
Suri berlari keluar pesawat dengan Isak tangis tanpa menoleh lagi ke belakang. Ia melepas tangan Sky yang hangat.
Sky bergantian menatap kosong kepergian Suri dan tangannya yang mana beberapa detik menggenggam begitu kuat.
"Kenapa jadi begini!" Gumam Sky tak percaya. Menggelengkan kepala amat kuat dengan derai air mata.
Kejadian menyeramkan terjadi di waktu yang bersamaan. Di mana Papa dan Papanya Suri tengah bertaruh dengan nyawa.
Sky yang di landa kepanikan menyambar ponsel miliknya yang ia simpan di samping.
"Melodi!" Gumam Sky sembari mencari kontak Jason.
Dapat. Sky langsung menghubungi Jason.
.
"Apa!" Suara Jason yang terkejut ketika di hubungi Sky berhasil membuat Melodi dan Daren menatapnya penasaran sekaligus di landa ketakutan.
"Apa?"
"Kenapa Jason?"
Melodi dan Daren gaduh di samping Jason yang masih berbicara dengan Sky di telepon.
Jason hanya menatap keduanya dengan mimik wajah kalang-kabut.
"Ok baik. Kamu tenang saja. Aku akan memastikan Suri baik-baik saja."
Jason mengangguk tanpa di ketahui apa yang di katakan Sky selanjutnya.
Tut...Tut.... Panggilan terputus.
Jason meletakan ponsel dengan lemas. Dirinya membiarkan Daren dan Melodi bertanya banyak padanya.
"Jason apa yang terjadi? cepat katakan?"
"Ada apa Jason? Kenapa kamu diam? Apa terjadi sesuatu dengan Tuan Diki?"
Pertanyaan buruk membombardir Jason.
Jason menghela napas berat. Dirinya juga tidak bisa terus diam. akhirnya bibirnya yang rapat sedari tadi terbuka.
"Papanya Suri kecelakaan! Kita harus menemani Suri."
"Apa?" seru Melodi dan Daren bersamaan. Menatap Jason tak percaya.
"Apa kamu serius?"
Pertanyaan Daren di jawab anggukan kepala.
__ADS_1
Melodi seketika berlari meninggalkan Jason dan Daren.
Melihat itu. Keduanya ikut mengejar.
"Kita ke rumah sakit sekarang?" tanya Daren sembari berlari.
Jason mengangguk. "Sky meminta Melodi untuk menemani Suri."
Keadaan yang semula indah nan penuh kebahagiaan bagi Sky dan Jason kini berubah menjadi sebuah kepanikan yang luar biasa.
.
Suri berlari dari area bandara. Kakinya tak berhenti, bahkan ketika pesawat yang di tumpangi Sky mulai melaju menghiasi angkasa. Suri tak sedikit pun menoleh. Pikirannya fokus dengan kondisi sang Papa yang masih belum di ketahui keadaannya.
Hiks....hiks..." Papa. Suri mohon jangan tinggalkan Suri."
Beberapa orang yang ada di Bandara menatap Suri yang berlari melewati kerumunan dengan kecepatan tinggi. Sayang mereka tidak tau siapa si gadis itu. Lagi-lagi Suri menutupi wajahnya dengan masker dan kacamata. Dirinya tidak ingin sampai orang-orang tau.
Di luar bandara. Suri menghentikan taksi yang berseliweran. Tak susah untuk mendapatkan taksi. Suri tak membuang waktu.
"Tolong antar saya."
.
Sky menangis sendirian tanpa ada yang menemani. Di bangkunya yang kosong Sky terisak. Apalagi sang Kakak tidak mengatakan tentang kondisi Tuan Diki.
"Papa, tunggu Sky." Gumam Sky sembari terisak.
.
Di mansion semua pelayan gaduh mendengar kabar bahwa tuan besar mereka di larikan ke rumah sakit.
Kabar bahwa tuan Diki serangan jantung menyebar begitu cepat. Para wartawan bergemuruh di stasiun televisi mereka masing-masing memberitakan tentang kabar buruk itu.
Sekertaris Tuan Diki tak membuang waktu. Dirinya langsung terbang ke Hawai. Setelah tau Sky pergi seorang diri tanpa memberi kabar. Gawat Tuan muda mahkota pergi bersama Istrinya. Itu yang di ketahui si sekertaris. Tanpa tau kalau Papa Suri juga terkena musibah.
.
"Mama di rumah sakit mana?"
Suri tengah menghubungi Nyonya Nena sembari menangis karena panik.
Si supir hanya mampu melirik ke belakang saja tanpa berani bertanya.
Suri mengangguk setelah mendapatkan alamat rumah sakit di mana Tuan Chris di rawat.
"Pak."
.
__ADS_1
Lamanya Suri berkutat dengan jalan kota. Ia sampai di rumah sakit..
Kakinya yang tak mengenal lelah terus berlari. Menanyakan kepada si suster yang berjaga tentang sang papa.
"Tuan Chris masih di ruang ICU Nona."
"ICU?"
Lagi Suri berlari. Ketemu ruang ICU yang di maksud.
"Mama!" teriak Suri ketika Nyonya Nena tengah berada di ambang pintu ruang ICU.
Nyonya Nena langsung menoleh kearah Suri.
Hik..hiks..."Suri.."
"Mama." Suri berlari lagi. lalu tubuhnya yang tak mengenal lelah. mendarat di pelukan sang Mama.
"Apa yang terjadi, Ma?" tanya Suri. Meraung dalam dekapan Nyonya Nena yang sama terpukulnya.
Sebelum Nyonya Nena memberi jawaban. Pintu ruang ICU terbuka. Dokter keluar dari sana.
"Dokter?"
Suri dan Nyonya Nena menghampiri si dokter yang masih memakai masker itu lemas.
Dokter itu mengangguk sambil menepuk pundak Suri.
"Nona! Anda harus merelakan Papa anda."
.
.
Tak terkira samanya. Dokter yang menangani tuan Diki juga keluar dari ruang IGD.
Nyonya Rose dan Tristan menghampiri si dokter penuh harap.
Belum juga ibu dan anak itu bertanya. Dokter sudah menggelengkan kepala.
"Maaf Nyonya, Tuan." Dokter menatap bergantian.
"Kami tidak bisa menyelamatkan nyawa Tuan Diki.. Saya ikut berduka."
"Tidak....hiks....hiks... Tidak...Papa....Papa..."
.
"Papa...hiks....tidak....Papa, jangan tinggalkan Suri pa, Hiks....hiks..."
__ADS_1