Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)

Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)
Berfikir Positif


__ADS_3

Dokter Kamla menunduk pilu. "Maafkan saya Nona. Untuk saat ini biarkan kehamilan anda menjadi rahasia! Saya janji-


"Saya tidak menyangka anda orang yang berpendidikan tapi anda bertingkah layaknya manusia yang buta dengan keadaan pasian anda sendiri! Saya adalah pasien anda Dokter, Dokter Kamla, saya tidak tau ancaman apa yang di berikan mertua saya kepada anda. Tapi di sini anda mengancam hidup saya! Anda tau-


"Saya tau Nona! Tuan Diki sudah menjelaskan semuanya kepada saya!"


Dokter Kamla menghela napas berat. Ia mengangkat kepalanya yang kaku. Menatap Suri sekilas.


"Sebelum saya di minta ke sini. Saya di hubungi Tuan Diki. Dan seperti yang anda katakan tadi. Saya tau ketakutan beliau jika anda sampai mengandung! Ketakutan yang wajar karena beliau adalah orang yang berpengaruh di negara ini."


"Stop! Jangan lagi anda berbicara! Saya muak!" Suri berbalik dan berjalan cepat. Ingin rasanya Suri berteriak dan memaki angin malam yang dingin tapi ia tak kuasa. Suri malah berjalan dengan bercucuran air mata.


Melihat Suri pergi Dokter Kamla bersuara lirih.


"Ibu saya sakit Nona!"


Sontak Suri terdiam dari langkah cepatnya tanpa berbalik.


Suara isak tangis Dokter Kamla mulai terdengar Dan itu membuat Suri sedikit bimbang.


Di sini peran seorang ibu di jadikan dokter Kamla sebagai aji mumpung. Suri akan lemah jika peranan itu di libatkan.


"Bagaimana kalau karir saya hancur! Apa yang akan saya katakan kepada ibu saya. Bagaimana saya membiayai pengobatan ibu saya nantinya! Saya mohon Nona. Berdamai-lah sebentar saja. Ketakutan mertua Anda tidak akan pernah terjadi. Saya menjamin itu. Saya mohon!" seru Dokter Kamla penuh harap. Ia menunduk perlahan sambil terisak. Ini bukan sandiwara yang sengaja di ciptakan. Memang yang di utarakan dokter Kamla benar adanya.


Ancaman Tuan Diki padanya tidak main-main. Tuan Diki meminta agar Menantunya tidak berbadan dua sampai waktu tiga tahun ke depan. Dan itu adalah tugas Dokter Kamla sebagai seorang dokter yang di percaya. Alih-alih melarang Sky menggauli Suri. Poin kesalahan pertama seorang Tuan Diki yang terhormat lagi berkuasa. Dokter Kamla yang notabennya lulusan universitas Batara langsung di beri peringatan yang keras.


Dirinya akan di berhentikan dari pekerjaannya sebagai seorang dokter kandungan dari rumah sakit milik Tuan Diki yang mana ia mengabdi saat ini. Juga di rumah sakit lainnya nanti ketika ia melanggar perintah sang penguasa. Bukan itu saja. Tuan Diki juga akan mendepak ayahnya dari perusahaan miliknya sendiri dengan cara menarik semua investor yang bekerja sama dengannya. Ibu dokter Kamla tengah sakit radang paru-paru. Setiap hari kondisinya semakin lemah. Sang Kakak yang makmur juga akan terkena imbasnya.


Kakak dokter Kamla juga mempunyai perusahaan yang baru saja di kelola dan tengah dalam masa berjaya. Semua akan porak-poranda jika Suri membocorkan kehamilannya.


Mengingat itu Dokter Kamla semakin terpuruk dan lemah.


"Saya mohon. Nona, Tolong bersabarlah!" pinta Dokter Kamla bersuara lirih.


Suri segera berbalik. Tangannya mengepal mendengar cerita yang tidak ingin telinganya dengar. Matanya berkeliling melihat-lihat sekitar taman enggan Melihat kesedihan wanita yang ada di jarak tiga meter darinya.


" Baik! Saya akan mengikuti keinginan anda dokter!"


Seketika Dokter Kamla tersenyum penuh kebahagiaan.


Tapi Suri belum selesai.


"Dua Minggu saya akan diam! Tapi setelah itu saya akan memberi tahu Sky! Maaf saya tidak tertarik dengan masalah anda dengan Papa mertua saya." Lalu Suri berbalik lagi dan berlari.


Senyum merekah dokter Kamla menghilang sirna. Dengan mata berlinang ia menatap kepergian Suri.


Hiks...hiks..." Nona Suri!" Gumam Dokter Kamla penuh kesedihan ia hampir saja menjatuhkan bobot tubuhnya karena lemas. Ternyata Suri tak bisa di ajak bicara dan juga tidak faham dengan persoalan yang dihadapi oleh dirinya.


Tuhan bantu aku! Aku tidak ingin karir dan keluarga ku hancur!


.

__ADS_1


Suri menyeka air matanya yang membasahi pipinya. Ia berlari masuk kedalam lift dengan perasaan hancur.


