
Mata para pelayan melongo tak percaya menatap sedih ke arah si nona muda yang mana kini berjalan melewati mereka dengan pakaian yang cukup familiar. Warna hitam bergaris putih kini melekat di tubuhnya.
Suri menyeret kakinya melewati para pelayan yang berjajar bak pagar. Menghampiri Sky si suami tega yang tengah duduk dengan tatapan tajam menatapnya lekat, tak lupa senyuman super bengis menghiasi wajahnya yang tampan itu.
Sky menatap asik kedatangan Suri. Mengulum bibirnya rapat seolah ingin mengatakan sesuatu. Tapi Sky menahan dengan meletakan satu telunjuk di kedua bibirnya.
Tap..tap...Suara langkah sepatu Suri menghentak ruangan tengah yang sunyi sepi. Suri berjalan seakan tak ada lagi raga. Menghampiri Sky tuan muda Barata.
Para pelayan berbisik tentang sikap Sky kepada Suri istrinya sendiri.
"Tuan Sky amat tega kepada Nona Suri."
"Kasihan sekali Nona Suri dia menjadi pelayan seperti kita."
Begitulah di belakang kerumunan pelayan. Menggunjing sikap Sky yang sudah sangat keterlaluan.
Suri berdiri kokoh di hadapan Sky. Menatap wajahnya yang bengis tanpa rasa takut. Sedangkan Sky acuh saja. Seolah Suri adalah pertunjukan yang mampu menghibur hatinya.
Klap....klap....klap.....
Suara tepuk tangan tunggal yang di hasilkan dari kedua tangan Sky menggema. Para pelayan menunduk seketika.
"Lihat siapa yang berdiri di hadapan ku!" hina Sky jelas. Ia berdiri lalu mengelilingi tubuh Suri yang kaku. sedikit mengendus seperti biasa. Mengibas rambut suri yang kini dikepang seperti pelayan yang lain.
Suri diam dan tenang. Sampai Sky berbisik tenang di telinganya.
"Your a servant in your own husband's house!"
(Kau pelayan di rumah suami mu sendiri!)
"If it can put your heart at ease, I'm fine."
(Jika itu bisa membuat hatimu tenang, aku baik-baik saja.)
Sky menyeringai atas jawaban yang di berikan Suri. Tak ada guratan rasa takut di wajahnya. Sky kagum akan hal itu. Ia lalu mengangguk cepat dengan wajah ketus.
"Ok. Lakukan tugas mu dengan baik. Pelayan!"
Deg....Suri mengepalkan tangannya kuat. Menahan air mata yang siap datang.
Tahan Suri. Tahan...
Sky tertawa kecil melihat ketegaran sang istri. Apalagi kepalan tangan mungilnya itu. Semua gerak-gerik Suri tak luput dari perhatian mata Sky yang tajam.
.
Tristan baru saja keluar dari kamar Nyonya Rose. Dirinya mendorong kursi roda dengan wajah murung. Karena bayangan sikap Sky sudah membuat hati yang Mama hancur terus terbayang jelas, tapi Tristan sedikit tenang setelah Mamanya beristirahat dan sekarang tengah tertidur sehabis meminum obat.
"Aku harus berbicara dengan Sky. Dia sudah keterlaluan." Dengan perasaan marah. Tristan menekan tombol lift menunggu kedua pintu hitam itu terbuka.
Tak lama lift terbuka di mana ada Sky di dalamnya.
"Sky?" panggil Tristan, masih berusaha tenang.
Sky acuh saja. Dirinya berjalan keluar mengabaikan sang Kakak.
Tristan menghela napas berat. "Sky! Kamu sudah membuat Mama menangis!"
Teriakan Tristan membuat Sky berhenti berjalan. Ia memutar tubuhnya. Mensejajarkan pandangan dengan sang kakak.
"Apa? Kakak mengatakan apa?" katanya seolah menantang si pria penghuni kursi roda itu.
Tristan menggelengkan kepala tak percaya melihat Sky yang kini nampak lain. "Sudah cukup Sky! Hentikan sikap buruk mu!"
Hahaha.... Hahahaha.....
