Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)

Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)
Senyuman Manis


__ADS_3

Cukup lama Dokter Kamla meringkuk di atas lantai yang dingin tanpa di pedulikan Tristan. Dirinya segera bangkit perlahan dengan masih menangis tersedu.


Tristan mengotak-atik ponselnya tanpa melihat pergerakan Dokter Kamla atau memang sengaja acuh?


📝 'Andrew, Muat selebaran yang sudah aku tulis dan aku kirim ke email mu. Segera, Semua surat kabar, tabloid, televisi jangan ada yang terlewat. aku ingin semua orang membacanya dan melihatnya. Lakukan cepat.'


Sebuah teks Tristan kirim kepada sang sekertaris begitu cepat.


Lalu pandangan yang dingin melirik Dokter Kamla yang kini berdiri di hadapan dengan kepala menunduk takut. Tristan menarik napas panjang sembari meletakan ponsel di samping tubuhnya.


"Kau tau bukan, alasan kita akan menikah?" kata Tristan pelan. Membuat Dokter Kamla mengingat kejadian di mana dirinya di lamar sang Kakak dari seorang Sky Antoni Barata.


Dokter Kamla mengangguk pelan.


Aku tidak akan pernah melupakan kejadian itu. Di sini, di kamar mu.


Tristan menyunggingkan senyuman kecut.


Sedikit kilas balik. Kembali ke masa dua tahun silam.


Keluarga Barata yang tertekan atas perceraian Sky dan Suri mulai saling menjauh. Nyonya Rose yang sudah mengetahui kebenaran di mana calon cucunya pergi untuk selamanya mulai sakit-sakitan selayaknya orang tua yang rapuh. Perjalanan kala itu untuk mengobati Tristan si anak sulung berakhir penyesalan. Nyonya besar terus menyalahkan dirinya sendiri. Seandainya kala itu ia tak pergi. Mungkin sekarang cucunya dapat di lihat.


Sky terpuruk semenjak Suri pergi tanpa jejak. Tak ada yang tau kemana perginya sang mantan istri. Suri seperti di telan bumi. Penerbangan dan semua orang di tanyain tentang Suri tapi semua percuma. Karena Sky mengetahui Suri pergi dari kotanya satu Minggu lamanya. Waktu yang cukup lama. Kala dalam satu Minggu itu. Sky sibuk dengan pekerjaan di Barata Company yang tidak bisa di wakilkan.


Tristan sendiri. Melamun di kamarnya seperti biasa. Merenung tentang keluarganya yang semakin tak di kenal. Sky dan Nyonya Rose mengalami perang dingin. Suasana mansion Barata yang megah bak rumah kosong tanpa manusia. Kehangatan kini tak terlihat lagi. Sky bahkan tak lagi menginjakkan kaki di mansion. Nyonya Rose memang tidak membenci Sky tapi setiap Sky datang berkunjung Nyonya Rose selalu menghindar. Tristan tau apa yang di rasakan Mamanya. Untuk itu Tristan harus mengambil keputusan.


"Sky, sepertinya mama masih belum bisa merelakan kepergian cucunya. Perceraian mu dan Suri mungkin takdir yang bisa mama terima. Tapi untuk cucunya. Mama masih memendam rasa kecewa. Jadi sebaiknya kamu jangan temui mama untuk sementara waktu."


Tristan menatap sang adik yang duduk di kursi kerjanya.


Sky menatap balik sang kakak dengan tangan mengepal.


"Kak, jika itu yang terbaik untuk mama. Aku bisa apa, sekarang keluarlah." sahut Sky dingin. walaupun hatinya hancur dirinya berusaha kuat. Berkas-berkas di meja menjadi pengalihan. Membiarkan Tristan mendorong kursi rodanya keluar dari ruangan kerja.


Di rasa Tristan pergi. Sky menggebrak meja. Menatap tajam pintu kaca yang memperlihatkan Tristan sibuk mendorong kursi rodanya.


"Kutukan apa yang sebenarnya menimpa ku? Kenapa harus aku yang di benci dan menjadi biang masalah atas keluarga dan rumah tangga ku sendiri? Kenapa?" Sky terpuruk. Wajahnya memerah karena menahan amarah yang meluap.


Suri, di mana kamu? Kenapa kamu pergi begitu mudahnya. Kita memang sudah berpindah. Tapi aku masih sangat mencintaimu. Aku akan menunggu sampai kamu datang dan kembali padaku. Walaupun aku merasa itu mustahil.


Sky membatin, menundukkan kepala yang terasa berat. Menangis dalam kesendirian yang menyakitkan.


.


