Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)

Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)
Aku Terima!


__ADS_3

Merasa tidak ada gunanya mendekat. Sky mundur perlahan lalu berbalik membawa perasaan yang semakin marah lagi sakit hati. Berjalan menjauh dengan kepalan tangan.


"Apa seperti itu perasaan mu padaku!" gumamnya lirih. Tak percaya mendengar ucapan Suri yang sudah menyakiti perasaannya.


Sky lupa kalau dirinya juga yang menyebabkan Suri berkata demikian.


Dalam waktu yang bersamaan. Pasangan suami istri itu saling membenci dan entah akan seperti apa kedepannya. Tak ada yang tau.


.


Suri menarik dan membuang napas untuk menenangkan diri yang kacau. Ia menggeleng perlahan sembari menunduk, tersenyum samar menatap perutnya dengan derai air mata. Ia usap penuh kelembutan.


"Maafkan aku. Aku tidak bersungguh-sungguh atas ucapan ku kepadamu dan ayah mu! Aku hanya marah saja. Dia sudah memperlakukan aku seperti ini." ucap Suri setengah berbisik.


Suri masih menikmati pemandangan malam dengan perasaan yang semakin hangat. Berpikir positif tentang sikap Sky padanya.


.


Sedangkan Sky uring-uringan di dalam kamar. Membanting beberapa barang yang bisa tangannya jangkau. "Dia keterlaluan! Dia bahkan menyesal sudah mengandung anakku!" katanya marah. Terus berteriak keras seorang diri. Melampiaskan kemarahan dengan cara yang baru.


Jangan lagi menyakiti orang lain mulai hari ini. Buang kebiasaan buruk itu dari sekarang.


"Aaaaaaaa!!" Sky berteriak. Mengerang marah ketika otaknya terus meminta keluar dan mencari pelayan untuknya bisa memberi kepuasan. Tangannya sudah gatal ingin menghajar siapa saja.


"Tidak, tidak! Ini semua karena Suri! Semua ini karena dia!"


Sky seakan mempunyai dua kepribadian! Tiba-tiba wajahnya berubah tenang. Tersenyum menakutkan dengan menatap arena dalam kamar yang berantakan.


.


Suri menghela napas berat. Mengusap keringat yang bercucuran di area kening. Sore itu pekerjaan sama saja. Tak ada yang berubah bahkan sekarang semakin parah! Kenapa demikian?


Sudah satu bulan aku menjadi pelayan di rumah ini! Sky bahkan masih enggan bertemu denganku.


Batin Suri teriris di setiap harinya. Kebaikan dan perhatian sang Mama mertua tak menjadi obat untuknya. Tak ada yang mampu menenangkan Suri selain Sky sang suami.


Tristan selalu menyakinkan Suri bahwa Sky hanya memberinya hukum atas kebohongan yang sudah di lakukan.


Tapi ini sudah berlangsung satu bulan! Dia masih enggan memaafkan aku.


Kenyataan pahit harus di rasakan Suri bahkan lamanya waktu masih belum bisa membuat hati Sky luluh. Suri berpikir bahwa dirinya juga korban atas niat baik Dokter Kamla kala itu. Tapi sekarang Sky marah padanya. Itu yang Suri yakini. Andai saja malam itu di taman Suri tak mengumpat atas sikap Sky, mungkin saja. Saat ini dirinya tengah bersantai di dalam kamar menikmati pasilitas seperti biasa dan mendapatkan kasih sayang penuh dari Sky.


"Tapi biarlah, yang penting Mama Nena dan dokter Kamla tidak mendapatkan masalah."


Suri tersenyum penuh ketenangan jika mengingat ucapan Sky satu bulan yang lalu di mana terakhir dirinya bisa berinteraksi dengan Sky.


Sky mengatakan dengan tegas. "Aku tidak akan menggangu Mama mu dan Dokter Kamla. Aku membiarkan mereka bebas. Tapi dengan catatan kamu yang harus menggantikan kesalahan mereka."


Mengingat itu Suri tertunduk sembari tersenyum datar mencuri pandangan keatas permukaan perutnya yang masih rata.


"Aku baik bukan? Aku rela menderita demi kebahagiaan Mama ku dan Dokter Kamla. cih.. Dokter Kamla! Dia hidup tenang tanpa mengingat aku di sini yang harus bekerja di rumah suami ku sendiri!" ucapnya lirih. Seolah memberi tau kepada si janin kalau dirinya lelah dengan keadaan.


.


Sementara itu. Sky tengah berkumpul bersama kedua sahabatnya yang lama tak ia jumpai. Terhitung semenjak meninggalnya Tuan Diki, Sky menutup diri dan memilih tinggal di mansion tanpa ingin keluar dari sana. Apalagi Suri menyakiti hatinya. Sky semakin betah di dalam kamar tanpa ada interaksi dengan siapapun. Itulah kenapa Suri sulit bertemu dengan pria tampan itu. Satu atap tapi tak ada kesempatan untuk keduanya saling berbicara.


