
Satu Minggu setelah kejadian mengerikan itu berlalu, semua orang bertingkah biasa saja seperti tidak ada yang terjadi. Si pelayan yang di hajar Sky masih berbaring di rumah sakit tidak ada tuntutan dari keluarga si pelayan yang Suri sendiri tidak tau siapa namanya. Suri hanya tau sedikit kabar dari ketiga pelayan yang selalu membantunya membersihkan diri selebihnya mereka tutup mulut.
Kedua mertuanya tidak melakukan apapun atau terkejut mengetahui kabar itu. Bagi penghuni mansion Tuan Diki itu hal yang biasa. Tapi bagi Suri itu adalah tindakan melanggar hukum.
Bagaimana bisa manusia yang sama seperti dirinya di perlakukan tidak adil. Kenapa tidak ada yang melaporkan kejadian itu.
Suri menatap Sky, sang suami yang saat ini tengah menikmati film kesukaannya. Ruangan bak bioskop menjadi pilihan Sky di sore itu. Suri benar-benar seperti burung dalam sangkar emas. Sudah satu Minggu mereka menikah dirinya dan Sky belum pernah melihat dunia luar. Ada apa dan tengah terjadi apa di luar Suri tidak tau. Memang tidak membosankan tapi rasanya aneh.
Suri bahkan belum menghubungi kedua orangtuanya atau menanyakan kabar sang Mama kepada perawat yang selalu dirinya andalkan. Suri terlalu takut untuk mendengar suara Nyonya Luna. Mengingat itu Suri menjadi murung. Pandangannya kini mengarah ke depan layar besar tapi tatapannya kosong tak terarah.
Selama satu Minggu masa pernikahan, Sikap Sky yang berwarna di mata Suri mulai menunjukkan tanda-tanda normal. Mereka tidak lagi tidur di kamar bercahaya merah itu. Suri dapat membuka mata tanpa merasa takut lagi. Ranjang besar yang ada di kamar Sky kini dapat dirinya tiduri. Akan tetapi. Sky tidak lagi menyentuh Suri seperti malam pertama. Entahlah Suri tidak merasa terganggu akan hal itu. Dirinya malah merasa senang karena dapat tidur nyenyak tanpa dekapan penuh sesak. Dinginnya guling lebih menyenangkan ketimbang Sky.
Lagipula mereka baru kenal. Sesekali Suri merasa risih ketika satu ranjang dengan Sky laki-laki asing yang sekarang menjadi suaminya. Tapi sepertinya Sky tidak merasakan apa yang Suri rasakan. Laki-laki Aneh! Pikir Suri.
Suri juga tidak pernah membahas tentang kejadian itu. Para pelayan dan kedua mertuanya melarang. Sky yang penuh kejutan tidak ingin sampai melukai Suri istrinya.
Menjadi istri Sky benar-benar merubah kehidupan Suri. Dirinya tidak melakukan apa-apa. untuk urusan membersihkan diri para pelayan wanita membantunya, dan lagi untuk urusan memilih pakaian para pelayan lagi-lagi menjadi fashion stylenya sendiri. Tangan Suri hanya bekerja ketika Pup, gosok Gigi dan makan selebihnya tak ada. Suri seperti bayi atau tuan putri di mana semua urusan di tubuhnya sudah ada yang menangani. Rasa malu dan tidak nyaman selalu Suri rasakan di setiap harinya. Tapi tak ada gunanya melawan.
Untuk itu Suri memberanikan diri. Menoleh lagi kearah Sky yang tengah asik dengan film kesukaannya tanpa memperdulikan Suri yang siap menemani.
Kenapa dia begitu asik hanya melihat layar besar tanpa ingin keluar dari sangkar ini.
Intinya Suri ingin keluar istana dan juga menghirup udara kebebasan.
"Sky!" Panggil Suri lembut. Tidak bisa membesarkan volume suara karena takut akan mengejutkan sang suami. Bagaimana kalau dirinya di cekik atau bahkan lebih parah.
"Em.." Sky masih fokus dengan filmnya.
"Lupakan saja!" Suri kembali bersandar malas. Meluruskan pandangan kearah layar.
Bicara pun tidak ada gunanya.
Sky melirik Suri dengan ekor mata cukup lama. Di susul tarikan tangan yang mana membuat Suri terperanjat hebat.
"Katakan! Kenapa kamu memanggilku di saat aku fokus dengan filmnya. Setelah itu kamu mengatakan 'Lupakan!' "
Suri ketakutan amat takut. Melihat wajah datar Sky malah membuatnya mati kutu!
