Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)

Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)
Kabar Hilangnya Suri dan Melodi


__ADS_3

Awak kapal berlari amat cepat. Dirinya melirik sekilas dua pasang sendal yang bertuliskan Batara Company di atasnya. Setelahnya mendekati bibir kapal tepat di mana tadi Suri dan Melodi berdiri.


Lalu si awak kapal itu menarik satu buah senter. Cahaya menyoroti bawah laut dan sekeliling kapal.


"Apa ada yang melompat?" Gumamnya takut. Terus mencari keberadaan si pemilik sendal.


Lautan nampak tenang dan suasana terasa lebih sunyi.


Cahaya senter terus mencari sampai Si awak kapal mengerutkan kening, manakala ada satu buah perahu karet berisikan dua wanita muda.


Keduanya saling berpelukan dengan wajah tertutup rambut panjang mereka.


"Astaga." Si awak kapal itu ketakutan dan gugup. Apalagi perahu karet itu semakin menjauhi kapal pesiar.


Dirinya buru-buru melangkah mundur Bersiap untuk lari dan memberi tahu kapten kapal.


Duk... Tiba-tiba kakinya terpeleset dan kepalanya terbentur sampai ia mengerang pelan. Setelahnya tak sadarkan diri.


.


.


Melodi dan Suri menggigil hebat. Saling berpelukan dengan tubuh bergetar.


"Mungkin, Suhunya mines 30 derajat! Dingin sekali." Rengek Suri. Bibirnya menjadi biru dan kesadarannya mulai hilang.


"Apa kita akan mati?" Tanya Melodi dengan bibir sama bergetar-nya. Menahan dingin yang luar biasa dahsyat.


Suri menggeleng pelan. Merapatkan pelukannya di tubuh Melodi. Melodi melakukan hal yang sama.


"Kita tidak akan mati!"


Melodi tersenyum manis.


"Melodi?" Panggil Suri.


"Lihat bintang itu." Melodi mengangkat kepala. Sedikit mendangah menatap satu buah cahaya di atas langit.


"Dia sendirian." Celetuk Suri.


Melodi mengangguk. Tiba-tiba matanya berair. Meloloskan buliran bening.


Suri sadar akan hal itu. Dirinya spontan mengusap pipi Melodi.


"Dia seperti ku!" Ucap Melodi lirih. Terisak kemudian.


Membuat Suri ikut terisak.


Hiks....hiks....hiks....


"Jangan nangis! Hiks...hiks... Aku jadi sedih." Ucap Suri manja.


Hiks...hiks..." Bintang itu seperti hidup ku! Hiks...Hiks..."


Keduanya menangis dan saling berpelukan di atas perahu karet yang terombang-ambing di tengah laut. Perlahan perahu karet meninggalkan kapal pesiar yang melaju.


Si awak kapal masih pingsan di dekat bibir kapal dengan tubuh terlentang. Membiarkan kedua wanita mabuk itu menjauhi kapal pesiar.


.


.


Sky yang di seret Jason dan Daren sudah sampai di tujuan setelah di bantu pelayan kabin.


"Ayo ketuk!" Titah Jason kepada Sky.


"Jangan jadi pengecut, Sky!" Tambah Daren.


Keduanya mengapit Sky di ambang pintu kamar Suri. Dengan begitu Sky tidak akan bisa kabur lagi.


Dia seperti anak kecil. Aku tau ini pengalaman pertama baginya. Kalau kamu tidak mencintai Suri, kamu tidak akan bersikap seperti ini.


Batin Jason bergumam tentang perubahan perilaku Sky yang kekanak-kanakan.


Sky yang kejam kini berubah seratus delapan puluh derajat. Sky benar-benar seperti anak kecil. Sikap manja dan senang merajuk hanya bisa di lihat setelah menikah dengan Suri. Wanita muda pilihan Tuan Diki yang terhormat.


"Ayo, Sky?" Daren mengangkat tangan Sky. Meletakkannya di atas permukaan pintu kamar Suri.


"Lepaskan! Aku bisa sendiri." Katanya ketus. Menghempaskan tangan Daren segera.


Daren memutar bola matanya jengah melihat sikap menyebalkan Sky.


Sky yang di tuntut dan di pojokan segera mengetuk pintu kamar sang istri. Ragu-ragu tepatnya.


Gengsilah, harus datang dan mengetuk pintu kamar Suri. Istri yang sudah menolak undangan cintanya.


Tapi di lubuk hati yang terdalam Sky merasa rindu. Jantungnya berdebar kencang ketika mengingat wajah dan senyum ceria Suri.