Kali ini Sky ingin mencari kesenangan dengan menghubungi Jason dan Daren. Bak angin segar di tengah panasnya gurun. Jason dan Daren mengiyakan bertemu mengesampingkan kegiatan mereka di kampus. Jujur mereka berdua sangat merindukan sosok Sky, apalagi satu bulan lebih keduanya tak bisa melakukan kontak apapun dengan Sky.


Sky menutup akses dengan dunia luar. Seandainya dirinya bukan anak orang penting mudah bagi Jason dan Daren untuk bertemu tapi lain jika itu Sky.


Saat ini ketiganya duduk saling berhadapan menikmati sensasi sejuknya perkebunan dan segarnya minum di tangan.


Canda tawa di selipkan di antara rasa penasaran Jason dan Daren. Mengingat Sky tak ingin membicarakan tentang Suri kepada mereka. Jelas ini ada yang tidak beres.


"Aku sedang sedih!" celetuk Jason tiba-tiba.

__ADS_1


Sky dan Daren menatap Jason penuh curiga.


"Tiba-tiba kau bersedih! Tadi kau tertawa seakan tak ada masalah di wajahmu." hardik Sky ketus.


Daren mengangguk setuju sembari asik meneguk minuman beraroma kuat itu.


Jason menghela napas. Memandang kosong hamparan bunga di depan mata yang tersinari setitik cahaya senja.


Pukul enam sore tepatnya. Langit mulai gelap dan menyembulkan sisa sinar matahari yang indah rupanya.


"Ada apa Jason? Kenapa kau bersedih?" kali ini Daren bertanya. Karena Jason malah asik mengatur napas alih-alih memberi jawaban.


"Melodi? Dia akan pergi dari kota ini!" Jason bersandar setelahnya. Meneguk lagi sisa minuman yang tinggal sedikit itu sampai habis.


Daren melirik Sky yang acuh tak perduli.


"Kau tak bilang padaku!" kata Daren santai.


"Ini aku bilang!" keluh Jason seakan Daren tak mengerti dirinya yang tengah bersedih.


"Dia ingin melanjutkan kuliahnya di universitas yang dirinya inginkan."


"Kau akan menunggu?" tanya Daren.


Jason mengangguk cepat. "Jelas. Aku akan menunggunya."


Percakapan menyedihkan Jason terus berlangsung hingga malam datang. Dan Sky enggan perduli. Dirinya sibuk merenung tanpa melihat mimik wajah kedua sahabatnya yang sudah sangat penasaran setengah mati.


Brak....Meja di gebrak Daren.


"Astaga!" keluh Jason. "Daren? Kau mengejutkan ku!" lanjut Jason sambil mengusap dadanya.


Sky mengerutkan wajah tak suka. "Kau cari mati!"


Jason meringsek. Tak ingin ikut campur dengan keberanian Daren.


"Anak itu cari mati!" gumam Jason yang sudah ketakutan.


Sky tersenyum datar alih-alih marah.


"Kau ingin tau rahasianya?" tanya Sky menantang Daren dan Jason.


Daren mengangguk di ikuti Jason.


"Pertama! Suri mengandung anak ku. Kedua! Dia tidak ingin mengandung anakku! Ketiga, dia merahasiakan semua itu dari ku. Dia sudah mempermainkan perasaan ku. Dia bahkan menyesal sudah mengandung anak ku! Kalian dengar itu!" katanya menjelaskan. Guratan kemarahan nampak jelas di perlihatkan. Sky Melirik kedua sahabatnya dengan mata memerah dan napas yang memburu.


Jason dan Daren melongo tak percaya. Bahkan untuk bergerak pun rasanya sulit.


"Aku tidak ingin mengingat namanya untuk saat ini!" lanjut Sky lirih. Ia bersandar untuk menangkan diri yang di kuasai amarah.


"Di mana Suri sekarang?" tanya Jason khawatir. Jason tau Sky tengah marah. Dalam benaknya Suri pasti ada di suatu tempat.


Sambil memejamkan mata Sky menjawab. "Dia di rumah ku, tinggal bersama ku. Menjadi pelayan tepatnya!"


"Apa? Pelayan?" seru keduanya bersamaan. Menatap Sky tak percaya.


"Kamu menjadikan Suri pelayan di saat dia mengandung anak mu!" Daren menggelengkan kepala. Mengutuk perbuatan Sky yang sudah keterlaluan dengan tatapan matanya.


"Kamu gila Sky!" seru Jason dengan wajah dingin.


Sky tertawa santai. "Dia pantas mendapatkan itu. Ingat, aku sedang menghukumnya."


