Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)

Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)
Meminta Doa


__ADS_3

"Tuan Sky. Saya mohon maafkan saya, Tuan." Si pelayan merintih hebat. Tubuhnya yang tengah kurang sehat kini semakin sakit saja.


Tapi Sky tidak ingin berhenti. Rasa marah atas ke tidak adaan Suri membuat amarahnya semakin tak terkendali. Atau Sky tengah meluapkan kekesalannya ketika kemarin sudah menantang kedua sahabatnya untuk kembali bertarung dengan jaminan Suri sang istri.


"Bodoh! Kau bodoh!" Kata Sky. Terus menginjak tubuh si pelayan.


"Tuan Sky, Maafkan Saya." Kata Si pelayan di sisa pertahanan yang semakin kendor. Kaki Sky tak hentinya memberi rasa sakit di sekujur tubuh si pelayan malang itu.


Suri yang datang bersama beberapa pelayan tercetak jelas, manakala Sky tengah menganiaya si pelayan.


"Sky!" Suri segera berlari menghampiri Sky. Kembali menarik tubuhnya yang bringas.


"Sudah Sky, Sudah." Suri memeluk Sky seperti biasa. Biasanya cara seperti itu akan berhasil.


Sky berusaha menyingkirkan tangan Suri yang melingkar di perutnya. "Lepaskan aku!" Pinta Sky. Berteriak tanpa sadar.


Suri menggelengkan kepala. Terus memeluk Sky yang siap menyerang kembali si pelayan yang tengah merangkak untuk pergi dari sana. Para pelayan yang lain tidak ada yang mendekat. Mereka hanya bisa melihat dari kejauhan bagaimana sang teman merangkak dari kematian.


"Aku mohon, jangan seperti ini! Dia bisa mati!" Kata Suri. Menenggelamkan kepalanya kedalam punggung Sky yang sedikit basah akibat keringat.


Sky terengah-engah merasakan tubuhnya yang bergetar. Napasnya memburu jelas.


Sky berusaha tenang. Menarik napas dalam-dalam dan perlahan menarik kedua tangan Suri. Berbalik setelahnya.


"Kenapa kamu lama, huh? Aku hanya memberi waktu tiga jam? Tapi lihat? Kamu menghabiskan waktu hampir seharian."


Sky menarik dagu Suri. Menatapnya lekat. Mengirimkan Kilauan mata tajam.


Sky mengambil kesimpulan kalau Suri adalah wanita yang tidak bisa di percaya.


Suri menatap Balik Sky yang juga menatapnya lekat. Berusaha tenang walaupun tubuhnya bergetar karena takut. Bagaimana kalau Sky kembali memberinya hukum! Kamar bercahaya merah itu pasti tengah di pikiran Sky ketika menatapnya.


"Mama! Dia tidak ingin di tinggal!" Kata Suri. Yang pada kenyataannya. Nyonya Luna bahkan tidak bisa di ajak bicara.


Kepala Sky perlahan maju. Sekarang tidak ada lagi jarak di antara keduanya.


"Bagaimana dengan ku? Apa kamu lupa sekarang siapa kamu di rumah ini!"


Suri menelan ludahnya kasar. Kata-kata yang di lontarkan Sky seperti sebuah peringatan tanpa bisa mendengar alasan yang di berikan Suri.


Dia benar-benar tidak punya hati! Papa, Mama Nena. Maaf, Suri belum bisa melihat kalian.


Suri menjadi sedih ketika mengingat dirinya tidak bisa datang ke rumah Tuan Chris. Waktu berjalan begitu cepat. Rasa rindu kepada sang Mama membuat Suri kalap.


"Maaf, maaf karena aku sudah mengecewakan kamu!" Suri mengalah. Untuk berdebat dengan Sky sama sekali bukan hal yang benar.


Sky tersenyum. Segera menyingkirkan tangan dari wajah Suri yang memerah.