Tanpa sadar Sky mengetuk pintu kamar penuh semangat. Membuat Jason dan Daren saling tatap sembari menggelengkan kepala.


"Suri, Buka-

__ADS_1


Jason menyela tangan Sky.


"Jangan teriak-teriak, lembut saja! Ingat, dia pasti marah karena kamu sudah mempermalukan-


"Jason!" Teriak Daren.


"Apa?" Tanya Jason cepat.


"Jangan di ingatan!" Seru Daren yang geregetan melihat sikap bijak ples bodohnya sang sahabat.


"Kalian berdua memang bodoh!" Gumam Daren. Menepuk jidatnya karena terlalu kesal melihat Tingkah kedua sahabatnya.


Jason menggaruk kepala. Cengengesan karena apa yang di katakan Daren ada benarnya.


Kalau di ingatkan lagi tentang kejadian tadi. Sky akan murung dan mundur. Itu akan merugikan keduanya.


"Ayo Sky pelan-pelan saja, buat dia mau membuka pintu ini." Kata Jason. Kali ini dirinya berkata benar dan bijak.


Sky yang polos mengangguk patuh. Kembali mengetuk pintu kamar Suri.


Tuk..tuk....tuk ...


"Suri, sayang! Buka pintunya!"


Jason dan Daren membulatkan kedua mata tak percaya.


"Sa-sayang!" Bisik Daren kepada Jason.


Jason mengangguk dengan wajah melongo.


Sky tak melihat ekspresi wajah kedua sahabatnya yang memerah menahan rasa geli, jijik,


Jason dan Daren tertawa dalam diam. Mendengar suara lembut Sky yang menjijikkan.


"Ayo sayang buka pintunya! Aku janji tidak akan pernah menyakitimu lagi! Sumpah demi apapun! Aku bersumpah atas nama kedua sahabatku!"


Daren dan Jason diam seketika. Manakala Sky membawa nama mereka.


"Sky? Jangan bawa-bawa nama-


"Suutt... Kamu menggangu konsentrasi ku!" Erang Sky marah karena Jason sudah bersuara.


.


.


Hampir setengah jam si awak kapal pingsan. Tak ada yang melihat kalau dirinya terbaring menyedihkan di lantai kapal pesiar.


"Argh. Kepala ku!" Dia bangkit dengan menahan kepalanya yang terasa berat dan rasa-rasanya akan jatuh.


Dengan keadaan tubuh sedikit nyeri dan kepala berat. Dirinya berjalan untuk pergi dari area itu. Tapi sebelumnya Ia mengutuk lantai yang di injaknya. Sumber dirinya bisa pingsan karena panik.


Mengingat kenapa dirinya bisa panik! Si awak kapal berhenti berjalan. Membulatkan kedua mata setelah ingatannya kembali pulih.


"Astaga!" Kakinya berbalik segera. Terengah-engah mendekati bibir kapal.


"Kemana perahu karet itu? Astaga, mati aku!" Pikirannya. Setelah cukup lama mencari keberadaan perahu karet yang membawa dua orang manusia misterius itu. Si awak kapal berlari di sisa tenaga untuk mengabarkan kalau ada orang yang mengapung di atas perahu karet.


"Ada yang hilang, ada yang hilang!" Si awak kapal malang itu berteriak-teriak, sampai satu temannya menghampiri membawa wajah bingung.


.


.


"Suri, buka!" Sky tak tahan, hampir dua puluh menit dirinya dan kedua sahabatnya berdiri di ambang pintu kamar Suri. Tapi tak ada tanda-tanda Suri akan membuka pintu.


Jason dan Daren saling tatap lagi.


"Suri, buka! Aku tau kamu ada di dalam!" Pekik Sky yang sudah tak sabar.


"Mungkin dia sudah tidur!" Celetuk Jason guna mencairkan suasana.


Daren menggelengkan kepalanya karena tidak setuju dengan pendapat konyol Jason.


"Kita sudah berdiri di sini hampir satu jam!


"Baru dua puluh menit." Ralat Jason.


"Oh iya." Kata Daren membenarkan.


Daren melanjutkan. "Dua puluh menit kita di sini. Dan Sky sudah menggedor pintu dari yang paling lembut sampai keras. Tapi dia masih belum keluar! Dia tidur apa mati!"


Di belakang kedua sahabatnya beradu argument tentang Suri yang masih belum keluar.


Sky marah dengan keadaan. Ia mengambil ancang-ancang di saat kedua sahabatnya cek-cok.


Bruk....Pintu Sky tendang. Dan satu kali tendangan pintu kamar Suri terbuka.


Jason dan Daren terdiam seketika. Menoleh kearah Sky dan pintu kamar yang kini terbuka.


