
Melodi menjatuhkan bobot tubuhnya ke atas kasur empuk. Menghirup udara segar kamar yang wangi. Tanpa sadar tersenyum lebar merasakan kesunyian.
Tamara dan ketiga wanita lainnya berbagi kamar karena Melodi yang meminta. Sedangkan Melodi sendiri memilih kamar tanpa keempat temannya.
"Luar biasa!" Gumam Melodi. Terus menghela napas cukup panjang.
Aku harus mematangkan rencana ini sendiri, jangan libatkan mereka. Mereka tidak berguna.
Melodi membatin. Terus mencari ide untuk menyingkirkan Suri sekaligus menggunjing keempat temannya yang mana tengah bersorak di kamar mereka. Melupakan sang kepala geng. Melodi merana dalam kesendirian. Terus mematangkan rencana jahatnya Sampai ia terlelap.
.
.
Sky menyunggingkan senyuman datar setelah Suri menolak cintanya!
Lalu Sky mundur perlahan tanpa kata. Mengangguk-anggukkan kepala tak percaya.
"Sky! Aku-
Tangan Sky terangkat. Memberi isyarat agar Suri diam.
Suasana yang awalnya hangat dan ceria kini berusaha menjadi canggung dan sunyi.
Suri menjadi tak enak hati melihat Sky yang menjauh dengan wajah kebingungan.
"Maaf Sky. Aku-
"Ini akan terasa canggung." Seru Sky datar.
Suri mematung kemudian.
Dia marah! Astaga.
Batin Suri kebingungan. Berusaha melangkah menghampiri Sky. Tapi Sky bersuara.
"Jangan mendekat!" Pinta Sky.
"Aku tidak akan memaksa atau memberimu ancaman." Kata Sky lagi ketus. Membuat Suri berkaca-kaca.
Bukan ini yang di inginkan Sky. Dan bukan ini juga yang di bayangkan Suri. Dua pemikiran yang berbeda tapi terjebak dalam satu keadaan.
Percuma aku mengatakan kalau aku mencintaimu! Karena sampai saat ini kamu belum masuk ke hatiku Sky. Kenapa kamu bisa semudah ini mengatakan cinta padaku! Orang yang baru satu bulan ini kamu temui.
"Sky! Kamu mungkin tau kenapa kita bisa menikah! Kamu mungkin tau kenapa aku bisa menjadi istri mu." Suri jeda sebentar untuk mengatur napas.
Sky diam mendengarkan.
"Aku, aku kebingungan ketika kamu mengatakan-
Suri terdiam lagi. Matanya bergetar sampai mengeluarkan air mata.
"Cinta! Satu bulan aku dan kamu menikah. Aku tidak bisa membalas perasaan kamu yang singkat ini! Beri aku waktu untuk bisa-
"Tidak!" Sela Sky lantang. Berjalan lagi untuk mencapai Suri.
Di tatapnya wajah memerah dan sedikit pucat itu. Sky memperlihatkan kekecewaan yang mendalam dan Suri dapat melihatnya.
"Seumur hidup ku. Aku tidak pernah mendapatkan penolakan! Kamu adalah orang pertama-
"Itulah kamu!" Suri menyela kalimat Sky yang penuh kemarahan.
"Kamu harus belajar menerima kenyataan! Tidak semua keinginan bisa kamu dapat!"
Sky naik pitam dengan ucapan Suri. Segera dirinya melenggang pergi.
Tapi langkah lebar Sky terhenti.
Sky menoleh setengah hati. Lalu ia bersuara.
"Setelah dia selesai di sini. Ajak dia ke kamarnya! Carikan dia kamar di dekat mahasiswi yang lain!" Titah Sky kepada para pelayan kabin dan juga mengingatkan Suri kalau dirinya di larang satu kamar.
Sky berjalan lagi meninggalkan Suri.
Suri sendiri menyunggingkan senyuman hambar melihat bagaimana Sky bersikap.
"Dia benar-benar luar biasa!" Ucap Suri masih tak percaya.
Sky meminta pisah ranjang dengan alasan yang cukup menggelitik.
Penolakan ini pasti akan aku bayar mahal.
Batin Suri. Menggeser kursi pada akhirnya dan menunduk bingung dengan menangis senyap, melupakan keindahan taman, melupakan hidangan yang mulai dingin, Suri bahkan melupakan rasa takutnya dengan laut. Sikap Sky membuat dirinya melupakan itu.
