Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)

Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)
Serangan Mendadak


__ADS_3

"Beri aku penjelasan?" lagi Sky menuntut atas Tristan yang diam tak bersuara. Menyelidik lewat tatapan mata tentang Suri yang di carinya.


Tristan mengangguk sembari menyunggingkan senyuman kecut. Melihat tatapan sang adik yang cukup tajam.


"Kamu tidak ingin tau cerita ku?"


"Cerita yang mana?"


Tristan menghela napas lalu berdiri. "Bagaimana aku bisa berjalan dan tidak lumpuh lagi." ucapnya penuh penekanan, memperlihatkan betapa Sky seolah acuh terhadapnya.


Sky menggelengkan kepala mantap. "Lain kali saja. Sepertinya Mama yang seharusnya mendengar cerita mu Kak."


Tiba-tiba Tristan mematung. Dirinya melupakan sang Mama yang sudah di bohongi.


"Cepat kak, aku tidak ada waktu."


"Ok baiklah." Tristan kembali duduk sembari bergumam. "Aku melupakan Mama."


Aku harus mulai dari mana? Maksud ku, bagaimana membela Kamla di situasi ini.


Tristan yang di buru penjelasan mulai bercerita tentang niatnya mencari Suri.


Sky mendengarkan penjelasan dari Tristan. Guratan wajah nampak jelas ketidak percayaan sedari awal. Sky tak henti menggelengkan kepala. Seolah tak percaya dengan apa yang di katakan Tristan kepadanya tentang Suri.


"Kamla mengatakan kalau Suri sangat ketakutan, dia takut kamu akan memaksanya lagi." tanpa syarat, Tristan mengerti apa yang di takutkan Suri kala itu.


"Kamu sudah memaksanya,"


"Iya.. tapi," amarah membuncah membuat Sky tak bisa berbicara. Sky sibuk dengan dunianya yang penuh rasa bersalah.


"Kakak mohon. Jangan lukai Kamla, dia hanya melindungi Suri dan anak mu. Setidaknya anakmu selamat-


"Iya tapi ga begini juga kak, aku dan Suri bercerai di saat dia mengandung anak ku. Astaga, anak ku masih hidup."


Sky luput dalam ketidak percayaan. Memandang kosong area kamar Tristan dengan kepala pening. Wajah Suri yang di cintai semakin nyata terlihat.


"Suri, kamu begitu jahat padaku, rasa cinta ku selama ini hanya harapan tak berarti. Aku benar-benar membencimu."


Lalu Sky beranjak meninggalkan sofa. Tristan mengejar tak ingin tertinggal. "Sky, kamu jangan katakan itu." tangan Tristan mencegah Sky melewati daun pintu kamar.


Sky menghempas tangan Tristan dari pundaknya. "Dia pergi bersama anakku!"


"Kamu ga berhak marah Sky. Suri ketakutan karena perbuatan mu sendiri," Tristan mencengkram erat pundak Sky seperti memberi isyarat untuknya sadar.


"Suri dan calon istri mu sama saja. Aku membenci mereka berdua."

__ADS_1


"Itu bagus, dengan begitu aku akan menjadi musuhan mu!"


Mendengar itu. Sky berbalik. Bertukar pandangan dengan Tristan yang nampak santai.


"Apa sekarang saatnya aku dan kakakku sendiri menjadi musuh?" tanya Sky. Wajahnya yang sedikit berbulu begitu dingin dan arogan. Tatapan yang selama ini tidak ingin di lihat Tristan tapi sekarang keduanya berhadapan membawa perasaan bak benang kusut.


Tristan mengangkat kedua bahunya. "Apa boleh buat, aku harus membela Kamla calon istri ku. Kakak tidak akan takut melawan kamu, adik ku sendiri,"


Sky menyeringai. "Apa selama ini kamu berpura-pura lemah di hadapan semua orang termasuk Papa dan Mama?"


Tanpa ragu Tristan mengangguk.


"Wow, Kakak ku begitu luar biasa, menyembunyikan rahasia besar yang tidak di ketahui semua orang termasuk Papa, dan sekarang ingin melawan ku?" Sky melangkah maju. Mensejajarkan diri dengan Tristan yang lagi-lagi nampak tenang.


"Aku hanya ingin kamu tau, yang terlihat lemah belum tentu dia lemah. Menurut ku, keputusan Kamla dan perginya Suri adalah keputusan yang tepat, orang seperti mu. Tidak pantas mendapatkan gadis sebaik Suri. Kutukan hanya berputar di atas mu Sky, tidak padaku."


.


Di kamar, Nyonya Rose menikmati sentuhan hangat tangan para pelayan wanita yang memanjakan dirinya. Tiga tahun ia habiskan di mansion tanpa ingin pergi keluar atau sekedar menghabiskan waktu bersama kawan-kawan sesama Sosialita. Nyonya Rose mengubur diri dalam kehampaan. lebih memilih berkutat dengan rasa sedih tiada habisnya dari pada berbagi dengan Dunia. Tapi mungkin sekarang hatinya mulai luluh. mulai lapang terhadap Sky si bungsu yang tampan itu. Tapi terlalu gengsi untuk memintanya datang berkunjung ke mansion sekedar menanyakan kabarnya yang pastinya baik-baik saja.


Nyonya Rose tak tau kalau sekarang kedua putranya tengah bersitegang. Sampai satu pelayan masuk dengan wajah tak bisa di baca. Ia membawa nampan berisikan jus buah mangga yang di pesan.


"Silakan Nyonya." gelas tinggi berisikan jus di letakan di samping meja. Si pelayan mundur perlahan.


"Apa Tristan sudah sarapan?"


Ada tuan Sky di luar Nyonya.


