
Di saat Suri menangis setelah mendapatkan ketidak perdulikan atas penderitanya dari Nyonya Rose ibu mertuanya.
Di kampus Sky begitu intens menatap Jason. Pria yang duduk di sampingnya. Ada Kilauan marah yang di pancarkan Sky. Dan Jason melihat itu.
Sedangkan Daren tak sadar. Pria muda itu begitu fokus mendengar Dosen yang tengah memberi pelajaran.
Baik Jason dan Sky sama-sama bungkam atas perkelahian tempo hari kepada Daren. Bahkan Jason tidak memberi tahu Daren tentangnya yang di hajar Sky sampai terbaring di ranjang perawatan.
Apa Sky menyakiti, Suri? Aku mendengar Suri tidak masuk kampus! Atau Sky tidak membiarkan Suri ke kampus.
Jason bertanya-tanya. Mengingat salah satu orang suruhannya yang tidak lain teman sekelas Suri mengatakan.
'Sudah tiga hari Suri tidak masuk kelas'
Jason juga baru masuk kampus dua hari yang lalu. Akibat dari pergulatan antara dirinya dan Sky membuat tubuhnya harus di rawat di rumah sakit.
Sky begitu garang menatap Jason yang memilih acuh. Daren yang menggerakkan kepalanya karena pegal. Tak sengaja melihat tatapan tajam Sky.
Daren mengikuti kemana tatapan Sky.
Kenapa Sky begitu intens melihat Jason!
Benak Daren bertanya. Menggeleng pelan dan memilih kembali fokus mendengarkan dosen.
.
.
"Terimakasih." Dosen berkacamata membungkuk kearah Sky dan kedua temannya setelah selesai memberi pelajaran. Kemudian undur diri untuk mengajar di kelas lain.
Daren menarik napas dalam-dalam. Bersandar kebelakang sembari menggerakkan tangan dan anggota badan.
Sedangkan Jason memilih merapihkan tas tanpa ingin melihat Sky yang masih betah menatapnya lekat.
Daren sendiri tidak ingin membahas prihal kemenangannya atas lomba balap mobil. Dirinya tau Sky pasti tidak akan nyaman. Maka dari itu Daren memilih melupakan kemenangan dramatisnya itu.
"Oh iya! Jason!" Daren segera melirik Jason yang masih duduk.
Jason melirik balik. "Hem!"
"Aku dengar kami tidak masuk kampus kemarin?" Tanya Daren. Sebenarnya Daren juga tidak masuk kampus setelah balapan mobil. Dirinya harus bolos karena Ada urusan penting yang tidak bisa di wakilkan.
Ayah Daren adalah seorang komisaris kota besar itu. Ada acara yang mengharuskannya ikut bersama sang ayah ke negara lain. Untuk bertemu para pejabat tinggi. Daren adalah anak tunggal, jadi ayahnya ingin memperkenalkan Daren kepada semua petinggi hukum di negara tersebut.
Dirinya tau Jason tidak masuk kampus dari dosen lain. Sedangkan Sky! Daren tidak perlu bertanya tentang Sky yang tidak bisa masuk kampus. Sky sering tidak masuk kampus ketika dirinya malas datang. Alhasil dosen yang harus mendatangi Sky.
Terdengar tidak masuk akal. Tapi di negara itu Barata adalah sebuah nama besar. Jadi tidak ada yang tidak mungkin bagi Sky Antony Barata. Mustahil memang. Tapi ingatlah, Ayahnya menjadi orang terkaya kedua di dunia dan orang terkaya nomor satu di negaranya sendiri.
Jason melirik Sky. Seolah memberi jawaban kalau ketidak hadiran dirinya adalah ulah Sky. Tapi Jason memberi jawaban tak jelas.
"Aku sedang malas saja!"
"Malas! Apa-
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak mengatakan yang sebenarnya?" Tiba-tiba Sky bersuara. Segera bangkit dari duduknya. Perlahan-lahan menghampiri Jason.
Daren dengan mulut terbuka mengerutkan kening ketika Sky memangkas kalimatnya dan atas sikapnya.
Jason mulai resah. Berusaha tetap tenang ketika Sky datang menghampiri.
Apa sekarang dirinya akan kembali terkapar di ranjang perawatan?
"Kenapa kamu tidak memberi tahu Daren, tentang kejadian waktu itu?" Sky menuntut Jason.
Kini Sky berdiri berhadapan dengan Jason. Kedua sahabat itu saling tatap. Mengirimkan pesan yang tidak bisa di lupakan tentang Suri.
Bayangkan Jason berjalan bersama Suri terus terngiang di otak Sky. Apalagi ketika masuk kedalam kelas dan melihat Jason di sana. tangan Sky mengepal kuat karenanya.
Ingin rasanya kembali menghajar wajah Jason. Bahkan Sky sudah bertekad akan mengasingkan Jason dari kelas khusus itu, tapi suara Suri kala itu tiba-tiba datang kembali.
'Jason, sudah menolongku.'
Daren yang menangkap gelagat lain dari kedua sahabatnya segera bangkit. Berjalan ketengah-tengah Sky dan Jason.
"Kalau kalian ada masalah. Lebih baik di bicarakan baik-baik." Kata Daren. Segera mendorong Jason. Karena hanya Jason yang sedikit waras ketimbang Sky.