"A-aku hanya ingin bertanya!" Ucapnya terbata-bata.
Sky menajamkan mata elangnya. Suri mengerti.
"Begini, apa aku akan selamanya di istana ini tanpa bisa keluar! Aku tidak bisa seperti kamu, aku ingin keluar melihat mamaku dan kuliah!" Ungkap Suri sambil menutup mata. Memalingkan wajah karena takut Sky akan menghajarnya.
Suri ingat betul perkataan ibu mertuanya.
'Jangan membuat Sky marah Suri! Kamu memang istrinya. Tapi Mama takut dia akan memperlakukan kamu tidak baik. Sky tidak pernah pandang bulu. Laki-laki atau perempuan baginya sama saja.'
"Aku hanya ingin kamu tau itu." Ucap Suri pelan. Masih memalingkan wajahnya yang pucat. Berdekatan dengan Sky memang tidak membuat Suri ketakutan. Tapi bersuara atau mengutarakan sesuatu itu, seperti dirinya berdiri di tengah lapangan yang di kepung hujan lebat dan gemuruh petir. Amat menyeramkan.
Sky melepaskan genggaman tangan Suri. Kembali duduk tenang. Menonton film tanpa memberi jawaban.
Suri menarik tangannya. Mengusapnya perlahan. Tidak terlalu sakit karena Sky tidak memberi tekanan.
Dia tidak mengatakan apapun!
Kata batin Suri. Lupakan, lebih baik sekarang diam. Tidak mau membuat Sky kembali marah bisa-bisa sore itu dirinya yang akan menjadi korban Sky selanjutnya. Suri menggelengkan kepala. Memilih duduk sambil menunduk berusaha menahan tangis yang pasti akan mengundang Sky berkomentar banyak.
Aku harus tetap waras! Aku tidak ingin stres! Tidak, tidak.
Sky menikmati film tanpa menyadari kalau Suri malah asik tertidur pulas. Sky sadar Suri tertidur ketika film aksi itu selesai di putar.
"Ayo kita keluar-
Sky terdiam. Menatap Suri lekat. Sedikit menyingkirkan anak rambut yang menutupi sebagian wajahnya.
__ADS_1
Tak ada kata darinya. Sky hanya diam dan asik menonton wajah Suri yang damai. Tanpa sadar bibirnya mengukir senyuman.
Tapi Sky malah beranjak bangun. Berjalan keluar bioskop mini itu tanpa membangunkan Suri.
"Jangan dibangunkan! Biarkan saja." Pesan Sky kepada pelayan yang ada di setiap sudut mansion Batara.
Si pelayan itu mengangguk dengan wajah datar. Sedikit melirik Suri yang tertidur pulas melupakan dinginnya ruangan dan ketidak hadiran Sky.
.
.
Sky berjalan menaiki lift. Berjalan lagi kearah lain mansion. Tujuannya adalah pintu hitam besar yang di jaga dua pelayan bertubuh besar.
Melihat Sky keduanya membungkuk.
"Buka pintunya." Titah Sky.
Pintu di buka tanpa kata.
Sky masuk. Itu adalah ruang kerja Sang ayah. Tuan Diki yang terhormat.
Tuan Diki kebetulan tengah berada didalam bersama dua pria cukup matang.
Ketiganya menoleh kearah Sky.
"Sky!" Tuan Diki sedikit terkejut akan kedatangan Sky.
"Kalian keluar." Titah Tuan Diki kepada kedua pria itu. Mereka tidak lain adalah kaki dan tangan sang Tuan besar Diki yang terhormat. Orang yang di percaya dapat membantunya mengurus dan mengatur semua kerajaan bisnis yang bernaung di bawah nama Barata Company dan masih banyak lagi.
"Ada apa, Sky?" Tanyanya, sebenarnya untuk berdua bersama Sky dalam satu ruangan Tuan Diki yang tidak lain adalah ayahnya sendiri merasakan takut. Aura yang di bawa Sky tidak bisa di lupakan. Padahal sang putra berwajah tampan lagi luar biasa. akan tetapi terlalu menakutkan untuk bisa satu ruangan dengannya.
Sky di didik dengan baik walaupun Hanya di dalam mansion. Sama seperti Tristan kakaknya. Akan tetapi perilaku kakak beradik itu amat bertentangan. Seperti air dan Api.
Adanya Suri sedikit mengurangi perasaan itu. Karena Sky ada yang menemani. Sebenarnya Tuan Diki tidak ingin tau apa yang Suri alami. Harga 1 triliun banyaknya sudah lebih dari cukup untuknya menjadi budak Sky. Berharap Sky berubah tidak lagi kasar dan membuang aura negatif yang menyelimuti dirinya.
