Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)

Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)
Suri Pasti Merindukan Aku


__ADS_3

Assalamu'alaikum. mohon maaf. Aku baru aktif lagi di aplikasi. Tanpa panjang lebar aku up eps terbaru. semoga kalian suka dan kalau kalian lupa baca eps sebelumnya ya. terimakasih.


.


.


Dua Minggu kemudian gugatan cerai yang di ajukan Sky atas Suri di gelar dengan agenda mediasi.


Agenda yang awalnya Sky benci kini ia memaksa untuk melakukan mediasi tanpa sepengetahuan Suri. Jelas karena dari awal Suri tidak tau apa-apa tentang apa itu perceraian dan prosesnya. Suri hanya menerima aba-aba dari pengacara yang di pilihkan Nyonya Rose.


Suri dan Sky sama-sama hadir di persidangan yang berlangsung tertutup itu. Bahkan Sky meminta agar semua orang yang terlibat tutup mulut supaya media tidak mengendus perceraian mereka sampai siap di publikasikan ke khalayak umum.


Suri yang di temani sang Mama mertua begitu kuat menjalani harinya di persidangan. Tak ada guratan kesedihan. Suri begitu kuat dan tegar. Lain dengan Sky yang nampak murung tak bersemangat. Jika mereka melihat dari kacamata logika, sepertinya pihak Suri yang melayangkan gugatan bukan Sky. Karena Sky begitu lemas duduk di hadapan Suri.


Agenda mediasi berlangsung singkat dan tertutup. Ingat, Sky pernah meminta agar tak ada mediasi di antara dirinya dan Suri. Tapi beberapa hari sebelum persidangan di mulai. Sky berubah pikiran begitu mudahnya, meminta agar mediasi di lakukan dengan dalih ingin memperjelas semuanya.


Suri yang kepalang sakit hati menolak untuk rujuk. Dan akan tetap berpisah dengan sang suami. Hakim agung menatap Suri lekat seolah mencibirnya.


Bagaimana bisa dirinya kekeh ingin bercerai dengan orang yang berkuasa seperti Tuan Sky Antoni Barata. Sungguh wanita tak tau di untung.


"Tuan Sky! Bagaimana pendapat anda?" kali ini hakim agung berbalik bertanya kepada Sky yang ada di sampingnya.


Sky asik menatap lurus di mana Suri berada tepat di hadapan. Berharap yang di tatap balik member respon tapi Suri asik menunduk begitu kuat.


Jangan tanya Sky tentang keputusan Suri yang enggan rujuk. Sky sudah patah arang melihat bagaimana Suri keras kepala. Keputusan yang seharusnya membuat Suri balik memohon kepadanya kini berubah seratus delapan puluh derajat! Sekarang malah Sky yang mengemis meminta untuk Suri menimbang semuanya sebelum pernikahan mereka berakhir dengan penyesalan.


"Pikiran bayi yang-


"Saya sangat memikirkan bayi saya. Maka dari itu saya akan tetap menerima gugatan cerai dari suami saya." tangkas Suri tegas.


Hakim agung berbalik lagi menatap Sky yang diam membisu dengan tatapan kosong kearah Suri. Tatapan mata menyiratkan pertanyaan sejuta tanya. kenapa dia begitu keras kepala ingin bercerai tanpa memikirkan buah hati mereka.


Seketika itu juga, mata Sky beralih kearah tubuh Suri yang terhalang meja. Menelisik dengan wajah datar.


Dia begitu keras kepala. Seharusnya aku yang melakukan itu bukan dia. Batinnya kesal.


"Aku ingin meminta maaf!"


Sontak yang mulia hakim terperanjat. Melihat Sky tak percaya.


Suri terkekeh di tempatnya. Seakan terhibur dengan ucapan Sky barusan.


Dia meminta maaf. Disaat aku tersiksa dengan sikapnya yang semena-mena. Tidak Sky, kali ini kamu harus tau bagaimana selama ini aku menderita.


Batin Suri mencaci maki sikap Sky yang sudah membuat hatinya tertutup rapat.


"Maafkan aku! Baik, aku mengaku salah. Hari itu aku tidak bisa berpikir jernih Suri. Setidaknya beri aku kesempatan." Tarikan tangan Sky lancarkan. Menggenggam pergelangan Suri yang dingin itu.


Dia memelas! Kamu ketakutan Sky.


Suri menatap lurus Sky yang menampakkan wajah sendu. Kegarangan dan bengis seolah sirna darinya. Karisma seorang Sky Antoni Barata mengumpat tak terelakkan.


