Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)

Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)
Suri Si Penakluk


__ADS_3

Tumpukan selimut yang semula nampak tenang kini mulai bergerak perlahan. Di susul gerakan badan dari si pelaku. Kelopak mata Suri yang rapat perlahan-lahan terbuka. Cahaya merah semalam menyambut kesadarannya.


Jam berapa ini?


Entah ini masih malam atau sudah pagi, Suri tak tau! Yang dirinya tau adalah Sosok pria tampan yang semalam merenggut paksa kegadisannya sudah menghilang tak nampak sejauh mata memandang. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Sky di kamar menyeramkan itu!


Suri bangkit dengan tertatih. Mengerang hebat ketika area sensitifnya terasa nyeri.


Sakit sekali.


Suri menitipkan air mata kesedihan. Sekarang tidak ada lagi yang bisa di banggakan, tubuh polosnya ia tatap penuh rasa jijik di tambah aroma parfum Sky yang menempel di seluruh tubuhnya.


Suri mengusap kasar semua permukaan kulit dan bibirnya, Otaknya mengingat bagaimana semalam Sky menggaulinya tanpa ampun. Begitu kasar. Perlakuan yang pertama Suri alami selama hidupnya.


"Aku membencimu, Sky! Aku benci!" Teriak Suri.


Yang mana teriakan itu dapat di dengar pelayan yang menunggu di dalam kamar Sky beserta Sky tentunya.


Ketiga pelayan wanita saling tatap di saat mereka berdiri kokoh di dekat Sky yang duduk tenang dengan wajah segar. Tentunya sudah berganti baju. Penampilan yang sempurna. Berbanding terbalik dengan Suri yang masih berkutat di atas ranjang.


Sky menghela napas jengah. Melirik jam di tangan. Pukul 10 pagi jarum jam terarah. Tapi Suri masih enggan keluar dari balik lemari yang terbuka.


"Seret dia kalau dalam waktu lima menit belum keluar!" Sky beranjak bangun dengan marah. Sedari pagi menahan lapar karena Suri belum juga keluar kamar misterius itu.


Niat awal ingin sarapan bersama sebagai pasangan pengantin baru. Sky tidak ingin membangunkan Suri karena dirinya tau sang istri pasti kelelahan setelah apa yang mereka lalui sepanjang malam. Tapi sepertinya kesabaran Sky sudah habis.


Sepertinya dia tidak di ajarkan bagaimana bangun pagi.


Batin Sky mencibir. Keluar kamar untuk turun. Tujuannya adalah ruang makan. Mengisi perut yang lapar. Sarapan sekaligus makan siang. Beruntung di sana pelayan sudah siap di posisi.


Pelayan menggeser kursi. "Silakan, Tuan."


Sky duduk tanpa kata. Meneguk air dalam gelas sampai habis tak bersisa. Menunggu si pelayan mengisi piring kosongnya.


"Cepatlah!" Teriak Sky. Si pelayan jelas terkejut. Sampai-sampai menjatuhkan sendok berisikan saus yang siap di siram ke atas Stek menu yang di hidangkan. Terciprat hingga mengenai baju Sky yang mahal.


"Tuan, maafkan saya! Maaf kan saya Tuan." Si pelayan itu segera bersujud meminta ampun.


Kesalahan yang fatal.


Sky terdiam. Wajahnya jelas memerah menunduk melirik jijik cipratan saus yang ada di atas permukaan bajunya. Kemarahan Sky atas keterlambatan Suri yang belum bangun saja sudah membuatnya amat marah dan sekarang, ulah si pelayan menambah level kemurkaannya. Sky menggeser kursi berdiri di hadapan si pelayan yang masih bersujud tepat di depan kakinya.


"Karena mu aku harus kembali mandi dan berganti baju." Ucap Sky berbarengan dengan tendangan keras yang di arahkan tepat ke si pelayan.


Si pelayan pria yang masih muda itu terpental. Mengerang hebat merasakan nyeri di bagian pundak.


Sky belum puas. Dirinya menghampiri si pelayan yang masih meringkuk. "Pelayan tidak berguna!" Katanya. Masih mendaratkan tendangan keras di sekujur tubuh si pelayan.


Semua pelayan yang melihat kejadian mengerikan itu hanya bisa diam tanpa melakukan apa-apa. Atau sekedar menolong kawan seperjuangan. Membiarkan Sky melampiaskan kemarahannya sampai ada anggota keluarga yang datang mererai. Tapi sayangnya di mansion Tuan dan Nyonya besar tengah keluar. Yang tersisa hanya Tristan.


Tristan sendiri baru saja menuruni lift yang di sediakan mengingat dirinya tidak mampu berjalan. Berjalan dengan bantuan kursi roda menuju ruang baca. Kebetulan rumah bak istana itu memenuhi semua kebutuhan para penghuninya. Fasilitas serba wah. hampir terdapat di dalamnya. Jadi ketika Sky di kurung tak akan membuatnya bosan atau jenuh.


Suara gaduh dari ruang makan mengundangnya untuk mendekat. Terdiam ketika Sky tengah menghajar salah satu pelayan mereka. Tristan nampak santai ketika melihat sang adik melakukan aksi brutal itu. Dirinya sudah terbiasa melihat adegan itu.


Sampai kapan kamu akan seperti ini, Sky.


Gumam Tristan lirih. Kemudian menghampiri sang adik yang masih menjalankan aksinya.


"Ampun tuan ampun!" Si pelayan yang lemas itu memohon dengan sangat. Tubuhnya mati rasa.

__ADS_1


Tapi Sky acuh, kakinya masih belum puas menghajar si pelayan yang kebetulan sudah pernah di perlakukan demikian. Terhitung tiga kali banyaknya. dan Mungkin sekarang bertambah menjadi empat banyaknya.