"Bagaimana bisa. Dokter Kamla memanfaatkan aku dalam situasi seperti ini!" Di dalam lift Suri menunduk. Ia tidak ingin sampai air matanya terlihat atau suara sesegukan memancing mata kamera yang ada di atas kepalanya.


Tanpa sadar Suri menyentuh perutnya dengan wajah penuh kebencian.


Kenapa kamu hadir di saat kamu tidak di inginkan. Tidak bisakah ini hanya mimpi buruk bagiku! Bangun Suri ayo bangun.


Suri memejamkan mata. Ia berharap ini hanya mimpi buruk yang panjang. Tapi sayang ini bukan mimpi!


Ini nyata.


.


Sky menoleh kearah pintu kamar yang di buka.


"Kamu lama sekali?" ucap Sky dari atas ranjang. Ponsel yang ia angkat di acuhkan sebentar untuk melihat kedatangan Suri.


Suri tersenyum di dalam redupnya lampu kamar.


"Aku tadi menanyakan banyak hal." Suri berdalih dengan nada suara lembut. Ia berjalan kearah lemari untuk mengganti baju.


'Baiklah, aku akan bersabar. Dokter Kamla kamu berhasil membuat aku mengalah.' Gumam Suri yang sibuk mencari piyama.


Sky mengangguk dan kembali sibuk dengan ponselnya.


Sepuluh menit kemudian, Suri merangkak naik ke atas ranjang. Ia merebahkan tubuhnya di samping Sky.


"Selamat malam. Sky." ucap Suri seperti biasanya. Selimut ia tarik dan mengubur tubuhnya di sana.


Suri membuka mata cepat. Ketika tangan hangat Sky merayap di bawa sana.


"Sky! aku lelah!" Suri bersuara merdu lagi ia mendesah.


Tapi Sky tak berhenti. Tangannya terus bermain di sana. Sayang Suri berdalih tengah datang bukan.


.


Pagi datang lagi membawa cahaya terang.


Pukul 9 pagi Suri dan Sky baru selesai sarapan. Keduanya sengaja bangun lambat karena di hari Minggu tidak ada kegiatan.


Sky dan Suri bersantai di ruang keluarga bersama Tristan.


Tak lama Nyonya Rose dan Tuan Diki ikut bergabung.


"Apa yang kalian lakukan?" Nyonya Rose bertanya sembari menjatuhkan bobot tubuhnya.


Suri menjawab. "Bersantai Ma."


Nyonya Rose mengangguk.

__ADS_1


"Sudah lama kita tidak berkumpul bersama." celetuk Tuan Diki. Mengingat bagaimana selama ini mereka sibuk dengan urusan masing-masing.


Terlebih Sky. Putra kedua itu sibuk dengan dunianya yang misterius. Tapi itu dulu. Sekarang ada Suri. Adanya Suri mampu membuat Sky menjadi pribadi lebih baik.


Sky sudah tidak lagi kasar dan menyakiti para pelayan. Kekhawatirannya selama ini hilang berbarengan dengan hadirnya Suri Christabel Jocelyn.


Sky dan Tristan merenung sejenak. Tak lama mereka mengangguk membernarkan ucapan tuan Diki.


"Maka dari itu. Ikutlah kami berlibur Sky!" jelas Nyonya Rose membujuk kedua anaknya itu. Sky dan Suri.


Tristan ikut bersuara guna menyakinkan sang adik untuk ikut.


"Kalian tau Pantai Waikiki? Di sana pemandangannya indah. Lautnya jernih dan pasirnya begitu bercahaya."


Semua tertawa kecil mendengar cerita Tristan.


"Kakak melebih-lebihkan tempat itu." seru Sky sembari tertawa kecil.


"Sungguh. Tempat itu indah sekali." Sahut Tristan dengan wajah menyakinkan.


Suri berusaha tenang. Dirinya ikut tertawa. Sebenarnya tubuhnya bergetar hebat. Ucapan kala itu tentang ramalan Mama peramal terus menari di dalam benaknya.


Kebingungan Suri luput dari perhatian mereka yang sibuk memberi ledekan kepada Tristan.


Berpikir positif Suri. Ramalan hanya sebuh bualan yang harus kamu singkirkan dari pikiran mu.


Hahahaha....Suri akhirnya tertawa keras sampai Mengagetkan semua orang.


.


.


Empat hari berlalu begitu cepat. Dan di hari itu Keluarga Barata yakni, Nyonya Rose. Tuan Diki dan Tristan bersiap untuk berlibur ke Hawai seperti yang sudah di rencanakan.


Sky dan Suri melambaikan tangan di bandara. Menyaksikan kepergian kedua orangtuanya dan sang Kakak.


"Jaga Sky, Suri!" pesan Nyonya Rose kepada Suri yang siap pergi.


Dari garis gerbang. Suri mengangguk.


"Seharusnya. Sky yang menjaga ku."


Mendengar gumaman Suri yang datar. Sky tersenyum dan mendekati daun telinga Suri lalu berbisik manja.


"Aku akan menjagamu!"


Suri segera menoleh kearah Sky dengan wajah berbinar.


"Kita pulang."


Seperti sihir. Suri mengangguk patuh.

__ADS_1


.


.


__ADS_2