
Di ruang ICU RS setempat. Dokter tengah berjuang untuk menyelamatkan Tuan Diki yang mana masih belum sadar. Alat pacu jantung terus menekan dada Tuan Diki yang polos.
"Dokter, detak jantungnya semakin melemah!" seru Suster mengagetkan.
Dokter tak langsung menghentikan tindakan. Dirinya terus berjuang untuk menyelamatkan Tuan Diki.
"Ayo tuan. Ayo!" Gumam si dokter dari dalam masker.
.
Di luar. Nyonya Rose yang di temani Tristan tak hentinya menangis. Meraung dalam doa meminta sang kuasa menyelamatkan nyawa si belahan jiwa.
"Ma, Tristan mohon tenang. Papa akan baik-baik saja."
Tristan terus memberi kekuatan di saat dirinya juga merasakan kekhawatiran. Bayangan sang Papa tak selamat terus menari dalam pikirannya.
"Papa harus selamat.. Bagaimanapun Papa harus selamat!" Tristan menatap dalam ICU dengan mata berlinang. Air mata terus menetes dari matanya.
Kejadiannya begitu cepat. Ketika tengah menikmati sensasi sejuknya udara pagi di depan balkon hotel. Tuan Diki tiba-tiba tersungkur dan itu mengagetkan Tristan dan Nyonya Rose yang mana mereka tengah asik menikmati hidangan di malam itu.
Tidak ada hal yang mencurigakan dari sikap atau perilaku Tuan Diki. Kala itu semua berjalan seperti biasanya.
Menghabiskan hari-hari di pantai Wakiki di nikmati si pemilik Barata company itu. Tapi kenapa tiba-tiba sekarang berada di ruang ICU.
"Ya tuhan tolong selamatkan suamiku. Hiks...hiks...Aku mohon."
.
__ADS_1
Di sisi lain.
Sky dan Suri langsung meninggalkan peternakan. Daren dan Jason memilih menunggu kabar dari Sky.
"Kenapa jadi begini!" seru Jason tak percaya.
Daren dan Melodi menatap kosong sekitar perkebunan. tak merespon ucapan Jason. ketiganya Masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
"Kita berdoa saja semoga Tuan Diki baik-baik saja."
Kepala Jason dan Daren mengangguk sembari mengusap kata. "Amin."
.
Sky dan Suri tanpa kata meluncur ke bandara.
Berbarengan dengan itu. Telepon Suri berdering.
"Mama!" kata Suri. Ia langsung mengangkat panggilan sang Mama dengan tangan bergetar. Suri juga sekalian ingin memberi tahu keadaan sang Papa mertua dan juga keberangkatannya ke Hawai yang mendadak itu.
Di samping Suri, Sky tak karuan. Dirinya jelas tak tenang apalagi suara Isak tangis Mama Rose terus terngiang. Ingin rasanya segera Sampai di Hawai dan menenangkan sang Mama.
Pa, Sky datang. Pa, Sky mohon bertahan. Papa harus terus hidup dan melihat Sky.
Sky berdoa dalam hati sampai air matanya mengalir. Tak ingin terlihat lemah di depan Suri. Sky langsung mengusap pipinya yang basah. Ia menoleh ke luar jendela. Tak melihat Suri yang sibuk dengan ponselnya.
Suri meletakan ponsel ke satu sisi telinga.
__ADS_1
"Halo-
"Suri, cepat kesini! Papa kecelakaan!"
Seketika wajah Suri yang tegang semakin tegang.
"Apa!" kata Suri tak percaya. Semua orang yang ada di dalam pesawat menatapnya bingung.
Sky langsung menggerakkan kepalanya. Menatap Suri heran.
"Kamu kenapa?" tanya Sky datar.
Suri menoleh kearah Sky dengan wajah sedih.
"Papa! Papa kecelakaan!"
"Apa! Papa kamu kecelakaan?" Sky melongo mendengar berita yang di katakan Suri tentang Papa mertuanya.
Hiks...hiks..." Papa!"
Suri mulai menangis. Kebingungan dengan keadaan yang ada.
Sky mengacak-acak rambutnya dan mengusap kasar wajahnya.
"Kamu jangan nangis! Sekarang kamu turun! Aku akan pergi sendiri" Sky memeluk Suri dan mengecup keningnya sebagai tanda perpisahan.
Hiks...hiks..." Aku pergi!"
__ADS_1