"Karena mu aku tidak lapar lagi!"


"Sky, berhenti!" Tristan bersuara pelan. Berdiam diri di belakang tubuh Sky yang tinggi.


"Jangan ikut campur!" Kata Sky.


Tristan menggelengkan kepala. Bisa mati si pelayan muda itu kalau tidak ada yang mererai.


Hanya tuan Diki dan sang ibu yang mampu menghentikan kekejaman Sky. Tristan layaknya manusia yang tidak terlihat oleh Sky. Hanya di saat Sky sadar mereka akan akur. Dan saat ini Tristan tidak mengenal siapa adiknya.


"Kamu! kemari!" Tangan Tristan mengayun ke arah pelayan lain untuknya mendekat.


"Saya, Tuan!" Kata si pelayan ketakutan. Melirik kearah Sky yang masih menghajar kawannya.


"Cepat naik ke kamar Sky, dan minta istrinya turun."


"Baik, Tuan."


Si pelayan berlari cepat. Menaiki tangga untuk menjemput Suri.


"Sky, berhenti! Kalau tidak dia bisa mati!" Kata Tristan. Yang lagi-lagi tak di hiraukan Sky.


Sky si bengis, Sky si iblis dan Sky si pemberontak. Semua pelayan mencaci dan mencemoohnya dalam hati.


.


.


Kebetulan Suri baru saja ingin keluar dari kamar misterius itu. Dirinya menggunakan kembali gaun pengantin yang semalam terlepas. Di lemari tak ada pakaian. Itu hanya pajangan yang tidak berguna.


"Oh Tuhan, badanku terasa remuk."


Ceklek.. pintu di buka.


"Si iblis itu-


Umpatan memaki itu terhenti. Keberadaan ketiga pelayan menyambut dirinya.


"Kalian!"


"Mari Nona, anda benar-benar sudah terlambat." Kata salah satu pelayan. Ketiganya bergegas menarik Suri yang kebingungan. Menyeretnya lagi ke dalam kamar mandi.


"Apa lagi ini? Kenapa kalian tidak membiarkan aku tenang!" Suri memberontak seperti biasa. Yang mana akan kembali mendapatkan kekalahan.


"Tuan Sky, sudah menunggu anda dari tadi Nona. Kami bahkan di minta untuk membangunkan Nona. Lima menit yang lalu. Sekarang sudah lebih dari 10 menit."


"Apa!"


Jam! Suri mencari jam dinding. 10: 28


"Ini sudah hampir siang!" katanya tak percaya.


'Aku bangun kesiangan! Astaga Suri? Dia pasti akan membunuhmu.'


Kepala Suri menggeleng takut. Batinnya senang sekali berbicara tentang nasibnya yang seakan buruk.


"Tunggu! aku bisa mandi sendiri." Suri menahan diri di ambang pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Tidak ada waktu, Nona." Seru pelayan. Ketiganya mendong tubuh Suri kedalam kamar mandi.


Tapi tiba-tiba.


"Nona! Nona Suri!" Si pelayan yang di tugaskan Tristan datang membawa wajah ketakutan.


Ketiga pelayan yang melihat wajah ketakutan rekannya itu ikut kelabakan. Mereka tau pasti Sky tengah mengamuk.


Suri yang masih memberontak kembali di seret keluar kamar mandi.


"Kalian maunya apa sih?" Katanya setengah berteriak.


"Tuan Sky mengamuk!" Kata si pelayan ketakutan.


"Terus, apa hubungannya dengan ku?" Kata Suri seakan tak ingin tau.. Perlakuan Sky tadi malam sudah membuatnya marah.


"Anda harus menghentikannya Nona. Kalau tidak teman kami bisa mati?"


"Ma-mati!"


Ke empat pelayan itu mengangguk pasrah.


"Mari, Nona."


Kenapa harus aku! Aku bahkan baru menjadi istrinya?


Suri yang kebingungan dan sama takutnya kemudian di seret keluar kamar dengan masih mengenakan gaun pengantin.


"Itu, Nona!"


Suri terpaku melihat Sky menghajar salah satu pelayan. Bahkan si pelayan muda itu sudah tidak sadarkan diri. Dan anehnya Sang Kakak Tristan hanya diam menyaksikan.


"Keluarga ini aneh." Suri berlari. Mengimbangi gaunnya yang panjang.


Bergegas menarik Sky yang sangar.


"Sky, apa yang kamu lakukan? Dia bisa mati?"


Suri memeluk Sky dari belakang. Mengunci pergerakan sang suami sebegitu erat. Menangis tersedu akan ulah Sky yang menyeramkan.


Bagaimana bisa Papa dan Mama melibatkan aku kedalam keluarga ini. Suamiku bukan manusia! tapi dia iblis.


Suri melirik si pelayan yang terkapar penuh amarah. Bergantian melirik Tristan yang hanya diam tanpa bisa bertindak.


Apa mereka takut kepada dirinya! Kenapa Kakaknya sendiri seolah membiarkan Sky menyakiti orang lain.


"Jangan lakukan itu." Kata Suri.


Sky sendiri mulai tenang. Napasnya yang memburu kini kembali normal. Kakinya ia gerakan karena pegal. Menghajar si pelayan membuatnya kembali lapar. Yang mana Sky bersuara.


"Suri, aku lapar! Karena kamu sudah bangun ayo kita makan!"


Suri tertegun untuk yang kesekian kalinya.


Dia monster!


Baru satu hari menjadi istri seorang Sky, Suri sudah melihat bagaimana keluarga Barata dan suaminya hidup.


Tuhan, beri aku nyawa yang banyak.

__ADS_1


Pinta Suri dalam hati..


__ADS_2