Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)

Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)
Kilas Masa Itu


__ADS_3

Suri ambruk dengan masih menangis. Hatinya hancur dan rasa takut kembali hadir apalagi sekarang Queen sang putri di pertaruhkan.


Nyonya Nena segera menahan tubuh Suri yang bergetar. Memberi pelukan walaupun dirinya juga merasa terpuruk karenanya.


"Sayang, semua akan baik-baik saja."


Hiks ...hiks.... "Queen! Suri tidak ingin di pisahkan dengannya Ma,"


"Tidak akan ada yang memisahkan kamu dengan Queen, Nak."


Nyonya Nena sebagai ibu terus memberi kekuatan dan menenangkan Suri.


Saat itu terjadi. Tangan gadis mungil dengan rambut sedikit berantakan menyembul dari balik pintu kamar. Matanya yang indah tapi sedikit lelah menatap lurus kearah Suri dan Nyonya Nena. Mungkin dalam benaknya ia berpikir.


Kenapa Mommy dan Nenek menangis?


"Mom?" suara lembut nan merdu melintasi pendengaran Suri dan Nyonya Nena. Ibu dan anak itu menoleh dengan mata berlinang.


"Queen!" segera Suri memalingkan wajah. Mengusap pipinya yang terkucur air asin. Nyonya Nena melakukan hal yang sama. keduanya tak ingin Queen melihat lebih jauh tentang tangisan dan kesedihan yang tengah melanda.


Suri merentangkan kedua tangan setalah dirinya lebih tenang. Memberi aba-aba agar Queen mendekat.


Queen berlari kecil. Kakinya yang mungil masuk kedalam kamar dengan langkah hati-hati.


Hap... Tubuhnya yang di balut piyama memeluk Suri. Tak ada kata atau tanya darinya. Queen masih kecil dirinya tidak mengeri kenapa Sang Mommy dan Neneknya menangis.


Suri memeluk begitu erat seolah takut malaikat kecilnya pergi. Di sana Nyonya Nena mengusap Suri untuknya bisa mengendalikan diri yang rapuh.


Dokter Kamla, apa anda sudah mengatakan yang sebenarnya kepada mereka? Kenapa anda melanggar janji anda sendiri.


Suri luput dalam cengkraman menyedihkan peristiwa tiga tahun yang lalu.


Flashback...


Suri membuka mata. Menatap area ruangan dengan penglihatan sedikit rabun, menelusuri di mana dirinya berada.


Di sampingnya, seorang wanita cantik berbalut jubah putih dengan Stetoskop melingkar di lehernya tersenyum lega bersama seorang suster.


"Syukurlah, Nona sudah sadar!"


Suri masih sibuk dengan kepalanya yang pusing tanpa bisa membuka suara.


"Suster, tolong-


"Dokter?" Suri bersuara parau. Melirik Dokter Kamla yang siaga di sampingnya.


"Saya di sini, Nona."


Suri mengecap bibirnya, Dokter Kamla mengerti. Gelas di atas meja di sambatnya lalu di berikan kepada Suri.


"Pelan-pelan, Nona." seru Dokter Kamla. Sedikit tersentak melihat Suri yang meneguk air begitu rakus.


"Suster? tolong panggilan Tuan Sky."


"Baik, Dokter-

__ADS_1


"Jangan? Tolong jangan lakukan!" sela Suri dengan wajah panik.


Dokter Kamla menggeleng kearah Suster yang di jawab anggukan pelan darinya.


Suri panik sendirian, wajahnya pucat kembali. Tanpa sadar mencengkram kuat tangan dokter Kamla sampai-sampai Dokter Kamla meringis karenanya.


"Tenangkan diri anda, Nona."


Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang sudah menimpa anda Nona?


Batin Dokter Kamla bertanya-tanya sembari menenangkan Suri yang di Landa ketakutan.


