Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)

Pernikahan (Suri Si Gadis Tumbal)
Benda Jatuh?


__ADS_3

Si supir dan pelayan membungkuk. Mengangkat kepala setelah mobil Sky meninggalkan arena balap.


Mata mereka kini melirik mobil yang nampak menyedihkan. Kaca mobilnya hancur, serpihan kaca berceceran di segala arah. Membuat kedua pria beda usia itu menghela napas berat.


Keduanya memutuskan untuk membersihkan dalam mobil. Takut akan kena serpihan kaca yang berserakan di dalamnya.


"Tuan Sky, benar-benar menyeramkan! Padahal tadi aku bisa membuka pintu mobil tanpa harus menghancurkan kaca mobil!" Gerutu si supir. Terus membersihkan sisa kekacauan Sky.


Si pelayan mengangguk membenarkan.


"Aku jadi kasian melihat Nona Suri! Dia bahkan tidak bisa melawan, Tuan Sky." Wajah keduanya menjadi murung. Melihat ketidak berdayakan Suri.


Bahkan otak mereka masih mengingat bagaimana Sky memaksa Suri untuk masuk kedalam mobil miliknya.


"Sudahlah. Kita bersihkan ini agar bisa pulang." Seru si supir.


.


.


01:15 dini hari.


Angkat itu terus di tatap Suri. Menelisik detik demi detik angka yang terus berganti lambat.


Menatap kosong dasboard mobil tanpa memperdulikan perihnya permukaan kulit yang terkena serpihan kaca.


Tubuh Suri sudah kebal dengan rasa sakit. Baginya luka serpihan kaca tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan rasa sakit akibat cambukan dan sikap kasar Sky.


Jalanan kota mulai sepi. Hanya sebagian kendaraan yang berlalu-lalang di sana.


Sky menjalankan mobilnya pelan. Fokus menatap jalan tanpa kata. Suri yang ada di sampingnya hanya diam membisu.


Perjalanan mereka di temani kesunyian dan rasa canggung. Sky meringis dalam diam. Sesekali bergerak untuk menghilangkan rasa sakit di perutnya. Jason menghajar dirinya begitu buas.


Kali ini dia kembali kalah! Aku meragukan pukulannya. Jason sialan.


Sky Mencaci Jason dalam hati. Terus mengerang pelan ketika bibirnya kini kembali terasa perih.


Suri memejamkan mata. mengeluarkan air asin yang sedari tadi tertahan di pelupuk mata.


Marah dan kebingungan yang saat ini di rasakan Suri. Tidak ingin perduli akan sang suami yang saat ini mengerang karena sakit.


Aku ingin melawan. Tapi apa aku bisa? Dia monster. Hari ini dia sudah menunjukkan kalau aku manusia yang tidak berguna. Dia hanya laki-laki yang bersembunyi di balik nama ayahnya. Tuan Diki yang terhormat. Cih... Memalukan. Hari ini dia sudah menjadikan aku manusia tidak berharga. Dia juga sudah melukai Jason! Itu untuk yang kedua kalinya. Dan dia juga sudah menghancurkan mobil. Ya Tuhan, aku benar-benar lelah. Kenapa dia masih belum berubah? Mana ramalan yang mengatakan dia akan berubah kalau dia sudah menikah? Mana?


Suri menghela napas panjang Setelahnya. Membuat Sky yang tengah fokus menatap jalan dan merasakan sakit melirik sang istri.


Bibirnya terbuka. Tapi Sky mengurungkan niatnya.


Keduanya sama-sama diam hingga mobil sampai di gerbang utama.


Para penjaga segera membuka gerbang.


Mobil masuk melewati para penjaga yang membungkuk seperti biasanya.


"Kenapa mereka pulang selarut ini?" Tanya salah satu penjaga.


Temannya menjawab. "Tuan Sky, itu manusia yang di takuti di kota ini. Jadi dia mau melakukan apa saja itu bukan hal yang sulit! Jadi dia mau pulang jam berapa pun itu hak beliau. Tugas kita hanya membuka dan menutup gerbang ini." Matanya menunjuk gerbang hitam yang kokoh nan menjulang tinggi.


