-besaran. Cari dan temukan mantan istri ku!" perintah Sky kepada sekretarisnya yang mana mengangguk patuh lalu sibuk dengan ponselnya.
Bagaimanapun aku akan menemukan kamu dan anak ku.
Gumam batin Sky dengan tangan mengepal seolah kemarahan sudah memuncak tak terkendali.
.
Satu Minggu setelah selebaran yang di gagas Sky tersebar ke semua penjuru negeri. Sebuah pesan lewat email berdentang di pojokan laptop.
Sky yang tengah merenung di sore sembari menatap lekat layar laptopnya segera membuka isi pesan yang mana tertumpuk begitu banyak dengan pesan lainnya. Yang membuat Sky terheran-heran adalah si pemilik akun.
"Suri!" terlalu lancar untuknya membaca nama si pemilik akun. Tanpa membuang waktu. Sky membuka pesan itu.
'Hai, sebelumnya aku ingin meminta maaf sekaligus ingin mengatakan sesuatu? Bisakah kita bertemu? Mungkin, kamu sudah tau apa yang sebenarnya terjadi tentang kehamilan ku. Aku bisa membayangkan bagaimana dirimu yang tidak menerima kabar itu. Aku mohon jangan menyalahkan siapapun termasuk di dalamnya Dokter Kamla, dia seperti malaikat untuk aku dan putriku. Sky, dia tumbuh menjadi gadis cantik. Amat cantik, dia ingin bertemu dengan mu! Jika tidak keberatan aku akan menemui mu dan membawa putri ku. Ingat Sky kepergian ku selama ini bukan hanya ingin menutup rasa cinta dan sayang ku. Aku sadar, kehidupan yang kita lalui selama ini hanya bayangan semu yang tidak berarti. Kelak aku akan berusaha untuk melangkah tanpa melirik ke belakang lagi. Maaf kalau aku sudah mengecewakan mu dan keluarga mu. Semoga kamu mengerti dan aku harap kamu tidak memendam kebencian atas diriku. Sky, kamu harus tau. Aku sudah memaafkan kamu. Aku sudah berdamai dengan masa itu. Satu Minggu masa itu datang aku akan mempersiapkan diri untuk bisa bertemu kembali dengan mu.'
__ADS_1
Sky terpaku membaca pesan amat panjang yang di tulis Suri untuknya. Tanpa sadar air mata menetes begitu murni. Hatinya terguncang, Suri yang di cintainya kini datang walaupun tanpa wujudnya yang cantik. Tulisan yang di atur begitu indah terlihat.
"Suri, kau terdengar bahagia, aku bisa merasakannya. Walaupun aku tidak bisa melihat dirimu."