Suri menggelengkan kepalanya cepat dengan bibir bergetar. Ingatan akan kejadian di kamar tadi membuat ketakutannya semakin memuncak.


"Dokter, dia sudah memaksa saya sampai saya seperti ini! Dia-


Tiba-tiba Suri terdiam membuat Dokter dan suster saling tatap.


"Nona!"


Suri meraba perutnya begitu panik..


"Bayi ku? Bayi ku? apa dia baik-baik saja? Dokter? kenapa anda diam? Kata dokter." Suri menuntut jawaban kepada dokter Kamla yang mana hanya diam. Dokter Kamla sibuk dengan kepalanya yang mumet.


Melihat bagaimana Suri tersakiti sampai berakhir di rumah sakit membuat hatinya marah. Kekuasaan dan kebengisan seorang Sky Antoni Barata harus di tumpas. Dengan seksama mata dokter Kamla menelusuri tubuh Suri yang kacau. Memang sang jabang bayi baik-baik saja tapi akan lebih parah lagi jika Suri masih di bayang-bayangi seorang Sky. Kejiwaannya pasti akan terguncang lebih hebat lagi. Bisa-bisa bayi yang tidak berdosa itu mati sebelum hadir ke dunia.


Nona, sepertinya saya harus melakukan ini. Dengan begitu anda bisa bebas dari suami anda yang menakutkan itu.


Dokter Kamla memutar kepalanya menatap tajam pintu luar UGD di mana Sky tengah duduk dengan harapan besar di sana.


"Maafkan saya Nona! Bayi anda tidak tertolong!"


Suri mematung. Dadanya sesak terasa.


"Ti..tidak, hiks...hiks... Tidak mungkin. hiks...hiks...Bayi ku... A..a..a.. hiks.... bayi ku..."


Dokter Kamla dengan tekad yang kuat dan kemantapan hati mengambil keputusan untuk membohongi Suri dan Sky. Cara yang salah tapi akan membuat hidup Suri tenteram.


Tiga hari setelahnya. Suri keluar dari rumah sakit. Dirinya yang bak mayat hidup pergi meninggalkan Sky dan mansion Barata. Bersama Nyonya Nena, Suri berusaha kuat dan tabah. Sky bagikan sebilah pedang yang menancap di tubuhnya. Harus di cabut dan di singkirkan walaupun meninggalkan rasa sakit begitu dalam. Di samping itu kenyataan lain harus Suri terima. Perceraian yang dari awal di inginkan kini terjadi. Pengadilan agama memutuskan untuk mengabulkan permohonan Suri untuk bercerai. Sky yang tak berdaya mengangguk dan pasrah memang tak ada alasan untuk Sky meminta Suri bertahan setelah apa yang sudah terjadi.


Selang tiga Minggu. Suri masih bertahan di rumahnya terdahulu. Dirinya berjuang untuk tetap waras. Tapi sulit, karena bayi yang di idam-idamkan kini pergi meninggalkannya. Kosong dan hampa. Hanya air mata yang senantiasa menemani keseharian Suri.


Sky si pelaku utama. Selalu datang ke kediaman Suri walaupun hanya sampai gerbang saja. Lelaki tampan dan berkuasa itu nampak lesu. Memandang kosong jendela lantai dua di mana kamar Suri berada. Pulang setelah lampu kamar Suri matikan.


Kecerobohan dan napsu sesaat mengubah semuanya. Sky mengutuk dirinya sendiri dan tidak akan memberi ampun atas perlakuannya terhadap sang mantan istri. yang mengakibatkan sang buah hati, penerus Barata Company pergi untuk selamanya.


.


Suatu ketika. Suri merenung seperti biasa di ambang kolam kebiasaan yang kini menjadi kesehariannya. Dengan wajah pucat Suri memandang pantulan dirinya dari tenangnya air kolam. Tiba-tiba di tengah kesunyian. Suri merasakan mual yang semakin menjadi-jadi.


Uuueeee.....uuueeeee..


