
Di sepanjang perjalanan menuju mansion. Suri tak berhenti memberontak, menangis dan melawan, bahkan Suri melontarkan perkataan kasar lagi menyakitkan. Tapi Sky acuh. Membiarkan Suri membuang tenaganya. Tangannya betah memborgol pergelangan tangan Suri. Melupakan rasa pegal dan kebas. Sky berubah menjadi robot yang kaku. Kemarahan atas kebohongan Suri membuat dirinya gelap mata.
"Kenapa kau membawa mobil begitu lamban!" pekik Sky sembari memukul kepala pria yang ada di depan kemudi.
Si pria itu menjawab takut. "Maafkan saya Tuan."
Seketika laju mobil bertambah cepat. Si supir menambah kecepatan yang di inginkan Sky.
"Lepaskan aku, kamu menyakiti tanganku!" keluh Suri kesekian kali.
Sky menatap sinis. "Bagaimana dengan hatiku! Lebih sakit mana. Tanganmu ini!" Sky mengangkat tangan Suri yang ia cengkram. "Atau hatiku!" Kemudian Sky memukul dadanya menggunakan tangan Suri.
"Yang mana Suri!" Teriak Sky penuh kemarahan di wajahnya.
Suri memalingkan wajah. Ia menangis lagi. Ketakutan duduk di samping Sky yang mengamuk.
"Kau hamil dan merahasiakannya dariku? Lihat sekarang, Papaku pergi Suri dan itu karena bayimu!" Sky kalut dirinya tidak bisa berpikir dengan baik.
Suri segera berbalik. Menatap Sky dengan mata tajam. "Ini bukan keinginan ku! Dokter Kamla meminta aku tutup mulut. Kau tau itu!" Suri membela diri. Menyakinkan Sky kalau itu adalah benar!
Sky tertawa. Hahahaha....."Omong kosong!"
"Terserah padamu, aku tidak perduli. Asal kamu tau saja aku juga tidak ingin hamil. Aku juga tidak ingin Papaku dan Papamu pergi, Sky." Suri memalingkan wajah lagi. Menatap luar jendela mobil yang basah akibat percikan air hujan.
Pagi itu hujan enggan berhenti seperti sebelumnya. Kota besar itu tengah di guyur hujan mengingat musim penghujan baru saja di mulai.
Mendapatkan respon yang tidak dirinya ingin dari Suri. Tanpa sadar Sky mengencangkan cengkraman tangannya hingga Suri meringis dalam diam. Menatap sang istri marah.
Si supir yang ketakutan berusaha tenang. Pandangan mata terus tertuju menatap jalan, tak ingin menoleh kebelakang sekedar memastikan Suri baik-baik saja.
Seharusnya Anda bahagia Tuan Sky. Nona Suri sudah memberikan anda penerus. Kenapa anda malah menyalahkan Nona atas kehamilannya dan kepergian Tuan Besar. Ini jelas salah. Saya berharap Nyonya besar dan Tuan Tristan bisa menerima anggota baru keluarga Barata. Semoga saja.
__ADS_1
.
Gerbang di buka. Mobil masuk dengan cepat.
Sky membuka pintu tanpa menunggu pelayan seperti biasa. Dengan masih menggenggam tangan Suri, Sky masuk kedalam rumah.
Suri berusaha tegar. Ia sama sekali tidak menangis walaupun hati dan jiwanya ketakutan ketika memasuki halaman Mansion.
Kebetulan sekali Nyonya Rose dan Tristan sudah menunggu di ruang keluarga dengan ekspresi wajah sendu. Mereka tak tau kalau Sky akan datang dengan membawa Suri.
"Ayo cepat!"
Dari arah depan pintu utama. Suara Sky yang memekik menarik perhatian sang Mama dan Kakaknya.
"Ada apa ini, Sky?" Tanya Tristan. Matanya melirik kedatangan Sky dan Suri yang menunduk seperti maling.
Nyonya Rose segera bangkit, mendekati kedua anaknya itu. "Suri sayang!"
Nyonya Rose menatap datar sikap sang menantu. Ia tetap tenang walupun hatinya kebingungan.
"Ada apa, Sky? Kenapa kamu terus menarik tangan istrimu! Lepaskan? Kasian Suri." pinta Nyonya Rose penuh kelembutan.
Sky tersenyum sinis mendapati mamanya bersikap baik kepada Suri. Dengan kepala mengangguk Sky melepaskan tangan Suri yang ia genggam begitu kuat.
Suri sendiri hanya menunduk takut. Melupakan tangannya yang sudah terbebas. Dirinya malah sibuk melamun seorang diri. Bahkan tadi Suri sengaja menghindar karena bingung harus berbuat apa.
Mama dan Kak Tristan pasti akan membenciku atas kehamilanku ini! Aku yang menyebabkan Papa Diki dan Papa Chris pergi.
Nyonya Rose tersenyum lega. "Ayo sayang kemari-lah." Segera setelahnya mendekati Suri, kembali merangkul untuk yang kedua kalinya.
Tapi Suri kembali menghindar. Tubuhnya mundur perlahan dengan kata yang cukup menyentak batin Nyonya Rose.
__ADS_1
"Jangan lagi mama mendekati Suri!"
Senyum Nyonya Rose menghilang dengan kerutan di atas keningnya.
"Kenapa Suri?" tanyanya lembut.
Tristan dan Sky hanya diam menyaksikan sikap lancang si gadis muda.
Suri menggeleng pada akhirnya. Ia menangis tersedu membuat Nyonya Rose dan Tristan diam tak mengerti.
Hiks....hiks....hiks...."Aku tidak bisa terus seperti ini!" gumam Suri dengan tangis menyedihkan. Ia meraba perutnya yang rata.
"Kenapa kamu datang di saat seperti ini? Kamu tidak pernah di inginkan." ucap Suri kepada bayinya yang pasti akan membuat si janin sakit hati kalau saja dia tau..
Apa yang di lakukan Suri tak luput dari perhatian Nyonya Rose. Dirinya mematung ketika tangan mungil Suri mengelus anggota tubuh depannya itu. Tanpa kata Nyonya Rose menutup mulutnya di barengi dengan gelengan kepala.
"Suri! Kamu-
"Iya mah, dia hamil!" timpal Sky yang sudah kerontang marah.
Sky melanjutkan. "Dia hamil dan dia juga sudah berbohong. Karena dia dan bayi itu. Papa pergi. Mereka berdua sudah menjadi simbol kesialan keluarga ini! Suri dan bayinya pembawa sial keluarga Batara."
Plakk....
Sky terperanjat mendapati sang Mama mendaratkan tamparan di pipinya. Dengan kemarahan yang masih mendidih. Sky menoleh segera tanpa mengusap pipinya. Menatap sang Mama yang ada di hadapan dengan masih mengangkat tangannya.
"Apa ini Ma? Kenapa Mama menampar Sky!" kata Sky tak terima.
"Kamu pantas Mama tampar! Mulut mu dan hatimu benar-benar bukan dari keturunanku!"
.
__ADS_1
Segitu dulu ya. Maaf banget buat kalian yang masih setia menunggu lanjutan cerita Sky dan Suri. Mulai hari ini aku aktif lagi di Noveltoon, setelah lebaran kemarin aku sibuk dengan beberapa tugas. Terimakasih atas dukungan kalian yang masih memasukan novel ini ke daftar Favorit. Besok aku up rutin.