
Acara pemakaman tuan Diki di lakukan keesokan harinya. Dan di lakukan di tempat yang berbeda pula.
Sky dan Tristan sudah lebih tegar. Di bandingkan Nyonya Rose dan Suri. Dalam keramaian para pelayat Mereka merenung dan menumpahkan kesedihan atas kepergian sang penguasa Batara Company.
Langit yang sedari kemarin mendung terus di gempur hujan rintik yang mampu menyayat hati. Pemakaman tuan Diki sama seperti kemarin ketika Tuan Chris di kebumikan. Hujan seolah ikut meramaikan kesengsaraan hati mereka yang di tinggalkan.
Setelah tanah mengubur peti jenazah Tuan Diki. Para pelayat bubar satu persatu.
Tristan melirik ke belakang kursi rodanya. Menatap Jason yang senantiasa mendorong singgah sananya sedari pergi dari rumah duka.
Melihat Tristan menoleh kearahnya Jason membungkuk.
"Kenapa Kak!" tanya Jason. Takut-takut Kakak sahabatnya itu butuh sesuatu.
"Aku ingin pulang!" kata Tristan lirih dan tak bertenaga untuk bersuara.
Jason mengangguk setuju. Ia menoleh kearah samping di mana Melodi ada di sana bersama Daren.
"Aku akan mengantarkan Kak Tristan pulang!" ucap Jason tiba-tiba.
Melodi dan Daren melirik Jason dengan wajah sedih mereka.
"Aku ikut!" Melodi berjalan menghampiri Jason.
Jason mengangguk. "Ayo."
"Aku juga ikut!" Daren berjalan bersama Melodi.
Jason dan Tristan menatap Daren datar melalui kacamata hitam mereka.
Tak jauh dari mereka. Sky yang tengah merangkul sang Mama berbisik. "Ma, kita pulang!"
Ajakan Sky mendapat penolakan. Nyonya Rose menggeleng kuat dengan berlinang air mata.
"Mama masih ingin tetap di sini!"
__ADS_1
Suri yang ada di samping Nyonya Rose bersuara lembut.
"Ma, kita pulang! Besok kita kesini lagi." bujuk Suri. Tapi Nyonya Rose tetap menggelengkan kepala.
"Mama masih ingin di sini. Kasian papa! Dia sendirian." katanya sembari menatap kayu putih yang tertancap tegak bersama Poto sang suami tercinta.
Sky menghela napas berat. Dirinya mengangguk setuju. "Tapi jangan lama ya Ma!"
Suri yang juga masih dalam berduka cita melirik kearah samping di mana Nyonya Nena ada di sana.
Sembari terisak Suri bersuara. "Ma, Mama pulang saja. Nan-
"Suri?" Sky bersuara pelan.
Suri menoleh kearah Sky dengan kata yang masih menggantung..
"Kamu pulang saja. Temani Mamamu! Aku akan menjaga Mamaku!" kata Sky tanpa menatap Suri dan Nyonya Nena.
Suri siap membuka bibirnya. Ingin menyuarakan opsi lain. Tapi yang di katakan Sky ada benarnya. Kedua wanita yang saat ini ada di dekat mereka tengah terluka dan pasti butuh kekuatan dari orang terdekat seperti anak misalnya. Sekarang adalah tugas Suri dan Sky untuk menjadi penghibur kedua Mama mereka.
"Aku pulang ya!" Suri pamit. "Ma," Suri memeluk Nyonya Rose erat.
"Mama ga sendirian. Ada Suri dan Sky. Tapi Suri pulang dulu ya. Mama Nena butuh Suri."
Nyonya Rose mengangguk tanpa kata.
Pelukan berakhir. Nyonya Nena gantian memberi pelukan sebelum dirinya pulang. Mereka menangis lagi, saling menguatkan tanpa tau esok hari akan seperti apa.
Suri dan Nyonya Nena berjalan meninggalkan area makam. Sky acuh saja. Dirinya bahkan tidak memberi pelukan kepada Suri. Mengingat sekarang mereka terpaksa berpisah.
Suri tak masalah karena memang mereka harus mengesampingkan perasaan cinta. Ada orang yang membutuhkan cinta dari mereka.
.
Langit masih sama saja. Mendung, seakan murung menemani keseharian para makhluk hidup di dunia.
__ADS_1
Sudah lima hari selepas kepergian Tuan Diki dan Tuan Chris.
Dua bangunan yang berada jauh jaraknya. Masih di selimuti kabut kesedihan. Hunian besar lagi megah yang dulu ramai canda tawa kini nampak sepi dan kosong.
Nyonya Nena dan Nyonya Rose masih betah menyendiri. Menangis di sepanjang malam yang dingin. Keberadaan Keluarga dan anak tercinta tidak bisa menghibur hati yang kosong dan sakit. Dunia seakan terhenti saat ini juga di bawa belahan jiwa ke liang lahat.
Sky dan Suri belum bertemu semenjak itu. Sudah lima hari mereka terpisah. Keduanya sama sibuknya mengurus sang Mama tanpa bertukar kabar. Sky dan Suri acuh dengan hubungan mereka. Baik Suri dan Sky sama-sama fokus mengurus mama masing-masing.
.
Pagi ini Sky duduk di meja makan seorang diri seperti biasa. Mamanya dan Tristan masih bergulat di kamar mereka melupakan sarapan. Mungkin sekarang Sky akan terbiasa dengan kekosongan Mansion. Berharap esok kedua orang tercinta mereka bisa bergabung dan bangkit.
Sky juga masih belum menghubungi Suri sang istri. Entahlah Sky merasa Suri juga pasti masih sibuk menghibur Mamanya. Ponsel mereka sepi dari pesan atau panggilan. Tak ada yang berinisiatif memulai percakapan.
Alat makan berdentang merdu. Di meja makan yang besar kosong melompong tak terisi. Hanya ada Sky di sana.
Sky menarik napas dalam-dalam. Mengunyah sarapan dengan terpaksa dan malas.
Di tengah-tengah kekosongan yang menyedihkan. Sosok wanita datang dari teras depan. Berdiri sopan di depan Sky.
"Tuan Sky, maaf saya mengganggu!" katanya gugup.
"Ada apa?" tanya Sky tanpa melihat si pelayan.
Si pelayan mengangguk lega.
"Di depan ada Dokter Kamla, Tuan!"
Sky mengerutkan kening karena bingung. Kenapa Dokter Kamla datang sepagi ini.
"Dia kan yang memeriksa Suri!" pikir Sky.
Sky melirik si pelayan datar. "Suruh dia masuk!"
Si pelayan membungkuk. "Baik Tuan."
__ADS_1
"Ada apa dia datang pagi-pagi buta sekali!" gumam Sky. Otaknya berpikir keras sampai sosok dokter Kamla datang.