Suri tersenyum kecil sembari menarik pelan tangan yang di tadi di genggam Sky.


Sky mengkerut sejadinya hingga mengulas seringai marah.


"Aku memaafkan kamu Sky. Tapi untuk memberi kesempatan kedua rasanya berat." Kepala Suri menggeleng pelan dengan tatapan kosong.


Hakim agung beserta kedua pengacara terdiam membisu. Tak tau harus berkata apa.


Sedangkan Sky tertegun mendengar ucapan Suri yang lembut tapi mampu menusuk kewarasannya.


"Tidak kah ada kesempatan kedua untuk ku?" ucapnya lirih bercampur keputusasaan. Menatap sang istri tanpa berkedip.


Suri menggeleng tanpa ragu.

__ADS_1


"Mungkin sampai di sini pernikahan kita!"


.


Suri membungkuk pamit kepada hakim agung di ikuti sang pengacara sebelum undur diri dari dalam ruang mediasi. Meninggalkan Sky yang mematung tanpa kata.


"Nona, apa anda baik-baik saja?" tanya si pengacara yang berjalan di samping Suri.


Suri mengangguk cepat. Menahan air mata dan posisi cara berjalan agar tak terlihat sempoyongan.


"Di mana Mama?" Sebagai pengalihan Suri mencari keberadaan Nyonya Rose.


"Mari Nona." Pengacara menuntun Suri ke ruang tunggu di mana Nyonya Rose berada.


"Mama." Teriak Suri sesaat setelah melihat wujud sang Mama mertua.


Nyonya Rose segera bangkit dari duduknya. Merentangkan satu tangan menyambut Suri.


"Kamu baik-baik saja sayang?"


Suri mengangguk. "Kita pulang Ma."


Nyonya Rose mengangguk setuju. Berjalan bersama tanpa bertanya bagaimana jalannya proses mediasi.


.


Sky menarik napas panjang melihat bagaimana Suri dan mamanya pergi meninggalkan pengadilan agama tanpa memikirkan dirinya yang terkulai di dekat tiang.


Diam-diam Sky mengikuti Suri tanpa ingin mengejar. Cukup berjalan tenang di belakang sang istri.


"Sekarang aku harus apa? Dia sudah bertekad untuk bercerai dengan ku!" Satu pukulan Sky layangkan ke permukaan tiang sebagai pelampiasan.


"Tuan! Jangan sakiti diri anda." ucap sang ajudan yang siap siaga di belakang Sky.


"Aku ingin menenangkan diri." gumam Sky yang di respon anggukan kepala dari sang ajudan dan beberapa pengawal termasuk satu pengacara yang ada di sana.


.


Persidangan selanjutnya dengan agenda putusan akan di selenggarakan satu Minggu kemudian.


Suri yang kekeh ingin berpisah dengan gundah gulana menanti hari itu tiba. Di mansion Barata hari-hari Suri di habiskan tanpa Sky. Suri menikmati hidupnya yang mewah tanpa syarat. Bahkan baru saja Nyonya Nena meninggalkan kediaman Barata selepas menginap untuk menemani sang putri sambil memberi kekuatan dan juga hiburan dengan membawa serta video dari suster yang merawat Nyonya Luna ibu kandungnya. Suri senang bukan main. Kedatangan Nyonya Nena sedikit mengobati kesengsaraan batinnya yang hancur.


.


Alat makan berdentang di ruang makan.


Suri sedikit enggan menyantap hidangan makan malam itu, terlihat dari ekspresi wajah yang murung dan itu semua tak lepas dari pengawasan Nyonya Rose dan Tristan.


"Ada apa Suri? Kamu terlihat tidak berselera makan?" tanya Tristan yang sibuk menguyah makan malamnya.


Suri berpaling kearah Tristan sambil tersenyum canggung.


"Rasanya Suri tidak ingin makan!" sahutnya tanpa ragu.


Nyonya Rose berkata. "Apa kamu sakit, Suri?"


Suri segera menggeleng cepat. "Tidak Ma, Suri baik-baik saja. Hanya saja Suri tidak berselera makan."


"Apa kamu ingin makan makanan yang lain?" tanya Nyonya Rose khawatir, pasalnya sang menantu tidak pernah melewatkan makan malam.


Mungkin karena kehamilannya Dia tidak ingin makan.


Pikir Nyonya Rose yang tau kalau kehamilan Suri masih muda. Usianya baru menginjak 2 bulan di mana pola makan dan hal lainnya di permainkan oleh si jabang bayi.


Suri berpikir sebentar. "Tidak ada Ma."

