
Para pelayan segera berhamburan naik ke lantai atas setelah Suri menekan tombol alarm yang ada di kamar Sky. Sebenarnya semua kamar utama mempunyai tombol itu untuk memudahkan mereka mengabarkan sesuatu hal yang genting.
Sudah lama sekali para pelayan tidak mendengar bunyi nyaring itu. Pelayan yang tadi memberikan kunci kepada Sky sudah menebak kalau apa yang di pikirannya adalah benar.
Sky demam.
Untung aku sudah menghubungi dokter.
.
"Sky, ayo bangun?" Suri ketakutan. Terus menepuk pipi Sky yang lebam. Tak terasa dirinya menangis di samping Sky.
Suri membalik Sky yang tadi tertelungkup menariknya naik keatas ranjang. Menyelimuti Sky dengan nyaman di tepatnya berbaring. Mata Sky tertutup rapat, Suhu tubuhnya panas bermandikan keringat.
"Sky!" Suri terus menerus mengguncang tubuh Sky. Takut terjadi sesuatu pada Sky. Suri mengabaikan rasa marah atas apa yang terjadi. Saat ini Sky pingsan dan tubuhnya terlihat menyedihkan.
Suri baru melihat itu. Sedari tadi dirinya terus berpaling tidak sudi melihat wajah lebam sang suami.
Pintu kamar di ketuk. Suri langsung berlari dan membuka pintu.
"Nona!" Wajah para pelayan terlihat khawatir. Sky tidak pernah sakit sebelumnya.
Tuan Sky selalu nampak sehat dan segar di setiap harinya. Tapi sekarang dia sakit.
Batin para pelayan. Sebagian pelayan sudah bekerja sebelum Sky lahir ke dunia. Jadi sudah tau bagaimana Sky.
Bagi mereka yang mengenal Sky, Bukan hanya manusia yang takut padanya. Tapi penyakit pun seakan enggan mendekat.
"Sudah panggil dokter?" Tanya Suri. Raut wajahnya pucat karena takut.
"Sudah Nona! Mungkin sebentar lagi datang." Si pelayan yang tadi menjawab.
Suri mengangguk.
__ADS_1
"Mama dan Papa Mana?" Tanya Suri lagi. "Tristan? Apa mereka belum kembali?" Lanjut Suri.
"Tuan besar dan Nyonya tidak pulang Nona. Begitu juga Tuan Tristan."
Suri menghela napas lega. Kepalanya mengangguk pelan.
Itu bagus. Lebih baik mereka tidak tau.
"Nona Suri! Biar saya hubungi-
"Jangan-jangan!" Seru Suri lantang. Kedua tangannya mengibas.
Para pelayan saling tatap karena bingung.
"Kenapa Nona Suri tidak mengizinkan kita menghubungi Tuan besar?"
Bisik para pelayan. Dan itu terdengar Suri. Hal itu akan menimbulkan salah paham. Maka dari itu Suri bersuara.
Suri melanjutkan. Seketika merubah raut wajahnya menjadi semakin sedih.
"Tidakkah kalian kasian dengan majikan kalian kalau sampai mereka tau Sky pingsan? Mereka akan langsung datang dan urusan mereka pasti berantakan! Kalian tidak mau bukan?"
Kepala para pelayan menggeleng cepat.
"Nah maka dari itu. Kita urusan saja Sky! Tidak usah menghubungi tuan dan nyonya, ok?" Suri menatap para pelayan dengan tatapan sendu. Menghipnotis para pelayan. Buktinya kepala mereka mengangguk patuh.
Suri tersenyum manis.
Selamat.
Batinnya lega. Kepala Suri melirik Sky membawa wajah datar.
Ternyata manusia seperti kamu juga bisa sakit! Aku pikir Penyakit tidak sudi mendekat.
__ADS_1
.
Dokter yang di tunggu datang.
Suri senantiasa menemani Sky. Duduk di sampingnya untuk memperlihatkan perhatian lebih.
"Bagaimana Dokter?" Tanya Suri. Menatap lekat si Dokter.
Dokter mengangguk. Tapi sebelum itu dirinya melepaskan stetoskop dari kedua telinga.
"Tidak apa-apa! Tuan Sky hanya demam biasa! Di kompres saja Nona. Nanti kalau sudah sadar tolong berikan obat ini!"
Suri menerima kemasan obat.
"Terimakasih Dokter."
"Baik Nona saya permisi!" Mohon hubungi saya kalau besok suhu tubuh Tuan Sky masih belum turun." Si Dokter itu membungkuk. Tersenyum untuk menyamarkan wajah lelahnya.
Dokter berusia 40 tahunan itu sudah menjadi dokter keluarga Barata 8 tahun terakhir. Sebelumnya sang ayah yang menjadi dokter keluarga Barata. Tapi semenjak sang ayah meninggal. Dirinya harus menggantikan posisi itu. Jam berapapun dirinya di butuhkan keluarga Barata. Kakinya harus segera berlari. Seperti dini hari ini. Telepon berdering dari Mansion tuan Diki. Tidak bisa menolak karena itu adalah tugas.
Dokter meninggalkan kamar Sky di ikuti beberapa pelayan.
Suri meletakan obat di samping meja. Menyelimuti Sky. Merapihkan bajunya tanpa sadar.
Kamu demam! Sky.
Batin Suri. Menatap Sky sendu.
Kepala pelayan melangkah menghampiri ranjang.
"Nona haruskah kami menemani anda ?"
"Apa?" Suri menatap si pelayan tak percaya.
__ADS_1