Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)

Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)
Seharusnya Kamu Berpikir Terlebih Dahulu


__ADS_3

Sky mengangguk datar. Berbalik setelahnya tanpa merasa bersalah atau penasaran atas Suri yang dengan lapang dada menerima permintaannya. Kakinya berjalan meninggalkan Suri yang masih berdiri di ambang pintu kamar dengan wajah pucat.


Dalam langkah tegap. Sky menatap kosong. Matanya berkaca-kaca seakan menyesali apa yang sudah di katakan. Tapi untuk berbalik dan kembali menemui sang istri terasa sulit. Mungkin gengsi segede gunung menghalangi niatnya itu.


Dia menerima dengan mudahnya. Apa aku tidak salah dengar.


.


Suri tertegun tak bersuara. Menatap lurus kepergian Sky yang mulai menjauhi pelupuk mata. Dunia seakan runtuh hari itu juga. Batin dan raganya terkoyak hebat. Keputusan Sky sudah membuat dirinya kiamat sendirian.


Di ambang pintu kamar. Tubuhnya ambruk. Beruntung tak ada siapapun di sekitar jadi Suri dapat menangis menumpahkan kemalangan yang baru saja terjadi..


"Aku terima! Aku terima!" gumamnya tanpa suara. Ingin rasanya berteriak dan mengejar Sky meminta penjelasan yang lebih detai kenapa dirinya meminta berpisah di saat ada benih yang bersarang di rahimnya. Keturunan Barata yang kelak akan meneruskan tonggak kekuasaan keluarga nomor satu di negara besar itu.


Hiks...hiks...hiks...." Sky, kamu jahat! Hiks...hiks....Kamu jahat!"


Tak seorang pun ada yang melihat bagaimana Suri terisak seorang diri di ambang pintu kamar. Sky yang menjadi pelaku utama sibuk melancarkan aksinya di dalam kamar dengan cara mengobrak-abrik semua benda yang ada di sana melampiaskan kemarahan yang semakin menggila.


"Aku muak! aku muak dengan semua ini!" Suara memekik itu terus terngiang mengisi dalam kamar dan tak lupa suara barang yang di lempar.


Di luar itu tak akan ada yang mendengar bahkan Nyonya Rose dan Tristan terlelap tanpa gangguan.


Setelah puas. Sky meringsek di atas pecahan kaca dari gelas dan beberapa bingkai foto dirinya dan Suri. Tangannya yang bergetar memungut Poto yang mana menampilkan dua anak manusia, keduanya tersenyum dengan ekspresi wajah datar.


Sky menatapnya lama dengan derai air mata. Tak ada kata. Sky sibuk menengok bagaimana Suri sang istri.


"Kamu bahkan tanpa bertanya terlebih dahulu Kenapa aku ingin mengakhiri pernikahan ini! Kenapa Suri? Kenapa? Jawab aku?"


Poto itu ia remas penuh dendam.


"Kau akan menyesal Suri."


.


Plak....


Satu tamparan mendarat di pipi Sky. Mengejutkan Suri dan Tristan.


"Kamu keterlaluan Sky." kata Nyonya Rose. Menunjuk wajah Sky murka.


Suri terisak di samping Tristan.


"Aku dan Suri sudah tidak cocok lagi." kalimat yang berulang terus Sky katakan.


Pagi buta Sky sudah membuat onar. Sarapan yang seharusnya nikmat kini berubah mencekam.


Tanpa rasa bersalah atau ketakutan. Sky lantang memberi tau keputusan untuk menceraikan Suri kepada ibu dan Kakaknya..


"Keputusan yang tidak bisa di ubah!" ucapnya tegas.


Nyonya Rose mengangguk dengan mata memerah. "Kalau itu mau mu Mama tidak akan melarang! Lakukan jika itu benar. Tapi ingat satu hal. Kamu akan menyesal karena sudah merelakan Suri pergi dari hidupmu!"


Lalu Nyonya Rose menghampiri Suri. Menarik lembut tangannya sembari mengusap pipinya yang basah. "Jangan buang air mata berharga ini sayang, Mama akan tetap menjadi Mama mu. Walaupun kamu bukan lagi istri Sky."