"Untuk apa kamu menghukumnya dengan cara seperti itu kalau kamu tidak memberinya kesempatan untuk berbicara. Pasti ada alasan kenapa Suri merahasiakan kehamilannya. Ingat-


"Cukup! Aku tidak ingin mendengar apapun dari kalian! Aku tidak ingin mendengar apapun itu! Cukup tentang Suri! Cukup!" Sky menunjuk Jason yang mematung.

__ADS_1


Daren yang belum puas berkata. "Jika kamu merasa cukup dengan Suri. Sudahi pernikahan kalian! Untuk apa kamu mempertahankan pernikahan kalau kamu menyiksanya dengan cara seperti itu!"


Jason dan Sky tertegun mendengar ucapan Daren yang mulus itu.


Tanpa di duga Sky tersenyum tak lama di susul suara tawa menggelegar membuat Jason dan Daren saling tatap.


"Bukan ide yang buruk! Untuk apa aku mempertahankan pernikahan ini kalau dia membenciku!"


Kemudian Sky beranjak bangun. Berjalan cepat meninggalkan Jason dan Daren.


"Sky? Kamu mau ke mana?" teriak Jason.


Daren berkata. "Biarkan saja! Mungkin dia pulang dan menceraikan Suri!"


Jason mencengkram baju Daren kesal. "Kau gila Daren? Apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan barusan?"


Daren menghempas tangan Jason kuat.


"Apa aku salah? Suri sudah sangat menderita atas keegoisan Sky. Apa kamu tidak dengar. Suri menjadi pelayan di rumah Sky. Suaminya sendiri! Ingat Jason dia juga tengah hamil. Lebih baik mereka berpisah dari pada Suri mati perlahan di rumah itu. Satu lagi Jason, Sky tengah di atas angin. Dia sudah menjadi pemegang utama di perusahaan Batara Company. Dia menjadi orang berkuasa saat ini. Bahkan Nyonya Rose dan Tristan sama sekali tidak bisa berkutik melawan Sky. Apalagi Suri! Dia hanya gadis malang yang menjadi tumbal keluarganya. Apa kamu tega melihat Suri mati perlahan atas keegoisan sahabat kita sendiri? Apa kamu mau? Jawab aku?"


"Argh! Kau gila!" erang Jason sambil berlalu meninggalkan Daren sendirian.


.


Seperti yang di katakan Daren. Sky menemui Suri yang kebetulan tengah beristirahat di kamarnya. Letaknya di kamar tamu. Kamar yang satu bulan terakhir menjadi tempat Suri beristirahat setelah seharian penuh bekerja melupakan mata kuliah dan Melodi yang saat ini sibuk berbenah tanpa kabar akan pergi ke kota besar lainnya untuk melanjutkan studi di sana.


Tok...tok.... Pintu di ketuk Sky. Melirik malas jam di pergelangan tangan.


20:45 waktu setempat.


Suri mungkin sudah tertidur. Pikir Sky. Tapi ketukan di pintu terus di gempur.


Tuk...tuk....tuk... "Buka!"


.


Suri membuka mata yang tertutup berat. Ketukan di pintu mengundang untuk segara bangun.


"Sebentar." Suri mulai menyibak selimut. Berjalan gontai menuju pintu kamar yang masih di tekuk itu.


"Iya, sebentar."


Ceklek...


Suri yang awalnya menahan rasa kantuk kini terjaga cepat manakala sosok di depannya berdiri tegak.


"Sky!" panggil Suri tak percaya melihat bagaimana sang suami yang di rindukan berada tepat di hadapan.


Selama ini aku menahan ingin bertamu denganmu. Sekarang kamu ada di hadapan ku dengan wajah tampan mu itu.


Batin Suri yang tersipu malu. Pasalnya Sky berdiri tanpa kata. Asik menatapnya lekat.


"Mari kita akhiri? Kita akhiri pernikahan ini!"


Suri tertegun sendirian. Kakinya lemah seketika. Jangan tanya bagaimana deburan jantung yang lebih mendominasi.


"Maksud mu apa?" Suri masih belum mengerti. Bertanya berharap ini hanya salah persepsi. Mungkin telinganya tak mendengar dengan baik mengingat ia baru bangun dari tidur nyenyak-nya.


"Aku ingin pernikahan ini di akhir! Tak ada penjelasan? Aku hanya ingin kita berpisah." ucap Sky menjelaskan.


Suri Tersenyum ketir sambil menahan air matanya yang sial siap meluncur keluar.


Tahan Suri. Kumohon tahan Jangan menangis. Jangan menangis, kamu harus kuat. Kamu kuat.


Tak lama Suri mengangguk cepat. Tersenyum penuh ketenangan. "Baik! Kalau itu mau, Aku Terima."

__ADS_1


__ADS_2