
Sesuai janji Nyonya Nena. Makan makan dengan sedikit embel pesta perayaan atas di terimanya Suri sebagai Dokter di salah satu rumah sakit di kotanya di gelar. Tetangga terdekat mulai berdatangan tak lupa memberi ucapan selamat dan hadiah kecil. Kegiatan yang lumrah ketika salah seorang tetangga mengundang untuk berkunjung ke kediaman apalagi ini pesta perayaan.
Meja panjang dengan berbagai hidangan di letakan di area belakang rumah. Para tetangga yang hadir duduk tenang menyantap hidangan sembari bersenda gurau bebas tanpa memikirkan buah hati mereka. Anak-anak tak di ajak mengingat ini pesta khusus orang dewasa dalam artian akan ada minuman dan canda tawa tak terkendali.
Suri ikut berbaur dengan para tamu yang sudah di anggapnya sodara. wajahnya memancarkan aura bahagia tanpa ada beban di sana.
Beban? Kata itu mungkin sudah luput dari hidupnya. Suri tak lagi ingin mengingat masa lalu walaupun itu sulit.
"Selamat Suri, kamu memang hebat! Mengayomi dan berhati lembut itu cocok dengan mu. Sebagai dokter anak sesuai dengan kepribadian mu." seru salah seorang tetangga yang rumahnya paling dekat dengan Suri. Savira namanya. Ibu dua anak yang usianya lebih tua lima tahun dari Suri. Wanita cantik lagi baik hati, penuh perhatian menganggap Suri sebagi adiknya.
Savira sendiri memiliki cafe di mana Nyonya Nena bekerja di sana sebagai kasir. Pekerjaan yang tidak di sangka pada awalnya. Seorang Nyonya dari perusahaan besar kini turun tahta menjadi penunggu kasir. Tapi tak apa, itu pun tak jadi soal.
Suri tersenyum malu.
Nyonya Nena yang ada di dekat Suri menyahut bangga.
"Dia putri kami, dia memang pantas menjadi dokter anak. Cita-citanya sedari dulu." usapan lembut terus di rasakan Suri.
Suri mengangguk samar. Menatap manik sang Mama yang tersenyum bangga padanya.
Suri tidak akan mengecewakan Mama, Mama Luna dan Queen. Bagi Suri Kalian adalah segalanya.
Mengingat bagaimana perjuangannya untuk bisa seperti sekarang membuat Suri berkaca-kaca. Tapi Suri mengalihkan segera kepalanya sembari tersenyum menatap para tetangga yang juga memperhatikan dirinya dan Nyonya Nena.
"Sekarang kalau ingin konseling masalah anak kita tidak harus ke dokter lain! Ada dokter Suri di sini?"
Hahahaha.
Celetukan Suami Savira, Jon namanya, mampu meramaikan suasana yang awalnya penuh haru. Suri ikut tertawa pun Nyonya Nena yang di kuasai rasa bahagia.
Satu pria berbaju kotak-kotak mengangkat gelas. "Untuk Dokter Suri."
Suri tertawa kecil dan mulai mengangkat gelasnya seperti yang lain.
"Terimakasih, Terimakasih." ucap Suri setelahnya meneguk minuman.
Malam berlanjut, pesta perayaan berangsur berakhir. Para tamu mulai meninggalkan rumah Suri. Di ambang pintu Suri mengantarkan tetangganya yang terakhir. Suri melambaikan tangan dengan menahan rasa kantuk.
"Besok semangat ya, Suri." pesan Savira sambil berjalan menjauh.
Suri mengangguk antusias. Sampai Savira dan suaminya menghilang.
huuuaaahh.. "Aku mengantuk sekali." keluh Suri yang sudah tak tahan. Kakinya berjalan cepat menuju kamar setelah berpamitan kepada Nyonya Nena yang masih bebenah, Suri ingin membantu tapi Nyonya Nena melarang.
"Istirahat agar besok kamu seger kembali."
Suri mengangguk patuh yang memang dirinya sudah sangat mengantuk.