Temannya mengendus kesal.


"Aku ngomong apa! Kamu jawaban apa!" Katanya ketus. Kembali duduk di samping gerbang.


Temannya tertawa pelan. Tapi kemudian ia mengerutkan kening ketika sesuatu mengganggu pikirannya.


"Loh! Mobil yang membawa Nona Suri tadi kok ga ada?"


"Astaga!"


Di saat kedua Penjaga kebingungan karena pelayan dan si supir belum kembali.


Sky segera mematikan mesin mobil.


Pintu mobil sudah di buka pelayan yang siap siaga padahal waktu sudah sangat larut.


Suri perlahan membuka saltybet. Tanpa kata mulai menapakkan kaki. Tapi tangannya di tarik Sky.

__ADS_1


Suri terdiam tanpa ingin menoleh.


"Kamu boleh keluar, kalau kamu memberiku maaf!" Kata Sky pelan. Menatap Suri sendu. Seolah penyesalan terlihat jelas. Sayang Suri tidak Sudi melihat wajah Sky.


"Lepas! Aku benar-benar tidak ingin berdebat! Tenagaku sudah habis." Pinta Suri tanpa nada suara memekik. Dirinya sudah kelelahan dan ingin segera masuk kamar dan menutup mata. Berharap esok hari hatinya akan luluh walaupun itu sulit terwujud sepertinya.


Apa yang sudah kamu lakukan hari ini benar-benar sulit untuk aku memberimu maaf.


Suri membatin. Terus melonggarkan Cengkraman tanpa tenaga itu.


"Aku mohon maafkan aku! Aku akan melepaskan kamu kalau-


Suri memutar kepala. Menatap Sky dengan mata memerah.


Bibir Sky terkunci rapat melihat gerakan Suri.


"Aku minta maaf!" Seru Sky. Masih kekeh dengan keinginannya yang salah.


Bagaimana bisa dirinya di maafkan setelah menghadiahkan Suri kepada kedua sahabatnya. Walaupun Sky berhasil mendapatkan Suri kembali. Itupun harus dengan mengorbankan dirinya babak-belur.


Aku hadiahkan Suri kepada siapa saja yang menang.


Kalimat yang membuat rasa marah terus datang. Sky merasakan itu.


"Sky! Tidakkah kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan hari ini? Lepas!" Suri menarik paksa tangannya. Membuat Sky mengalah akhirnya.


"Biarkan aku berpikir. Aku manusia yang punya akal sehat dan hati! Aku bukan kamu yang seenaknya melakukan apa yang kamu mau!" Kata Suri penuh penekanan, membuat Sky terdiam sembari terus menatap Suri.


Suri menarik napas dalam-dalam. Mengusap pipinya yang basah.


"Bagaimana bisa kamu mengharapkan maaf dari aku, setelah apa yang sudah kamu lakukan! Please, leave me alone!"


Please leave me alone [Tolong, biarkan aku sendiri.]


Suri segara keluar mobil. Berlari masuk kedalam rumah tanpa menunggu Sky.


Sky mengepalkan tangannya. Menoleh kearah Suri yang berlari masuk.


"Argh... Argh...."


Batin Sky bergumam. Merasa apa yang dirinya lakukan bukanlah salah!


Untuk itu Sky keluar dari dalam mobil. Berlari mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuh.


Para pelayan yang melihat itu hanya mampu mengelus dada. Dan menarik napas. Wajah dan penampilan sang tuan muda nampak kacau. Padahal ketika pergi putra kedua Batara itu begitu luar biasa tampan.


Pasti ada yang salah. Apalagi Suri masuk kedalam rumah dengan langkah kaki cepat. Seperti menghindari Sky. Di tambah wajahnya yang pucat dan sembab.


Suri menaiki lift. Menahan tangsi yang semakin membeludak.


Beruntung Tuan Diki dan Nyonya Rose beserta Tristan tak ada, jadi tak tau kalau Sky dan Suri bertengkar.


Entahlah, keluarga itu selalu menghabiskan waktu di luar.


"Suri!" Teriak Sky dari balik pintu lift.