__ADS_1
Kedua pelayan kabin hanya mampu berdiri tanpa bisa bergerak atau bersuara. Mereka waras dan membenarkan sikap Suri.
Kenapa Sky menjadi marah karena Suri sudah menolak undangan cintanya. Seharusnya Sky mengerti. Mungkin seiring berjalannya waktu benih cinta di hati Suri akan tumbuh. Tapi sepertinya Sky tidak menerima penolakan.
Sekitar sepuluh menit Suri duduk dengan Menyedihkan. Ia bangkit.
"Antar saya ke kamar."
Bukan ini yang aku inginkan. Kenapa kamu tidak mengerti, aku mungkin bisa membalas cintamu tapi tidak sekarang! Maafkan aku, Sky.
.
.
Sky membanting pintu kamar. Segera membuka mantel dan melemparkannya ke sembarang arah.
"Argh!" Sky mengacak-acak rambutnya. Mondar-mandir di dalam kamar dengan tangan mengepal. Penolakan yang di berikan Suri membuat amarahnya semakin tak terkendali. Keinginan melukai orang kembali datang.
Sky berbalik. Siap membuka pintu kamar dan mencari pelayan kabin. Tapi tidak! Kepala Sky menggeleng segera.
Pada akhirnya Sky mengajar pintu kamar yang terbuat dari kayu kombinasi besi.
Bruk....bruk....bruk....
Suara raungan dan dentuman pintu berirama menghasilkan simfoni yang cukup menyeramkan.
Sky terus mengajar pintu kamar, berhenti ketika darah segar mengalir.
"Argh!" Sky meringsek di ambang pintu.
"Dia tidak bisa aku biarkan!"
Sky bergumam penuh kemarahan. Sepertinya rasa cinta yang tumbuh kini berubah menjadi rasa benci yang harus segera di keluarkan.
.
.
"Terimakasih." Suri berdiri di ambang pintu kamar barunya yang kebetulan bersebelahan dengan kamar Melodi. Mengucapkan terimakasih kepada satu pelayan kabin.
"Saya permisi, Nona." Si pelayan kabin membungkuk. Lalu undur diri.
Suri membuka pintu kamar. Berjalan gontai masuk kedalamnya.
Sewaktu kecil Suri pergi bersama kedua orangtuanya berlibur ke suatu negara. Pilihan sang ayah pada waktu itu adalah berlayar. Berharap bisa menikmati pemandangan laut yang luar biasa indahnya.
Tapi ada insiden yang cukup mengerikan. Dimana Suri tercebur dan tenggelam. Padahal di sana ada sang Mama. Nyonya Luna dengan sadar malah mentertawakan Suri yang ingin mencapai permukaan.
Kejadian yang sampai detik ini Suri ingat. Tapi bagi Suri tawa sang Mama hanya mimpi pahit yang terus di kuburnya.
"Kenapa jadi begini! Hiks...hiks..." Suri menangis dengan tubuh tertelungkup di atas ranjang. Menangis sejadi-jadinya karena sekarang Sky membencinya.
.
.
Malam harinya.
Lantai tiga kapal pesiar. Para mahasiswa dan mahasiswi tengah menikmati makan malam bersama-sama. Tapi di sana tidak ada Jason dan Daren.
Para mahasiswa dan mahasiswi berbisik tentang mereka berdua. Apalagi di tengah-tengah kerumunan. Sky dengan santai duduk seorang diri. Membuat para mahasiswa terheran-heran.
"Mimpi apa, Sky mau makan bareng kita-kita."
"Kenapa Sky hanya sendirian? Dimana Jason dan Daren?"
"Aneh ga sih? Sky ga duduk bareng si Suri?"
"Eh.. Eh mereka kok duduknya jauh-an sih?"
Para mahasiswa terus berbisik tentang Sky yang tak di dampingi Suri.
Jason dan Daren memilih makan malam di dalam kamar.
Suri malah duduk berjauhan dengan Sky. Di pojokan resto Suri memilih duduk menikmati makan malam seorang diri tanpa siapapun.
Suri acuh dan ingin fokus mengisi perut. Setelah selesai dirinya akan memberanikan diri untuk menemui Sky dan meminta maaf.