"Seharusnya Kakak jangan mengatakan sesuatu yang tidak penting! Urus, urusan Kakak sendiri. Kakak bahkan tidak sanggup berjalan jadi jangan membuat Sky marah!" Setelahnya Sky berbalik lagi dan melenggang pergi.
Tristan meremas kuat roda kursi. Bersiap mengangkat tubuhnya dan mengejar Sky. Tapi niatnya ia urungkan!
"Kamu sudah kelewat batas!"
.
__ADS_1
"Jangan Nona! Biarkan saja. Ini pekerjaan kami."
Di ruang tengah kini kembali gaduh dengan suara para pelayan yang melarang suri untuk bersih-bersih. Kain lap terus di tarik beberapa pelayan wanita itu dari tangan Suri.
"Lepaskan! Kalau kalian menghalangi ku! Tuan muda kalian bisa marah besar. Aku dan kalian pasti akan terkena masalah! Jadi biarkan aku bekerja."
Ketiga pelayan wanita itu saling tatap. Merenung dengan ucapan Suri barusan.
"Tapi Nona-
Suri menarik lagi kain lap dan tersenyum kearah para wanita itu. "Ini hukum untuk ku! Aku bersalah dan aku pantas mendapatkan ini! Menurut ku Sky baik! Dengan tidak menyakiti ku dan dia. Adalah keajaiban."
Suri menunduk. Menatap lekat perutnya. "Aku akan mencoba menerima kenyataan ini. Terserah kalian mau menganggap aku apa! Aku tidak perduli. Aku akan menurut dan tetap tinggal di tempat ini."
Para pelayan menatap Suri sendu. Menyiratkan kekaguman yang luar biasa.
"Bagaimana anda bisa setegar dan sekuat ini Nona!"
Suri tersenyum seraya menggeleng pelan. "Tidak di bunuh Sky saja adalah keajaiban untukku. Jadi aku akan tetap seperti ini sampai Sky bisa kembali menjadikan aku istrinya."
"Suri?"
Dari arah belakang. Suara memekik kecil menggema mengagetkan Suri dan ketiga pelayan.
"Kak!"
Para pelayan membungkuk hormat ke arah Tristan lalu undur diri.
"Kakak! Bagaimana Mam-
"Mm.. Maksud Saya. Nyonya besar!"
"Apa-apaan ini? Apa yang kamu katakan?" keluh Tristan kesal. Mendorong kursi roda mendekati Suri.
.
Tristan menghela napas panjang setelah mendengar penjelasan Suri. Ia melirik sang adik ipar yang kini berpenampilan seperti pelayan di rumahnya.
"Sky keterlaluan! Biarkan aku-
"Tidak Suri. Dia sudah keterlaluan."
"Suri tau. Tapi mungkin memang benar di sini Suri yang salah. Kakak tau bukan bagaimana Sky. Dia tidak akan bisa di ajak bicara dengan kemarahannya." ucap Suri dengan suara bergetar. Menahan tangis itu amat berat rasanya.
"Apa yang harus aku lakukan Suri! Aku bahkan tidak bisa membelamu!" Tristan memukul kedua kakinya amat cepat. Mengutuk hidupnya yang tidak berguna.
Suri segera menarik tangan Tristan. "Cukup Kakak diam saja dan menjaga Mama. Itu sudah menolong Suri. Suri harus menuruti keinginan Sky. Suri akan menahan semuanya kak. Biarkan Sky melampiaskan kemarahannya cukup kepada Suri saja."
.
Malam harinya...
Suri masih bebenah dengan bantuan para pelayan yang diam-diam menolongnya. Pekerjaan berat yang baru pertama kalinya ia lakukan. Berkat Sky, Suri bisa merasakan betapa beratnya menjaga kebersihan.
"Ternyata menjaga kebersihan itu amat berat!" kata Suri. Melirik takjub kedua wanita yang ada di sampingnya.
"Kalian hebat!"
"Terimakasih Nona!" kedua wanita itu membungkuk kearah Suri.
"Jangan lakukan itu. Aku kini seperti kalian."
Kedua pelayan menggeleng cepat. "Tidak Nona. Anda bukan bagian dari kami. Anda Nona muda di mansion ini."