__ADS_1
Di kamar Suri segera merebahkan tubuh tanpa membersihkan diri dan berganti baju. Suri mungkin melupakan kegiatan itu tapi untuk memberi kecupan selamat malam kepada putri semata wayangnya dan sang Mama Suri tak akan melewatkannya.
"Good night Queen." cup.
.
Matahari datang begitu cepat dan semangat. Menandakan hari bersejarah untuk Suri di mulai. Sebagai dokter anak Suri berkerja amat tekun lagi cekatan. Bertemu anak-anak lucu dan memberi solusi atas permasalahan yang di bawa kedua orang tua tentang buah hati mereka di lakukan setiap harinya, menebar senyuman manis menemani keseharian Suri. Pekerjaan mulia dan berkesan itu tak terasa sudah berlangsung delapan bulan lamanya. Waktu yang penuh warna itu di lalui begitu mulus.
Sore harinya. Suri meninggalkan rumah sakit mengingat waktu prakteknya sudah selesai. Kini giliran teman sejawatnya yang melakukan tugas menggantikan dirinya.
Jalanan yang selalu di lalui kendaraan miliknya begitu sibuk seperti biasa. Suri mulai bosan akan itu. Tapi kembali wajah manis Queen yang terpampang di atas kaca spion mobil menyadarkan Suri. Poto kecil sang putri sengaja di simpan sebagai pajangan untuk mengingat bagaimana gadis mungil itu amat berarti dalam hidupnya.
"Iya, iya, Mommy semangat lagi." Gumam Suri berteman senyuman datar.
Queen bagaikan cahaya di hidup Suri. wajahnya yang cantik mampu meluluhkan hatinya yang mati rasa. tiba-tiba Suri berpikir tentang satu hal yang di katakan teman sejawatnya yakni pendamping hidup. Ucapan beberapa hari yang lalu tepatnya.
Suri menghela napas pelan, tersenyum penuh curiga memikirkan kalau harus menikah lagi. pemikiran yang selama ini tak terlintas dalam benaknya.
Kalau di tanya apakah selama ini dirinya di dekati pria? Jawabannya iya, beberapa pria tampan dan mapan berbaris antri untuk bisa menjadi pria idaman Suri tapi tak ada seorangpun yang mampu membuka hatinya yang tertutup rapat itu. Kunci untuk membukanya terkubur dalam seakan sudah hancur menjadi buih yang tidak bisa lagi di gunakan. Entahlah kenapa Suri menolak pinangan pria yang mau menjadi papa baru Queen, rasanya berat! Berat karena rasa trauma dengan pernikahan atau nama Sky masih menghuni hatinya?
"Bagiku menikah sekali seumur hidup sudah lebih dari cukup!"
.
Setelah lelah berkutat di jalanan, Suri sampai rumah. Mobil di parkir di depan halaman.
Masih di dalam mobil Suri terheran-heran melihat tetangganya yakni Savira berjalan menghampiri padahal langit mulai gelap.
"Savira?" Suri segera membuka pintu mobil dan tersenyum ramah ketika Savira berlari menghampiri.
"Hai," sapa Suri seperti biasa.
Savira tersenyum datar.
"Kau baru pulang?" tanya Savira dengan wajah canggung.
Suri mengangguk saja.
"Apa kamu baik-baik saja." Suri balik bertanya. Melihat bagaimana Savira bertingkah aneh tak seperti biasanya.
Savira bukannya menjawab, dirinya malah mendekati daun telinganya. Membisikakan sesuatu tepatnya.
"Maaf Suri. Kalau ucapan ku ini akan membuat kamu tak nyaman?"
Suri mengerutkan kening karena bingung.
"Memangnya ada apa?" tanya Suri penasaran.
__ADS_1
Savira berbisik lagi tanpa ragu.
"Tiga puluh menit yang lalu aku melihat sebuah artikel di mana di dalamnya ada namamu Suri! Keluarga Barata mencari keberadaan mu!"
"Hah!" Suri terpaku di tempatnya. Matanya membulat menatap Savira yang mengangguk dengan wajah kaku.