Mungkin baginya pernikahan tidak jauh berbeda dengan pacaran! Bagaimana bisa menyatukan keduanya. Sky, kita ini sudah menikah. Bukan pacaran lagi.
Suri terus membatin. Mengutuk Sky yang, sudah melempar dirinya ke kamar lain.
"Mama, minta aku jaga kamu! Tapi kamu. Argh!"
__ADS_1
Suri mengendus kesal. Memasukan makanan kedalam mulutnya yang mungil itu.
Diam-diam Sky memperhatikan Suri yang jauh dari jangkauannya. Tingkah lucu Suri yang duduk sendiri dan terus memasukkan makanan kedalam mulutnya tidak membuat Sky tersenyum. Ekspresi wajahnya malah menyeramkan dan kecut.
"Dia masih bisa makan setelah menolak ku!" Sky marah lagi. Api kemarahan yang tadi saja belum padam. Kini malah semakin menjadi.
Sky sudah tak tahan. Dirinya berdiri. Lalu mengangkat satu gelas kosong dan satu buah pisau makan.
Sampai menghasilkan suara nyaring.
Tring....tring....Tring ...
Semua mahasiswa dan mahasiswi menoleh ke arah Sky termasuk Suri.
"Eh! mau apa, Sky?"
"Astaga, dia tampan sekali."
Melodi yang ada di sana menghela napas jengah mendengar semua ocehan para mahasiswi yang mengagumi sosok Sky Antony Barata.
"Aku tidak suka basa-basi. Kalian senang bukan kita bisa pergi berlayar bersamaku?" Tanya Sky antusias.
"Aku sangat senang."
"Kami senang sekali Bisa pergi bersama mu, Sky."
Riuh jawaban mereka. Bersorak seolah Sky adalah dewa.
Suri sendiri hanya bisa diam. Memperhatikan dari jarak jauh.
Apa yang kamu pikirkan, Sky.
Batin Suri bertanya.
Sky menyunggingkan senyuman datar. Diam-diam melirik Suri sebentar.
Sky melanjutkan.
"Untuk menambah kemeriahan makan malam ini, aku mempersilahkan kalian untuk melemparkan makanan kalian ke area sana."
Tangan Sky menunjuk meja makan di mana ada Suri di sana.
Para mahasiswa dan mahasiswi mengikuti kemana tangan Sky mengarah.
"Suri!" Ucap Melodi.
"Apa aku tidak salah dengar!"
"Ini jebakan atau apa?"
Kembali para mahasiswa berbisik karena bingung.
Suri yang menjadi objek tatapan mata para mahasiswa dan sang suami hanya bisa diam tapa kata. Suri mematung saking terkejutnya.
"Aku tidak salah bicara! Buat malam ini semakin meriah. Kalian jangan takut. Dia sudah bersedia untuk kalian lempari makanan. Lakukan sekarang." Lantang Sky bersuara. Meyakinkan bahwa itu benar adanya. Suri yang suka rela mengotori tubuhnya.
Sky kembali duduk dan menikmati wajah bengong Suri.
Melodi yang memang ada dendam segera melirik Lolita. Gadis berambut bop itu mengangguk.
Lolita berdiri. Mengangkat piring berisikan Spaghetti sisa dan berjalan menghampiri Suri.
"Tunggu apa lagi. Ayo teman-teman, kita penuhi keinginan Si Nona muda." Teriak Lolita.
Para mahasiswa dan mahasiswi yang lain segera bangkit tanpa ragu. Membawa piring masing-masing dan makanan terlempar ke tubuh Suri.
Hahahah......Hahahah.....
Para mahasiswa dan mahasiswi tertawa terbahak-bahak.
Suri berlari untuk menghindar. Sesekali meraung karena saus pedas mengenai matanya.
"Kalian binatang! Kalian-
Suri terus memberi perlawanan walaupun tubuhnya habis kotor dan mengeluarkan aroma makanan.
Sky hanya duduk menyaksikan adegan di mana Suri tengah dikerumuni para mahasiswa.
"Sky. Aku benci kamu."
Sayup-sayup terdengar suara Suri. Tapi Sky memilih acuh.
"Apa yang kamu rasakan saat ini, adalah perasaan yang tadi aku rasakan ketika kamu menolak cintaku."
__ADS_1