Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)

Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)
Queen Harus Tau Siapa Ayahnya


__ADS_3

Tristan dengan jantan dan penuh keberanian membuka pintu kamar sang Mama. sedangkan dokter Kamla meringkuk takut di belakang tubuh tinggi Tristan. Sky mengekor di belakang Dokter Kamla sembari berbisik yang jelas membuat Dokter Kamla semakin menciut takut.


"Kau memang calon kakak ipar ku, tapi aku tidak akan mengampuni mu atas perbuatan mu."


Mendengar bisikan yang mengancam itu. Dokter Kamla melangkah menghampiri Tristan, tanpa sadar mencengkram pergelangan tangan sang calon suami.


Sontak Tristan terkejut. Berjalan masuk dengan mata menatap aneh Dokter Kamla.


Apa yang dia lakukan.


Batin Tristan bertanya.


"Ma?" panggil Tristan, setelah berhasil masuk ke dalam kamar, mencoba mengalihkan pandangannya dari Dokter Kamla yang ada di sampingnya.


Nyonya Rose menoleh ke arah suara. Ia tersenyum lebar melihat Tristan yang masuk ke dalam kamar bersama dokter Kamla calon menantunya.


Keinginan Nyonya Rose untuk menikahkan si putra sulung semakin besar di setiap harinya usianya sudah pantas untuk berumah tangga. Di samping itu. Nyonya Rose butuh seorang teman yang bisa menemani dan merawatnya di rumah sebesar ini. Sampai ia menjatuhkan pilihan kepada Dokter Kamla, Gadis cantik yang menurutnya sempurna menjadi pendamping untuk Tristan. Posisi keluarga Dokter Kamla cukup tinggi. Ayahnya seorang direksi di salah satu rumah sakit terbesar di kotanya. anak-anaknya pun mempunyai gelar-gelar tinggi di bidangnya. Termasuk dokter Kamla, jadi tidak ada salahnya jika Tristan dan Dokter Kamla menikah.


Dokter Kamla juga dulu pernah menjadi dokter pribadi mantan menantunya. Suri, Secara tidak sengaja Nyonya Rose mengenal baik Dokter Kamla.


Akan tetapi senyuman manis itu berubah menjadi tatapan penuh ketidak percayaan. Para pelayan wanita yang ada di sana menganga lebar melihat Tristan yang masuk tanpa bantuan kursi roda seperti biasanya.


"Tuan Tristan bisa berjalan? Apa aku tidak salah lihat?"


"Apa aku tidak salah melihat? Tuan Tristan-


"Dia bisa berjalan?"


Pelayan berbisik tanpa ragu.


"Kalian," kalimat bernada lembut itu tergantung ketika kepala Sky menyembul dari balik tubuh Dokter Kamla.


Keterkejutan Nyonya Rose bertambah saja.


Sky tersenyum datar. Dirinya enggan masuk jika saja tidak berhubungan dengan Dokter Kamla yang sudah membuat Suri pergi membawa anaknya.


"Sky?" panggil Nyonya Rose sembari tersenyum ceria. Ini adalah kesempatan langka mengingat selama ini dirinya menutup diri kepada si bungsu.


Ketiganya masuk dan berdiri di mana Nyonya Rose terlentang di ranjang.


Secepat kilat Nyonya Rose menghampiri Tristan, memeluknya erat.


"Kak, kamu bisa berjalan. Sejak kapan? Apa Mama bermimpi?" ucap Nyonya Rose dengan tangisan, dirinya masih tidak percaya melihat Tristan yang lumpuh kini berdiri di hadapannya begitu gagah.


"Maafkan Tristan, Ma, selama ini Tristan sudah membohongi Mama dan Papa."


Hiks ..hiks.... Nyonya Rose terus menangis bersama Tristan dan Dokter Kamla. Sedangkan Sky menunggu adegan di depan matanya selesai sembari duduk dan menonton dengan tatapan datar.


"Ada yang ingin kami katakan Ma," ucap Tristan tanpa keraguan.


Nyonya Rose mengangguk. Melirik satu persatu para pelayan wanita dengan mata berlinang "Kalian keluarlah."


"Baik Nyonya."


Pelayan keluar bersama-sama. Menyisakan keluarga Barata yang entah akan membicarakan apa? Satu hal yang mereka tau, Tuan muda Barata bukan tuan muda cacat lagi.


"Mama senang melihat Kakak bisa berjalan lagi? Sejak kapan Kak? Mama-


"Ma?" Sky beranjak bangun. Ia menghampiri sang Mama yang nampak kebingungan.


"Menyingkir." pinta Sky kepada Dokter Kamla.


Dokter Kamla mengangguk dan mundur perlahan.


"Sky?" Nyonya Rose segera memeluk Sky yang di rindukannya. Mengecup kedua pipinya penuh kasih.


