
Tuan Diki bersama sang istri dan Tristan menunggu di luar teras Mansion dengan wajah murung. Nyonya Rose tak hentinya menangis jika mengingat Suri yang masih belum di temukan.
Ketiganya menunggu kedatangan kedua besan dan ayah Melodi yang katanya masih dalam perjalanan.
Kabar buruk itu seperti petir yang datang di tengah hari cerah. Begitu mendadak. Kepanikan terus menggelayut di benak mereka yang mendengar kabar itu. Semua orang yang mengenal Suri dan Melodi tak hentinya menangis dan di selimuti rasa khawatir. Tak percaya dengan keadaan mendadak itu.
Keluarga dan para saudara saling menguatkan sembari menunggu kabar selanjutnya.
Teman-teman Melodi yang beranggotakan empat wanita cantik itu terus melantunkan doa untuk keselamatan sang kepala geng girls Barata. Tak lupa juga para mahasiswa yang masih berada di kapal pesiar melakukan doa bersama sebelum mereka besok pulang dan awak kapal akan lebih fokus mencari Suri dan Melodi.
.
Gerbang di buka.
Mobil hitam masuk kedalamnya. Beberapa saat kemudian mobil lain datang.
Tuan Diki segera bangkit dari duduknya. Melangkah menghampiri kedatangan kedua besannya.
"Tenangkan dirimu, Nena." Tuan Chris merangkul Nyonya Nena yang tak berhenti menangis. Berjalan bersama dengan wajah ketakutan.
Ketika mendapatkan kabar Hilangnya Suri. Nyonya Nena sempat tak sadarkan diri. Dan untuk bisa datang ke kediaman Tuan Diki yang terhormat, Nyonya Nena harus menyeret kakinya yang tak sanggup berjalan. Terlalu takut untuk menghadapi kenyataan menyeramkan itu. Tapi Tuan Chris sang suami selalu menguatkan.
Tuan Chris berusaha tenang dan kuat. Tapi ingat, dirinya seorang ayah yang akan lemah ketika putri kecilnya dalam bahaya. Melihat bagaimana istrinya lemah membuat Tuan Chris berusaha tegar. Walupun begitu batinnya menangis amat sangat.
"Mari Tuan Chris." Tuan Diki menyabut kedatangan kedua besannya ramah. Mengajaknya masuk.
"Kenapa bisa Suri melompat dari kapal pesiar?" Tanya Tuan Chris. Wajahnya pucat saking terkejutnya.
"Mari kita masuk dulu." Tuan Diki mengangguk kecil sembari menatap Tuan Chris sendu.
Tuan Chris mengerti.
Mereka masuk kedalam mansion. Tak lama Ayah melodi datang seorang diri.
Dan mereka bergabung di ruang tengah.
.
__ADS_1
.
Para mahasiswa baru saja selesai melakukan doa di ruang aula kapal pesiar. Setelahnya mereka melangkah dengan berat. Tak ada senyum di wajahnya mereka. Rasa khawatir atas hilangnya Suri dan Melodi terus menggerogoti batin mereka.
Kepala mereka menunduk. Melewati Sky yang masih berdiri bersama kedua sahabatnya.
Kebahagiaan, suka cita dan rencana pesta kini berganti. Mereka di paksa untuk meninggalkan kebahagiaan itu demi berempati. Setidaknya kepada Sky yang sedari kemari murung.
"Aku kasian melihat,Sky."
"Dia sepertinya menyesal! Kemarin dia meminta kita untuk mempermalukan Suri."
Bisik para mahasiswa yang mulai meninggalkan aula. Kini benak mereka di selimuti perasaan bersalah karena sudah melemparkan makanan ke tubuh Suri. Walaupun itu perintah Sky. Tapi entah kenapa rasanya tidak benar.
Tamara di rangkul Lolita yang juga tersedu menangis. Berjalan bersama menuju kamar mereka.
Melodi selalu menjadikan dirinya di puncak ketenaran, Berpijak di tubuh mereka yang selalu membernarkan keputusan sang kepala geng. Dalam benak keempat wanita itu. Terasa menyakitkan ketika Melodi selalu memerintah dengan nada suara memekik. Tapi Melodi adalah gadis yang baik. Penuh perhatian. Melodi hanya butuh perhatian dan kasih sayang. Mengingat itu Keempatnya kembali menangis dalam diam. Berharap Melodi segera di temukan sebelum kapal pesiar meninggalkan lautan.
.
.
Sky terkulai lemas. Segera menjatuhkan bobot tubuhnya ke atas kursi.
Jason dan Daren sigap mengambilkan air untuk Sky.
Daren menyodorkan air kemasan.
"Minum, Sky."
" Sky kamu harus tenang." Jason menguatkan. Menepuk pundak yang sahabat yang terasa kaku.
Sky mengambil kemasan air itu pelan. Mencengkeramnya kuat sampai air itu menguap dan tercecer.
Lalu Sky membanting kemasan itu alih-alih meminumnya.
"Bagaimana aku bisa minum di saat Suri masih belum di temukan." Pekik Sky. Napasnya terengah-engah merasakan kemarahan yang luar biasa.
__ADS_1
Sudah dua hari Suri Menghilang. Dan selama itu juga Sky tidak makan atau minum! Dirinya seperti mayat hidup. Tak hentinya turun ke laut mencari sang istri. Tapi laut selalu pasang. Sky bisa saja memaksakan diri tapi dirinya tidak sendiri! Ada puluhan orang yang harus tetap hidup.
Meja yang ada di dekatnya, Sky dorong sampai terguling tak terarah.
"Bodoh, Bodoh! Aku memang bodoh. Kenapa aku bisa se-marah itu. Kenapa aku bisa mempermalukan dia. Kenapa!" Sky berteriak lagi. Mengacak-acak rambutnya dan menariknya kuat.
Jason dan Daren mundur perlahan. Membiarkan Sky mengeluarkan semua kemarahannya. Tidak ada gunanya mengajak Sky berbicara di saat seperti ini.
"Jason?" Daren melirik Jason yang ada di samping.
Jason melirik Daren lewat tatapan datar.
Daren bersuara lagi. "Besok kapal pesiar akan kembali."
"Terus?" Tanya Jason lagi datar.
Daren mendesah berat.
"Apa kamu akan tetap di sini?"
Jason segera mengangguk tanpa ragu-ragu. Membuat Daren melongo.
"Are you serious?" Daren tak percaya. Wajahnya kaku mendengar jawaban Jason.
Jason kembali menatap Sky dan Daren mengikutinya.
"Lihat dia? Dia tidak akan pergi dari sini. Sedangkan Suri masih belum di temukan."
Jason kembali menatap Daren.
"Apa kamu tega meninggalkan Sky disini sendirian!" Kepala Jason menggeleng. "Tidak, Daren, aku tidak akan pernah meninggalkan Sky. Kalau kamu mau." Tangan Jason menjulur.
"Kamu boleh ikut mereka. Tapi aku akan tetap di sini." Lalu Jason meninggalkan Daren.
Daren menjadi salah tingkah. Dirinya seperti pengecut padahal Sky tengah butuh dukungan.
Daren menggaruk-garuk kepala, Mengusap wajahnya kasar. "Astaga, Daren,"
__ADS_1
.
.