"Aku lelah dan pundak ku sakit karena harus tertidur di sofa itu." Sky menunjuk sofa yang ada di samping. Setelahnya menunjuk Suri.


"Karena menunggu mu! tubuh ku sampai sakit begini!" Sky mulai marah lagi. Kesal karena Suri datang terlambat.


Suri mengangguk. "Kalau begitu, biar aku pijat bagian yang pegal. Mungkin dengan begitu tubuh kamu bisa kembali nyaman."


Suri mengatakannya dengan malu-malu sekaligus kebingungan. Bagaimana caranya memijat. Seumur hidup tangannya tak pernah memijat seseorang termasuk sang ayah.


Sky tersenyum lagi. Sedikit memiringkan kepala untuk melihat wajah memerah Suri.


"Itu ide yang bagus!" Kata Sky. Segera menarik Suri untuk pergi ke kamar.


.


.


Sementara itu.


Di kediaman Tuan Chris.


Nyonya Nena termenung di tepi kolam. Menatap pantulan cahaya yang mulai redup di sore itu. Pandangannya kosong karena memikirkan banyak hal.


Sampai Tuan Chris datang dari dalam rumah. Menghampiri sang istri dengan wajah lesu.


"Nena!" Tegur Tuan Chris.


Seketika kepala Nyonya Nena menoleh kearah suara.


"Papa!" Segera tersenyum melihat sang suami datang.


"Kenapa, Pa? Apa Papa butuh sesuatu?" Inilah yang membuat ayah Suri semakin mencintai adik dari Nyonya Luna. Sikap dan perilakunya begitu luar biasa di mata tuan Chris.


Tuan Chris menggeleng pelan. Ikut duduk di sebelah Nyonya Nena.


"Apa yang kamu pikirkan?" Pertanyaan yang sebenarnya sudah Tuan Chris baca, sang istri akan menjawab apa.


Nyonya Nena menghela napas berat. Segera bersandar di pundak sang suami seperti membuang rasa penat dan tekanan yang luar biasa.


"Aku sedih! Karena Suri tidak jadi datang!" Matanya mulai berkaca-kaca. Melahirkan air mata yang menggulung di pelupuk mata.

__ADS_1


Suri menelpon. Mengatakan tidak jadi datang berkunjung. Karena ada urusan penting yang tidak bisa di tinggalkan. Sebagai orang tua itu adalah kabar yang menyakitkan.


Di pikir Suri sekarang sudah tidak lagi perduli pada keluarganya. Bukan hanya itu. Makanan kesukaan Suri yang sudah tertata di meja makan kini terlihat menyedihkan. Bayangan tawa sang putri seakan jauh terlihat.


Tuan Chris hanya diam tidak mampu memberi jawaban.


Dia pasti masih marah karena aku sebagai ayahnya begitu tega menjual putriku kepada keluarga Batara. Aku sudah membuat putriku satu-satunya membenciku sebegitu besar.


"Aku tidak berharap lagi Suri akan datang ke rumah ini!" Ucap Tuan Chris lirih. Rasanya sakit ketika mengatakan hal itu.


Kepala Nyonya Nena terangkat. Menoleh kearah sang suami penuh tanya.


"Kenapa kamu mengatakan itu, Pa?"


"Ingat Nena! Kita sudah menjual Suri, putriku satu-satunya kepada keluarga Batara. Aku bahkan tidak sanggup memakai uang itu."


Sampai saat ini uang satu triliun yang di dapat dari Tuan Diki yang terhormat masih utuh. Tuan Chris merasa segan menggunakannya. Bayangan tangis sang putri kala itu terus menghantui pikirannya. Rasa bersalah dan penyesalan jelas ada dan mungkin tidak akan pergi.


Nyonya Nena terdiam. Matanya mulai basah jika mengingat itu.


"Maafkan Aku Pa! Karena ide ku, Suri harus jauh dari kamu. " Hiks...hiks... Tangis Nyonya Nena tumpah.


