Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)

Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)
Saling Menguatkan Dengan Hati Terluka


__ADS_3

Awan mendung kala itu. Rintik hujan menemani pemakaman tuan Chris. Suri dan nyonya Nena saling menguatkan walaupun itu terasa sulit. Mata keduanya sembab parah beruntung kacamata hitam menyamarkan sedikit.


Jason dan Daren tak lupa Melodi menemani dari belakang Suri. Menunduk mereka yang hadir menghantarkan peti jenazah ke pemakaman.


Di antara pelayat yang hadir tak terlihat Nyonya Luna selaku ibu kandung Suri. Karena di beri tahu pun tak ada guna. Nyonya Luna sulit di ajak bicara. Dan juga di antar keluarga yang datang tak terlihat Sky.


Sky sudah mengetahui kabar meninggalnya Tuan Chris Tapi Sky masih tertahan di Hawai untuk mengurusi kepulangan jenazah Tuan Diki. Suri juga sudah mengetahui kabar meninggalnya Tuan Diki sang ayah mertua.


Suri dan Sky sama-sama saling menguatkan diri menghadapi kepergian orang tercinta mereka. Mungkin esok hari setelah menguburkan Tuan Chris. Suri harus kembali melewati proses pemakaman Papa mertuanya.


Suri dan Sky terluka dengan perasaan masing-masing. Mereka tidak ada waktu untuk saling berbicara lewat sambungan telepon. Untuk saling Menguatkan pun hanya sekejap saja. Duka mereka begitu mendalam karena hati mereka juga hancur lebur bak lava panas yang menyembur di hari cerah. Begitu mendadak dan mengejutkan.


Tangis mengiringi proses pemakaman tuan Chris. Suri menangis dalam dekapan Melodi dan Nyonya Nena saat ini.


Jason dan Daren memberi hormat dengan membantu menurunkan tanah ke liang lahat.


Para pelayat haru biru dalam nyanyian. Meratapi nasib yang mana mereka juga akan mengalaminya.


"Suri, kuatkan dirimu." Melodi memberi kekuatan dengan tangis yang menyayat. .


Kenapa Tuhan! Engkau mengambil orang terkasih mereka di waktu yang hampir bersamaan.


Batin Melodi setiap harinya. Tak percaya mendengar kabar Papa Suri dan Sky meninggal dalam kurun waktu hampir bersamaan.


Mungkin apa yang di rasakan Melodi juga di rasakan mereka semua yang mengenal Tuan Diki dan Tuan Chris. Dua keluarga yang kini kehilangan separuh jantung mereka.


Pemakaman tuan Chris selesai dan perjalanan lancar. Para pelayat satu persatu meninggalkan area makam. Di sana menyisakan Suri dan beberapa keluarganya. Tak lupa Jason dan Daren yang di tugaskan untuk menjaga Suri.


Melodi perlahan melepas pelukannya. Ia memberikan waktu untuk Suri dan Nyonya Nena mendekati pusara Tuan Chris yang sudah bertabur bunga segar.


Suri berjongkok di ikuti Nyonya Nena. Keduanya melupakan kotornya tanah yang basah. Tangannya yang bergetar sedari kemarin mengusap gundukan tanah dan Poto Tuan Chris yang tersenyum indah.


Suri tak bersuara, Dirinya hanya diam membisu dengan tangan mengusap asik Poto cinta pertamanya itu. Air mata terus mengalir tak terelakan.


"Pa, dunia seakan runtuh saat ini! Suri dan Sky kehilangan Papa dan Papa Diki! Kenapa Papa pergi tanpa pesan. Papa pergi tanpa pamit. Hiks...hiks...Suri bahkan tidak...Hiks...hiks...Tidak melihat senyum Papa untuk yang terakhir kali. Hiks...hiks...."

__ADS_1


Melodi mengusap pipinya puluhan kali. Tak kuasa melihat bagaimana Suri yang hancur.


Jason dan Daren melangkah menghampiri Melodi yang mana berdiri di belakang tubuh Suri.


Melodi melirik kedatangan kedua sahabat Sky itu sesaat.


Jason melirik Melodi dengan wajah sendu.


"Hari semakin gelap. Kamu ajak Suri pulang." bisik Jason. Di respon anggukan kepala kecil dari Melodi.


Melodi membungkukkan badannya sedikit untuk meraih tubuh Suri.


"Suri? Kita pulang yuk?" ajak Melodi. Mengangkat pundak Suri yang bergetar.


"Tante! Kita pulang!" Melodi beralih menatap Nyonya Nena yang lemas.


.


Sementara itu. Kepengurusan peti jenazah Tuan Diki selesai. Sekertaris yang datang menyusul Sky bertindak cepat. Walaupun mereka bisa pulang esok hari. Bukan hanya cuaca yang menjadi kendala tapi beberapa prihal harus di urus untuk membawa Tuan Diki pulang ke negaranya.


Sky merangkul sang Mama yang tak hentinya menangis. Di ikuti Tristan yang di jaga pengawal. Mereka menaiki pesawat dengan hati hancur. Tak ada guratan kebahagiaan di wajah mereka. Hujan yang datang seolah menemani keberangkatan rombongan meninggalkan Hawai.


.


Esok harinya. Pukul 8 pagi pesawat tiba di bandara.


Awak media berlomba di pintu keluar bandara dan segala arah. Mencari posisi yang pas untuk melihat kedatangan Sky dan rombongan.


Ambulance datang dengan suara nyaringnya. Jepretan kamera mengiringi perjalanan peti jenazah Tuan Diki sampai tiba di mansion.


Penjaga yang berjejer menjadi pembatas antara jalan masuk dan para warta.


.


"Nona! Mereka sudah sampai!" pesan pelayan kepada Suri yang duduk bersama Melodi dan Nyonya Nena.

__ADS_1


Suri yang sedari kemarin berlinang air mata mengantuk.


"Melodi aku ingin keluar!" kata Suri yang tak bertenaga.


Melodi menggeleng pelan.


"Jangan. Kita tunggu saja."


Suri mengangguk patuh. Dirinya tak bertenaga kalau harus bersuara untuk membantah ucapan Melodi.


.


Sky langsung meluncur keluar mobil setelah meminta izin kepada Nyonya Rose. Ada Tristan di sana.


Sky berlari masuk kedalam mansion di saat peti jenazah sang Papa di turunkan.


Suri di mana kamu.


Batin Sky bergumam mencari keberadaan Suri.


"Suri!" teriak Sky yang baru saja masuk kedalam mansion.


Kebetulan di dalam sudah riuh dengan beberapa keluarga Barata. Suri ada di sana bersama keluarga untuk saling menguatkan.


Semua mata memandang kedatangan Sky yang berlari sambil memanggil nama Suri..


Melodi tersenyum lega melihat Sky datang.


"Suri? Itu Sky!"


Suri yang ada dalam pelukan Melodi dengan penuh perjuangan mengangkat tubuhnya. Ia melirik kearah Sky yang berlari.


"Sky!" Hiks...hiks...


Suri mulai menangis. Menumpahkan kesedihan ketika melihat Sky.

__ADS_1


Sky langsung menarik Suri. Ia peluk tubuh ringkih itu amat menyedihkan.


"Suri, Papa pergi!" Sky menangis pada akhirnya.


__ADS_2