__ADS_1


Kepala Nyonya Rose mengangguk pelan. "Ya sudah kamu istirahat saja."


Suri tertegun. "Tapi Suri ingin mengantarkan Mama dan Kak Tristan sampai gerbang."


Tristan menggeleng. "Tidak apa. Aku dan Mama akan pergi setelah makan. Kamu istirahat saja. Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan keponakan ku Suri."


Bergantian Suri menatap Ibu dan anak itu sedih. Seakan memperlihatkan bahwa dirinya tidak ingin beranjak ke kamar sebelum mengantarkan keduanya sampai ke gerbang.


Malam ini rencananya. Nyonya Rose akan membawa Tristan ke lain negara untuk melanjutkan pengobatan. Semacam terapi untuk menyembuhkan kakinya yang cacat. Tristan memang di vonis tidak akan mampu berjalan seumur hidupnya. Tapi di negara yang akan mereka datangi ada pengobatan yang katanya mampu mengobati orang lumpuh kembali berjalan. Kesempatan yang langka. Nyonya Rose berharap kali ini akan membuahkan hasil yang maksimal. Dengan Tristan bisa berjalan mungkin akan meringankan beban perusahaan Batara Company. Sky memang mampu membawa perubahan besar itu tapi Sky juga butuh pendamping yang pintar seperti Tristan bukan? Maka dari itu malam hari itu juga Nyonya Rose harus membawa si cikal meninggalkan Suri bersama para pelayan di mansion.


Nyonya Rose tersenyum melihat wajah Suri sang sendu.


"Baik-baik. Kamu boleh mengantarkan kami tapi tidak sampai gerbang."


Suri mengangguk setuju membawa wajah sumringah.


Tristan dan Nyonya Rose menggeleng tak percaya melihat tingkah Suri yang bak anak kecil.


.


Setelah makan malam selesai. Suri menghantarkan Nyonya Rose dan Tristan sampai di mobil saja. Tak jadi soal asal Suri bisa memenuhi keinginannya yang satu ini.


"Hati-hati di jalan ya Ma." Suri memeluk Nyonya Rose dengan erat setelah memeluk Tristan yang sudah berada di dalam mobil.


"Kamu juga. Hati-hati di rumah. Jangan khawatir Mama akan pulang sebelum persidangan selanjutnya. Dan kamu juga jangan khawatir, Sky tidak akan datang dan mengganggu kamu. Mama pastikan itu."


Suri mengangguk kikuk.


Dengan berat hati. Suri melambaikan tangan. Melepas kepergian mobil yang membawa Nyonya Rose dan Tristan.


"Jaga mereka Tuhan. Dan jawab doa Mama."


Kakinya berbalik masuk kedalam rumah setelah mobil menghilang dari pandangan. Suri yang di dampingi kedua pelayan masuk kedalam kamar untuk beristirahat.


"Nona, mohon jangan di kunci pintunya. Saya akan membawakan buah-buahan segar untuk anda." kata si pelayan sembari membungkuk.


Suri ingin menolak tapi buah-buahan segar tidak buruk. Pikirannya.


"Baik."


Si pelayan undur diri dan Suri masuk kedalam kamar.


.


Di lain tempat.


Rumah besar nan mewah nampak berantakan di lain sisinya. Botol-botol hitam berserakan tak karuan di dekat pria tampan yang terus meneguk minuman sampai matanya tak fokus jadinya. Bibirnya yang mungil tertawa dan tersenyum dingin. Para ajudan mengelilinginya tanpa bisa mendekat. Mereka yang berjumlah sepuluh orang itu hanya mampu menyaksikan tuannya sibuk seorang diri dengan botol-botol itu.


Sampai satu pria berjas hitam mendekat dan membungkuk.


"Tuan Sky. Nyonya besar dan Tuan Tristan sudah pergi! Nona muda sendirian di mansion."


Setelahnya pria membawa berita itu melangkah mundur kembali ke barisan.


Sky terkekeh kecil lalu ia tertawa.


Hahahaha..."Bagus, ini bagus. Dia, dia pasti merindukan aku. Hahaha...Aku harusss pulang dan." Sky bangkit dengan tubuh sempoyongan.


"Suri pasti merindukan aku."


Para ajudan seger berlari menghampiri Sky yang akan terjatuh.


Dengan mata terpejam dan aroma menyengat kuat dari mulutnya Sky berkata amat keras.


"Antar aku ke mansion. Suri pasti merindukan aku! Cepat!"

__ADS_1


"Baik Tuan."


"Suri akan akan datang." Sky meracau dengan wajah memerah.


__ADS_2