Kini hanya penyesalan yang menghantui kehidupan keluarga Christabel Jocelyn.


Suri yang periang tengah menghadapi buasnya dan kejamnya seorang Sky Antony Barata.


"Nena! Aku akan mengembalikan uang itu! Aku rela jatuh miskin asal Suri bersama kita!"


"Papa!" Nyonya Nena nampak tercengang.


"Aku tidak tahan jika harus di selimuti rasa bersalah atas Putriku. Aku tetap akan mengembalikan uang mereka dan mengambil Suri kembali." Tuan Chris nampak yakin dengan ucapannya. Tapi Nyonya Nena menggeleng cepat.


"Pa! Kalau kamu lakukan itu. Sama saja kamu membunuh putri kamu sendiri dan juga keluarga ini!" Ucap Nyonya Nena takut.


"Apa maksudmu, Nena?" Tuan Chris terlihat tak senang.


"Tuan Diki, bukan tandingan kamu Pa. Dia tidak akan mau memberikan Suri kepada kamu. Sky tidak akan pernah melepaskan Suri sebelum dirinya merasa bosan!"


"Jadi, kamu meminta aku menunggu sampai Sky bosan dengan putri ku?" Katanya marah. Melupakan bagaimana Sky yang brutal dan bengis.


Nyonya Nena mengangguk. "Mari kita menunggu sampai-


"Sampai Suri mati di tangan, Sky?" Sergah Tuan Chris tak terima. Matanya melotot tajam membuat Nyonya Nena ketakutan.


"Sampai kita menemukan orang yang bisa mengeluarkan Suri dari rumah itu. Dari Sky tepatnya."


Tuan Chris menggeleng cepat. Menendang air kolam karena marah.


Sedangkan Nyonya Nena menangis dalam diam. Kini penyesalan yang tidak berujung membuat mereka semakin marah kepada diri masing-masing.


.


.


Astaga, rasanya pegal sekali.


Suri terus mengeluh, atas Sky yang masih asik merasakan sentuhan yang di berikan kedua tangannya.


Di atas ranjang Suri memberi pijatan yang mana membuat Sky menutut lebih. Bukan hanya area pinggang dan leher. Semua tubuhnya Suri pijat tanpa henti. Pekerjaan yang super melelahkan.


Sampai waktu malam datang. Suri masih memijat bayi besarnya yang tadi hampir saja membunuh pelayan.


"Sky! Besok, aku akan kembali kuliah! Aku ingin bertemu teman-teman yang lain!"


Yang di maksud Suri adalah Melodi dan Gengnya yang sok cantik itu. Karena ulah melodi lah dirinya habis di cambuk Sky. Dan karena ulah melodi juga, Jason babak-belur.


"Aku ingin-


Ngookk....ngookk..


Suri mengerutkan kening. Mencari arah suara yang cukup bising itu.


Tangannya yang masih memijat punggung Sky ia angkat. Mengendap-endap bergerak untuk melihat apakah itu suara Sky.


Mata Sky tertutup dengan sedikit mulut terbuka.


Alis Suri terangkat. Melihat bagaimana Sky mengorok untuk yang pertama di dengar Suri. Selama menikah Sky tidur dengan damai. Tapi lain hari ini!


Suri menghela napas lega. Segera bersandar untuk mengistirahatkan tubuhnya yang pegal.


"Kamu lelah karena sebuah alasan yang tidak jelas. Hari ini Kamu kembali melukai orang lain! Sampai kapan kamu akan seperti ini, Sky?" Gumam Suri. Merenung dengan keadaan dan sikap Sky yang gampang tersulut emosi.


Tuhan! Apa sisa hidupku akan aku habiskan bersama dengan, Sky? Jika aku bisa kembali memilih aku lebih baik hidup sendiri. Dan jika aku bisa memutar waktu. Aku akan pergi dari kota ini dan-


"Dan apa!" Suara Sky yang lembut menyentak batin Suri.