Suri mengangguk dengan isak tangis. Tubuhnya bergetar hebat tak terkendali karena terlalu kuat menahan tangisnya.


"Kemari-lah Nak." Nyonya Rose mendekap tubuh Suri. Memeluknya erat. "Maafkan Mama. Mama tidak bisa berbuat apa-apa." bisik Nyonya Rose yang amat terluka.


Suri mengangguk saja tanpa bisa bersuara.


Sky yang ada di sana tak mampu mengangkat kepala. Untuk menatap Suri rasanya sulit.


Aku tidak menyesal! Aku tidak menyesal.


Batin Sky berusaha kuat.


Tristan melirik tajam sang adik. Tangannya mengepal kuat melihat bagaimana adiknya sudah melampaui batas.


"Sky, mungkin Kakak tidak bisa berjalan tapi Kakak juga kakak mu. Di mata mu Kakak sama sekali tidak ada harganya. Terdengar menyakitkan tapi memang itu kenyataannya. Aku dan Mama juga tidak bisa melarang kamu dan Suri untuk berpindah! Aku senang karena mungkin dengan kalian berpisah, Suri bisa hidup tenang! Tapi kamu harus ingat? Kamu dan Suri akan resmi berpisah setelah pengadilan mengetuk palu. Menunggu hari itu tiba. Suri masih berhak tinggal di rumah ini bukan begitu Ma?" Tristan melirik Nyonya Rose yang masih betah mendekap Suri.


Kepala Nyonya Rose mengangguk antusias.


Sembari menyudahi pelukan hangat itu Nyonya Rose berkata. "Itu benar! Suri akan tetap tinggal di rumah ini bersama Mama dan Kak Tristan. Sampai hari itu tiba kamu boleh pergi." Lalu Nyonya Rose meraup kedua pipi Suri. Ia angkat menyelipkan senyuman lembut. "Jangan membantah. Mama ingin tetap kamu tinggal di sini sampai kalian berpisah. Suri, ada cucu Mama di rahimmu, Jadi kamu tidak bisa pergi begitu saja. Tapi-


Nyonya Rose melirik Sky yang mematung tak bersuara. "Kalau Sky merasa tidak nyaman ada Suri di sini. Sky bebas pergi dan tinggal sendirian seperti keinginan Sky."

__ADS_1


Sky mengerutkan kening tak suka. Tapi dirinya masih tak memberi respon apapun. Sky malah melenggang pergi meninggalkan ruang tengah membawa wajah murung dan pipinya yang memerah akibat tamparan dari sang Mama.


Nyonya Rose dan Tristan tersenyum dalam diam. Sedangkan Suri menampakan wajah murung.


.


Satu Minggu berlalu.


Gugatan cerai yang di layangan Sky tengah di proses di pengadilan. Sky meminta untuk tidak membuang waktu apalagi menambahkan agenda mediasi. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Di lain sisi Sky menyesal karena sudah meminta mengakhiri pernikahan dengan Suri. Tapi di saat penyesalan datang bayang-bayang ucapan Suri kala di taman terus menghantui, bahkan lamanya waktu tak membuat bayangan itu menghilang.


Sky juga memutuskan pergi dari mansion untuk menghindari Suri yang kini kembali menjadi Nona muda Barata. Nyonya Rose dan Tristan tak menghalangi Sky pergi.


"Pintu utama akan selalu terbuka untuk mu Sky."


Ucap Nyonya Rose kala Sky pergi tiga hari yang lalu. Sky memilih tinggal di salah satu rumah yang letaknya lumayan jauh dari Mansion.


Kepergian Sky mampu membuat suasana mansion lain. Lebih hangat dan menyenangkan. Tak ada lagi ketegangan di setiap harinya. Itu yang di rasakan para pelayan. Tapi lain dengan Nyonya Rose dan Tristan, mungkin ibu dan anak itu baik-baik saja di luar tapi lain dengan lubuk hati terdalam. Menyimpan kesedihan begitu besar.