"Waktunya makan malam!"
Seorang teman wanita pelayan mendatangi mereka untuk mengemban tugas seperti biasa. Waktunya mengisi perut telah tiba.
"Nona."
Suri menghela napas panjang melihat si pelayan itu membungkuk kearahnya. Tapi Suri tak bersuara. Dirinya sudah kelelahan untuk meminta mereka agar tidak membungkukkan badan kearahnya. Karena berkata pun percuma rasanya.
"Bolehkah aku makan malam bersama kalian di belakang?" pinta Suri sembari tersenyum ceria.
__ADS_1
Mereka yang ada di sana saling tatap dengan wajah kebingungan.
"Tapi-
"Ayolah? Aku mohon!"
"Baik Nona-
"Hey you? Mendekat?"
Kehangatan yang terjalin berubah mencekam manakala sosok pria berkarisma kuat berdiri dan mengejutkan mereka.
"Tuan Sky." Para pelayan wanita membungkuk di ikuti Suri walaupun Suri membungkuk terlambat.
Sky menyeringai lebar. "Suri, ikut aku?"
Suri mengangguk patuh. Tanpa kata menghampiri Sky dan meninggalkan teman-temannya.
"Apa yang akan di lakukan Tuan Sky? Kasian Nona Suri." sendu para pelayan wanita menatap langkah pelan Suri yang kini mulai menjauh.
.
Di meja makan besar, Sky duduk setelah pelayan Suri menggeser kan kursi untuknya.
Koki yang bertugas menunduk acuh dan mulai meletakan hidangan ke atas piring kosong Sky.
"Cukup!" pinta Sky datar. Koki mengangguk patuh.
Suri menunduk dengan tubuh bergetar. Perutnya kini bergemuruh lapar.
Apa tidak apa-apa kalau aku pergi.
Sky mulai makan tanpa memperdulikan Suri.
Kali ini Sky makan seorang diri tanpa Nyonya Rose dan Tristan. Seperti yang kita tau. Ketegangan tadi pagi sudah merubah suasana rumah. Nyonya Rose bahkan belum mengetahui kalau sang menantu menjadi pelayan di rumahnya sendiri. Tristan memilih mengurung diri di dalam kamar. Tak ingin menemui Sky. Dirinya akan menenangkan diri dan merenung.
Sky amat lahap menyantap hidangan tanpa memperdulikan Suri yang jelas-jelas ada di sampingnya.
Suri tertegun sendirian dengan rasa lapar. Sedari pagi dirinya sarapan satu potong roti dan Susu ibu hamil. Tak ada niatan untuk mengisi perut. Tapi sekarang dirinya berharap segera menenangkan cacing di ususnya yang menangis minta di isi. Tapi situasi tak mendukung.
"Kau lapar?"
Suara dari mana itu.
Suri celingukan mencari sumber suara lembut itu di tengah rasa lapar yang menghantui.
Apa itu suara koki.
Pandangan tertuju kepada si koki yang jauh dari jangkauannya.
Tiba-tiba suara itu terdengar kembali. Dan kini bersumber dari dekatnya.
"Apa kau lapar?"
"Hah?" Suri terperanjat. Ia mengangguk cepat dengan tatapan kosong.
Sky tersenyum ramah. Ia mengangguk cepat. Lalu menatap satu persatu hidangan di atas meja yang jelas menggugah selera.
"Coba kita lihat? Makanan apa yang cocok di makan wanita hamil." Sky masih berkeliling melihat-lihat dengan garpu berputar.
Suri menunggu dengan sabar. Mengutas senyuman manis penuh harap.
Sampai akhirnya. Sky menancapkan garpu.
Piring berdentang nyaring menghantam marmer granit.
Suri terpaku menatap Sky yang membungkuk ke bawah meja dengan satu buah piring berisi tumpukan sayur bekas hiasan dan satu potong daging sapi berukuran kecil.
"Makan!" kata Sky datar.
Suri terisak karenanya. Tersenyum kecut melihat piring itu.
"Kamu pikir aku ini apa?" tanya Suri dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Pelayan seperti mu tak pantas makan di atas meja."