"Mama sangat merindukan kamu Sayang, Mama minta maaf." ucapnya lirih, memohon ampun kepada Sky karena sudah membuangnya. Istilah kata, Nyonya Rose melenyapkan Sky dari ingatan yang penuh kesedihan.


Sky acuh dan tak memberi jawaban apapun.


Tristan yang ada di sana memberanikan diri untuk mengutarakan apa yang di inginkan Sky, kejujuran tentang rahasia lainnya.


"Ma, ada hal penting yang ingin Tristan dan Kamla-


"Iya, katakan cepat." sergah Sky penuh kebencian. Melirik Dokter Kamla seolah mencaci perbuatannya empat tahun lalu.


Nyonya Rose melirik satu persatu anak laki-lakinya. Matanya yang sembab meminta penjelasan.

__ADS_1


"Ada apa? Apa ada rahasia lain yang belum Mama ketahui?"


Sky mengangguk. "Bukan hanya kebohongan yang di rahasiakan kakak, tapi ada hal lain?"


"Apa? Beritahu Mama,"


"Tante?" Dokter Kamla memberanikan diri menghampiri membawa tekad yang kuat.


Tristan tidak berhak menangung semua kesalahanku. Aku yang harus bertanggung jawab.


Tristan dan Sky menoleh kearah Dokter Kamla dengan ekspresi wajah berbeda-beda.


"Kamla?" panggil Tristan. Menarik tangannya seolah memintanya untuk mundur kembali.


Tapi Dokter Kamla menggelengkan kepala.


"Tante, sebelumnya saya ingin meminta maaf."


.


Suri mengantarkan Demian sampai halaman rumah.


Setelah pembicaraan yang berakhir dengan kesepakatan Suri tidak akan melawan Sky, Demian meminta untuk Suri kembali memikirkan keputusan yang menurutnya terlalu gegabah. Tapi Suri penuh keyakinan menolak usulan Demian. Tak bisa lagi meyakinkan Suri untuk melawan, Demian pamit pulang setelah meneguk air lemon sampai habis tak tersisa.


Lalu Demian masuk kedalam mobilnya. Ia memperhatikan Suri yang berbalik dan masuk kedalam rumah.


Dalam benaknya Demian berpikir tentang Suri. Ibu satu anak itu sudah membuat hatinya penasaran.


"Sukar di percaya dia begitu menolak usulan ku untuk melawan mantan suaminya. Apa dia tidak takut jika suatu saat nanti ada seseorang yang memberitahu dirinya dan anaknya, siapa tadi namanya?" Demian berpikir sejenak. Mencari tau nama putri Suri yang tersimpan di lain imajinasinya.


"Queen!" setelah itu Demian menghidupkan ponselnya. Ia sibuk mencari sesuatu di depan layar dengan senyuman aneh.


"Savira?"


Ternyata yang di hubungi Demian, adalah Savira, tetangga Suri sekaligus istri dari temannya. Jhon,


"Bagaimana? Apa Suri menerima bantuan mu?" tanya Savira dari sebrang telepon. Terdengar Savira begitu bersemangat.


"Tidak? Dia menolak bantuan ku, dan dia juga menolak untuk melawan mantan suaminya." kata Demian lemas.


"Apa?" Savira terkejut bukan main. "Ternyata, Tetanggaku yang satu ini lain dalam bertindak." sambung Savira seakan kesulitan mengerti kehidupan Suri.


Savira berpikir Demian adalah pria baik yang mana cocok dengan Suri. Itu yang di pikirkan Savira. Dengan dalih ingin memberi bantuan Savira berinisiatif untuk mempertemukan Demian dengan Suri. Berharap keduanya bisa saling mengenal. Tapi sepertinya sulit di wujudkan jika sikap Suri terlalu dingin terhadap Demian.


Demian menghela napas berat. Kepalanya menggeleng pelan. "Bagaimana aku bisa mendekati tetanggamu itu. Dia seperti tembok yang terbuat dari beton. Akan sulit untuk ku merobohkannya."


.


Di saat Demian berceloteh bersama Savira, Suri, yang kebingungan memilih membersihkan diri dan merenung. Di dalam hangatnya air dan nyamannya bathub Suri memejamkan mata. Mencoba rileks dan mengatur pikiran yang sembraut. Membiarkan Queen sibuk seorang diri di kamarnya.


"Apa benar keputusan ku terlalu gegabah?" Suri bergumam, membawa pikirannya semakin dalam sampai ia terlelap begitu nyaman.


Kebetulan Nyonya Nena pulang. Kaki lelahnya masuk kedalam rumah. Yang pertama di lakukan oleh janda mendiang Tuan Chris adalah menemui sang Kakak yang mana masih dalam keadaan sama. Melamun di dalam dunianya.


"Kak," panggilan hangat itu tak mendapatkan respon apapun. Nyonya Luna betah menatap pepohonan dari balik jendela.


Nyonya Nena, melihat keadaan Nyonya Luna. Garis di bibirnya terlukis manakala sang Kakak sepertinya sudah rapih dengan tubuhnya.