"Suri!" Tanpa ragu Sky masuk meninggalkan Jason dan Daren.

__ADS_1


Di dalam kamar, Sky kebingungan karena Suri tidak ada.


"Kemana dia pergi?" Tanya Jason yang baru memeriksa kamar mandi.


Ketiganya berpikir keras di dekat ranjang Suri yang masih nampak rapih.


"Apa dia pergi ke kamar salah satu mahasiswi?" Pikir Daren.


Sky menggeleng cepat.


"Aku tidak yakin! Karena dia selalu mengatakan tidak mempunyai teman."


Sky mengatakan Fakta.


"Terus, dia kemana?" Jason menuntut jawaban dari Sky.


Sky bukannya menjawab dirinya malah berlari keluar kamar di ikuti Jason dan Daren.


.


.


Sementara itu. Si awak kapal yang tadi pingsan tengah menghadap kapten melaporkan apa yang di lihatnya.


Semua awak kapal saling tatap. Ketar-ketir mendengar laporan yang di bawa temannya.


"Segera periksa Cctv." Titah sang kapten.


Awak kapal yang bertugas di luar kabin Mengangguk dan segera pergi ke ruangan di mana Cctv berada.


Cctv jarang di jaga karena tidak pernah ada kejadian yang seperti saat ini. Semua selalu terjaga dengan baik. Ini jelas kelalaian dari semua awak kapal yang bertugas menjaga setiap sudut kapal.


Kebetulan sekali. Sky datang menghadap.


Si kapten kapal membungkuk di ikuti jajaran awak kapal dan pelayan kabin yang sengaja dikumpulkan.


Para mahasiswa dan mahasiswi belum di beri tahu karena takut akan menimbulkan kepanikan. Sang kapten akan memastikan apakah laporan bawahannya benar adanya, atau hanya sekedar halusinasi. Apalagi mendengar dirinya pingsan tadi.


"Istriku tidak ada di kamar! Periksa Cctv sekarang!" Kata Sky sembari mengatur napas yang tersengal hebat. Berlari dari kamar Suri yang lekatnya lumayan jauh dari sang kapten.


Apakah yang di katakan awak ku benar adanya? Bagaimana kalau itu, Nona Suri.


Si kapten ketakutan. Walaupun dirinya berusaha tenang. Bagaimana kalau itu Suri istri tuan mudanya.


Menunggu. Sampai si awak kapal yang di tugaskan Melihat Cctv datang.


"Bagaimana? " Tanya si kapten gugup.


Si awak kapal mengangguk berat.


"Ini rekamannya, kapten!"


Satu buah flashdisk di sodorkannya.


Sky langsung menyambar benda kecil itu.


Segera menyerahkannya ke kapten dengan mata memerah. Perasaannya sudah tak karuan saja.


Kapten mengangguk. Langsung mengajak Sky dan kedua sahabatnya untuk menonton layar laptop.


Kilas balik Suri dan Melodi melompat tengah di saksikan Sky dan semua orang.


Mereka mengerutkan tubuh karena takut.


Tangan Sky bergetar hebat. Membanting laptop sampai mengenai tubuh salah satu awak kapal.


"Kalian bodoh? Kenapa kalian bisa lalai! Istriku terjun dari ketinggian 10 meter. Apa kalian sadar itu." Sky naik pitam, benar-benar murka karena Suri melompat tanpa ada yang sadar.


"Maafkan saya tuan Sky. Saya yang melihat langsung Nona Suri dan Nona Melodi mengapung di atas perahu karet. Tapi saya terjatuh dan pingsan. Sa-saya tidak-


"Cari mereka cepat!" Teriak Sky yang sudah di puncak kemarahan.


"Astaga, Suri, kenapa kamu melompat! Bagaimana kalau- Argh."


"Tenang Sky. Tenangkan dirimu! Suri akan ketemu." Jason menarik Sky memeluknya erat.


Sky tak melawan. dirinya terkulai tak berdaya dalam pelukan Jason.


"Aku sudah memperlakukannya tidak baik! Sekarang dia-


Sky yang kembali marah. Segera menarik diri dan mendorong tubuh Jason.


"Bagaimana aku bisa tenang. Dia melompat dan sekarang aku tidak tau dia ada di mana!" Pekik Sky. Berlari keluar meninggalkan Jason dan Daren.


"Sekarang kita harus bagaimana?" Tanya Daren yang sudah tak kuasa untuk berjalan.


"Kita akan mencari Suri dan Melodi sampai ketemu."


"Kita di tenang lautan, Jason!"


"Di tengah lautan, bagiku sama saja."

__ADS_1


__ADS_2