"Apa!" Suri kalang-kabut. Kembali memijat tubuh Sky.

__ADS_1


Dan! Apa dia bisa mendengar suara hatiku? Tidak mungkin.


Sky mulai bangkit. Sepertinya tadi ia mengigau. Tapi karena suara Suri, Sky terjaga.


"Jam berapa sekarang?" Tanya Sky. tangannya mengusap wajahnya yang kusut.


Suri segera menengok jam dinding.


"Jam 7 malam!"


Sky mengangguk. Tanpa terkejut karena hampir empat jam Suri memijat seluruh tubuhnya.


Tanpa kata Sky bangkit. Tak luput dari perhatian Suri yang diam menyaksikan.


Sama-sama.


Batin Suri. Mencaci Sky dari tatapan mata.


Sky berjalan kearah tombol yang mana membuat Suri menghela napas jengah.


"Padahal dia bisa mandi sendiri!" Gumam Suri.


"Suri!" Panggil Sky. Tangannya baru saja menekan tombol yang biasa digunakan untuk memanggil para pelayan.


Sky harus mandi dan itu adalah tugas pelayan.


"Iya?" Kata Suri. Masih duduk di atas ranjang dengan wajah di buat manis.


"Doakan aku! Hari ini aku akan kembali ke arena balap. Kamu jangan ikut diam di rumah dan tunggu aku!"


Mata Sky menyoroti wajah Suri yang polos. Ingin rasanya kembali menyerang si gadis berkacamata yang mulai menggetarkan hatinya. Sky tak sadar akan perasaan itu.


Suri mengangguk patuh.


Pergi sana. Aku juga tidak ingin melihat kamu malam ini. Aku ingin istirahat dan mendengar suara Mama dan Papa.


Batin Suri. Bahagia karena Sky malam ini akan pergi. Dirinya bisa bersantai tanpa merasakan ancaman dan ketakutan.


Di saat Suri bahagia. Sky malah sebaliknya.


Malam ini adalah malam yang menegangkan. Harga diri dan Suri tengah di pertaruhan.


Bagaimanapun caranya aku harus menang! Bagaimanapun.


.


.


Daren nampak lesu pergi ke arena balap. Terbukti dirinya masih berleha-leha di atas ranjang.


"Gila! Sky dan Jason. Mereka berdua gila! Bagaimana kalau Jason menang? Apa Sky benar-benar akan memberikan Suri! Astaga?"


Daren berbicara sendiri padahal waktu terus berjalan.


"Tapi, bagaimana kalau aku kembali menang?"


.


.


Jason sendiri terlihat bersemangat. Entah apa yang sudah merasuki pikirannya.


"Kita lihat, apa Sky bersungguh-sungguh dengan ucapannya?" Jason berbicara di dalam mobil kesayangannya. Menatap pantulan wajahnya dari kaca spion.


Sky, kali ini kamu harus di beri pelajaran.


Dret....Dret...


Ponsel Jason bergetar.


Panggilan dari Daren rupanya.


📞 "Kamu sudah siap, Daren?" Tanya Jason.


📞 " Bagaimana kalau aku membuat kesalahan?" Di sebrang telpon Daren terlihat kebingungan.


📞 "Buktikan kalau kamu bukan pengecut." Jason memberi jawaban sedikit menohok.


Jelas Daren tak terima.


📞 "Lihat, aku beraksi di sana!" Kata Daren ketus.


📞 "Ok."


Tut...Tut...


Panggilan terputus.

__ADS_1


Suri, kalau aku menang. Maka aku yang akan mendapatkan hadiah dari suamimu malam ini.


Jason membatin sambil tersenyum datar. Hingga ia mulai menghidupkan mesin mobil dan melenggang pergi meninggalkan Mansion.


__ADS_2