"Kakak sudah mandi rupanya."


Tok...tok...


Pintu di ketuk.


"Masuk." teriak Nyonya Nena.


Pintu terbuka perlahan.


"Nenek sudah pulang?" Queen berlari menghampiri Nyonya Nena.


"Oh sayangku, Nenek sangat merindukanmu."


Setiap hari harus bekerja membuatnya merindukan Queen. Walaupun terkadang Queen menemaninya di Cafe beberapa saat. Selebihnya Queen akan bersama Savira tetangganya yang baik hati sekaligus bosnya.


"Mana mommy mu?"


Queen menggelengkan kepala begitu menggemaskan.

__ADS_1


Tidak salah lagi. Suri pasti tertidur di kamar mandi. Kebiasaan yang sudah bukan rahasia lagi. Apalagi hari menjelang malam.


"Sekarang, Queen mandi? Nenek temani."


Queen mengangguk riang. Lalu menyeret Nyonya Nena keluar kamar sebelumnya memberi kecupan manis di pipi Nenek yang satunya lagi.


"Ayo Nek,"


Dalam keheningan. Nyonya Luna yang asik sendiri tersenyum sembari mengusap lembut pipi yang mana masih terasa kecupan dari cucunya,


"Dia seperti Suri ku."


.


Malam datang.


Suri baru selesai mandi dan nampak segar. Ia merenung sedari tadi sampai kakinya yang kebingungan berhenti di depan meja kerjanya. Menatap bingung Laptop yang terlipat.


Lekas setelahnya duduk lalu membuka laptop. Tangan dan kedua bola matanya sibuk mencari sesuatu.


Sebuah selebaran dengan potret diri terpampang di depan layar. Ternyata Suri kembali membuka artikel yang di muat Tristan beberapa bulan lalu itu. Bahkan sekarang selebaran lain muncul ke permukaan, Dengan naman Sky Antoni Barata si pembuatnya.


Seorang Presdir Barata Company mencari keberadaan dirinya disertai jumlah nominal uang yang akan di berikan kepada siapapun yang bisa memberinya informasi tentang keberadaan wanita yang di carinya.


Suri terkesima, tertawa tak percaya melihat kedua kakak beradik itu gencar mencarinya. Satu hal yang harus di lakukan sebelum semua semakin kacau. Orang bisa berpikir macam-macam terhadapnya. Bisa juga polisi setempat menjemput dirinya dan semua akan benar-benar kacau.


Mungkin menghubungi salah satu dari mereka adalah jalan yang benar.


"Aku bukan buronan! Jika niatan mereka hanya untuk mencari keberadaan Queen, aku akan pertemukan Queen dengan Papanya dan keluarganya." ucap Suri dengan wajah sendu.


Mungkin sudah waktunya aku berhenti bersembunyi.


.


"Sayang," Nyonya Nena menyapa Suri yang Baru saja datang.


Meja makan sudah di tata dengan makan malam. Queen yang tengah asik menyantap hidangan di piringnya melirik kearah Suri.


"Mom."


Suri tersenyum sembari mengusap lembut pipi sang putri. Kemudian duduk di samping Queen.


"Mama sudah makan?"


Pertanyaan itu di tunjukkan untuk Nyonya Luna.


"Sudah sayang." jawab Nyonya Nena yang tengah mengambilkan makanan untuk Suri.


Suri mengangguk.


"Mom? Di mana tamu kita?"


"Tamu kita?" tanya Nyonya Nena kebingungan atas pertanyaan Queen.


Suri baru ingat kalau tadi Demian datang pengacara temannya Jhon.


"Oh iya, sampai lupa. Tuan Demian, tadi dia datang."


"Demian, pengacara itu?" pikir Nyonya Nena.


Suri mengangguk dengan makanan di sendok nya.


"Terus?" tanya Nyonya Nena lagi penasaran.


Dengar-dengar Pengacara itu tampan dan ingin mengenal putrinya. Itu yang dirinya dengar dari Savira.


Suri menggeleng pelan. "Tidak ada hal yang harus Suri lakukan? Suri tidak akan melawan Sky?"


Mendengar statemen itu Nyonya Nena mengerutkan kening karena terlalu bingung.


Suri yang mengerti melihat keterkejutan ibunya segera memberi penjelasan dan di akhiri dengan kalimat.


"Satu Minggu lagi, Suri akan membawa Queen untuk bertemu keluarga Papanya. Suri merasa Queen berhak tau siapa dirinya dan siapa ayahnya." Suri menatap nanar Nyonya Nena dengan menahan air mata.


"Ma, katakan? Apa yang Suri lalukan salah? Suri sudah lelah dengan semua ini! Suri ingin Queen bahagia."


"Tidak sayang, kamu tidak salah. Kamu benar, Queen harus tau siapa ayahnya."

__ADS_1


Queen yang ada di antara ibu dan Neneknya bertanya.


"Papa? Papa Queen?"


__ADS_2