
Setelah selesai di dapur dan luka sayatan kecil itu di beri plester. Suri bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit dan ke rumah sang ayah. Sesuai jadwal awal Sang mama adalah prioritas utama. Rasa rindu sudah menggebu sedari kemarin.
Dengan di antar supir dan satu pelayan wanita, Suri pergi ke rumah sakit.
Di perjalanan Suri melamun menghela napas tanpa henti. Jantungnya berdegup kencang. Menemui keluarganya sedikit menakutkan bercampur rasa bahagia. Dirinya menunduk. Mengintip arena dalam tubuh yang mana luka cambukan masih terlihat walupun rasa sakitnya sudah mulai hilang.
Sky sudah tak lagi kasar bahkan selama tiga hari mengurung diri berdua didalam kamar. Sky selalu memberi perhatian lebih padanya. Suri berpikir mungkin sang suami merasa menyesal. Entahlah Suri tidak ingin membujuk hatinya.
Cukup lama Suri melamun. Mobil yang membawanya sampai di tujuan.
Si pelayan segera keluar dan membuka pintu belakang.
"Nona!" Si pelayan berdiri di samping mobil.
Suri segera keluar mobil. Menatap bangunan yang dua Minggu tak di lihatnya.
"Mari, Nona." Si pelayan menarik paper bag yang di bawa Suri. Tapi Suri menggeleng.
"Tidak usah, biar saya saja." Suri menolak lembut. "Kamu bisa tunggu di mobil!" Perintah Suri.
Si pelayan melirik pak supir yang tidak jauh dari tubuhnya.
"Maaf Nona, Tuan Sky meminta jangan meninggalkan Nona." Kata si supir alih-alih si pelayan yang bersuara.
"Itu benar, Nona!" Tambah si pelayan.
Suri menghela napas. Berdebat akan membuang waktu. Pada Akhirnya Suri di temani si pelayan yang siap siaga di belakang tubuhnya.
Para suster di rumah sakit jiwa yang di lewati Suri tak hentinya menyapa sang dara. Tersenyum ramah dan sesekali menegur kabar masing-masing..
Sebelum menikah Suri hampir setiap hari datang ke rumah sakit di mana Nyonya Luna di rawat. Bahkan adik sang ibu, Nyonya Nena sesekali ikut untuk melihat bagaimana keadaan sang kakak yang tak ada perubahan. Tak terasa hampir 10 tahun istri pertama Tuan Chris itu di rawat di sana.
"Astaga, Nona Suri." Suster yang menjaga Nyonya Luna segera berlari menghampiri Suri yang tengah berjalan.
Suri tersenyum senang. "Suster!" Suri memeluk si suster.
Keduanya berpelukan.
"Apa kabar, Nona? Anda masih terlihat cantik?" Puji Si suster. Memindai penampilan Suri.
Kenapa Nona Suri terlihat lebih kurus? Seharusnya menikah dengan Tuan Sky dirinya harus lebih bahagia.
Batin Si suster. Masih tetap tersenyum bahagia walaupun hatinya merasa kasian melihat tubuh Suri yang nampak lain.
"Saya baik," Suri menjawab datar.
"Mama, di mana?" Tanya Suri yang tidak ingin membuang waktu lagi.
Sky hanya memberi waktu dua jam untuknya di rumah sakit. Dan satu jam di rumah sang ayah. Jadi Suri harus bergegas.
"Mari Nona. Nyonya Luna pasti bahagia melihat anda. Dua Minggu anda tidak datang, Nyonya Luna terus menanyakan anda."
Sebuah kamar yang sama dengan kamar lain di buka Suri.
Satu sosok wanita yang telah melahirkannya tengah meringkuk di atas ranjang besi yang nampak bersih.
Suri berjalan segera. Matanya berkaca-kaca dengan senyuman ketir.
"Mama."
.
__ADS_1
.
Pukul tiga sore Sky pulang. Seperti biasa satu pelayan membuka pintu mobil.
"Mari, Tuan."
Sky segera turun.
"Jangan lupa tasku! Tanganku rasanya pegal." Sky mengeluh atas rasa pegal di bagian sikut dan punggung. Berjalan meninggalkan si pelayan yang masih membungkuk.
Di dalam para pelayan menyambut kedatangan Sky. Berdiri rapih sembari membungkuk.
"Tuan Sky."
"Bubar! Aku sedang tidak ingin melihat wajah siapapun!" Kata Sky ketus.
"Baik, Tuan!" Para pelayan segera bubar.
Sky menjatuhkan diri di sofa. Bersandar dengan mata terpejam. Mansion terlihat lebih tenang. Tak ada suara dari setiap sudut. Ada yang aneh.
Malam ini aku harus menang. Aku tidak akan membiarkan Jason dan Daren menang.
Ternyata itu yang membuat Sky uring-uringan. Dirinya berusaha mengontrol emosi yang siap keluar. Tidak ingin ada lagi korban Sky sore itu. Jangan sampai terjadi. Di rumah sedang kosong. Para penghuni dari mulai Tuan Diki. Nyonya Rose dan Tristan tengah Keluar.