Selang beberapa detik Suri keluar dari lift. Berlari ke kamar untuk menghindari Sky.


Sky tak membuang waktu. Segera masuk dan tak lama ia berlari lagi untuk mengejar Suri.


Pintu kamar di tutup tak lupa juga Suri kunci. Berbalik dan naik keatas ranjang. Menutup diri dengan selimut. Menangis lagi di sana.


Hiks...hiks....


"Mama, Suri lelah Ma. Suri, benar-benar lelah."


Di saat itu Sky berhenti di ambang pintu kamar. Menarik napas yang tersengal hebat. Menahan rasa sakit di sekujur tubuh.


Tok...tok ...tok.... Suara ketukan dari balik pintu.


"Suri, buka! Aku juga ingin masuk." Teriak Sky tanpa ancaman di sana. Dirinya juga merasa kelelahan atas apa yang sudah terjadi.


Tubuh Sky oleng. Matanya bergetar karena rasa sakit lebih mendominasi.


"Suri. Buka!" Lagi Sky memohon. Tapi Suri tetap tidak keluar.

__ADS_1


Sial, pintunya di kunci.


Kebetulan sekali. Pelayan datang.


"Tuan, Ini?"


Si pelayan menjulurkan tangan di mana ada kunci di sana.


Sky tak membuang waktu segera mengambil kunci itu.


Si pelayan diam-diam memperhatikan wajah dan penampilan Sky.


Sepertinya Tuan Sky demam.


Pikir si pelayan. Wajah Sky pucat dan tak berdaya. Keringat benar-benar deras mengalir.


Tapi si pelayan tak sanggup untuk bertanya. Diam dan memperhatikan dari belakang adalah keputusan yang diambil.


Pintu kamar di buka. Sky segera masuk dan menutupnya. Meninggalkan si pelayan di depan pintu.


Pelayan berlari kemudian.


"Tuan Sky, sepertinya sakit! Aku harus menghubungi Dokter!"


.


.


Tubuh Suri bergetar. Menahan selimut takut Sky akan menyibaknya. Sky senang memaksa seperti biasa. Karena itu adalah kesenangannya.


Sky berjalan gontai tanpa kata. Kepalanya berat. Pandangan tiba-tiba menjadi kabur!


"Suri! Suri!" Sky berusaha pelan.


"Pergi! Aku tidak ingin melihat mu malam ini! Kalau pun kamu mati aku tidak-


Bruk..


Suara benda besar jatuh terdengar. Suri terdiam seketika. Apalagi benda itu jatuh tepat di atas kakinya. Tubuhnya sampai terangkat sebentar akibat gelombang yang di hasilkan.


"Kali ini dia mau apa?" Gumam Suri penasaran.


Kakinya bergerak pelan. meraba benda aneh apa itu?


Licin! lembek! Apa ini.


Kakinya merasakan benda aneh itu. Ciri-ciri yang sulit di ungkapkan.


"Kemana dia?"


"Sky? S-sky?"


Tak ada respon. Suri memberanikan diri mengangkat selimut. Melirik area kamar.


Dia pergi? Kemana dia.


Di rasa aman. Suri menyingkirkan selimut dari wajahnya. Kepalanya bergerak ke sembarang arah untuk mencari sosok Sky.


Sampai kepala Suri terangkat. Melirik kebawah kaki.


Benda jatuh itu ternyata Sky!


Mata Suri membulat.


"Sky! Sky?" Suri menggerakkan kakinya.


Apa dia mati?


Batin Suri bertanya. Tanpa bisa bergerak.


Tak ada respon dari Sky, Suri memberanikan diri untuk bangun. Perlahan-lahan mengguncang tubuh Sky yang tertelungkup di atas ranjang tepatnya di atas kakinya.


"Sky! Ini tidak lucu! Kamu ingin maaf dariku tapi dengan cara murahan seperti ini! Aku tidak akan tertipu!"


Tapi Sky masih tak bergerak. Suri menjadi ketakutan. Bagaimana kalau benar Sky mati!

__ADS_1


"Sky! bangun!!"


__ADS_2