Tristan masuk kedalam mobil setelah menemui Sky di kantor. Dirinya bergegas pulang setelah mendapat laporan kalau Nyonya Rose pingsan. Tak ada niatan untuk memberi tahu Sky tentang kabar itu. Kabar yang sudah biasa di dapat jadi tak ada raut wajah panik kala mendengarnya. Nyonya Rose memang selalu tak sadarkan diri. pikirannya terguncang atas kepergian sang calon cucu. Sesekali Tristan merasa muak dengan keadaan sang Mama tapi mau bagaimana lagi. Kepada siapa ia harus berpegang tangan selain kepada Mama Rose. Sky sang adik seperti orang lain yang tidak akan perduli. Apalagi setelah ini dirinya semakin jauh.


Setiba di mansion. Penjaga bergegas menghampiri Tristan mendorong kursi rodanya dan masuk kedalam.


Di kamar Nyonya Rose terbaring dengan mata terpejam. Pelayan dan satu dokter berjaga di samping sang Nyonya besar.


"Bagaimana kondisi Mama?" tanya Tristan setelah melewati pintu kamar.


Dokter dan pelayan menoleh lalu membungkuk.


.


Satu Minggu berselang..


Tristan yang tengah sibuk di kamarnya tersentak mendengar suara ketukan.


Tuk...tuk...


Siapa yang berani mengganggu ku.


Tristan membatin kesal. Pantangan yang tidak bisa di lupakan ketika dirinya bekerja. Mengetuk pintu kamarnya adalah kesalahan. Para pelayan tau itu. Tapi sekarang pintu kamarnya di ketuk di jam bekerja.


"Siapa?" tanya Tristan dengan nada suara tinggi.


Tuk...tuk... Tak ada jawaban malah ketukan pintu semakin menggema.

__ADS_1


"Argh...." Tristan mengerang kesal sembari berjalan menghampiri daun pintu.


Ceklek.... Pintu terbuka. Tristan menatap tajam orang yang sudah menggangu pekerjaannya begitu murka.


"Kau? Sedang apa kau di sini? Dokter Kamla?" tanya Tristan dengan mata cukup tajam.


Dokter Kamla mematung tanpa berkedip melihat bagaimana Tristan berdiri di ambang pintu tanpa kursi rodanya yang selalu ia gunakan.


Seingatnya putra sulung Barata cacat dan akan selamanya bersahabat dengan kursi roda, tapi apa yang di lihatnya sekarang sungguh membuat tubuhnya kaku.


Tristan menatap aneh Dokter Kamla tanpa menyadari dirinya tanpa kursi roda.


"Tu-tuan, a-anda bisa berjalan?" tergagap Dokter Kamla bertanya.


Tristan tersentak. Melirik tubuhnya yang berdiri tanpa bantuan kursi roda.


Astaga, Tristan kau ceroboh sekali.


Tanpa kata Tristan menarik tangan Dokter Kamla masuk kedalam kamarnya sebelum ada yang melihat dirinya bisa berdiri.


Di balik pintu kamar. Dokter Kamla meringkuk mundur membentur lapisan kayu. Menghindari Tristan yang terus mendekat dan menindihnya.


"Maafkan saya Tuan, saya-


Suuutt.... "Aku bukan Sky yang akan mencelakai orang begitu mudah. Tapi aku bisa melakukan hal yang sama seperti dia.. Dokter Kamla apa yang kau lihat adalah benar. Aku berdiri dan aku juga bisa berjalan.."


Tristan memeragakan dirinya berjalan begitu mudah di hadapan Dokter Kamla yang ketakutan.


"Rahasia yang aku simpan belasan tahun sampai sekarang usiaku 29 tahun. Tak ada yang tau kalau sebenarnya aku bisa berjalan seperti kalian." ucap Tristan menjelaskan sembari berjalan memutari kamar.


Dokter Kamla mengangguk saja.. Dirinya sudah sangat ketakutan.


Aku ingin keluar. Kenapa Nyonya Rose meminta aku datang dan memanggil Tristan. Aku tidak tau akan berakhir seperti ini. Lebih baik aku cepat keluar.


Dan dokter Kamla bergegas membuka pintu. Tapi terbaca oleh pergerakan Tristan yang ahli..


"Tuan?" Dokter Kamla memohon dengan tatapan mata yang sendu.


Tristan menatap lembut tapi itu bukan tatapan yang ramah di rasakan dokter Kamla.


"Sa-saya minta maaf. Saya berjanji tidak akan memberi tau siapapun tentang ini. Saya-


"Untuk apa kau datang ke kamar ku?"


Dokter Kamla segera menjawab. "Nyonya, Nyonya Rose meminta saya datang dan setelah itu meminta untuk memanggil anda. Saya benar-benar tidak tau apa yang Nyonya Rose inginkan."