Ketiganya pergi bersama ke sebuah acara. Sky sudah tau karena kemarin sang Mama mengatakan akan pergi membawa sang Kakak. Tristan jarang keluar rumah. Karena kondisinya tidak memungkinkan untuk pergi. Dan Sky tidak perduli.
"Pelayan!" Teriak Sky.
Tak butuh waktu lama. Satu pelayan datang.
"Saya, Tuan!"
Si pelayan menelan ludahnya kasar.
"Nona Suri belum kembali, Tuan!" Jawabnya pasrah. Sepertinya dirinya akan kembali di hajar Sky.
Sky mengangguk. Setelahnya berdiri menghampiri si pelayan. Sontak si pelayan ketakutan.
Sky menepuk pundak si pelayan.
"Karena aku sedang senang. Aku akan memaafkan mu karena tidak bisa memberi jawaban yang tidak ingin aku dengar. Sekarang pergi dari hadapanku." Bisik Sky setengah mencengkeram pundak si pelayan kuat.
Si pelayan yang meringis itu segera membungkuk dan undur diri.
Sky tersenyum bengis. Kembali duduk dan memejamkan mata.
"Suri, cepatlah datang!" Sky berteriak sesuka hatinya. Yang mana para pelayan memilih bersembunyi. Tidak ingin menampakan diri di hadapan Sky yang mana sepertinya tengah kesal.
.
.
Sementara itu Suri terus mengajak bicara sang Mama yang tidak bisa menjawab.
Di taman Suri dan Nyonya Luna saat ini.
"Apa Mama sering mengamuk?" Tanya Suri kepada suster yang ada di samping mereka.
Suster menjawab. "Nyonya Luna akhir-akhir ini sering murung Nona. Sudah tidak mengamuk lagi!"
Suri tersenyum bahagia mendengar penjelasan suster tentang kondisi sang Mama.
__ADS_1
"Ma, Suri janji Mama pasti akan seperti dulu lagi." Suri kembali mengajak Nyonya Luna berbicara. Membelai rambut dan kedua tangannya.
Kepala Nyonya Luna yang sedari tadi menunduk perlahan terangkat. Tiba-tiba tersenyum datar melihat Suri.
"Kamu sudah besar, sayang." Katanya. Menarik Suri kedalam pelukan. Mengelus rambut Suri penuh kelembutan.
"Mama. Suri rindu Mama yang dulu." Hiks....hiks...
Tangis Suri tumpah seketika. Melihat kondisi ibunya masih saja sama. Belaian dan kelembutan yang dulu di rasakan kini hilang. Nyonya Luna yang cantik dan selalu tersenyum kini tak ada lagi.
Suri menangis ketir jika mengingat itu.
Suster yang sudah mengenal Suri dan Nyonya Luna ikut menangis tak kuasa melihat bagaimana, Suri Christabel Jocelyn yang di kenal periang kini harus kuat dan tabah melihat ibunya.
Separuh hati Suri kini terluka di bawa sang Mama yang sudah tidak lagi di kenal.
"Kapan kamu besar, Suri? Mama ingin melihat kamu besar." Kata Nyonya Luna tak karuan. Suri semakin menangis di buatnya.
Tuhan, seandainya engkau memberi ku pilihan. Antara kematian ku dan kesembuhan Mama. Aku akan merelakan hidup ku, asal Mama bisa kembali seperti dulu.
Lebih dari dua jam Suri habiskan di sana bersama Nyonya Luna. Sampai tak sadar waktunya sudah habis. Untuk itu si pelayan menghampiri Suri.
"Maaf Nona! Waktunya sudah habis."
Suri dan suster melirik ke arah si pelayan tak suka.
Si pelayan bersuara lagi. "Maaf Nona, saya hanya menjalankan tugas."
.
.
"Pelayan!" Teriak Sky lagi. Segera bangkit perlahan dengan mata mengantuk. Sky tertidur di atas sofa. Menunggu Suri yang tak kunjung datang.
Pelayan datang.
"Saya, Tuan!" Kata si pelayan ketakutan.
"Kenapa dia masih belum pulang?" Teriak Sky marah.
Si pelayan ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat.
"Maaf, T-tuan-
"Katakan di mana dia sekarang!" Lagi Sky berteriak.
Menuntut si pelayan untuk memberi tahu sang istri. padahal dirinya tidak tau di mana Suri sekarang.
Hingga pada akhirnya. Si pelayan itu kena hajar Sky.
Dua menit berselang. Suri pulang.
Kejadian yang sama terulang kembali. Para pelayan segera menyeret Suri, yang mana mobilnya saja baru terparkir di halaman.
"Nona Suri. Tuan Sky, mengamuk!"
"Apa? Dia mengamuk lagi?" Wajah Suri berubah panik.
"Iya, Nona. Anda harus segera menghentikan, Tuan Sky."
Suri mengangguk. Setelahnya berlari masuk kedalam rumah bersama pelayan..
__ADS_1