Ya Tuhan.


Suri memalingkan wajah. Menunduk sembari menahan mulutnya yang siap mengeluarkan isi perut dengan kedua tangan. Berlari sekuat tenaga melewati para pelayan dan Nyonya Nena yang kebetulan sedang menata bunga di ruang tengah.

__ADS_1


"Sayang? Kamu kenapa?" dengan panik Nyonya Nena mengikuti langkah sang putri sampai di dalam kamar mandi.


.


"Halo, Dokter Kamla?"


Nyonya Nena yang di Landa kepanikan segera menghubungi Dokter Kamla. Meninggalkan Suri yang kesakitan di kamar mandi.


Nyonya, jangan sungkan untuk menghubungi saya. Jika terjadi sesuatu dengan Nona Suri. Cepatlah hubungi saya. Saya siap membantu.


Ucapan Dokter Kamla ketika di rumah sakit kala itu.


Tak butuh waktu lama. Dokter Kamla datang. Dirinya bergegas menuju kamar Suri bersama satu pelayan.


Suri yang lemas terbaring di ranjang dengan wajah pucat.


"Nona," Dokter Kamla berjalan menghampiri ranjang dan langsung memeriksa kondisi Suri.


Stetoskop menelusuri tubuh Suri yang kurus itu. Wajah dokter Kamla nampak serius yang mana semakin membuat Nyonya Nena panik.


Tapi tak lama. Wajah kaku dokter Kamla berubah menjadi senyum merekah.


"Bagaimana Dokter?" tanya Nyonya Nena tak sabar.


Dokter Kamla bergantian menatap Suri dan ibunya.


"Maafkan saya Nona, Nyonya, saya ingin memberi tahukan kalau Nona Suri masih mengandung?"


flashback of..


Di lain tempat.


Seorang gadis cantik yang wajahnya tak asing tengah bersujud di atas kaki seorang pria.


Tangis sesenggukan penuh sesal terdengar menyayat hati siapa saja yang mendengarnya.


Pria yang tengah berdiri itu nampak acuh dan tak perduli.


"Maafkan aku! Aku melakukan ini demi keselamatan Suri." ucapnya lirih. Tangannya masih melingkar di kedua kaki si pria yang gagah itu.


Cih..."Kalau sampai adik ku tau? Aku bahkan tidak bisa menolong mu. Kamu sudah keterlaluan! Menyembunyikan semua ini dari aku, calon suami mu sendiri!" bentaknya tak terkendali.


Hiks....hiks...."Maafkan aku! Sekali lagi aku meminta maaf, Tristan, aku mohon maafkan aku."


Tristan menghempaskan tangan si wanita yang memohon ampun di kakinya. Dirinya yang di kuasai rasa amarah perlahan duduk dan menatap wanita cantik menyedihkan itu begitu murka.


"Kejujuran mu sungguh luar biasa. Kamla, aku tidak akan memaafkan kamu sebelum Suri dan anaknya bisa aku temukan."


"Berbahagialah, karena aku tidak akan memberi tau Sky tentang ini. Tapi aku tidak menjamin keselamatan mu setalah surat edaran aku keluarkan. Kamu dan aku memang akan menikah! Tapi aku tidak bisa menjadi pelindung mu jika berurusan dengan adikku. Sky Antoni Barata." lanjutnya.


Dokter Kamla meringkuk dalam kesendirian dan ketakutan. Matanya yang sembab terus mengeluarkan air mata.


Aku harus menanggung semua ini. Karena aku juga. Nona Suri dan Sky berpisah. Berdoalah Kamla. Agar Sky tidak membunuh ku kali ini.


Dokter Kamla memilih meringkuk di samping kaki Tristan yang kini sudah berubah seratus delapan puluh derajat.

__ADS_1


Masa tiga tahun. Begitu banyak yang berubah tak terkecuali kehidupan keluarga Barata.


__ADS_2