Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)

Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)
Apapun Keputusan Mu, Aku Terima!


__ADS_3

Sky tersentak mendengar kata yang di lontarkan sang mama padanya. Rasa sakit dan perih masih terasa di pipinya kini bertambah dengan kata-kata yang mampu mengoyak jiwanya. Sky lupa bagaimana dirinya menghina Suri dan calon anaknya tadi.


"Karena dia mama memperlakukan Sky seperti ini!" Kata Sky dengan mata memerah dan wajah super bringas.


Tristan mendorong kursi rodanya mendekati Sky. "Sudahlah Sky. Tenangkan dirimu."


Sky mengibaskan tangan Tristan tak suka. "Kakak jangan ikut campur!" bentak Sky kepada Tristan.


"Sky!" Lantang Nyonya Rose bersuara. "Bersikap sopan lah kepada Kakakmu." Katanya mengingatkan.


"Sejak kapan aku bersiap baik pada Kakak ku sendiri!" ucapnya marah.


Tristan menghela napas dan menunduk dengan kepalan tangan. Tak bisa lagi bersuara ketika Sky kembali mengingatkan kalau dirinya sama sekali tidak di hargai.


"Anak kurang ajar kamu Sky? Papa akan sangat marah melihat sikap mu sekarang." Tiba-tiba, Nyonya Rose menangis tersedu dan jatuh terkulai.


Hiks...hiks..." Mama tidak sanggup terus melihat dirimu dan sikap mu Sky. Tidak sanggup, hiks...hiks...."


Suri dan Tristan segera menghampiri Nyonya Rose yang tengah menangis di dekat Sky yang masih berdiri dengan gagahnya tanpa memperdulikan wanita yang sudah melahirkannya itu.


Kemarahan Sky yang masih mendidih benar-benar sudah membuatnya gelap mata dan hatinya keras bak batu.


"Ma, jangan menangis Ma." pinta Suri sembari menghapus air mata sang Mama mertua. Melupakan rasa takutnya tadi ketika dirinya ingin di rangkul Mama mertuanya itu.


Tristan mengangguk setuju. " Mama istirahat ya?"


Suri membantu Nyonya Rose bangun. "Ayo Ma."


"Pelayan!" panggil Tristan kepada pelayan yang berjajar di dekat mereka untuk membantu Nyonya besar berjalan.


Nyonya Rose di papah menuju lift bersama Suri. Tapi sebelum Suri melangkah lebih jauh, Sky menariknya.


Sontak Suri terkejut lalu ia menoleh ke arah Sky dengan wajah sembab. "Biarkan aku membantu Mama ke kamar."


Sky menggeleng cepat. "Kau tetap di sini dan selesaikan sekarang!"

__ADS_1


Tristan mengulum bibirnya yang siap bersuara. Tapi kali ini dirinya tidak bisa diam apalagi Sky seolah memojokkan Suri yang malang.


"Apa yang akan di selesaikan? Katakan? Kakak ingin mendengarnya."


"Kak?" Suri memanggil Tristan lembut sembari menggeleng pelan memintanya untuk diam.


"Biarkan saja. Kakak bantu Mama ke kamar!"


"Tapi-


Suri kembali menggeleng. "Suri mohon. Kasian Mama."


Tristan mengangguk berat. Dirinya mendorong kursi roda di samping para pelayan yang membawa Nyonya Rose.


Nyonya Rose sendiri mendengar apa yang di katakan Sky, tapi tenaganya sudah habis karena terlalu lelah menangis. Satu Minggu lamanya sang suami pergi dan selama itu pula air matanya bercucuran tanpa henti seirama dengan kenangan indah bersama mendiang tuan Diki.


"Tristan?"


"Iya Ma?" sahut Tristan segera setelah Nyonya Rose memanggilnya dengan suara amat pelan.


Tristan hanya mengangguk setuju. Memberikan harapan palsu kepada mamanya.


Bagaimana Tristan melakukan itu Ma? Sky tidak bisa di ajak bicara untuk saat ini. Tapi tidak mungkin juga Sky melakukan itu! Tristan tau Sky sangat mencintai Suri. Tidak mungkin adikku merelakan istrinya hanya karena ucapan Mama peramal.


.


Ruang tengah yang awalnya ramai karena suara nyaring Sky dan tangisan Nyonya besar. Kini terasa lain. Kembali hening dan mencekam.


Sky menatap Suri yang ada di hadapan dengan wajah dingin dan kerutan amarah. Tapi Suri menatap balik tanpa rasa takut.


Mati pun aku tidak takut lagi.


Suri merasa dirinya siap menghadapi sang suami yang memang terkenal tempramen lagi ganas. Seketika bayang-bayang amukan Sky kepada para pelayan datang menghantui, nyali Suri sedikit menciut karenanya. Terbukti kedua lututnya bergetar hebat. Berusaha Suri menahannya, tak ingin Sky melihat dirinya yang kini lemah.


Keduanya sama-sama diam tak bersuara. Membiarkan kilauan mata yang mengambil alih.

__ADS_1


Sky tertawa sinis membuat Suri tersentak.


"Sky? Apa yang kamu maksud "menyelesaikan!" Itu artinya kamu akan menceraikan aku?" tanya Suri ragu-ragu. Di sini ada guratan perasaan sedih karena ada buah hati yang harus menerima kasih sayang dari ayahnya.


Aku tidak ingin kamu membiarkan aku pergi Sky. Aku ingin tetap di sini bersamamu.


Batin Suri yang sudah pasrah. Sekarang Sky adalah penguasa di perusahaan dan di rumah tak ada yang bisa menghalanginya. Keputusan yang akan di ambilnya adalah mutlak. Termasuk membiarkannya pergi dan melupakan pernikahan yang sudah berlangsung dua bulan ini.


Sky melangkah mendekati Suri. Berdiri dengan jarak amat dekat membawa tatapan mengintimidasi. Suri gelagapan karena Sky tak membiarkannya bernapas dengan baik. Benar-benar menakutkan rasanya.


"Aku tidak akan menceraikan mu! Kamu tenang saja. Karena Mama peramal mengatakan kalau aku harus tetap mengizinkan kamu tinggal di rumah ini bersamaku dan keluargaku. Tapi bukan menjadi istriku. Kamu harus menerima status baru di rumah ini sebagai pelayan seperti mereka." Sky memaksa kepala Suri menengok kearah para pelayan yang mana tengah berjibaku dengan pekerjaan.


"Apa?" ucap Suri tak percaya.


Sky mengangguk sembari mundur menjauhi Suri yang masih betah menatap para pelayan.


"Mulai saat ini!-


Suri dan para pelayan yang ada di sekitar menatap Sky terlebih suara nyaringnya yang menggelegar.


"Mulai saat ini, detik ini! Suri christabel Jocelyn adalah pelayan rumah ini. Dia adalah pelayan seperti kalian semua. Jadi panggil dia dengan namanya! Ini perintah dariku."


.


Hari itu juga Suri di minta untuk mengikuti kepala pelayan.


"Ini seragam anda!" kata si kepala pelayan kepada Suri yang berdiri mematung di ambang meja. Menatap tumpukan baju yang selalu di pakai pelayan di mansion.


Si kepala pelayan menunduk tak mampu lagi bersuara.


Suri memungut seragam itu pelan dengan mata berair.


"Maafkan saya Nona! Saya tidak kuasa membantah perintah tuan Sky." kepala pelayan membungkuk meminta ampun atas sikap kurang ajarnya.


Suri tak memberi respon apapun. Dirinya segera berbalik dan meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2