"Kenapa kamu tidak mencari tau bagaimana Suri bisa di kurung di toilet. Sky?" Jason memberanikan diri bersuara.
Pertanyaan yang sedari lama ingin dirinya katakan. Mengingatkan Sky atas kejadian yang mana kesalahpahaman antara mereka lahir.
Terserah kalau Sky kembali menghajarnya.
Jason tersenyum datar alih-alih ketakutan. Ketegangan di antara mereka sudah biasa. Kesalahpahaman antara Sky, Jason dan Daren sering terjadi. Apapun soalnya mereka selalu bersitegang. Tapi anehnya Persahabatan mereka semakin kuat.
Tapi mungkin ini adalah untuk yang pertama mereka bersitegang hanya karena wanita!
Daren segera menarik tubuh Jason.
"Jason, apa yang terjadi? Kenapa kalian membicarakan, Suri? Apa ada yang aku lewatkan?" Daren amat sangat penasaran. Ingin mengetahui akar masalah kedua sahabatnya.
Seharusnya Jason menjawab pertanyaan Daren, tapi. Jason malah mengatakan sesuatu yang mampu membuat Sky mematung.
"Apa kamu mencintai, Suri?"
"What?" Daren ikut terkejut atas pertanyaan Jason.
Daren berbalik menatap Sky. Menatapnya lekat sama seperti Jason.
Sky menyeringai melihat kedua wajah temannya dan atas pertanyaan Jason yang mustahil baginya.
"Apa hak mu?" Sky balik bertanya.
"Jawab saja?"
Jason dan Daren kompak bertanya.
Kepala Sky menggeleng cepat. Tertawa kencang melewati kedua sahabatnya yang berdiri. Sky menepuk ke dua pundak Jason dan Daren. Bergantian menatap keduanya tanpa berkedip.
__ADS_1
"Aku tidak mencintai, Suri! Kalian butuh bukti?" Kata-kata Sky seperti sebuah tantangan.
"Sky, apa maksud mu?" Tanya Daren. Sedangkan Jason tersenyum penuh arti.
Sky berbalik berjalan untuk kembali duduk. Membuat Jason dan Daren saling tatap bingung.
"Bagiku dia hanya boneka! Dia di beli kedua orangtuaku dengan harga yang cukup besar untuk menjadi istriku! Kenyataan yang mungkin kalian berdua sudah tau itu! Bagiku dia hanya barang yang sama sekali tidak berarti! Aku sudah merasakan tubuhnya, dan Kamu!" Sky menunjuk Jason. "Dan, kamu." Kini tangan Sky beralih ke Daren.
"Aku menantang kalian untuk kembali ke arena balap. Siapa yang menang, akan ku hadiahkan Suri! Kepada kalian berdua. Dengan catatan hanya untuk satu malam!" Kata Sky yakin. Menatap Jason dan Daren seolah itu adalah pertarungan antara harga diri.
Jason dan Daren saling tatap. Jujur jantung keduanya berdetak kencang ketika Sky mengatakan, akan memberikan Suri kepada siap saja yang menang.
Sky sendiri merasakan kemarahan yang luar biasa ketika mengatakan hal itu. Tubuhnya bergetar hebat.
Gengsi dan rasa percaya diri membuat Sky dengan tega melibatkan Suri dalam adu balap mobil, yang mana kita tau Sky pernah kalah.
Daren menggeleng.
"Tidak-
"Aku mau!"
Sky dan Daren menoleh kearah Jason tak percaya.
"Sudah ku duga!" Gumam Sky. Sembari mengangguk.
"Kau gila, Jason!" Daren mencaci Jason lewat tatapan mata. Sudah cukup Sky saja yang gila. Tapi kini Jason melakukan hal yang sama.
"Kapan!" Tanya Jason.
"Besok malam! Aku tunggu kalian!"
.
.
Sementara itu, Suri berada di dapur. Dirinya tengah memotong buah-buah segar untuk di bawa ke rumah sakit. Rencananya Suri akan menjenguk sang Mama setelah dua Minggu lamanya tidak berkunjung.
Suri juga berniat akan mengunjungi Tuan Chris dan Nyonya Nena. Tapi sebelumnya Suri sudah menghubungi kedua orangtuanya. Bukan kepalang senangnya Tuan Chris dan Nyonya Nena mendengar Suri akan datang.
Untuk itu Suri akan membawakan sedikit makanan kesukaan sang Mama yakni buah stroberi dan Kiwi.
Tangannya begitu lincah memotong buah-buahan berasa manis asam itu. Bersama kedua pelayan Suri bersiap di dapur.
Tapi tiba-tiba si pisau tajam itu mengiris tangannya.
"Aww!" Suri segera memasukan jarinya yang terkena pisau kedalam mulut.
"Non, hati-hati." Kedua pelayan panik. Segera mencari kotak obat.
Suri yang tengah meringis itu malah tersenyum. "Aku tidak apa-apa."
Luka kecil tidak berani apa-apa. Kenapa? Karena Suri sudah kepalang bahagia bisa bertemu kedua orangtuanya setelah Sky memberinya izin. Sky sendiri masih di luar. Dan semua anggota keluarga yang lain sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
__ADS_1