Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)

Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)
Waktu Yang Terhenti


__ADS_3

Suri dan Nyonya Nena terkulai tak berdaya di samping dokter. Dokter mundur perlahan dengan kepala menunduk.


"Maafkan kami Nyonya, kami sudah berusaha sekuat tenaga kami." ucap Dokter lirih.


Suri meraung dalam dekapan Nyonya Nena yang mana juga menangis.


"Papa! Hiks...hiks....Papa!" teriak Suri lagi. Menggelengkan kepala tak terima dengan kabar yang di bawa dokter.


"Sayang, hiks...hiks....hiks...Papa pergi..." seru Nyonya Nena penuh kesedihan.


Keduanya saling berpelukan dengan tubuh bergetar hebat tak percaya lelaki yang mereka cintai pergi begitu cepat.


Di ambang pintu ruang ICU dokter tertunduk diam. Tak kuasa melihat bagaimana kesedihan Suri dan Nyonya Nena.


.


Jason membawa mobil dengan kecepatan tinggi menerobos jalanan yang ramai tak terkendali. Jason dan Daren bahkan tidak tau di mana alamat rumah sakit yang menangani Tuan Chris.


Sampai akhirnya mereka berinisiatif untuk mengecek beberapa rumah sakit di sekitar.


Ada lima gedung rumah sakit yang mereka datangi tapi tak ada Tuan Chris di sana. Mencari terus mencari di barengi dengan usaha Melodi menghubungi Suri. Nihil Suri tidak mengangkat panggilan dari Melodi. Tapi Melodi tak menyerah begitu juga Jason dan Daren.


"Daren, aku lelah!" Jason mengeluh. Dirinya meneguk air dari dalam botol sampai habis.


Daren mengangguk setuju. "Sekarang kita harus bagaimana? Sudah tujuh rumah sakit kita datangi tapi hasilnya nihil!"


Jason mengangguk membenarkan. Keduanya menghela napas yang tersengal hebat di dalam mobil.


Melodi tenang sendirian. Mengabaikan Jason dan Daren yang mengeluh tentang di mana Papa Suri di rawat. Ia fokus dengan ponselnya.


"Terhitung dua puluh kali aku menelepon mu! Tapi-


"Melodi!"


Suara Suri yang lirih bercampur tangisan menggema di telinga Melodi.


Melodi segera menjawab penuh kebahagiaan sekaligus takut apalagi Suri menangis di sebrang telpon.


"Katakan, kamu di mana?" tanya Melodi panik.

__ADS_1


Jason dan Daren menoleh ke belakang. Menatap Melodi lega karena Suri dapat di hubungi.


.


Sementara itu. Sky yang masih terjebak di pesawat menunggu dengan tidak sabar ingin segera sampai di Hawai dan bertemu sang Papa.


Sky Belum mengetahui kabar dari Papanya dan Papa Suri. Kedua keluarga masih panik melihat keadaan yang kacau.


"Kenapa pesawat ini lambat sekali!" keluh Sky ketus. Melirik kearah pramugari yang tengah melayani penumpang.


Ingin rasanya menghubungi Tristan tapi tak bisa pesawat tengah mengudara jadi Sky hanya bisa menunggu pesawat sampai di tujuan.


"Suri. Aku takut!" gumam Sky sendu.


"Cepatlah sampai!"


Sky yang tak sabaran terus menatap jam di tangan. Memainkan kaki dan rambutnya yang kusut itu.


.


Di ruang IGD.


"Nyonya, saya permisi." pamit si dokter yang mana tak di hiraukan Nyonya Rose dan Tristan.


"Papa! Bangun Pa! Jangan tinggalkan Mama." Nyonya Rose menangis sambil mendekap tubuh tuan Diki yang mulai dingin. Tak kuasa menatap wajahnya yang selalu tersenyum kini terpejam dengan wajah pucat.


Tristan yang ada di sana ikut menangis dari kursinya. Memeluk pinggang sang Mama yang bergetar.


"Kenapa Papa pergi meninggalkan kami! Kenapa kita harus pergi berlibur kalau Papa pergi." kata Tristan. Terisak di kursinya.


Dunia seakan runtuh saja di atas kehidupan dua keluarga itu. Di waktu yang bersamaan kepala Keluarga pergi untuk selamanya.


.


Sembilan jam berlalu Sky tiba di Honolulu bandara internasional.


Dirinya yang memang sudah mendapatkan alamat rumah sakit sang papa di rawat langsung tancap gas pergi. Tak butuh pemandu bagi Sky karena Sky sudah tau negara Indah itu.


Dengan bantuan Taksi. Sky tiba di rumah sakit. Ia Bertanya kepada suster di sana menanyakan Tuan Diki di rawat.

__ADS_1


Suster yang berjaga itu menelan ludahnya begitu gugup. Dirinya tau tuan Diki sudah meninggal dunia. Tapi Tristan berpesan sebelumnya..


"Kalau Sky datang, siapapun yang menanyakan Papa saya. Jangan katakan kabar itu."


Mengingat itu Suster mengangguk sebentar.


"Tuan Diki berada di ruang ICU Tuan."


Tak menunggu lagi. Sky langsung berlari ke ruang ICU.


"Ruang ICU! Ruang ICU." Sky terus komat-kamit di sepanjang jalan sembarian menghubungi sang Kakak.


Lamanya mencari, Sky tiba di ruang ICU. Ia tersenyum ketika melihat Kakaknya ada luar ruang ICU.


"Kak!" teriak Sky.


Tristan menoleh kearah Sky yang berlari. Matanya yang berlinang menjadi penyambut kedatangan Sky.


"Kakak. Mana Papa?"


Tristan mendongak menatap Sky yang terengah.


"Mana Mama?" Sky bertanya lagi. Melirik dalam ruang ICU.


Tristan yang tak sanggup bersuara. Menunjuk dalam ruang ICU.


Sky mengikuti tangan Tristan. Dengan langkah pelan kakinya masuk kedalam.


Di dalam Sky di sambut Isak tangis Nyonya Rose yang masih memeluk jasad Tuan Diki.


"Papa!" Sky ambruk. Terkulai tak berdaya di ambang pintu ruang ICU. Waktu seakan terhenti saja rasanya.


Nyonya Rose melirik ke arah Sky. Suara gaduh yang di hasilkan membuatnya mengangkat kepala.


"Sky!" teriak Nyonya Rose. "Papa...hiks...hiks...Papa, Sky..."


Nyonya Rose menjerit tak karuan..


Sudah delapan jam berlalu dan waktu tidak bisa membalikan keadaan.

__ADS_1


Tuan Diki dan Tuan Chris harus meninggalkan dunia dan segala urusan yang masih belum selesai. Meninggalkan keluarga dan anak istri untuk selamanya.


__ADS_2