"Dokter Kamla, aku tidak pernah percaya kepada siapapun termasuk kepada Tuhan!"


"Tuan jangan katakan itu."


Tristan menyunggingkan senyum. "Dokter Kamla, karena kau sudah tau. Kau harus bertanggung jawab."


Dokter Kamla menatap sekilas mata Tristan.


"Bertanggung jawab? Tuan saya-


"Kau dan aku harus menikah. Alasan pertama karena ini ke ingin Mama. Alasan yang kedua kau sudah mengetahui rahasia ku. Dengan begitu kau tidak akan membuka mulut."


.


Memikirkan kejadian kala itu. Dokter Kamla menitikan air mata. Di hadapan Tristan dokter Kamla membungkuk.


"Maafkan keteledoran ku dua tahun itu-


"Bukan hanya itu saja. Kau sudah membohongi keluarga ku Kamla. Kau membiarkan adikku menderita dengan menyesali perbuatannya. Aku ingin melihat bagaimana reaksi Mama dan Sky ketika tau kalau penerus Barata masih hidup."


Segera Dokter Kamla bersimpuh kembali.


"Hiks....hiks.... Maafkan aku, aku mohon maafkan aku."

__ADS_1


"Jangan salahkan aku, kalau mereka akan membenci mu."


Hiks....hiks....


.


Di lain tempat.


Dua Minggu berlalu.


Selebaran tentang pencarian Suri terus di gempur. Tapi masih belum mendapatkan informasi tentangnya.


Suri yang murung berusaha bangkit. Bekerja seperti biasa, menebar senyuman seperti biasanya. Entah kenapa dari mereka yang datang dan para teman-temannya di rumah sakit begitu juga lingkungan sosialnya tak ada yang menggangu. Semua orang yang di kenalnya bersikap normal.


Ada apa ini? Pikir Suri kala melihat sikap para tetangga dan teman sejawatnya.


Alhasil Suri menebar senyuman bahagia. Bersyukur karena Tuhan seakan menutup dirinya dari cekikan mental yang di lakukan Tristan mantan Kakak iparnya itu.


Tuk....Suara meja di ketuk.


Suri yang tengah menikmati kesendirian terperanjat ketika gelasnya di letakan lumayan keras. Mendapati sesosok gadis mungil yang sibuk mengelap bibirnya.


"Sweet."


"Queen!" Suri segera mengelap bibir sang putri yang di basahi air lemon miliknya.


"Mom? kenapa melamun sendiri?" tanya Queen, gadis cantik bermata indah yang kini sudah berusia empat tahun. Dua Minggu yang lalu Queen merayakan pertambahan usianya dengan sederhana. Karena Suri ingin anaknya terawasi. Kabar pencarian dirinya sungguh mengganggu. Tapi tembok tetangga dan teman sejawatnya luar biasa kokoh.


Suri tersenyum sebelum memberi jawaban. "Mommy hanya ingin sendiri saja."


Queen menjatuhkan satu tangannya ke atas meja. Menahan bobot kepalanya tersenyum menatap sang mommy yang menampakkan wajah lelah. "Sekarang ada Queen? Apa mommy tidak marah?"



Suri menggeleng cepat. Tersenyum lepas mendapatkan pertanyaan menggemaskan itu. "Tidak apa-apa. Queen memang harus ada di sini, bersama Mommy."


Tuhan, aku tidak ingin di pisahkan dari putriku. Aku tau menghadapi Sky seperti aku membunuh diriku sendiri. Tapi aku rela demi Queen.


Suri membatin. Menumpahkan kesedihan atas persoalan besar yang akan di hadapi.


Sementara itu.


Di luar satu buah mobil terparkir di halaman. Sosok pria berpakaian rapi berjalan menghampiri daun pintu utama. Mengetuk setelahnya.


Tuk...tuk....


Suri yang tengah bersama Queen. Menoleh kearah suara.


"Siapa? Nenek belum waktunya pulang?" Suri terheran sembari iseng menatap jam di tangan..


Pukul 1 siang tepatnya. Nyonya Nena masih sibuk di cafe.


"Queen tunggu di sini."


Queen mengangguk patuh.


Suri begitu hati-hati melangkah. Takut-takut itu orang suruhan Tristan. Tapi semakin mendekat. Ke khawatirnya menghilang.


"Astaga," Suri bergegas membuka pintu.


"Nona Suri." ucap orang itu sambil menjulurkan tangannya.


Suri menyambut begitu baik.


"Maafkan saya. Anda menunggu begitu lama." kata Suri tak enak. "Mari tuan masuk."


Savira, Kenapa dia melakukan ini.


Gumam batin Suri yang ingin sekali mencekik Savira tetangganya.

__ADS_1


__ADS_2