Suri yang tak lagi menjadi pelayan di sana menghabiskan waktu setiap harinya dengan melamun dan kehampaan. Rasa bersalah atas perginya Sky tak bisa di elak. Tapi mau bagaimana lagi saat ini dirinya harus tetap di mansion sampai waktu itu tiba.


Waktu di mana aku dan Sky bercerai.


Suri menghela napas berat. Memandang kosong langit yang cerah ke biru-biruan. Di ambang jendela kamar Suri betah berdiri melupakan makan siang yang sudah di siapkan.


Saat ini Suri tengah berada di kamar yang sama. Kamar tamu tepatnya. Suri tidak ingin pindah ke kamar manapun apalagi ke kamar Sky. Kebahagiaan seolah direnggut dan terhisap masuk kedalam kamar mewah itu.


"Tidak ada alasan untuk aku menempati kamar itu. Lagipula aku dan Sky akan berpisah." Mengatakan itu Suri mulai berkaca-kaca. Tak sanggup mengingat wajah Sky yang terus menerus menggoda imajinasinya. Seakan meminta bertemu dan memperjelas semuanya sebelum waktunya habis. Tapi gugatan yang di layangan sudah membuat Suri patah arang. Pintu hati sudah tertutup.


Melamun adalah agenda Suri saat ini. Tapi seketika wajah kosong itu kini berubah ceria. Suri duduk tergesa-gesa. Ia merentangkan tubuhnya. Pandangan tertuju pada area perut yang kini mulai menyembul.


"Itu bukan lemak perut kan?" Hahaha...Suri tertawa kecil. Tak tau lagi kenapa perutnya yang rata kini mulai menonjol.


"Kemarin Dokter Kamla mengatakan kamu sehat. Semoga selalu seperti itu sampai kita bertemu." Suri mengelus perutnya perlahan seakan tidak ingin mengganggu si kecil yang baru menginjak usia dua bulan.


"Ukuran mu mungkin sebesar anggur."


Kemarin, Nyonya Rose membawa Suri periksa. Dokter Kamla menjadi tujuan Keduanya.


Tak ada dendam yang di bawa Suri ketika menemui Dokter Kamla. Suri menerima lapang dada kejadian yang berlalu itu. Tidak ada gunanya juga menaruh dendam sesama manusia. Tapi ketika Nyonya Rose pamit ke toilet. Suri mengatakan sesuatu.


Dokter Kamla merenung dengan wajah sendu.


"Maafkan saya Nona. Mungkin ini semua karena saya."


Suri menggeleng cepat. Walaupun hatinya meyakini bahwa ini semua karena dokter Kamla yang memintanya untuk berbohong tentang kehamilannya. Sumber dari semua masalah yang terjadi sampai Sky marah.


"Bukan Dokter. Kami merasa sudah tidak lagi satu jalan."


Dokter Kamla menghampiri Suri yang tengah berbaring. Ia berbisik. "Jika anda membutuhkan bantuan. Saya siap Nona."


.


Suri tertegun sendirian mengingat kejadian kemarin siang di rumah sakit. Ucapan Dokter Kamla membuat jantungnya berdetak kencang.


"Memang apa yang bisa Dokter Kamla lakukan untuk ku?"


📳


Di tengah lamunan yang nyata. Suri terperanjat ketika ponselnya berdering nyaring..


Tanpa kata Suri menyambar ponsel itu. .


"Melodi!" Suri sumringah. Segera mengangkat panggilan dari Melodi.


"Melodi!" panggil Suri antusias.


"Halo Suri!"


Percakapan mereka terus berlanjut. Menanyakan kabar masing-masing dan saling bertukar informasi tentang dunia luar.


"Yah, begitulah." seru Suri lemas.


Sepertinya, Sky sudah memberi tau Jason dan Daren.


Pikir Suri karena Melodi sudah mengetahui kehamilannya dan kabar buruk lainnya.

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa Suri?" tanya Melodi di sebrang telepon.