Sky duduk berhadapan dengan sang ayah. Menatap lekat wajah pucat laki-laki di depan matanya.
.
.
Di sisi lain. Suri mulai membuka mata. Menggigil akan udara ingin yang menyapa.
Terkejut ketika Layar besar itu kini tak bergambar. Di tambah Sky tidak ada di kursinya.
"Kemana dia? Filmnya sudah selesai?" Suri yang kebingungan berjalan keluar bioskop. Berpapasan dengan satu pelayan yang tadi di ajak bicara Sky.
"Apa Sky, sudah keluar?" Tanya Suri sembari celingukan.
"Sudah, Nona!" Jawab si pelayan datar.
Suri menyempitkan mata kearah si pelayan.
"Kenapa aku tidak di bangunan!" Katanya setengah berteriak. Tapi kemudian Suri menutup mulut. Hanya wanita yang tidak di didik dengan baik, dapat berteriak kepada orang yang salah.
"Maaf!" Setelahnya Suri berlari untuk menemui Sky. Dirinya bukan hanya sekedar istri. Tapi juga pengasuh. Yang harus mengikuti kemana Sky berjalan.
.
.
Sky baru saja keluar dari ruang kerja Sang ayah. Berjalan kearah kamar tanpa memikirkan Suri.
Suri kebetulan sudah ada di dalam kamar. Duduk di sofa dengan wajah pucat. Seharusnya Suri marah karena Sky tidak membangun dirinya. Tapi apa bisa marah kepada Seorang Sky.
__ADS_1
"Kamu sudah bangun?" Tanya Sky santai. Menutup pintu kamar lalu menghampiri Suri.
Suri segera beranjak berdiri. Di susul anggukan kepala kecil.
"Aku mau mandi!" Kata Sky sembari menekan tombol yang biasa digunakan untuk memanggil para pelayan.
Suri menghela napas jengah. Untuk mandi keduanya harus di bantu para pelayan. Suri melupakan itu.
Tuhan, jangan biarkan aku lupa bagaimana cara menggosok sabun ke tubuhku sendiri.
Mengusir para pelayan ketika waktu mandi datang adalah agenda Suri selanjutnya.
.
.
Malam harinya.
Suri dan Sky tidak turun untuk makan malam bersama keluarga. Sky ingin menghabiskan waktu berdua bersama Suri di dalam kamar.
Keduanya baru saja selesai menyantap hidangan yang di sajikan para pelayan. Balkon di sulap menjadi ruangan untuk keduanya dinner bersama.
Dia benar-benar sulit di tebak.
Kata Suri dalam hati.
"Langitnya cerah?" Suri mendangah menatap hamparan langit yang di kelilingi bintang dan sedikit tarikan awan Mega.
"Kamu suka langit?" Kata Sky datar. Tidak tertarik mengangkat kepala seperti Suri. Sky asik menonton wajah Suri yang mana tengah tersenyum.
Suri mengangguk. "Aku suka langit dan semua yang ada di atas sana."
Ingatlah Sky artinya adalah Langit! sadarkah Suri akan hal itu?
Sky hanya memancing dan umpannya menerima dengan bahagia.
Gadis polos.
.
.
Matahari mulai menyingsing.
Para pelayan sibuk dengan urusan mereka. Terutama hari ini sang tuan Diki yang terhormat membawa kabar yang cukup menggemparkan dan mungkin akan membuat siapapun yang mendengar serangan jantung saking terkejutnya.
Kabar itu adalah.
Di kamar Sky seperti biasa sudah tampan dengan balutan celana jeans dan kaos putih yang di aplikasikan jaket jeans. Sungguh menakjubkan bagi dirinya si pemilik tubuh.
Duduk tenang di depan ranjang di temani ketiga pelayan yang selalu ada. Menunggu Suri membuka mata.
Pukul 08:49 menit. sebentar lagi jam 9 pagi menyapa.
Sky menjentikkan jarinya kerah si pelayan. Si pelayan mengerti. Berjalan menghampiri Suri yang masih betah menutup mata.
Dan...
Byur....
Si pelayan menyiramkan air dingin tepat kearah Suri sebagai alarm.
Jelas Suri terkejut. Bergegas bangun dengan tubuh basah kuyup.
"Astaga dingin!" Keluhannya. Melirik Sky dan ketiga dayang-dayangnya.
__ADS_1
"Sky!" Teriak Suri marah.
"Bangun! kita akan kuliah!"