
Pagi menerangi sebuah bangunan berlantai tiga.
Belum terlalu ramai orang yang masuk ke sana. Hanya ada beberapa kariawan yang bekerja dan juga segelintir pengunjung.
Di tengah-tengah hiruk-pikuk meja dan kursi. Tiga sosok pria tampan dengan balutan kaos kasual berkumpul. Ketiganya sibuk dengan layar laptop masing-masing.
Obrolan tentang rumitnya skripsi bergantian masuk kedalam pendengaran ketiganya.
Jason dengan serius mendengarkan setiap kata yang keluar dari Sky. Tangannya begitu semangat bermain di atas keyboard menyalin semua kata menjadi kalimat.
Sky memberikan kiat bak mentor proposional kepada kedua sahabatnya. Dirinya tak pelit akan ilmu yang di miliki apalagi sekarang mereka harus segera menyusun skripsi. Dengan begitu mereka bisa menyongsong masa depan menjadi pemimpin di perusahaan masing-masing.
"Sekarang bagaimana sektor industri-
Daren yang bertanya. Mendadak terdiam ketika Sky yang di ajak bicara malah melamun.
"Jason!" Daren berbisik sembari menyenggol tangan Jason yang sibuk.
Jason mengerang kesal karena ketikannya jadi kacau. "Aish.."
Mata marah Jason melirik Daren cepat. "Kenapa-
Daren segera melirik Sky. Memberi isyarat agar Jason melihat Sky.
"Kenapa lagi dengannya?" Daren kembali berbisik di telinga Jason. Hembusan napas Daren yang hangat membuat Jason menoleh cepat.
"Menjauh sedikit." Pinta Jason kepada Daren yang mana malah cengengesan.
Mendengar suara ribut kedua sahabatnya. Sky tersadar.
"Apa yang kalian lakukan? Cepat selesaikan." pekik Sky.
Jason dan Daren seketika terdiam.
"Ada apa Sky?" Tanya Jason.
Sky menggeleng pelan. Kembali fokus menatap layar laptop. Mengabaikan Jason dan Daren.
Keributan yang di timbulkan Jason dan Daren berubah menjadi suasana hening.
Merasa ada yang tidak beres. Jason kembali bertanya.
__ADS_1
"Apa yang kamu pikirkan, Sky?"
"Iya, Sky. Apa yang kamu pikirkan?" tambah Daren yang sebenarnya mengulang ucapan Jason.
Sky menarik napas berat. Bergantian melirik Jason dan Daren. Seakan ragu untuk bercerita.
"Katakan saja Sky?" Seru Daren tak sabar.
"Aku-
.
Suri membuka pintu kamar mandi dengan kepala menunduk. Berjalan menghampiri Dokter Kamla berteman satu buah alat pendeteksi kehamilan yang ia genggam.
Dokter Kamla menunggu di kursinya bersama kedua suster yang juga menampakkan wajah datar.
"Silakan, Nona." Suster yang tadi kembali menggeser kan kursi untuk Suri.
Suri Mengangguk sebagai ucapan terimakasih alih-alih bersuara seperti sebelumnya.
Dokter Kamla menjulurkan satu tangannya. Sudah pasti meminta alat pendeteksi kehamilan dari tangan Suri.
"Berikan Nona!" Pinta dokter Kamla. Tangannya masih menggantung di udara.
"U-untuk apa dokter?" Suri bertanya gugup. Tanpa sadar ia menggenggam testpack amat kuat. seolah tak ingin sampai Dokter Kamla mengambilnya.
Melihat Suri yang tidak bisa di ajak bicara. Dokter Kamla melirik kedua suster.
Suster mengerti. Keduanya melangkah menghampiri Suri dan dengan cepat merampas testpack dari tangan Suri.
"Maafkan kami Nona." Ucap kedua suster yang sudah mengeroyok Suri sampai tak berdaya.
Suri tercengang dengan sikap kedua suster dan dokter Kamla.
"Kalian tidak sopan? Aku akan melaporkan kejadian ini ke-
"Anda hamil? Itu yang harus ada pikirkan? Bagaimana kalau sampai Tuan Diki tau?"
Dokter Kamla langsung masuk kedalam intinya. Dirinya menatap Suri yang kini nampak lesu.
"Anda hamil Nona!" Lagi Dokter Kamla memberi tahu kebenaran yang sudah di ketahui Suri.
__ADS_1
Suri terkulai di bangkunya. Wajahnya pucat. Tatapan matanya kosong saking terkejutnya.
Bingung, tak percaya, hamil? Dirinya hamil yang artinya ada kehidupan di dalam tubuhnya.
Benih cinta antara dirinya dan Sky kini hidup di dalam tubuhnya yang mungil itu.
Tak kuat menahan beban berat itu Suri mulai menangis.
Hiks ...hiks....hiks...."Aku hamil! Hiks....hiks..."
Dokter Kamla dan kedua suster menatap Suri sendu. Mereka tau beban berat yang kini di pikul sang menantu Batara.
.
'Dokter Kamla. Anda dokter yang saya percayai untuk menangani Menantu saya. Berikan Bimbingan kepada menantu saya sebaik baiknya tentang penundaan kehamilan! Saya ingin anda memastikan itu.'
'Tuan Diki yang terhormat meminta agar saya memberi bimbingan konseling kepada Nona Suri esok hari. Jadi saya minta kalian untuk mendampingi saya.'
.
Dokter Kamla dan kedua suster merenung dengan ucapan atau permintaan Tuan Diki. Tapi sekarang Suri hamil. Kabar yang mungkin tidak akan bisa di terima sang penguasa Batara Company itu.
Itu lah yang membuat Suri menangis. Dirinya kebingungan dengan takdir Tuhan yang amat mendadak ini.
"Kenapa! Hiks ..hiks... Kenapa aku hamil. Hiks...hiks....Papa pasti tidak akan suka!" Ucap Suri lirih. terus memukul dadanya.
Dokter Kamla membiarkan Suri menangis menunggu si nona muda tenang sembari mencari ide. Dirinya juga tidak mungkin menyarankan untuk menggugurkan kandungannya. Pewaris kerajaan Barata Company.
Suri tak kunjung tenang. Tangisnya semakin kuat saja.
Dokter Kamla beranjak bangun dan mendekati Suri.
"Nona!" Dokter Kamla mengusap punggung Suri yang bergetar. Duduk di samping Suri dengan sopan.
Suri menoleh sebentar sembari masih menangis.
"Saya ingin anda berbohong untuk sementara!" Bisik Dokter Kamla.
Tangis Suri terhenti. Dengan ragu melirik Dokter Kamla.
"Berbohong?" Suri balik bertanya.
__ADS_1
Kepala Dokter Kamla mengangguk membenarkan.
"Saya ingin anda berbohong Nona!"