Suri berusaha kuat. Bibirnya melengkung tersenyum. "Aku baik-baik saja. Cepat katakan bagaimana keadaan di kampus! Aku ingin pergi ke sana. Tapi sepertinya aku tidak bisa-


"Aku tidak tau. Suri? Aku akan meninggalkan kota ini?"


Senyuman manis yang terus di lukis kini menghilang. Suri mencerna ucapan Melodi barusan. "Kamu mau pergi?" tanya Suri lemas.


"Iya. Aku akan melanjutkan studi ku di lain kota."


Di akhir percakapan Melodi berpesan.


"Kalau kamu butuh bantuan apapun hubungi aku! Nomor telepon ku akan selalu aktif. Kamu jangan ragu-ragu jika membutuhkan aku Suri. Hari ini aku akan pergi. Oh iya, selamat atas kehamilannya. Ingat Suri kamu tidak sendirian."


Suri yang menangis tersedu mengangguk. "Jangan lupakan aku Melodi."


"Hahaha...Tidak akan Suri. Kamu adalah sahabatku."


hiks..hiks....


Suri menangis setelah panggilan terputus. Kepergian Melodi untuk mencari kehidupan di luar sana sudah menambah keterpurukan di hidupnya.


📳📳📳


Lagi ponselnya berdering. Suri melirik siapa yang menghubunginya.


"Sky?" ucapnya datar. Dengan masih menangis Suri mengangkat panggilan itu.


Kenapa Sky menelepon ku? Selama ini dia tidak pernah melakukan itu.


"Halo." Suri berusaha tenang dan menahan suara tangisan.


"Aku pikir kamu tidak akan mengangkat panggilan dari ku!" hardik Sky seperti biasa.


"Apa mau mu?" Suri bergegas bertanya karena ia tidak mau Sky mendengar suara tangisannya.


Jangan sampai dia mendengar aku menangis. Aku tidak mau sampai dia mengira aku menangis karena dia.


"Mama menghubungi ku kemarin, memberi tahu kalau kamu di bawa ke rumah sakit."


Suri diam mendengarkan.


"Bagaimana kondisinya?"


"Siapa yang kamu maksud?" Suri mulai bersuara dingin tak suka ketika Sky bertanya tentang si janin dengan nada acuh.


"Bayi kita!"


Cih .."Bayi kita? Sekarang kamu mengakui dia bayi mu?"


"Katakan apa dia baik-baik saja?" Suara Sky mulai tinggi di sana.


"Dia baik, semua baik. Sekarang apa lagi yang akan kamu tanyakan? Aku akan berusaha menjawab dengan benar."


Sky masih belum bersuara. Begitu juga Suri.


Terlihat keduanya egois dan mementingkan ego tanpa ada yang ingin mengalah.


"Kalau tidak ada yang ingin kamu katakan, aku akan tutup."


"Apakah! Apakah kamu ingin aku mencabut gugatan itu!" ucap Sky lirih di sebrang telepon.


Suri tertegun dengan ponselnya yang hampir saja ia akhiri.


Apa dia menyesal. Tapi tidak, untuknya pernikahan hanya sebuah permainan.


"Tidak! Jangan lakukan! Aku akan menerima keinginan mu Sky. Mungkin benar berpisah adalah keputusan yang baik."


"Suri? Kalau aku egois aku minta maaf. Maaf atas semua perilaku buruk yang sudah aku lakukan kepada mu. Tidak kah kamu mengerti kalau aku tengah kecewa, dan di taman-


"Cukup Sky. Aku tidak mau mendengar apapun dari mu. Seharusnya sebelum kamu mengambil keputusan. Kamu berpikir terlebih dahulu, aku tidak akan meminta penjelasan kenapa kamu meminta berpisah, karena aku tau pernikahan ini awalnya hanya perjanjian saja. Sekarang Papa Diki dan Papa ku sudah tidak ada. Jadi kamu bebas jika ingin melakukan itu. Toh lambat laun kamu dan aku akan tetap berpisah-


Tut....Tut..


Sky menutup panggilan tanpa pamit. Suri terdiam dari katanya yang masih belum usai itu.

__ADS_1


"Kamu pengecut. Kamu pengecut Sky."


__ADS_2