Di ujung lidahnya kata itu siap di lontarkan tapi tidak? Nyonya besar tidak ingin mengetahui apapun tentang si anak bungsu untuk sekarang ini. Jadi si pelayan menenangkan diri.


Gelas di raihnya. Meneguk jus begitu anggun sembari menikmati pijatan di kaki yang tidak pernah berjalan jauh itu.


.


Sky mencengkram marah baju Tristan. Sedikit mendorong tubuhnya yang tinggi sampai membentur daun pintu.


"Kalau saja kau bukan Kakakku. Mungkin aku sudah menyakiti mu seperti aku menyakiti pelayan. Tapi tidak, aku tidak ingin melakukan itu. Sepertinya Mama yang harus menghukum mu, kita lihat? Apa wajahmu yang berani ini masih terlihat sama?" dengan seringai Sky menyeret tubuh Tristan keluar kamar, tujuannya adalah kamar Nyonya Rose.


Tristan menjadi ketakutan. Kini rahasianya akan di ketahui sang Mama sebelum waktunya. Tapi tidak ada celah untuknya mundur.


Aku memang takut. Tapi aku tidak bisa lari, suatu saat nanti rahasia ku akan di ketahui semua orang termasuk Sky dan Mama. Mungkin sekarang adalah waktunya.


Secara kebetulan, Dokter Kamla datang ia segera keluar dari dalam mobil lalu berjalan masuk kedalam mansion. Dengan wajah tenang kakinya melangkah tanpa tau kalau Sky datang dan tengah mengadili calon suaminya.


Aku selalu terjebak di situasi apapun. Tristan yang kini berkuasa atas karir ku dan hidup ku. Sekarang saja aku repot-repot datang hanya untuk membawa pesanannya. sandwich buatku yang dia hina kini dia ingin mencobanya lagi. Menyebalkan. Aku bahkan harus menunda jam praktek ku hanya untuk membawakan ini.

__ADS_1


Dokter Kamla ngedumel di tiap langkahnya. Mencaci Tristan hanya dalam benaknya tanpa terucap sedikit pun dari bibirnya. Terlalu takut atau mungkin ingin berjaga-jaga. Semalam tepatnya, Tristan meminta di bawakan sarapan seperti sebelumnya. Dalih ingin mengambil hati Nyonya Rose sang calon mertua malah membuat Tristan ketagihan atas masakan yang di buatnya dan kini terasa merepotkan.


Kalau saja kami akan menikah atas dasar suka sama suka. Aku mungkin akan sangat bahagia.


"Dokter Kamla?"


Dokter Kamla segera berhenti berjalan. Kakinya yang siap masuk kedalam lift terhenti ketika kepala pelayan menyapanya.


"Saya ingin membawakan sarapan untuk Tris- Eh, maksud saya Tuan Tristan."


Kepala pelayan tersenyum datar lalu mengangguk. "Mari Dokter."


.


"Sky? Lepaskan aku, kamu tak usah repot-repot menyeret ku." Tristan sedari tadi terus memberontak. Bukan ingin kabur dan menghindari Nyonya Rose tapi cara Sky menyeretnya sungguh sangat memalukan.


"Ok baik." Sky segera melepaskan Tristan. "Masuk Kak." Sky mempersilahkan Tristan masuk kedalam kamar sang Mama terlebih dahulu.


Dengan wajah dingin, Tristan membuka pegangan pintu dan bersiap masuk. Akan tetapi.


Dokter Kamla keluar dari dalam lift bersama kepala pelayan. Kepalanya yang menyembul mengundang perhatian Sky dan Tristan..


Wajah kedua kakak beradik itu terlihat berbeda. Sky tersenyum bengis. Sedangkan Tristan memejamkan mata sambil menghela napas berat.


Dokter Kamla mematung melihat Sky ada di sana bersama Tristan. Kakinya mendadak kaku dan sulit bergerak. Ingin berbalik dan keluar mansion tapi itu tidak akan pernah terjadi.


"Bukankah ini sebuah kebetulan? Benar kan Kak?" Sky tersenyum penuh kemenangan dan menunjukkannya kepada Tristan yang terlihat tidak berdaya.


"Mari Dokter Kamla, Mama ingin bertemu kalian." seru Sky, mengintimidasi calon kakak iparnya itu dengan senyuman manis.


.


Suri tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang berjejer rapih ke hadapan Demian. Jelas Demian menjadi panas dingin. Senyuman Suri sungguh menawan terlihat.


"Kenapa? Apa ucapan ku terdengar aneh?" tanya Demian, berusaha tenang di depan Suri calon kliennya.


Suri menggeleng segera. "Tidak, hanya saja terdengar lucu."


"Lucu?" Demian mengerutkan kening.


Suri menggelengkan kepala. Merasa tak enak dengan Demian yang terlihat kebingungan.


"Maafkan saya, saya tidak bermaksud." terkadang apa yang kita lakukan belum tentu orang bisa mengerti. Pikir Suri. Demian orang yang baru di kenalnya begitu mudah mengajaknya berteman. Satu yang Suri tau.


Dalam pertemanan akan sulit terwujud jika yang menjalaninya laki-laki dan perempuan. Suatu hari nanti akan tumbuh perasaan yang sulit di jelaskan. Dan aku menghindari itu. Bagiku, Sky adalah teman ku. Tidak ada orang lain.

__ADS_1


"Maaf, Tuan Demian. Saya menolak bantuan Anda. Saya sadar kalau menjauhkan putri saya dari ayahnya adalah hal yang salah!" Suri menatap Demian lekat tanpa memudarkan senyumnya yang manis itu. "Saya tidak akan melawan mantan suami saya! Itu keputusan saya."


__ADS_2