Semua tetangga sudah mengetahui siapa itu Suri dan riwayat hidupnya. Semua tau kalau Suri adalah janda dari seorang pria kaya raya, seorang pria yang memiliki kekuasaan mutlak di negaranya. Barata Company bukan nama yang asing di telinga mereka. Tapi Suri yang memang sudah bebas dari jeratan Sky merasa hidupnya baik-baik saja. Sky dan keluarganya tak akan lagi mencari keberadaan dirinya. Terbukti sudah hampir empat tahun Suri hidup tenang tanpa gangguan dari Sky. Tapi sekarang apa?
Tiga tahun bukan waktu yang singkat bagi Suri untuk bangkit dari bayang-bayang keluarga Barata terkecuali Sky, mantan suaminya. Kekosongan dan kehampaan terus menemani Suri, sampai malaikat kecil hadir di tengah-tengah kesendirian yang nyata dan itu tanpa di ketahui Sky dan keluarganya!
Queen seperti jarum dalam tumpukan jerami yang sulit di temukan. Tapi sekarang sebuah artikel dengan wajah dirinya terpampang di depan layar laptopnya. Suri menggelengkan kepala tak percaya. Bagaimana bisa keluarga Barata mencarinya dengan menyertakan wajahnya yang cantik di sana.
Berita ini bisa sampai di kota ini, kota yang bahkan jauh dari jangkauan kalian?
Suri tertegun melihat potret diri di depan layar laptop, di sana ada tumpahan kata yang berbaris membentuk kalimat panjang lagi penuh harap.
Air mata tumpah seketika. Hiks...Hiks.... "Tidak bisakah kalian membuat aku tenang!"
Kebetulan Nyonya Nena melewati kamar Suri. Dengan membawa nampan dan selimut. Nyonya Nena melangkah masuk mengingat pintu kamar tak di tutup rapat. Suri terburu-buru masuk kedalam kamar setelah mendengar kabar itu dari Savira.
"Sayang, apa yang kamu lakukan? Mama habis dari kamar Queen dia-
Hiks...hiks...
Suara tangisan Suri membungkam mulut Nyonya Nena. Kakinya melangkah cepat menghampiri Suri dengan wajah takut.
"Sayang? Kenapa? Apa yang terjadi?" tanyanya sembari memeluk Suri. Dirinya sedikit kebingungan. Apakah tangisan sang putri adalah tangis kebahagiaan? Atau ada hal lain. Seperti di tempat kerjanya Suri mendapatkan kesulitan?
"Ma, Suri takut! Suri takut! Hiks..hiks.."
"Apa yang kamu takutkan? Katakan? Ada Mama di sini?"
Suri betah menangis untuk beberapa saat.
Nyonya Nena tak sabar ingin tau. Matanya yang penasaran berkeliling sampai berhenti di mana laptop menyala di dekatnya.
"Astaga," Nyonya Nena terkejut. Dirinya segera menyudahi pelukan dengan sang putri dan memilih melihat apa yang ada di depan layar laptop.
SAYA SELAKU PERWAKILAN DARI KELUARGA BARATA MENCARI KEBERADAAN WANITA INI. DIA ADALAH MANTAN ISTRI DARI ADIK SAYA. NAMA SAYA TRISTAN KAKAK DARI SKY. PEMILIK PERUSAHAAN BARATA COMPANY. JIKA KALIAN MENEMUKAN WANITA INI TOLONG BERITAHU SAYA. DENGAN PENUH HARAP SAYA MEMINTA BANTUAN KALIAN.
TERIMAKASIH
Nyonya Nena terdiam. Napasnya sedikit tercekat sesaat setelah membaca artikel yang di muat salah satu tabloid terkenal.
"Kenapa mereka mencari kamu Nak? Tiga tahun berlalu mereka kembali mencari kamu! Apa yang terjadi?"
Pertanyaan dari Nyonya Nena yang penuh ketakutan dan linangan air mata hanya di jawab gelengan kepala dan suara tangisan dari Suri.
__ADS_1
"Queen? Apa mereka sudah tau tentang cucu Mama?"